
POV author
Semua orang berteriak panik bahkan kereta lift telah remuk tidak membentuk kotak persegi panjang lagi, Duke langsung berlari kesana dia memasang wajah yang keras.
"Bagaimana bisa, bahaya terus terusan menimpa Duchess!!!"
Pikir nya dalam hati, dia langsung menghampiri Duchess yang masih terkejut dengan kejadian barusan, untungnya saja Duchess berhasil keluar dari sana dengan menggelinding kan diri dengan dibantu oleh Albert.
"KAU TIDAK APA APA!!!?"
Teriaknya kencang di hadapan wajah Florence, dan seketika Florence tersadar apa yang baru saja terjadi, ia tadi menarik tali aneh yang berada di lintasan lift.
Lalu terdengar suara dari kereta nya, padahal tidak ada angin dan tau tau itu roboh kebawah secara mendadak, bahkan tangan nya tadi saat mencoba menyelamatkan diri terasa terikat dengan tali aneh itu.
Tapi untungnya Albert menggunakan kekuatan nya dan mampu membuat tangan Florence dari jeratan itu di detik-detik terakhir dan berguling ke luar.
Bahkan saat hantaman kotak lift itu dengan tanah Albert secara cepat menarik nya menjauh agar tidak terkena benda apapun yang bisa terpental dari lift.
"Duke!!! Aku menemukan sebuah tali aneh yang hampir mencelakakan ku tadi!"
Ucap Florence setelah mengingat kejadian cepat itu, "Tali?!," Gumam Duke bingung dan sedikit panik karena kejadian yang tiba-tiba tadi.
Duke berfikir sejenak "jangan jangan ini kejadian yang sudah direncanakan," pikir nya dan mulai berjalan ke depan jalur lintasan lift itu, dia merapalkan mantra dan melempar kotak yang telah penyok itu ke samping nya (yang tidak ada orang) untuk tidak menutupi jalur lintasan nya.
Lalu mulai memeriksa dengan cermat di setiap sudut tapi tidak menemukan apapun, "mungkin itu adalah tali yang dibuat menggunakan sihir!" Pikir nya lagi dan mulai mengaktifkan mata untuk melihat aliran sihir.
Dan benar saja ada aliran energi, juga mana yang sangat aneh di sini, ia mengecek siapa pemilik mana itu dan teringat seseorang, seketika wajah nya yang tadi terlihat tenggang dengan rasa panik berubah menjadi amarah.
Lalu tanpa ba-bi-bu lagi dia segera pergi entah kemana, bahkan mengabaikan para tamu yang masih ada disana, orang orang mulai berkumpul karena mendengar sesuatu yang keras.
Bahkan beberapa bangsawan yang akan pulang padahal sedang duduk di kereta yang sudah berjalan lalu mendengar suara keras itu, menyuruh para kusir untuk memutar kembali ke kediaman Duke untuk melihat apa yang terjadi.
Duchess kembali berada di pikiran nya sendiri, Albert yang berada disampingnya sangat cemas karena bahkan disaat ini ia masih memikirkan "tali apa itu?" padahal badan nya masih gemetar ketakutan.
"Mama Mama!!!"
Teriak Albert sepenuh hati sambil menggoyang goyangkan badan Duchess agar segera tersadar dari lamunannya, "hah!!?..... kenapa?"
"Anda gemetaran....." Ucap nya sambil memengagi kedua tangan nya yang bergetar hebat, seketika Florence tersadar bahwa sejak tadi ia mencoba mengalihkan perhatian nya dari rasa ketakutan akan kematian.
..........
POV Destiana
"Ah....."
Aku baru menyadari hal ini, kaki ku terasa mati rasa sekarang, "jika saja aku terlambat sedetik untuk menyelamatkan diri dari sana, pasti aku benar-benar sudah akan mati" pikir ku lalu merasa mual yang berat.
"Wuekk!, Wuek!!"
"Mama!!!"
Albert berteriak panik, memijit belakang leher ku karena tiba-tiba mual tapi tidak mengeluarkan apapun karena ku tahan, aku merasa mual karena tiba-tiba saja membayangkan kejadian saat aku mati waktu tertimpa besi-besi besar dan tembok-tembok yang runtuh.
"Mungkin ini rasanya akan lebih terasa sakit karena keretanya terjatuh tepat di atas ku dari lantai yang paling atas," bayang ku sendiri sambil menutup mulut agar mengehentikan rasa mual ini.
