
POV Destiana
"Hah hah hah!!!"
Aku berlari tergesa-gesa menuju tempat kosannya berada, dan segera setelah aku sampai di depan pintu kamar nya, dengan cepat mengetuk pintu.
Dua..,tiga kali,
Tidak ada jawaban, aku sedikit cemas dan segera melihat ke handphone dan memutuskan untuk menelponnya atau tidak.
Untung nya tidak berselang lama setelah aku memutuskan untuk menelponnya, pintu terbuka dan segera aku melihat Rangga yang nampak pucat pasi.
Sambil berterimakasih kepada diriku yang dikira adalah pengantar makanan online, mata nya sedikit linglung dan terus menyodorkan uang yang berada di tangannya.
Kepalanya terus bersandar di pintu untuk menopang tubuhnya yang lemas dia beberapa kali terpejam tapi dia tahan karena uang yang belum diambil olehku yang dikira pengantar makanan.
Seketika diriku merasa sedih dan segera menerobos masuk ke dalam kontrakannya sambil memeluknya erat.
"Eh?..., eh?!!!"
Rangga dengan panik ingin melepaskan diri dari pelukan ku dan berteriak dengan lemah dan lemas .
"Aku lanang loh mas!"
Ia masih memejamkan matanya saat itu dan langsung panik karena dia salah mengira aku pengantar makanan yang mesum dan seorang laki-laki, tapi akhirnya aku berkata untuk menenangkan nya.
"Ini, aku bodoh!!!"
"Eh?!!!"
Dia terdiam dan mencoba melihat diriku dengan jelas tiba-tiba saja wajahnya yang merah semakin panas setelah aku berbicara seperti itu, tanda bahwa ia mengenali diriku,
"Ti, tia... kenapa kamu di sini?"
Tanya nya dengan nada senang tapi sedikit cemas,
"Hah...., kenapa kamu mencemaskan ku padahal dirimu yang lebih memprihatinkan sekarang?"
Ucap ku ketus lalu melanjutkan.
"Sudahlah..., bersandar padaku, aku akan membantu mu ke kasur"
Dia sedikit terkejut dengan ucapan ku tapi tetap menuruti ku dan berbaring di kasur.
Aku memperhatikan keseliling ruangan dan menemukan baskom yang berisi air dan handuk basah tepat berada di samping tempat tidurnya, yang pasti ia lakukan sendiri untuk mengompres Kepala nya.
"Tia....."
Dia berucap lemah, dan aku memutuskan untuk merawat nya kali ini,
"Tunggu di sini aku akan mengambil air hangat yang baru"
Ucap ku dan mengganti air di baskom dan segera membawanya ke Rangga untuk dipakaikan dengan handuk lembut yang baru di kepalanya.
"Iya, terima kasih tapi aku nggak ingin merepotkan mu"
Balas Rangga yang terus-tengah Karena suhu tubuh nya naik lagi, "kamu sebaiknya cepat pulang jangan pedulikan aku di sini...."
Lanjut nya sambil terus mencoba tetap sadar, entah mengapa rasa amarahku naik sedikit setelah mendengar ucapan nya, dan mulai berkata dengan nada marah.
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan ku Jika sakit parah seperti ini?"
"Bahkan sampai lebih dari seminggu loh!!!...., lalu Kenapa juga kamu tidak berobat padahal teman mu banyak yang bisa membantu mu!, jika kau tidak ingin meminta bantuan ku!?"
"I... Itu..., karena aku tidak ingin merepotkan orang orang"
Balas nya lemah, dan menunjukkan wajah yang memelas dengan sedih.
"Haahh dasar!, makan lah bubur yang aku buat nanti, aku pasti akan merawat mu hingga sembuh"
"Ta... Tapi!"
"Tidur!!! Atau aku akan kabur dari hadapan mu selamanya"
"Ja... Jangan...."
Ucap nya sambil terus meneteskan air mata yang semakin banyak, entah karena rasa panas tubuh nya yang menyebabkan air mata nya yang terus mengalir atau karena ancaman ku.
"Makanya pejamkan mata mu dan tidur lah.. Aku akan terus berada di sisi mu hari ini"
Ucap ku sambil mengusap rambutnya dengan lembut.
