
POV author
Seketika senyuman nya merekah, Ophir benar benar bisa merasakan perasaan dari mimpinya itu, seperti dirinya yang pernah mengalami kejadian kejadian nya.
Dan tanpa sadar air mata nya telah mengalir sejak awal, "loh kenapa aku menangis?," Tanyanya dalam hati.
"Ini kan bukan diriku sendiri tapi kenapa rasanya sangat familiar?, Apalagi saat Duchess memelukku sesuatu yang terasa hilang saat dulu memenuhi hati ku," ucap nya yang kembali bercucuran air mata.
Dan di hari itu Ophir terus menangis sampai malam sejak kembali dari rumah Duke Devonte, sementara itu Florence terdiam menatap malam nya malam dari balkon kamarnya yang lebar.
Angin semilir menerbangkan beberapa rambut kecil nya, dia bingung harus melakukan apa karena belum mengantuk, "tok tok tok"
Pintu di ketuk, Florence penasaran siapa itu yang berani malam malam jalan ke kamarnya, "ya sebentar!," Teriaknya sebagai pertanda akan membukakan pintu.
Florence berjalan mendekat dari balkon ke pintu kamar nya dan membuka pintu yang ternyata di balik pintu terdapat Albert yang memakai piyama juga, "Albert" ucapnya tanpa menyembunyikan kekagetan nya.
"Mama, aku ingin tidur bersama mu!"
Ucap nya dengan pandangan yang berbeda, "ah..." Florence langsung memahami kenapa Albert seperti ini, dia sekarang sedang dalam siklus kutukannya.
"Masuklah....."
Ucap nya dan menggandeng tangan kecil nya, Duchess tidak lupa untuk menutup pintu kamar nya kembali, mereka naik keranjang Florence menepuk nepuk bantal di samping nya.
Memberi isyarat agar Albert tidur disampingnya, ada sesuatu yang terasa janggal karena Albert berubah tanpa membuat keributan, saat Albert telah berbaring di samping nya Florence mulai bertanya.
"Albert...."
"Ya, mama!?"
"Apa kau tidak memukuli orang saat berjalan kesini?"
"Tidak"
"Sungguh?"
"Ya"
"Aku ingin bertanya"
"Apa?" tanya Florence kembali
"Sebenarnya aku bagimu apa?"
Florence ber 'hah' pelan terkejut dengan pertanyaan dari Albert yang sedang terpengaruh kutukan ini, "Em.... Tentu saja kau anak ku yang berharga...."
"Bohong"
"Aku bersumpah!!!"
"Tapi aku bukan anak mu"
Seketika Florence terkesiap mendengar ucapannya, bukan kah jika Albert dipengaruhi oleh kutukan dia tidak akan bertanya hal-hal aneh seperti ini?, kalau si kutukan itu benar-benar mengetahui Florence bukan ibunya Kenapa dia masih mengamuk jika tidak ada dirinya.
"Siapa bilang? Kau mungkin anak ku di kehidupan sebelumnya" jawab Florence cepat,
"Mama, percaya hal seperti itu?"
"Tentu"
Ucapnya tanpa keragu-raguan dan tersenyum tulus, Albert menatap Florence seperti orang yang terpesona lalu tersenyum kecil dengan jawaban nya.
Setelah itu dia memeluknya dengan erat dan mengajak untuk segera tidur, Florence tersenyum lagi berfikir Brian benar benar menggemaskan saat seumuran Albert.
"Aku benar-benar beruntung bisa melihat anak ku tumbuh dewasa sekali lagi"
Ucapnya dalam hati sembari mengusap usap puncak kepalanya Albert dan jatuh tertidur pulas, sementara itu di dalam alam bawah sadar Albert dia menatap pria besar yang mirip dengan nya duduk disampingnya dengan senyum licik yang merendahkan diri nya.
"Perjanjian kita selesai kan?"
Ucap nya yang Albert ketahui sebagai sosok kutukan yang biasa mengambil alih dirinya, akhir akhir ini dia membuat sosok nya bisa berwujud seperti manusia.
........
POV Albert
Bukan seperti kabut hitam yang menyelimuti badan ku didalam alam bawah sadar ku, saat dirinya mengambil alih tubuh ku seperti biasa nya.
*(jadi mirip sukuna ya ◉‿◉)
"Ya" ucap ku sedikit tidak rela menyerahkan tubuh selama satu minggu untuk dirinya pakai.