"Wuekk, wuekk!!!"
Bukannya rasa mual ini menghilang, tapi lama kelamaan malah makin menjadi-jadi, Albert menatap marah kepada para pelayan dan kesatria yang diam saja masih mencerna apa yang terjadi disini, padahal jelas-jelas mereka melihat ku sedang kesusahan seperti ini.
Akhirnya mereka semua tersadar dari lamunannya masing-masing karena aura membunuh Albert yang sangat kuat, lalu mulai membantuku, beberapa orang juga memeriksa kembali jalur lift dan mematikan sumber energi.
Para pelayan perempuan mencoba memapah ku menuju istana milik Duke karena mereka yakin bahwa kaki ku benar-benar susah untuk diajak berjalan sampai ke kamar, dan tebakan mereka memang benar.
Bahkan untuk bergerak sedikit saja dari tanah aku benar-benar tidak bisa dan itu disebabkan oleh rasa takut yang amat sangat, untung saja aku tidak sampai hiperventilasi, karena cepat-cepat mencoba mengatur nafas dengan baik.
Kami sampai di depan istana milik Duke yang lebih teduh karena sinar matahari yang tertutup oleh atap genteng, beberapa pelayan sudah menyediakan kursi yang nyaman untukku bersandar.
Yang lain juga membawakan kipas besar dan minuman serta handuk dan juga baskom air, dan mulai menenangkan diri ku yang masih merasa mual.
Albert menatap cemas kepada ku ia bahkan terus-menerus memegangi satu tanganku sampai aku duduk di kursi ini, setelah beberapa menit aku mulai merasa tenang dan rasa mual ku telah menghilang.
Tapi tiba-tiba saja suara bantingan keras terdengar di dalam mansion, semua mata tertuju kepada suara itu, aku ingin bangkit dan melihat apa yang terjadi tapi Albert menahan ku dengan memengangi pergelangan tangan ku sambil menggeleng kepalanya.
Dia mencoba menahan ku untuk duduk dan beristirahat saja, tapi aku tidak bisa diam karena suara semakin lama semakin keras, "apa jangan-jangan dia mengamuk?," Gumamku sendiri.
Maksud ku sama seperti orang yang hamil, bisa saja bukan istrinya yang mengalami mual-mual atau ngidam parah akan sesuatu, tapi suaminya, Edward sekarang mengamuk seperti itu mirip gejala ibu hamil.
"Dan jangan-jangan kutukan Albert seperti ini bisa mempengaruhi keluarga nya, karena Albert akhir akhir ini lebih tenang dan tanpa sadar Edward yang meledak-ledak," pikir ku tanpa sadar.
Tanpa kusadari Albert memasang wajah lelah karena dia seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan sekarang, dan karena aku telah menunggu selama 1 menit dan suara itu tidak mereda juga, dengan cepat aku segera berlari menuju ke arah suara.
Menemukan Edward yang sedang membanting berkali-kali Franks ke lantai tembok dan lain-lain sampai aku melihat beberapa tempat bekas dirinya dilempar retak, "Edward hentikan!"
Teriakku yang menghampiri nya dan melindungi Franks yang telah tergeletak di lantai penuh luka bahkan aku melihat di beberapa luka mengeluarkan darah.
"Minggir Florence! Aku punya urusan dengan nya sekarang!"
Jawab Duke dingin "bisakah kau menahan emosi mu dulu?," Balasku lebih lembut dia benar benar mengeluarkan aura membunuh kepadanya.
"Tidak bisa dia harus mati sekarang!"
"Ini bersangkutan dengan ku kan? Jadi aku mohon jangan gunakan kekerasan atau emosi!, karena sesuatu yang memakai emosi akan membuat mu menemui penyesalan!"
Tangan Duke tadi yang terkepal erat mulai melonggar, bahkan jika kekesalan nya meningkatkan tadi mungkin tangan nya akan berdarah sekarang.
"Tenang kan dirimu dan mari kita duduk dulu untuk memulai percakapan nya secara baik baik" ucap ku dan melirik para kesatria yang masih berjaga di depan pintu ruang kerja Franks.
Aku memberikan kode ke mereka untuk pergi dan mereka mulai membubarkan diri, tidak lama kemudian datang dan aku memerintahkannya untuk menutup pintu biar suasana di ruangan ini lebih privat.
