I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
16



Dan juga kesal, aku ingin tertawa karena tau anak ini cemburu kepada orang tua nya sendiri jika memiliki adik padahal adiknya tidak akan lahir.


Tapi sekarang aku merasa kena karma karena mentertawakannya, padahal aku hanya melihat Duchess tertawa lepas dengan Joy dan Wren, entah kenapa hati ku terasa sesak.


"Sialan dia bukan ibu ku!!!"


Dumelan ku dalam hati, sambil terus berjalan pergi ke dalam rumah.


....


POV author


Tiga hari kemudian persiapan untuk menjebak para penjahat telah selesai, Florence bahkan sudah menyuruh End untuk terus hati hati dan fokus kepada Albert saat lomba berburu besok.


"Tok tok tok..."


Pintu di ketuk pelan, Florence yang sedang berada di kamar nya menyuruh pelayan itu untuk masuk dan mereka membawa kotak kotak besar kepada nya.


Setelah selesai mereka pun kembali pergi, aku dengan cekatan membuka kotak kayu yang berisi crossbow, para pelayan pribadi ku ikut membantu membuka kotak yang lain.


Red membuka kotak yang berisi pedang panjang, sedangkan Mery membuka kotak yang berisi beberapa besi panjang yang seperti hiasan kepala, belati dan kipas yang mirip punya ku sekarang, dan yang terakhir lionna dia membuka kotak yang berisi beberapa baju.


Dia mengangkat nya tinggi tinggi penasaran dengan bentuknya yang aneh, "memangnya siapa bangsawan perempuan atau laki-laki yang mau memakai baju oblong seperti ini?"


Ucap nya penasaran, Florence menjawab dengan cepat "aku," dan membuat mereka semua menoleh ke arah nya, "nyonya!!! Anda serius akan memakai ini," Tanya mereka kaget.


Pikiran mereka langsung membayangkan Florence mengenakan bawahan gaun dengan atasan rompi yang cukup terbuka ini tampa tambahan untuk menutupi bagian tubuh nya yang terbuka lebar.


Florence menggeleng kan kepala mengetahui isi kepala mereka, dia tersenyum lalu mengambil baju yang mirip rompi itu dari tangan lionna sambil berkata "tenang saja, aku memakai nya di luar kok"


"Hah??"


Mereka ber'hah' secara bersamaan karena membayangkan Florence yang mengenakan gaun mewah dengan aksesoris rompi itu.


Florence menatap lelah karena bayangan mereka tentang memakai rompi ini sungguh jelek, akhirnya angkat bicara, "Bayangkan saja setelah aku memakai pakaian berburu yang telah kalian siap kan, di tambah rompi ini"


Mereka kembali membayangkan apa yang di suruh Florence dan menemukan fakta bahwa itu akan terlihat sangat keren untuk nya.


"Nyonya!!! Itu akan sangat keren untuk anda"


Ucap mereka serempak dengan semangat bahkan mata yang berbinar-binar, "ya aku tahu" balas Florence singkat.


"Makanya besok kalian harus mendandani ku dengan keren"


"Baik nyoya!!!" Ucap mereka bersemangat, tanpa sadar Florence melihat seseorang yang sedang mengintip di balik pintu yang lumayan terbuka.


"Albert!, Sini masuk"


Florence memanggil nya, orang yang di panggil merasa terkejut tapi dengan cepat merubah ekspresi nya dan masuk kedalam, "permisi" ucapnya pelan.


Para pelayan memberi hormat, dan Florence menyuruh mereka untuk keluar terlebih dahulu, Albert merasa canggung sekarang, Florence mendekat ke arahnya sambil berkata.


"Kau ingin melihat lihat kotak ini kan?"


"Ba... bagaimana kau tahu!?"


Tanya Albert karena tebakan Duchess benar, "matamu berbinar saat aku memengagi rompi ini"


Balas Duchess santai, wajah Albert memerah dia merasa malu sekarang, "tak apa kau boleh mengang nya karena nanti kau juga akan memakai nya"


"Aku telah membuat rencana ini dengan Duke jadi kau tenang saja" lanjut nya lagi, Albert terdiam sejenak akhirnya memutuskan untuk mencobanya.