Dia menyengir lebar dan mendekati ku sambil berkata "janji adalah janji, aku bertanya pertanyaan seperti itu (ke Florence) dan kau menyerah kan badan mu seminggu untuk ku pakai"
Dia duduk disamping ku, aku merasa risih akan tatapan nya, "kau ingin bertanya sesuatu?"
"Bagaimana kau tahu!?"
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan nya, bahkan tubuh di alam sadar ku sampai refleks menjauh dari nya, "kan aku dan kamu itu satu"
Jawabnya singkat, "jadi aku bisa tahu apa yang ingin kau pikirkan, meskipun tidak semua nya" lanjutnya lagi.
Aku terdiam lalu berkata, "tumben kenapa kau memakai sosok manusia, bahkan menyerupai ku?"
Aku kembali memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kakinya, pakaian yang ia kenakan terlihat aneh tapi familiar di mataku, "bahkan kau setengah setengah dalam meniru baju, kenapa tidak menyerupai pakaian ku?"
Dia tersenyum misterius entah apa maksudnya itu, "mungkin kau akan tahu alasan nya nanti" ucapnya pada akhirnya.
"Uh...., menyebalkan" dumelan ku pada akhirnya dia nyengir lebar sambil menepuk nepuk puncak kepalaku
"Aku tahu di kepala kecil mu sekarang banyak sekali pertanyaan tentang ku atau yang lain, tapi seperti tadi yang kukatakan semua akan kau ketahui pada akhirnya, tunggu saja dan nikmati kebersamaan keluarga kalian cepat atau lambat rahasia akan terkuak"
Aku terdiam memikirkan perkataan nya juga janji yang kami buat akan berlaku sejak tadi jika dia mengambil alih tubuh ku jangan pernah membunuh orang.
"Baiklah"
Ucapku pada akhirnya, "tidur lah"
Balas nya dengan nada nyeleneh,aku menatapnya sinis, "karena tubuh ku di kendalikan oleh mu aku jadi terus khawatir"
"Kan, aku sudah janji tidak akan melakukan apapun"
"Tetap saja....." Aku menggantung kan ucapan ku karena jika dalam keadaan seperti ini aku benar-benar tidak membutuhkan waktu tidur.
"Ah....., aku tau...." Balas nya menyebalkan, aku memukul wajahnya kencang sambil berteriak, "sudah menghilang sana!"
"Hahahaha" suara tawanya yang sangat puas dengan reaksi ku, lalu menghilang entah kemana, aku akhirnya sendirian di alam bawah sadar ku yang seperti ruangan kosong.
..........
POV Destiana
Saat pagi hari aku membuka mata dan menemukan bahwa Albert tidak berada di samping ku, seketika tubuh bangkit berdiri dan berlari ke luar kamar mencari Albert, sambil berteriak memanggil namanya.
"Albert!!!"
"Albert!!!, Dimana kau nak"
Para pelayan yang mendengarnya seketika panik karena mereka tahu kalau Albert sedang dalam pengaruh kutukan sekarang, tapi mereka dengan cekatan ikut mencari dan meneriakkan tuan muda nya.
Aku benar-benar khawatir jika dia tiba tiba mengamuk dan membunuh orang-orang, aku terus berlari sampai aku datang ke jalan setapak tepat berada di bawah balkon kamar ku.
Dan firasat ku berkata aku harus melihat ke atas dan benar saja Albert sejak tadi Albert berada di atas, aku berteriak memanggil namanya.
"Albert!!!"
Dia yang dari tadi menatap kosong ke depan mulai memperhatikan ku yang berteriak memanggil namanya, "Mama!,"
ucap nya senang.
"Haaah......, ku kira kamu kemana" Gumam ku lemas sampai terjatuh ke tanah, dia melihat sesuatu yang tidak disenangi nya dan tiba-tiba siap melompat ke bawah.
Para pelayan berteriak panik mengira Albert akan bunuh diri, sampai aku juga menengok ke atas dan mencoba mencegah nya untuk melompat, gila saja!, dia mau melompat dari balkon lantai dua yang tinggi nya bukan seperti rumah rumah kecil di dunia ku dulu.
Karena dari lantai dasar sampai lantai dua itu tinggi nya sekitar 10 meter, dia bersiap untuk melompat dan meskipun kami sudah berteriak teriak untuk menyuruh nya tidak melompat dia sudah meloncat dari balkon.
Para pelayan perempuan berteriak panik, sedangkan para kesatria bersiap untuk menangkap nya, aku bahkan telah mengulurkan tangan kearah nya agar dia jatuh ke pelukan ku.