Dan menyuruh untuk Duke membuat penghalang di dalam ruangan agar ruangan kedap suara dari sihir, dia menurutiku dan membuat penghalang, setelah itu aku menarik nafas panjang.
Karena Duke dan Albert telah duduk di depan ku yang membelakangi Franks yang tak berdaya, sengaja aku masih tetap berada di posisi itu karena takut takut kemarahan Edward muncul dan malah membunuh nya.
Mataku kembali tertuju ke badan Franks yang mulai mengalirkan darah dan beberapa kali dia menahan batuk kerasnya yang mengeluarkan darah hitam.
"Ah itu pasti sakit sekali" pikir ku dalam hati dan kembali fokus kepada kedua orang di hadapan ku, lalu berkata dengan tegas.
"Pertama kita akan mulai dengan....., Edward sembuhkan dia!!!, karena kita tidak bisa mengintrogasi jika kesadarannya bahkan tinggal setengah!"
Edward menatap tajam ke arah Franks, aku menyerah dan berkata sambil menghela nafas lelah diawal, "hah...., Kalau kau tak mau biar aku saja, Albert salurkan mana mu kepada ku"
Dia mengangguk dan mulai menyalurkan mana nya kepada ku dan aku merapalkan mantra sihir penyembuhan ku kepada Franks, tidak perlu waktu lama luka luka nya telah sembuh meskipun masih berbekas.
Tapi itu tidak akan terasa sakit lagi, "duduk lah senyaman mu saja"
Ucapku kepada nya lagi, dia hanya menggeleng pelan dan berkata pelan, "ini sudah nyaman"
"Baiklah sekarang mari kita mulai introgasi nya, Edward Kenapa kamu membantingnya dengan niat membunuh yang besar, bahkan sampai-sampai tidak memberikan Franks untuk bernafas, kau tau kan manusia itu bisa mati"
"Aku sudah bilang sejak awal aku akan membunuhnya!!!"
"Ya, tapi kenapa pasti ada alasannya kan?"
"Dia yang membuat jebakan tali itu!" Balas Duke cepat,
"DEG!!!"
Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik masih mencerna informasi, "kejadian barusan?"
"Ya, dan kau malah membelanya!"
"baik, baiklah tenang, tenang Edward kendalikan amarah mu"
"Bagaimana kau tahu itu?"
"Tali itu menggunakan mana dan mana itu adalah mana milik Franks"
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja aku yakin!!!"
"Lalu apa buktinya?" tanyaku lagi lagi dia membalas "semua orang di di dunia ini ini, jika dia bisa menggunakan sihir untuk melacak mana milik siapa pasti akan ketemu!," Balas Duke tak terbantahkan.
"Jadi begitu dan sekarang pertanyaan untuk Franks," aku sengaja menjeda kalimat ku dan menarik nafas dan melanjutkan.
"Apa benar tali itu adalah jebakan yang kau buat?, juga membuat lift yang berada di atas kepala ku terjatuh?"
"Ya" jawabnya dengan cepat tanpa ada rasa pembelaan, aku terkejut tapi masih bisa dikendalikan lalu melanjutkan perkataannya, "Memangnya kau membuat jebakan itu untuk siapa?"
"Untuk kalian bertiga," aku kembali kejut dengan jawabannya, dan kembali bertanya, "Apa ada orang yang memerintahkan mu?"
Saat mulutnya akan bergerak untuk berbicara tiba-tiba saja dia merasa tercekik dan mulai kesakitan, duke yang melihat kejadian itu merasa kesal dan mencoba memukulnya.
Aku menahan tangan yang akan memukul wajah Franks, "dia sedang berpura-pura!!!, padahal tidak ada orang yang menyuruhnya, dia melakukan seperti itu agar kita simpati dengannya!!!," Ucap Duke meledak ledak.
Sedangkan Franks tidak jadi berbicara dan mulai mengusap -usap belakang lehernya dan menjadi seperti biasa kembali, (tidak batuk batuk dan terlihat sehat).
"Tidak ada yang menyuruhku melakukan nya ini murni atas kemauan ku sendiri," balas Franks singkat jelas dan padat.