"Pfffftttt"


Duchess menahan tawa karena ia melihat Albert yang tenggelam oleh rompi untuk orang dewasa itu, Albert merasa tidak nyaman karena rompi nya yang sangat kebesaran.


Dia melepaskan nya kembali sambil mengeluh "bagaimana mungkin aku memakai yang seperti ini?"


Duchess kembali ke kotak yang berisi rompi dan dia kembali mencari rompi yang lebih kecil ukurannya untuk Albert, setelah mendapatkan nya ia mengangkat nya tinggi tinggi, sambil berkata,


"Kurasa ini akan pas untuk mu"


Albert melepas dengan cepat rompi yang tadi dan memakai yang di berikan Duchess sekarang, dan itu pas untuk tubuhnya.


"Jadi ini namanya apa?"


"Rompi anti benda tajam dan tusukan pisau"


"Hah?!!!"


Teriak Albert tidak percaya, sedangkan Duchess tersenyum senang.


.....


POV Destiana


Aku tersenyum senang karena wajah Albert yang tidak percaya bagaimana bisa tusukan pisau ditahan oleh baju yang terlihat tipis ini.


"Kau pasti tidak percaya kan?"


"Ya"


Jawab Albert tegas tanpa basa-basi, "Jadi, mau kau untuk mencoba nya bersama ku?" Tawar ku kepada nya.


"Saya melawan kamu?"


"Ya, by one?"


Tantang ku berani bahkan tanpa sadar mengucapkan kata dari bahasa yang aneh, Albert berfikir sejenak dia mungkin memahami bahasa itu, dia tersenyum kecil lalu berkata "ayo by one!!!"


Tidak perlu waktu lama kami telah berada di lapangan latihan, dengan di perhatikan oleh para penonton yang terus berdatangan seperti semut.


Dia mengenakan kemeja dan celana panjang dengan atasan rompi itu, Albert benar benar terlihat tampan dan keren, sementara aku juga menggunakan hal yang serupa dengan nya.


Banyak para pelayan yang bersorak kegirangan karena kami akan latihan tanding untuk mencoba rompi ini, "baik saya yang akan jadi juri nya"


Ucap kepala kesatria yang ikut membantu saat pencarian ku waktu itu, sekarang bahkan diriku baru mengetahui nama panggilan nya, 'si bucin anak'.


"Peraturan nya siapa yang menyerah duluan akan kalah, dan tidak boleh menggunakan sihir" lanjut nya lagi.


"Woh....."


Sorak kan penonton yang menyadari betapa serunya latihan ini karena peraturan yang sedikit, "Bersiap!," Aba-aba juri.


Kami memasang kuda kuda yang kokoh, dan saling berhadapan dengan pedang terangkat. "MULAI!!!"


"Zrakkk!!!!"


Suara pedang kami yang saling bergesekan, belum beberapa menit Albert sudah langsung melompat mengayunkan pedangnya ke arah ku.


Tapi aku dengan cekatan menangkis nya dan alhasil suara ngilu dua pedang beradu terdengar sangat nyaring, Albert memasang wajah kesal karena tidak bisa berlama-lama menahan pedang nya untuk mendorong ku.


Akhirnya ia melompat beberapa kali kebelakang memasang kuda-kuda, "wow, anda hebat tuan muda belum apa-apa sudah menyerang" pujiku kepada nya.


"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku benar-benar menganggap ini adalah ajang untuk melihat kemampuan ku, karena aku penasaran dengan apa yang dikatakan pak Boateng bahwa gaya pertarungan anda adalah yang terbaik "


"Jadi anda ingin mengalahkan ku?" Tanyaku penasaran.


"Ya!!!" Jawab nya serius


Aku tersenyum senang lalu menjatuhkan pedang panjang yang ku pengang, para penonton terkejut bahkan Albert juga, kepala kesatria menunggu perkataan ku jika memilih menyerah tapi itu tidak terjadi karena aku mengeluarkan belati dari sabuk yang berada di pinggang ku.