Aku terus merawat nya sampai 3 hari berturut-turut dengan selalu berada di samping nya 24 jam, dengan membawa nya ke dokter, memasakkan makan untuk nya, membantu meminum kan obat, mencuci piring atau baju, merapikan tempat nya dan masih banyak lagi.
Sampai aku berfikir kalau diriku menjalankan simulasi ibu rumah tangga, untung saja teman ku baik hati membawakan pakaian dan beberapa barang yang ku perlukan jadi tidak perlu repot untuk pergi ke tempat ku.
Dan untuk pekerjaan ku aku mengambil cuti dengan alasan sakit yang mungkin mereka tidak percaya karena selama aku bekerja tidak pernah absen dengan alasan sakit.
Setelah 3 hari Rangga benar-benar sudah sehat baru aku baru pamit pulang, dia terus terusan berterima kasih karena sabar merawat nya yang sakit.
Hati ku senang tapi tetap tidak ingin mengakuinya, dan tetap berpegang teguh dengan ke keras kepalaan ku untuk menjauhinya dan memilih lanjut kuliah di tempat yang jauh dengan sengaja tidak memberi kabar bahkan ke keluarga sendiri.
Untuk menjauhi dirinya.
"Hoamm...."
Aku menguap dan mencoba mengingat ingat apa yang terjadi setelah itu tapi pikiran ku buntu, sambil terus berucap dalam hati.
"Setelah itu apa ya?"
Tapi tiba-tiba saja mata ku menjadi berat dan tidak tahan untuk menutup mata.
.......
Pov author
Edward menatap Florence yang sudah tertidur lelap di samping nya, awal awal cerita dia benar-benar sangat bersemangat untuk memberikan seluruh cerita nya ke dia.
Tapi tetap tidak bisa menahan kantuk dari kejadian yang telah ia lewati hari ini.
"Tidur lah yang nyenyak...."
Bisik Edward dan bangkit perlahan dari tempat tidurnya dan melihat bulan purnama yang sangat indah dari jendela kamar nya.
Lalu kaki nya melangkah ke lemari dan membuka nya dia mencari cari sesuatu di sana dan mengangkat nya tinggi tinggi di depan wajahnya.
Yaitu lukisan Dianna yang tersenyum entah sejak kapan ia mulai menaruh lukisan lukisan Dianna di tempat yang tersembunyi sehingga Florence tidak akan melihat nya.
"Dianna apa yang harus ku lakukan dengan perasaan ini?"
Di sisi lain hatinya percaya pada perkataan Florence tentang dirinya yang adalah Rangga, tapi di sisi lain hatinya juga tidak percaya dengan kenyataan itu.
Meskipun Diana dari dulu telah berkali-kali berkata bahwa kekasih atau pasanganku akan segera bertemu denganku yang bukan dirinya sendiri.
Karena Ingatan Milik Rangga seperti diriku yang sedang menonton teater atau cerita milik orang lain dan tidak bisa menganggap kita adalah orang itu.
Tapi untuk saat ini Edward bisa mencoba untuk belajar menjadi dekat dengan Florence karena dari hatinya Yang Terdalam Dia sangat tidak ingin menyakiti dari segi manapun kepada Florence.
Yang malah semakin tertarik untuk terus mendekatinya.
"Hah...."
Dia menghela nafas panjang dan berat menetap kembali lukisan wajah Diana lalu beralih ke jendela kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan Diana?"
.......
Pagi hari pun tiba, cahaya matahari mulai menyelinap di antara tirai tirai jendela dan mengenai wajah Florence.
"Em...."
Dirinya mulai merasa tidak nyaman dan membuka mata.
Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tenang duke yang masih tertidur, seketika hati nya merasa tenang setelah melihat wajah itu.
Lalu teringat akan cerita yang belum di selesai kan karena ketiduran,
"Hahh...."
Florence menghela nafas lalu berkata dalam hati,
"Bagaimana sih nih aku? Yang bercerita tapi menjadi yang tertidur"
"Kau sudah bangun Florence?"
Tanya suara serak menggoda di depan nya, yang adalah Edward, Florence terdiam sejenak karena pesona Edward begitu menggoda saat bangun tidur, tapi ia segera sadar setelah Edward berkata.