"Baiklah"
"Oh ya, jadi bisa kau jelaskan kenapa kau terus mengusap leher belakang mu?, karena sejak ku perhatikan kamu dari awal sebelum kejadian berbahaya pasti selalu terlihat tercekat dan tercekik saat kau mencoba berkata sesuatu yang sangat penting, tapi setelah menyerah kau mengusap usap leher belakang mu dan malah berkata sesuatu yang lain yang tidak punya sangkut pautnya dengan itu"
Dia terlihat sedikit terkejut dan mulutnya mulai mencoba menggerakkan sesuatu dengan susah payah dan beberapa kali mencoba berbicara meskipun tercekik dan terbatuk beberapa kali.
"SE..."
"GEL.."
"BU..."
"ARGGHHH!!!!!"
"UHUUK!!!, UHUUK!!!, OHAOKK!!!!"
Franks terbatuk keras dia terlihat seperti akan mati jika langsung mengatakan semua kalimat nya, aku menunggunya dengan sabar
"DAK!!!"
Akhirnya dia bisa mengucapkan kalimat singkat itu dengan susah payah dan wajah kami semuanya tengang setelah mengetahui semua kalimat nya, jika dibaca bersambung adalah segel budak
Sekarang Franks terlihat sangat kesakitan dia memengagi lehernya dengan keras karena seperti tidak bisa bernafas dengan baik bahkan matanya bisa bisa keluar jika dia terus seperti itu yang sekarang.
Dan di belakang leher nya sebuah simbol lingkaran berwarna hitam terbentuk dan terlihat memerah dan mengeluarkan asap, saat aku akan menyentuh nya rasa ujung jari ku seperti terbakar.
Dengan cepat aku kembali menarik jari ku dari sana, Duke dan Albert tidak sempat mencegah ku untuk melakukan itu karena aku sudah panik melihat nya yang seperti orang sekarat sekarang juga.
"Albert!!! Duke!!! Lakukan sesuatu jangan diam saja!!!"
Dan akhirnya karena desakan ku mereka melakukan sesuatu dan membuat nya kembali tenang dan tertidur, tadi nya aku khawatir jika Duke membuat nya mati tanpa rasa sakit tapi dia menggeleng dan menjelaskan, "lebih baik kita melihat ke dalam mimpinya saja, karena pasti dengan kejadian ini alasan dia sampai terkena kontrak sihir budak akan terungkap"
"Bukannya kalau budak sini tidak menggunakan alat yang berbahaya seperti yang di pakai para pembunuh bayaran, Kontrak kesepakatan?"
"Ya, mereka menggunakan hal yang sama tapi dengan sihir hitam untuk membuat kontrak nya, dan ini pasti nya harus menggunakan dua persetujuan, kedua belah pihak agar kontak nya terpenuhi"
"Jadi maksud mu Franks menyutujui kontak itu yang menyiksanya, itu"
"Ya, tapi yang kutahu saat merekrut nya dia adalah orang yang cukup pendiam dan terlihat tidak memiliki beban"
"Tapi orang yang seperti itu menyimpan banyak misteri"
"Makanya aku akan menahan emosi ku dan melihat kenapa dirinya yang terlihat kuat ini mengalah oleh kontrak budak itu"
"Baiklah, tidur kan dirinya dengan posisi yang baik agar lebih nyaman"
Duke melihat ke sekeliling dan menemukan sofa panjang dan cocok untuk dijadikan tempat tidur Franks tanpa harus berdiri dia mengarahkan tangan ke sofa itu dan merapalkan mantra.
Sofa melayang ke dekat mereka dan Duke melakukan hal sama kepada Franks dan menaikkan nya ke atas sofa agar dia tidur dengan nyaman dan bermimpi baik.
"Duduk lah yang rapat, kita akan menonton cerita misterius milik Franks jadi bersiaplah"
Ucap Duke dan mulai merapalkan mantra, seketika di mata ku terlihat gambar yang buram dan kelama lamaan mulai terlihat jelas.
.............
POV Franks
"Ah..... Dimana aku?"
Aku melihat keseluruhan ruangan dan menemukan sebuah rumah kumuh yang bahkan akan hancur jika terkena angin kencang, mata ku terpaku akan seseorang yang berada di dalam ruangan itu.
Seorang remaja yang berusia 11 tahun matanya menatap kosong ke arah depan sama sekali tidak mempunyai harapan hidup lagi, aku mendesis mengetahui siapa dia.