Tapi ternyata dia mendarat dengan mulus di hadapan ku, saat Albert berdiri aku dengan segera memeriksa kondisi badannya, apa ada tulang yang patah atau tidak.
Tapi dia berkata bahwa dirinya baik baik saja, lalu berucap hal yang tidak penting sekarang, "kenapa anda masih memakai piyama saat keluar kamar?"
Aku menghela nafas lega setelah itu baru menjewer telinga nya dengan keras sambil berkata "jadi itu alasan mu melompat!!!, jika kau mengulang seperti itu lagi aku akan menghukum mu!"
Omel ku dengan keras dan berani, karena yang aku hadapi ini adalah Albert yang sedang terpengaruh kutukan jadi para pelayan takut takut melihat ku bertindak seperti itu kepada nya.
"Ya, maaf ma.... Aku tidak tahu kau sepanik itu mencari ku sampai tidak sempat berganti baju" balas nya sambil meringis, aku akhirnya melepaskan cubitan ku dan berkata.
"Kau benar-benar membuat jantung ku hampir lepas dari tempatnya!"
Lalu memeluk nya dengan erat setelah memarahi nya, aku merasa Albert tersenyum di balik pelukan ku, "ada apa ribut ribut!"
Ucap suara yang sangat familiar, para pelayan dan kesatria membukukan badan kepadanya, aku melepaskan pelukan kami dan melihat Edward yang juga masih memakai piyama tidur nya.
Bajunya terlihat sedikit compang-
camping mungkin karena berlari tergesa-gesa menuju kesini, "ada apa ini!," tanya nya lagi dengan tidak sabaran.
"Ini salahku karena membuat keributan di pagi hari"
Edward melirik seorang kesatria dan kesatria itu menjawab, "Duchess mencari tuan muda yang menghilang dari kamar dan ternyata berada di balkon kamar"
"Tapi kenapa bisa sampai seheboh ini?"
"Maaf, karena Albert sedang dalam pengaruh kutukan jadi aku khawatir dia akan melukai orang orang, jadi aku mencari nya dengan heboh seperti ini"
Balas ku lagi, dia menghela nafas panjang mungkin lelah dengan kelakuan ku, dan sejak tadi Albert bersembunyi di belakang ku agar tidak ikut di marahi karena membuat satu istana panik.
Tapi tiba-tiba saja dia mulai terkekeh pelan, para pelayan dan kesatria kebingungan bahkan diriku juga dan Albert, "bisa bisa nya kita panik seperti ini padahal gak ada kejadian apa-apa yang akan membahayakan"
"Hah?"
Aku sedikit bingung karena ucapannya, bukan kah akan berbahaya jika Albert dalam pengaruh kutukan?, Dan Duke seperti mengetahui apa yang aku pikirkan menjawab.
"Semua pelayan dan kesatria disini diberi sihir perlindungan yang kuat, jadi tidak akan bisa menghancurkan pelindungnya jika dia tiba-tiba menyerang, apalagi sekarang Albert sudah semakin tenang dari pada dua tahun yang lalu"
Para pelayan dan kesatria mulai ikut tertawa, dan aku juga ikut tertawa, "kenapa sampai melupakan hal yang penting seperti itu sih?....," Pikir ku dalam hati.
"Bahkan tuan dari kedua pemilik kediaman ini masih memakai piyama tidur saat keluar dari kamar, karena tergesa-gesa diliputi rasa panik"
Lanjut Duke lagi, aku kembali tertawa dan mengiyakan perkataan nya sambil berkata,
"Benar juga, seperti nya sekarang tata krama keluarga duke jadi hancur karena pasutri"
"Ini akan terkenang dalam sejarah"
Lanjut nya lagi, "sudah sudah, masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama kan Duchess?, Jadi mari kita kembali ke kamar dan bersiap untuk sarapan bersama"
Ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku, Aku masih merasa lucu dia bersikap dengan sopan meskipun pakaiannya yang masih terlihat tidak rapih sejak tadi, karena itu adalah piyama tidur.
"Baiklah mari kembali ke kamar masing-masing dan bersiap" ucap ku sambil mengambil tangan nya, dia berjalan bergandengan tangan dengan ku dan Albert mengekor di belakang kami.
............
Bahkan beberapa kali aku harus menyimpan rasa maluku dalam dalam atas kejadian tadi pagi, Wren dan Joy yang tidak mengatahui apa, tadi pagi hanya makan seperti biasa.