Florence duduk di kasur sebentar lalu mulai turun dari ranjang sambil berkata,
"Bangun lah duke...., anda tidak bisa bermalas-malasan sekarang...., banyak proyek yang kita lakukan bersama tertunda karena hubungan kita yang renggang"
"Kau benar"
Balas nya dan bangun dari kasur mulai mengikuti Florence yang merapikan diri sebelum manggil pelayan.
Tiba-tiba Florence menatap Duke dengan ragu ragu lalu berkata dengan malu.
"Emmmm..... Aku minta maaf karena malah tertidur dan tidak menyelesaikan cerita nya"
Edward tersenyum simpul dan membalas.
"Tidak apa apa kita masih punya banyak waktu untuk mendengar cerita seluruhnya"
"Terimakasih atas pengertian mu...."
Balas nya dan membunyikan lonceng untuk memanggil pelayan, dan beberapa pelayan segera masuk meskipun mereka terkejut karena Duchess yang memanggil mereka di dalam kamar Duke.
Mereka tetap menjaga sikap untuk tidak terkejut dengan cara profesional, segera setelah Duchess meminta untuk di bawakan ke kamar nya dan menyuruh menyiapkan kamar mandi.
Dan mulai berjalan pergi Duke berkata dengan menggoda.
"Aku menunggu mu untuk sarapan bersama"
"Baiklah"
Jawab Florence sambil tersenyum dan kembali berjalan, sementara Duke mulai menyuruh beberapa pelayan tersisa untuk menyiapkan air hangat dan sarapan yang segera di laksanakan oleh mereka.
..........
POV Destiana
Sarapan pagi ini cukup memuaskan karena beban di hati ku sudah berkurang karena berbaikan dengan Duke, sedangkan untuk Albert.
Entah lah..... Dia menjadi lebih lembut dari awal awal aku memasuki tubuh ini.
Tapi entah kenapa aku merasa ada tembok tipis yang menghalangi kami.
Dan untuk itu aku membiarkan nya saja, selama dia tidak membenci ku aku tidak masalah meskipun hubungan kami terancam seperti ini selama nya.
Lalu aku dan Edward memutuskan untuk mengunjungi Franks yang masih terkurung untuk mencoba melepaskan segel budak nya.
Awalnya Duke sangat ingin membunuh Franks dan tidak setuju dengan ku untuk membebaskan nya dari segel itu, tapi karena desakan ku akhirnya dia menyerah.
Makanya saat kami ke dalam kurungan, beberapa penyihir pekerja kediaman ini sangat terkejut dan buru buru menyapa hormat kepada kami.
Aku segera menyuruh mereka bersikap biasa dan mulai bertanya bagaimana perkembangan segel budak Franks akhir akhir ini.
Salah satu dari mereka menjawab kalau akhir-akhir ini kontrak budak menjadi lemah tapi Meskipun mereka mencoba untuk menghapus nya secara paksa itu tidak bisa dilakukan.
Seperti ada sesuatu kunci yang harus dipecahkan dan mereka tidak bisa melangkah lebih jauh dalam penelitian kontrak budak karena ini benar benar kontrak yang sudah Terlarang di kerajaan dan sangat sedikit catatan yang membahasnya.
Dan jika mereka membukanya secara paksa bisa jadi itu mempengaruhi nyawa pria ini.
Aku mengangguk paham, tapi tetap kebingungan karena aku tidak tahu apa apa tentang sihir atau segel dan kontrak budak di dunia ini.
Dan tanpa sadar Edward sudah melangkah maju untuk melihat Franks yang terbaring di meja pasien.
"Apa yang kau lakukan Edward?"
Dia tiba-tiba saja mengulur kan tangan ke arah Franks yang tertidur
"Aku akan mencobanya ucapnya dan mulai merapalkan mantra"
Tangan nya di selimuti cahaya berwarna biru seperti aliran listrik dan itu juga menyelubungi seluruh tubuh Franks, dan orang itu mulai terangkat dari meja pasien.
"Semua mundur!!!"
Perintah nya tegas dan segera setelah itu para penyihir yang lain mundur ke belakang dengan membuat tameng pelindung di depan ku.