Ya dia adalah diriku dulu yang sangat ringkih, dan juga melarat sampai semua badan ku hanya terlihat tulang, lalu ini adalah rumah ku dulu yang mungkin sudah lama ku lupakan.
Aku merasa diriku saat remaja akan segera mati jika dia tidak menolong ku, kemudian mengingat sesuatu bukan kah hari ini dia akan datang?
"BRAAKKK!!!"
Dan benar saja, selesai aku berkata seperti itu seseorang membanting pintu rumahku lalu dia langsung berlari melewati ku dengan mudah ke anak remaja itu, yang adalah aku saat remaja.
Aku sedikit terkejut karena badan ku tembus pandang seperti hantu atau tidak terlihat padahal aku berdiri tepat di depan anak itu dan dirinya.
Seketika kenangan sedih mulai terkenang di benakku, saat melihat dirinya yang masih muda ini,
"Franks!!"
Dia berteriak di dekat telinga nya dengan nada sedih sambil memeriksa denyut nadi, setelah memeriksa nya dia terlihat sedikit lega akan sesuatu, lalu mengelus elus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Jika aku tau kau seperti ini aku pasti akan datang lebih cepat!"
Sesal nya sambil memelukku yang hanya terus terdiam seperti orang mati, lalu latar tempat berpindah dengan cepat ke sebuah rumah kecil yang indah di sebuah desa yang sudah ku lupa namanya, dia tersenyum senang memandikan ku yang benar-benar kotor itu.
Bahkan aku sama sekali tidak memiliki ekspresi saat itu dan hanya menatap kosong ke arah depan, dia terus mengajak ku mengobrol dengan asyik padahal aku sama sekali tidak menanggapi ucapannya itu.
Beberapa kali wajahnya terlihat murung karena pertanyaan nya hanya dianggap angin oleh ku atau mungkin dia sedih melihat keponakannya seperti ini, perempuan ini sudah berumur 22 saat itu.
Dan nama perempuan ini adalah kyra dia adalah tanteku, bukan tante kandung melainkan angkat, karena ibu mempunyai saudara angkat yaitu dia, kyra benar benar dianggap saudara kandung oleh ibu ku.
Bahkan dia menitip kan diriku sejak kecil kepada nya jika sesuatu terjadi, dan benar saja sesuatu terjadi, keluargaku adalah keluarga yang bahagia hidup berkecukupan karena ayah ku seorang pekerja istana, di sebuah kerajaan kecil yang sangat kaya akan sumber daya.
Meskipun kerajaan kami kaya tapi daerah kekuasaan kami yang paling terkecil dibandingkan kerajaan-kerajaan yang lain, sampai suatu hari tiba-tiba saja kerajaan musuh yang sudah menandatangani surat perjanjian untuk berdamai tiba tiba saja menyerang kerajaan saat raja sekarat.
Para pasukan ksatria dikerahkan tapi aku rasa mereka akan kalah jika saja pasukan tambahan datang, lawan tidak main-main karena pangeran kedua ingin merebut tahta dari putra mahkota lalu meminta bantuan dari pihak musuh untuk membuatnya menjadi raja.
Atas nama kerajaan yang baru dan akan di pimpin oleh kerajaan lain dengan dia sebagai pengelola, pertarungan sengit terjadi di ibukota beberapa rakyat pun menjadi korban tak terkecuali bangsawan.
Darah menggenang di mana-mana, mayat bergelimpangan, bahkan bau anyir tercium di sepanjang jalan, keluargaku juga terkena imbasnya saat para bangsawan panik dan segera membuat perkumpulan darurat.
Ayah dipaksa akan dua pilihan untuk ikut faksi pangeran kedua yang seperti Tiran, atau ikut faksi bangsawan yang memihak putra mahkota karena mempunyai bakat, Lalu Ayah diberi waktu selama seminggu untuk memikirkan jawabannya karena kedua belah pihak saat ini masih dalam masa tenggang.
Ayah berdiskusi dengan ibu, dan ibu mendukung faksi putra mahkota tapi ayah berkata "Kau tidak tahu seberapa kuatnya pangeran kedua!"
"Tapi aku tidak ingin kerajaan ini dipimpin oleh orang seperti itu!"