"Jadi boleh kah aku menantang anda dengan kemampuan khusus saya hari ini tuan muda?"


Albert tersenyum bersemangat, ia dengan senang membalas "dengan senang hati akan ku ladeni anda!"


...


"Haah....hah....."


Suara nafas kami berdua yang terengah engah, aku melihat kaki Albert mulai bergetar kecil karena lelah, dia mengusap tanah yang menempel di pipinya saat tadi beberapa kali jatuh karena mencoba menghindari beberapa serangan ku.


"Jadi apa kalian masih ingin melanjutkan nya?"


Aku mengangguk, sedangkan Albert masih terdiam, dan membuat para penonton menahan nafas atas jawaban yang akan di berikan kepada ku.


"Prang!!!"


Suara pedang yang di jatuh kan ketanah, Albert mengangkat kedua tangan nya keatas menyerah, ia berkata "anda menang Duchess, kemampuan anda mirip dengan assassin yang sangat berbakat"


Aku melihat nya yang senang meskipun tampak sangat kelelahan, "Jika aku menggunakan sihir pasti pemenang nya adalah aku"


Ucap nya yang tiba-tiba terjatuh ke tanah, "!!!!" Semua orang panik dan aku dengan cekatan berlari menangkap nya agar tidak membentur tanah.


"Woah..."


Semua orang bernafas lega karena Albert berhasil di tangkap, aku memeriksa nya yang ternyata tertidur lalu terkekeh geli karena dia benar benar kelelahan saat ini.


"Prok prok prok!!!"


Semua orang menoleh ke arah suara tepuk tangan itu yang ternyata adalah Duke, para pelayan dan kesatria terkejut dan memberi hormat secara takut takut, itu di sebabkan ada beberapa orang yang tiba-tiba datang karena masih bertugas.


Duke berjalan mendekati ku yang memangku Albert, dia tidak mengurusi para pelayan atau kesatria yang bolos lalu malah fokus pada ku, dia duduk di hadapan ku dan mengambil alih Albert dari pangkuan ku.


"Duke?"


Aku menatap nya yang sudah berdiri, dengan satu tangan ia menggendong Albert dan tangan kanannya terulur kepada ku untuk membantu ku berdiri.


Aku mengambil tangan nya dan berdiri, kami berjalan bersama menuju kamar Albert untuk mengistirahatkan nya, para penonton seketika bubar bahkan kepala kesatria juga kembali melatih anak-anak didik nya.


"Jadi rompi ini benar-benar bisa menahan tusukan pisau ya?"


Tanya Duke basa basi saat berjalan beriringan, aku mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan nya, "tapi jangan terlalu bergantung terhadap benda benda seperti itu"


Ucap ku mengingat kan, Duke membalas dengan ramah, "tentu saja aku tahu"


"Ya, itu karena rompi itu di buat dengan terburu-buru" lanjut ku lagi


"Jadi persiapan nya sudah selesai?"


"Ya, anda akan memberi tahu Franks?"


Duke hanya mengangguk, "aku harus memberitahu nya agar kita tahu dia penghianat atau tidak jika rencana yang telah kita siapkan dengan rapih tiba-tiba hancur berantakan"


Kami berhenti di persimpangan tangga ke atas menuju kamar Albert, karena kamar ku ada di lantai bawahnya.


"Baiklah semoga beruntung besok" doa ku


"Kau juga" ucapnya


"Jangan lupa dipakai rompi!!!, hanya untuk jaga jaga!" Teriak ku saat mereka mulai menjauh.


Duke hanya tersenyum tipis sebagai balasannya, setelah itu aku bergegas ke kamar ku untuk berganti pakaian dan mandi karena basah kuyup oleh keringat.


Tiga pelayan pribadi ku membantu dengan cekatan, mereka bahkan memijat otot ku yang lumayan tegang tadi sehabis latihan.


Aku meminta untuk di bawakan makan malam ke kamar karena ingin langsung beristirahat, akhirnya setelah malam telah larut, seseorang yang ku nanti datang.


Dia bertengger di pagar seperti burung elang yang hitam pekat, "end!" Ucap ku lalu membuka jendela balkon lebar lebar.