"Berhati-hatilah!!!"
Teriak ku karena ruangan itu mulai seperti terkena angin topan yang sangat bising dan juga berbahaya dan akhirnya setelah beberapa lama sesuatu seperti ledakan berbunyi.
Tapi tidak ada yang terjadi karena Franks maupun duke yang terlihat masih utuh, dan sihir milik duke berangsur-angsur menghilang.
Para penyihir yang melindungi ku dengan tameng sihir mulai membuka nya karena diriku yang segera berlari ke arah Edward, yang hampir terjatuh.
"Kamu tidak apa apa?"
Tanya ku cemas dan langsung memengangi nya.
"Aku tidak apa-apa...., hanya lelah karena mana ku benar-benar hampir habis setelah melakukan hal tadi"
Balas nya menenangkan ku,
"Memang nya kau melakukan apa sampai seperti ini?"
Tanya ku kembali dan membantu nya untuk duduk di kursi terdekat, setelah menyuruh salah satu penyihir untuk memanggil pelayan dan membawa kan air minum.
Dirinya masih terengah-engah, dan aku berkata kepada para penyihir.
"Tolong salah satu dari kalian jelas kan"
"Menjawab nyonya, duke menghapus paksa segel atau kontrak budak itu yang terbuat dari sihir hitam, dengan mantra tadi.
Lalu agar tidak menyakiti pasien duke mengeluarkan mana nya yang besar untuk melindungi tubuh, organ dalam, bahkan jiwa pasien agar tidak terpengaruh oleh penghapusan paksa segel"
"Atau hukuman karena penghapusan tadi"
Aku berfikir sejenak lalu menyimpulkan, harus yang memiliki mana yang tinggi baru bisa melakukan hal ini, dan berkata kepada mereka.
"Jadi itu memang harus di lakukan dengan sang pemilik mana yang besar bukan?"
"Belum tentu nyonya, karena jika dia tidak bisa mengendalikan mana nya yang besar, bisa bisa membawa kehancuran bagi dirinya sendiri maupun orang lain."
"Sedangkan Duke dan putra mahkota adalah orang orang yang sangat berbakat dalam sihir maupun orang pengendalian mana, nyonya"
Aku melirik Edward yang tersenyum bangga,
"Jadi kau orang yang sangat hebat huh..."
"Tentu saja"
Balas nya yang sangat terlihat sombong, untung nya penyihir yang tadi ku suruh datang, dan pelayan yang di panggil berada di belakang nya mengekor sambil membawa ceret air dan sebuah gelas di bantu penyihir tadi.
Dan segera aku menuangkan nya dan membantu Duke untuk minum.
"Tapi ini tidak akan berhasil jika kalian tidak melemahkan segel nya"
Ucap Duke tiba-tiba yang memberikan apresiasi kepada para penyihir dari kediaman nya maupun penyihir yang ia minta tolong kemarin saat mempraktikkan lift.
Ya aku tau dengan pasti mereka sangat bekerja keras meskipun pada saat itu aku maupun Duke sedang dalam posisi canggung.
Mereka melakukan perintah yang ku suruh secara baik.
"Dan itu juga tidak akan berhasil tanpa dirimu Florence"
Ucap Duke sambil tersenyum bangga terhadap ku.
"Aku?"
"Ya, jika Duchess tidak menyuruh kami untuk memeriksa nya kami tidak akan bisa melemahkan segel budak, dan ini menjadi catatan beharga tentang segel budak dari sihir hitam"
Ucap salah satu penyihir yang terlihat sangat pendek di banding kan dengan teman teman nya.
"Dan ternyata sihir hitam itu sangat berbahaya, dan juga sangat kuat karena membutuhkan pengorbanan makanan untuk kekuatan nya"
"Makanan???"
"Ya, kau ingatkan ingatan Franks saat itu"
"!!!!"
Jadi gara-gara itu Duke bahkan kesulitan melawan nya.
"Dia benar-benar putri penjahat"
Pikir ku cepat dan Duke memengang tangan ku yang terkepal, lalu berucap.
"Tapi tenang saja karena dia di kurung di menara itu sekarang"
........