Sedang kan aku dan Duke beberapa kali ingin tertawa kecil membayangkan kejadian seperti itu jika terulang lagi,
Setelah sarapan aku akan membahas tentang lift lagi dengan duke dan menyuruh Albert untuk pergi bermain sendiri, tapi dia tidak ingin menjauh dariku karena kutukannya.
Ini cukup sulit karena kita akan membahas hal-hal yang rumit bagi anak kecil, dan bisa membuat nya kebosanan, tapi Duke menjawab tidak masalah untuk membiarkan Albert ikut serta dalam pembahasan ini.
"Sekalian akan menjaganya agar tidak mengamuk"
"Anda benar" balas ku sambil merapikan kertas kertas kosong yang akan penuh dengan tulisan nanti nya, "baik lah mari kita mulai pembahasan nya"
"Bagaimana motor penggerak dapat berfungsi dengan baik?"
"Jawaban nya adalah lift harus dilengkapi dengan sistem pengendali lift, seperti apa Sistem itu?"
"Apa itu mesin juga?" Tanya Duke tiba-tiba, aku tersenyum lalu berkata, "pertanyaan yang bagus"
"Dari pada mesin itu lebih disebut sebagai Ladder (tangga), karena bentuk tampilan bahasa pemrogramannya memang kontrol logika terprogram adalah suatu mikroprosesor yang digunakan untuk otomasi proses industri seperti pengawasan dan pengontrolan mesin di jalur perakitan"
Seketika aku teringat telah menjelaskan banyak kata yang mungkin tidak ia mengerti, aku takut takut melihat kearahnya, yang tersenyum kesal, cengiran ku mulai terbentuk sambil berkata "akan aku jelaskan itu nanti" lalu kembali melanjutkan perkataan ku.
"Ladder Diagram atau diagram tangga adalah skema khusus yang biasa digunakan untuk mendokumentasikan sistem logika kontrol di lingkungan industri, ya intinya kita bisa mengontrol lift tanpa harus bersusah payah
mengontrol kecepatan lift, struktur unit besar, konsumsi daya besar, beban kerja perawatan besar dan biaya tinggi, sehingga baik digunakan dengan bangunan berkecepatan tinggi dan menjamin persyaratan kenyamanan"
"Nah....., Sistem yang biasanya digunakan adalah Programmable Logic Controller, atau disingkat (PLC)"
"Berarti PLC itu termasuk mesin!" Jawab Duke kekeuh dengan pendirian nya, aku tersenyum bingung dan mulai menjelaskan,
"Itu terdiri dari sebuah rangkaian elektronik yang dapat mengerjakan berbagai fungsi-fungsi kontrol pada level- level yang kompleks. PLC dapat diprogram, dikontrol, dan dioperasikan oleh operator yang tidak berpengalaman dalam mengoperasikan komputer!, Jadi ini lebih mudah"
"Komputer benda apa lagi itu?"
Tanya Duke tiba-tiba, "haah....." aku menghela nafas panjang karena mungkin pembahasan ini tidak akan gampang di diskusikan.
Sedangkan Albert yang berada di pangkuan ku hanya terkekeh pelan melihat wajah ku yang kehabisan cara untuk membuat penjelasan nya mudah.
..........
Akhirnya setelah beberapa kali pengulangan kata yang lebih mudah, dan juga dengan bantuan gerakan tangan untuk memperagakan nya, Edward sepenuhnya paham dengan sistem pengendali lift.
Aku tidak sengaja menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit senja, bahkan matahari sebentar lagi akan terbenam dari barat.
Duke ikut memperhatikan apa yang aku lihat lalu berkata "pantas saja dari tadi aku merasa lapar, ternyata kita menggunakan otak kita terlalu berlebihan"
"Dan sekarang sudah waktunya makan malam kita benar benar melewatkan makan siang tadi, karena kau sibuk menjelaskan panjang lebar tentang ini"
"Maaf apa itu mengganggu mu?" Tanyaku merasa bersalah karena mengambil waktu nya, tidak jawab nya singkat ayo kita istirahat untuk mandi lalu makan bersama.
"Setelah itu lanjut untuk membahas ini?"
"Tidak kita akan istirahat lebih awal"
"Oh ya, bukannya anda akhir akhir ini terlihat kesal?"
"Ah.... Kau benar mau tau itu disebabkan siapa?"
"Oleh ku?" Tebak ku
Duke tersenyum kecil dan berkata "ya, jadi mau kah kamu membayarnya?"