Dia mengeluarkan gulungan dari balik bajunya dan menyerahkan nya padaku, "aku sudah melakukan tugas yang anda berikan dengan cepat" ucapnya bangga.


"Jadi berikan hadiah ku" lanjut nya lagi, aku tersenyum kecil lalu menyerahkan sekantung kue kering kepada nya, "ini rasa apa?" Tanya nya.


End tersenyum tipis dan mengantongi nya, "oh ya, itu dibuat dengan teknik khusus di duniaku yang lama pasti rasanya akan berbeda dari yang lain"


"Cih! yang kutahu, semua kue dibuat dengan cara yang sama"


"Ya, sudah kalau tak percaya pasti rasanya berbeda dari yang lain"


"Terserah lah, aku akan pergi" ucapnya malas lalu bersiap melompat, "ngomong -ngomong jika besok rencananya tidak berjalan lancar, dan kau butuh diriku panggil kapan pun dengan peluit itu"


"Ya, akan kupakai lain kali"


Balas ku singkat dan dia mulai melompat dari pagar dan saat mencapai tanah dirinya menghilang, aku kembali ke kasur dan tidur.


...


Pagi hari pun tiba, kereta kami sebentar lagi akan sampai ke kediaman viscount Addison di wilayah tenggara karena menggunakan portal sihir yang tersedia di setiap kerajaan meskipun lebih sering digunakan oleh para bangsawan.


Karena biayanya yang sangat besar, lalu sekarang ini pintu masuk dan keluar portal sangat di penuhi oleh orang yang berlalu lalang, dari para bangsawan yang akan menghadiri perburuan kali ini, atau para pedagang.


Bahkan jalanan menjadi macet, "Pfffftttt" aku menahan tawa ku karena teringat dengan jalan di Jakarta pasti selalu macet meskipun tidak ada acara disana.


Albert dan Edward melihat ku dengan tatapan aneh yang juga terlihat bertanya-tanya dari arti tatapan nya, "apa nya yang lucu?"


Aku hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, "sebentar lagi kita sampai" ucap Duke beberapa menit kemudian karena kereta bangsawan di dahulukan dari lambang nya yang menandakan peringkat.


Aku kembali menatap jendela dan memperhatikan para rakyat biasa yang sering memakai pakaian peternak, bahkan beberapa kali kami melewati bukit rumput yang luas, aku tersenyum senang ternyata wilayah keluarga viscount Addison benar benar mirip seperti daerah peternakan hewan di dunia lama ku.


Tapi lebih bagus, wilayah nya juga terbilang cukup luas, pasti orang orang disini bekerja menjadi peternak, pikir ku


Sampai suara Edward menginterupsi dari lamunan ku, "Duchess liat ini tempat nya" ucapnya sambil menunjuk ke arah depan di luar jendela.


Aku menatap takjub dengan hutan buatan yang sangat indah digunakan untuk perburuan binatang buas, kereta kami memasuki tugu raksasa yang terbuat dari perak.


"Gila omset penjualan nya pasti besar untuk membuat ini!!!" Pikir ku sendiri karena tamu rumah nya adalah viscount yang terbilang sangat kaya, dan seperti biasa para bangsawan pasti akan berlomba lomba dalam hal kekayaan agar banyak di puji puji.


Para bangsawan sangat suka sekali memakai pakaian yang terbuat dari bulu binatang buas yang asli dari pada kulit monster karena beberapa terlihat aneh dan berbahaya.


Tapi memang kalau soal daging para bangsawan lebih menyukai daging monster daripada hewan hewan biasa seperti sapi dan kambing, karena rasanya memang seenak itu.


Kereta berhenti di dekat tenda yang besar, kurasa ini adalah tempat untuk rombongan Duke Devonte beristirahat, karena hanya Duke yang akan berburu.


Dan kami para wanita juga anak-anak akan berkumpul di tempat lain dengan mengadakan pesta teh, setelah turun dari kereta aku mencoba masuk kedalam tenda yang ternyata lebih luas di bandingkan dengan apa yang kupikirkan.