Balas ibu kencang, "tapi ini masalah akan berimbas kepada keluarga kita!, jika saja kita mengetahui siapa yang akan menang kita tidak akan di beri pilihan sulit seperti ini"
Saat itu aku masih sangat kecil dan belum bisa mengerti apa apa, melihat mereka yang berada di dalam ruangan kerja ayah dengan pintu yang terbuka, jika saja aku mengerti apa yang mereka ucapkan pasti aku akan bisa memberitahu kan nya.
Tapi hal Itu tidak akan pernah terjadi karena Ayah memutuskan untuk memilih faksi putra mahkota yang ternyata akan kalah dari pangeran kedua, putra mahkota mati dengan sangat mengenaskan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bahkan oleh diriku sendiri.
Tidak sampai disitu kekejaman nya, karena saat itu juga akan berlangsung hukuman kepada para pengikut putra mahkota yang termasuk adalah keluargaku.
Orang tua ku diseret ke alun-alun kota bersama para bangsawan pendukung putra mahkota, mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu putih, aku saat itu hanya bisa menangis saat kedua orang tua ku diseret ke tempat pancungan.
Para bangsawan yang lain sebelumnya diberi kesempatan untuk memilih, "kau ingin mengabdikan diri mu kepada ku, atau mati?"
Tapj kedua orang tua ku memilih mati dan seketika tali penahanan pisau pancungan terjatuh memotong leher keduanya, disitu aku terus menangis kencang.
"Bagaimana bisa dia mementingkan kesetiaan dibandingkan tanggung jawab nya atas diriku?"
Pikir ku terus menerus saat besar dan mulai memahami semuanya karena aku memilih jalan yang berbeda dari mereka untuk melindungi tanteku yang melindungiku, tidak seperti mereka yang mengabaikanku dan membuatku jatuh dalam keputusasaan.
Gelar bangsawan ku dicabut dan diturunkan menjadi biasa rakyat biasa, seluruh harta yang ada di rumah disita oleh kerajaan dan aku tidak diberi sepeserpun untuk makan, para pelayan yang dulu menyayangiku seperti anak sendiri mengabaikan ku yang meminta pertolongan.
Lalu melangkahkan pergi dari kehidupanku seorang anak yang masih butuh perawatan dan kasih sayang orang tua nya.
Mengingat hal itu lagi membuat aku kembali mengerutkan kening karena miris dengan pilihan orang tua ku, "menyedihkan...." Gumanku tanpa sadar.
Seharusnya mereka membekaliku dengan ilmu bertahan hidup jika memilih untuk mati demi kehormatan nya, kau tahulah seperti ilmu untuk bagaimana belajar memasak atau mengumpulkan kayu bakar menyalakan api dan semacam itu.
Tapi mereka malah meninggalkanku tanpa mengajar kan ku mengetahui bagaimana caranya seperti itu contoh kecil nya adalah memasak, mencuci pakaian, ataupun mencari makan, dan sesuatu yang lain.
'Karena mana tau jika saat ditinggal kan oleh semuanya, aku harus melakukan apa?'
Lalu untungnya saja saat tinggal bersama tante, aku belajar dengan cepat saat dengan hal hal baru, jika saja aku mempuyai teman sejak dulu pasti kehidupan ku saat itu akan lebih mudah, karena aku bisa bertanya kepada nya.
Tapi itu tidak pernah akan terjadi karena orang tua ku juga melarang untuk berteman dekat jika orang itu tidak menguntungkan bagi kita, meskipun aku menggunakan cara itu saat ini, tapi saat dulu itu benar benar tidak berguna sama sekali.
Tante benar-benar mengajar kan ku dari nol tentang kehidupan rakyat biasa, saat sudah mulai membuka hati akan hidup yang baru, bayangkan saja aku dulu hidup mewah, setiap mandi di mandikan oleh pelayan, baju di pakaikan, makan disiapkan, hidup hanya untuk belajar berpedang dan politik.
"Dan tiba tiba saja tertimpa musibah seperti itu apa yang akan orang lain lakukan?"
Itu adalah pertanyaan paling sering yang terus terngiang-ngiang di otak ku saat melihat anak bangsawan kaya yang begitu polos terhadap dunia, terkadang aku sampai mendecak kan lidah saat melewati mereka.
Tanpa sadar latar tempat berganti lagi, aku memperhatikan nya dengan mata berkaca-kaca, dan membuat perasaan sedih keluar dari diri ku
.............