"Bagaimana cara nya?"
"Biar kan aku tidur di kamar mu malam ini sampai seminggu, kemudian"
"Hah?!" Aku terkejut dengan permintaan aneh dari Edward, tiba tiba saja Albert yang tertidur di pangkuan ku ikut menyahut.
"Tidak bisa!!!, mama hanya tidur bersama ku!!!"
"Eh!?"
Disana aku mulai dibingungkan dengan perdebatan aneh oleh mereka berdua tentang tidur di kamarku, "Sudah Sudah!!!"
Akhirnya aku berteriak melerai mereka sambil berkata "bagaimana kalau kalian berdua tidur saja di kamar ku?"
Mereka terdiam sesaat lalu mengangguk antusias "ya!"
..............
POV Edward
Ucapan ku tentang tidur dikamar nya meluncur bagaikan air yang mengalir karena sebenarnya aku hanya ingin memperhatikan nya lebih dekat lagi, memang aku dulu sedikit curiga dengan nya.
Tapi entah kenapa akhir-akhir ini suasana hati ku sedang buruk, dan itu berhubungan dengan Duchess, makanya aku ingin memastikan nya dengan tidur sekamar dengan nya.
"Tok tok tok"
"Tuan Duke"
"Ya, ada apa?"
"Duchess telah menunggu anda dikamar"
"Baik, aku mengerti" tanpa sadar nada suara pelayan itu terdengar sangat senang bahkan hampir bisa dipastikan akan tertawa gemas,
"Apa orang itu mendapat hadiah, sampai bisa sesenang itu?"
Ucapku lalu bangun dari bak mandi dan mengambil handuk, setelah selesai aku memakai piyama tidur dan mulai melangkah ke kamar nya.
Entah kenapa aku sengaja memakai piyama yang agak terbuka ini padahal aku lebih senang memakai yang lebih tertutup.
Saat aku sampai di depan kamar nya aku dengan sopan mengetuk pintu dia menjawab dengan santai "masuk lah" rasa cemas menghilang tiba-tiba dari bahuku, tapi tadi saat aku mengetok pintu nya entah kenapa dada ku bergemuruh hebat.
Aku membuka pintu dan mencoba melihat ke sekeliling ruangan dulu baru menemukan Florence yang sedang duduk ranjang kasur, "kemari" ucap nya biasa sambil mengisyaratkan dengan jari nya.
Lalu entah kenapa wajahku terasa panas, mungkin aku benar-benar merasa malu saat ini, "permisi" sampai sampai aku dengan sopan mengatakan hal seperti itu untuk masuk ke dalam.
"Dimana Albert?" ucapku pura-pura membahas suatu topik, agar suasana disini tidak canggung.
"Ah......, dia belum datang"
"Benarkah? mungkin dia tidak jadi untuk tidur kemari"
"Tidak mungkin dia kan sedangkan dalam pengaruh kutukannya,"
"Tapi kan bisa jadi dia tidur....."
"Braaakk!!!"
Ucapanku terhenti oleh suara pintu yang terbuka keras, "MAMA!!" teriak Albert dan berlari ke arah Florence, Aku yang melihatnya merasa kesal sendiri karena Florence menangkap anak itu.
Lalu mengelus kepalanya dengan lembut, "baiklah bisa kita mulai tidurnya?" tanya nya dan akhirnya aku menghela napas lelah tanda menyerah lalu berjalan untuk menutup pintu.
Sampai belum sampai beberapa lama, tiba-tiba pintu terbuka lagi dan muncul 2 orang yang kami ketahui mereka adalah joy dan Wren.
"Kami boleh ikut?"
Tanya Joy dengan mata memelas, sedangkan Wren tangan nya telah digandeng oleh Joy lalu dia berkata dengan nada tsundre bahwa "aku sebenarnya tidak ingin tidur bersama tapi Joy menarik ku dan menyuruh nya untuk ikut kesini!"
Bagaimana mereka tahu kalau kami akan tidur bersama?, Oh ya para pelayan kan mengetahui ini karena aku bilang akan tidur di kamar Florence.
Tapi aku lupa mengatakan kepada mereka agar tidak memberitahu anak-anak lain, tentang tidur bersama karena pasti mereka ingin sekali ikut kemari untuk tidur bersama Florence.
"Tidak!" Jawab aku dan Albert bersamaan, dengan tegas ke mereka berdua.