Tidak perlu menunggu lama terompet berbunyi yang menandakan keluarga kerajaan sudah datang, kami semua mendekat ke sana sedang kan Duke membuat persiapan berburunya.


Oh ya Wren dan Joy sengaja tidak aku ikut kan kemari karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, jadi mereka sekarang tetap dirumah, di tempat dekat dengan singgasana yang di buat di dekat tenda keluarga kerajaan.


Duduk dengan berurutan raja, ratu dan putra mahkota juga seorang putri disampingnya yang merupakan musuh keluarga Devonte, dia terlihat sangat indah dengan rambut ungu gelap yang memukau dan wajah yang imut yang terlihat dingin.


"Bagaimana mungkin orang yang cantik seperti itu memiliki kebusukan hati?" Pikir ku dalam hati, "tapi kita tidak bisa menilai seseorang dari sampul nya saja" lanjut ku dan memperhatikan apa yang raja katakan.


"Perhatian semua yang mulia akan menyampaikan pesan secara langsung saat ini!!!" Teriak salah satu kesatria kepercayaan raja.


Raja berdiri di mimbar yang telah disediakan lalu berkata,


"Yang terhormat, para bangsawan muda atau lama yang selalu diberkahi langit, kemuliaan dan kebahagiaan,


Pertama-tama mari kita berterima kasih kepada ajaran Dewi Hera karena atas berkat dan rahmatnya kita dapat berkumpul pada hari ini dalam acara perburuan yang selalu diadakan dua kali setahun.


Pada hari yang berbahagia ini, saya selaku raja negeri ini untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata kepada kalian semua, putri perburuan akan di berikan Tiara kehormatan jika para pria yang ikut serta memberikan kepada pasangan nya hasil buruan nya dan di hitung.


Untuk hasil buruan akan di bagi dua untuk keluarga kerajaan dan pemburu atau pasangan nya, terserah kemauan sang pemburu,


Jadi mari kita mulai perburuan hari ini dengan semangat!!!" Teriak raja sambil mengepalkan tangan ke atas


Dan para laki-laki bersorak juga mengikuti gerakan raja yang mengepalkan tangan ke atas,


"Untuk kejayaan Hongaria!!!"


Teriak raja menyemangati, para bangsawan lain mengikuti nya, "Untuk kejayaan Hongaria!!!"


"Dengan ini perburuan secara resmi di mulai!!!"


Ucap raja sambil menembak kan sihir ke langit "door!!!"


Aku menatap ke langit yang sekarang bertaburan bunga, "sungguh ini sangat indah" Gumamku sendiri sampai melupakan Albert yang harus nya berada di samping ku.


"Eh Albert!? Albert!?" Aku berteriak panik di kerumunan yang sangat berisik untuk persiapan karena para pria yang sibuk berlalu lalang sedang kan beberapa perempuan yang mengobrol satu sama lain.


Aku sudah sangat panik karena tidak menemukan Albert, sampai ada tangan kecil yang mengait di telapak tangan ku yang ternyata adalah Albert, "aku dari tadi mengikuti mu!" Ucapnya kesal karena tidak diperhatikan.


Padahal aku berteriak memanggil namanya tadi sambil mencarinya, yang padahal mengekor di belakang ku "tapi kenapa dia tidak menjawab?" Pikir ku aneh.


"Haaah..." aku menghela nafas lelah dan menggandeng tangan nya erat "kalau ku panggil nyahut ya!" Perintah ku mutlak, dia mengangguk kan kepala nya.


Dan kami mulai kembali ke tenda, menemui Duke yang telah siap di atas kudanya para peserta di berikan waktu untuk bersiap-siap sebelum di mulai dengan tanda terompet yang berbunyi dua kali.


"Jadi anda sudah siap?"


Tanyaku yang ia balas dengan anggukan, lalu Edward bertanya "apa kau yakin mengurusi nya sendiri?"


"Ya, yang penting banyak saksi mata" ucap ku yakin,


"Albert jangan buat Duchess repot!" Peringati nya.


"Aku tahu...." Jawab Albert datar.


"Kalau begitu aku akan pergi kesana" ucapnya sambil bersiap memacu kudanya, sampai aku teringat sesuatu dan berteriak.


"Tunggu!!!, Apa anda sudah mengenakan rompi nya?!"


"Ya" balas Duke sambil menunjuk kan rompinya, dengan tatapan mata yang hanya tertuju pada ku.


"Kalau begitu ini untuk anda" aku menyerahkan rumbai rumbai bewarna hitam dengan hiasan manik manik bewarna biru.


Dia menggambil itu dan berkata "ini untuk ku?"


"Ya, semoga kau kembali dengan selamat" doa ku tulus, dia dengan senyum miring nya mengecup rumbai rumbai buatan ku itu sambil berkata.


"Aku akan menjanjikan mu sebagai putri perbuatan tahun ini!" Tekat nya yakin


"Eh....., jangan!, Jangan!!!" Aku menolak dengan panik, dia tersenyum tipis dan memacu kudanya, dan aku menghela nafas berat lagi.


"Teet!!!!!" Suara terompet berbunyi nyaring dua kali pertanda pertandingan sudah di mulai, kami melihat nya sampai dirinya tak terlihat lagi, dan Albert tiba-tiba membahas perlakuan Duke tadi kepada ku.


"Percuma saja ayah dilawan dia kan, keras kepala" ucap Albert singkat dengan acuh tak acuh, lalu pergi dari situ untuk masuk ke dalam tenda.


"Ehhh..... Padahal sendiri nya juga bebal!"


Gumamku sambil masuk ke dalam, aku berganti pakaian menjadi celana agar lebih mempermudah pergerakan ku nanti, setelah selesai berpakaian dengan dibantu dengan Mery.


Kemeja yang kupakai sangat mirip dengan punya Albert sekarang, karena dia juga berganti baju untuk kenyamanan saat rencana nya di mulai.


Kami berjalan bergandengan tangan agar tidak kehilangan karena para penjaga harus ikut lomba berburunya, kecuali pengawal kerajaan, sesuai dengan peraturan kerajaan yang sudah sangat lama.


Semua laki laki yang telah dewasa di haruskan untuk berburu jadi meski pun kami membawa pengawal dan kesatria mereka harus tetap melakukan perburuan dulu mau hasil buruan nya kecil atau besar dan kembali ke posisi.


Kami pergi ke tempat pesta teh akan berlangsung, cukup jauh dari tempat kami berada, "Duchess....." Albert berbisik dan menarik tangan ku sebagai tanda kalau ada yang mengikuti kita.


Aku mengangguk dan berpura pura berkata padanya untuk menunggu di sini karena diriku akan mengambil hadiah yang tertinggal di tenda.


Aku berjalan pergi ketempat yang cukup jauh dari pandangan Albert dan bersembunyi dengan sangat baik, Albert berpura-pura tenang agar para penjahat itu datang kepada nya.


Benar saja tiga orang pria berjubah hitam datang dari arah belakangnya, Albert merasakan hawa kehadiran seseorang dibelakangnya langsung menengok.


"Siapa kalian!!!, bukannya para laki-laki harus ikut lomba meskipun mereka adalah pengawal!!!" Tanyanya waspada


Tapi mereka tidak menjawab dan terus berjalan ke arah Albert, "BERHENTI!!!, atau aku akan menyerang mu" ucapnya serius.


Mereka tidak menggubris perkataan Albert dan terus berjalan dengan santai kearah nya, salah satu diantara mereka mengeluarkan sebuah cambuk yang terlihat bewarna hitam atau lebih tepatnya di kelilingi sihir yang aneh.


Aku mencoba melihatnya lebih dekat dan bisa mengonfirmasikan bahwa itu sihir hitam yang sama untuk mengutuk Albert, rasanya saat itu aku ingin menebas kepala mereka semua, "dasar orang orang bodoh ini!!!"


Umpatku pelan, "tenang Tia kau tidak boleh gegabah, kau harus melakukan ini sesuai rencana jangan sampai merusak rencana yang telah disusun rapih" ucap ku dalam hati sambil mengelus elus dada agar bersabar.