"Boleh....." Balas Duchess sambil tersenyum manis kepada kedua anak itu
Wajah kami mengatakan jangan kepada nya, tapi Duchess tetap menerima mereka bahkan dengan senang hati, lalu menyuruh nya untuk tidur di tengah diapit oleh ku dan dirinya.
Albert tadinya ingin tidur di samping Florence tapi karena ada Joy yang seorang perempuan dan dia laki-laki, Duchess mengusir nya tidur disebelah nya setelah Joy, dan Wren tepat disampingku yang paling terakhir sama sekali tidak bersampingan dengan nya.
Aku mengeluh pelan bagaimana bisa ini terjadi, niat ku untuk memata matai nya dari dekat dengan tidur sekamar, bukan tidur disampingnya dengan ada tiga bocah yang menghalangi.
"Ssssttt ayo tidur" ucap Duchess menarik anak anak yang masih ribut tentang posisi, "mau aku bacakan cerita?"
Dan seketika mereka semua heboh Duchess menyuruh mereka untuk diam jika ingin dimulai cerita nya, anak anak itu menurutinya dan Duchess mulai bercerita.
Dia bercerita tentang seorang binatang kecil yang suka mencuri ketimun, binatang itu itu sering sekali datang ke ladang petani untuk mencurinya, sampai suatu hari si petani kesal.
Dan mencoba membuat orang-orangan palsu dengan menambahkan lem yang sangat kuat agar jika sang kancil menendang orang-orangan itu, dia akan terjerat oleh lemnya.
Lalu benar saja ke esokan harinya nya, sang kancil mencuri kembali timun milik pak petani, dan dia melihat orang-orangan sawah yang tidak menakuti nya.
Dia dengan tawa mengatakan kalau orang-orangan sawah ini tidak akan membuatnya takut dan dia berusaha menjatuhkan kan orang-orangan itu.
Sampai tiba-tiba kedua kaki depan nya tidak bisa dilepaskan dari orang-orangan itu dan saat sore hari, pak petani mulai melihat memeriksa apakah dia berhasil menangkap si kancil atau tidak.
Dan tentu saja si kancil terperangkap oleh jebakannya dia dengan senang hati membawa kancil pulang ke rumahnya, sang kancil berteriak meminta maaf karena sering mencuri mencuri timun nya.
"Lalu, lalu!" Teriak Joy dengan semangat,
"Ceritanya dilanjut nanti" kata Florence dan menarik selimut untuk anak-anak itu, "yahhhh....." mereka mengeluh dengan kecewa, dan Florence berjanji akan menceritakan kelanjutannya besok jika mereka tidur saat ini.
Dan akhirnya mereka berusaha memejamkan mata padahal di dalam hatinya masih terpikirkan sambungan dari cerita tadi, sedangkan aku ingin tertawa karena Florence berusaha menidurkan anak-anak dengan dongeng tapi mata mereka malah semakin terbuka lebar gara-gara cerita itu.
Sebagai gantinya Florence malah bernyanyi tentang binatang itu,
"si kancil anak nakal.....
suka mencuri ketimun.....
ayo cepat dikurung jangan diberi ampun!"
Berulang-ulang sampai membuat mataku hampir akan terpejam sepenuhnya, dan Untung saja Florence mencolek bahuku agar tidak tertidur duluan.
"Ah, Maaf....." ucap ku yang hampir ketiduran, dia tersenyum kecil sambil memberi isyarat tidak apa-apa lalu berkata dengan suara pelan agar anak anak tidak terbangun, "memang lagunya bikin ngantuk"
"Ya sudah, kalau kamu mau tidur duluan, tidur aja....., pasti besok banyak kerjaan" ucapnya lagi aku tersenyum dan tiba-tiba teringat sesuatu lalu membalas.
"Janji kan aku 1 hal" ucapku tiba-tiba
"Janji apa?" tanyanya penasaran
"Agar besok kita berdua yang tidur bersama, jangan ada anak-anak ini" ucap ku sembari menunjuk ketiga anak kecil yang sudah tertidur pulas.
Dia tertawa kecil dan berkata "baiklah...., janji adalah janji" balasnya lagi lalu aku aku berkata kembali "nyanyikan aku sesuatu yang bikin ngantuk"
"Lagu tadi?"
"Jangan yang lain"
"Baiklah...." Dia berfikir sebentar lalu mulai menyanyi, "Nina Bobo, oh... Nina Bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk"
Lagu singkat itu dia nyanyikan berulang ulang sampai mataku terasa berat dan mulai terhanyut oleh mimpi yang terasa nostalgia bagiku.
..........