Albert melihat kanan dan kirinya berusaha melihat peluang untuk lari, dia mengetahui bahwa orang orang ini mempunyai kekuatan yang lumayan tapi karena bertiga bisa setara dengan nya.


Aku mengeluarkan gulungan yang semalam diberikan end, dan membukanya, Albert sejak tadi menghitung dalam hati karena sesuai rencana dia di harus kan melakukan perlawanan saat selesai berhitung.


Karena Duchess membutuhkan setetes darah orang orang ini lalu bisa menginformasikan nama, kekuatan, lahir dan informasi umum, makanya tugas Albert adalah menyerang dengan jarum kecil yang pasti akan melukai mereka.


Dan di ujung jarum itu terdapat sihir teleportasi yang akan mengirimnya ke gulungan yang di bawa Duchess, dan saat ini dia sedang mundur selangkah demi selangkah, mencoba agar tidak memancing salah satu nya agar tidak menggunakan cambuk sihir hitam yang sama dengan kutukan nya.


5...


Para penjahat itu semakin mendekat, salah satu orang itu bersiap mengayunkan cambuk nya yang tadi masih terlilit.


4...


Albert terus berjalan mundur kebelakang dengan tetap fokus memperhatikan kedua orang yang lain mengeluarkan pisau dan belati.


3.....


"Nak, jika kau menyerah secara baik-baik kami akan memudahkan kematian mu"


Ucap yang memeng cambuk aura membunuh nya sangat terasa, tapi perkataan nya tidak di gubris oleh Albert.


2...


"Ayolah kenapa semakin lama jarak kita semakin besar?" Ucapnya berusaha melucu, sedangkan Albert tetap fokus.


1.....


"Whoosss.... Jleb!!!"


Suara jarum yang melesat sangat cepat dan menusuk ke tangan mereka, "ah.... dasar anak ini, kurasa aku akan menghabisi dengan menyakitkan" ucap orang yang membawa cambuk dengan kesal dan marah.


Kurasa orang yang membawa cambuk itu adalah ketuanya, mereka mencabut jarum kecil itu dari tangan mereka masing-masing dan mulai menyerang Albert.


"Sringg....."


Sihir teleportasi nya aktif dan darah dari ketiga orang itu muncul di atas gulungan yang ku bawa, perhatian ku sebentar teralihkan untuk memeriksa identitas diri mereka semua dan menemukan fakta yang cukup penting.


Karena biasa seseorang saat berumur 7 tahun di setiap kerajaan akan di suruh untuk membuat kartu data diri dengan sihir dari darah nya, dan setiap dia sihir nya yang bertambah kuat akan tertera di identitas nya saat di periksa kembali dengan gulungan yang mahal ini.


Aku tersenyum kecil karena 3 gulungan ini benar-benar berguna karena memang harga satuan nya setara dengan satu istana, setelah itu aku memberi tanda ke Albert agar melanjutkan rencana selanjutnya.


Ia melihat tanda ku yang terus menghindar dari penyerang lalu mengangguk pelan dan berlari pergi ke tempat yang telah di setujui, sedangkan diriku berlari menuju pesta teh dan memberi tahu kan ada penjahat yang sedang di tahan oleh Albert.


Para bangsawan wanita terlihat panik bahkan anak-anak nya juga ikut menangis, tapi ratu dengan cepat memenangkan mereka semua dan menyuruh beberapa kesatria nya mengikuti ku lalu sisanya menjaga para bangsawan yang akan di ungsikan.


Mereka para bangsawan mengungsi di dekat tenda kerajaan yang terdapat sihir perlindungan jadi tidak akan ada yang bisa menyerang mereka di daerah tersebut, meskipun dengan sihir atau serangan fisik.


Aku bergegas pergi memberitahu kan para kesatria arah tempat Albert bertarung, tapi saat aku akan berlari pergi tanpa sengaja tatapan mata ku bertemu dengan putri itu, dia memasang senyum licik seperti meremehkan ku.


"Si!!!...., Sialan liat saja nanti aku akan mencari bukti dan membuat mu di penggal!!!!"


Sumpah ku dan mengejar para kesatria yang telah berlari.


....