
POV Albert.
"Akhirnya orang orang jelek itu mengikuti ku dengan penuh percaya diri kalau bisa membunuhku liat saja di tempat yang ku tuju aku pasti akan membantai mereka semua!!!"
Ucap ku dalam hati sambil terus berlari memancing mereka ketempat yang telah direncanakan sambil terus menghindari serangan dari mereka bertiga, apalagi aku harus berhati-hati dengan cambuk sihir hitam yang mirip dengan kutukan ku.
Karena belum bisa memastikan jika aku terkena itu satu kali akan terjadi apa, "CRATTTTT!!!!"
"Cih!!!"
"Hampir saja kaki ku terkena cambuk saat berlari begini!" Dumelan ku pelan, aku menggulingkan badan ke depan yang disebut dengan forward roll dan berusaha untuk tetap seimbang.
Dan kembali berlari, "hey, nak kau benar benar licin seperti belut ya?!" Ucap nya kesal sambil terus mengejar ku, yang berlari lincah dengan sihir.
"Sebentar lagi!!!" Ucap ku senang dalam hati karena melihat tanda tempat yang harus ku masuki kesana jika ingin bertarung dengan baik melawan orang jahat ini.
Satu tangan ku mengarah ke depan seperti seorang yang sedang berlomba balap lari untuk mencapai garis finis, tapi harapan ku salah karena satu kaki ku telah tertangkap dan dia menarik nya kebelakang yang membuat diriku terpental menjauh dari tempat itu.
"BRAAKKK!!!"
Tubuh ku terbanting keras ke salah satu pohon yang besar "Ck...sssss....." Aku meringis pelan untungnya saja aku telah melindungi tulang punggung belakang ku agar kerusakan pada nya sedikit berkurang.
"Hahaha, dasar anak bodoh sudahi permainan kejar kejaran ini dan jadi lah mayat!!!"
Satu pedangnya terangkat tinggi dia tidak mengunakan cambuk karena cambuk itu hanya alat untuk menyiksa bukan alat membunuh, aku ingin menghindari serangan nya tapi tubuh ku telah di tahan oleh dua orang di belakangnya dengan sihir yang sama.
"Sreeett!!!!"
Aku memejamkan mata saat pedang itu mengarah pada ku, tapi tiba tiba saja ada suara teriakan dan pukulan yang sangat keras terdengar, mataku seketika terbuka kembali dan menemukan Duchess dengan berani menerjang pria itu dengan menendang kepalanya.
Lalu beberapa detik kemudian tanpa aba-aba Duchess sudah menendang dua pria yang lainnya agar menjauh dan melepaskan sihir penahan tubuh ku.
Dia berdiri dihadapan ku dengan nafas yang naik turun, sambil berkata kasar yang sedikit ku pahami maksudnya,
"MAJU SINI KADIEU GOBLOK, TOLOL!!!
Aku segera bangkit berdiri, tangan nya terulur membantu ku berdiri, aku menerima bantuan nya dan berdiri di samping nya, meskipun dirinya membantu ku Duchess tetap siaga dan memasang kuda-kuda.
Laki laki yang telah dia tendang merasa kesal dan wajah nya terlihat sangat marah, dia bangkit berdiri dengan aura membunuh dengan kuat, "kurasa ada satu orang lagi yang ingin mati hari ini dan ternyata itu Duchess sendiri"
Ucap nya dan berjalan pelan ke arah kami, para bawahan nya yang terpental juga kembali berdiri dan berjalan di belakangnya, "kenapa anda repot repot melindungi anak yang bukan anak kandung mu nyonya?"
"Padahal jika anda membiarkan kami membunuh nya dan kau melahirkan anak laki-laki lain, bisa dipastikan bahwa anak mu akan menjadi Duke Devonte selanjutnya"
Para penjahat itu berusaha membujuk Duchess, aku juga penasaran apa yang akan di katakan nya apa dia akan tertarik dengan penawaran mereka atau tidak, tapi tiba-tiba saja Duchess tertawa terbahak-bahak, dengan tetap posisi siaga nya.
"Hahahaha kau bahkan tidak tahu kalau Albert termasuk anak kandung ku!!!"
Teriaknya lalu melompat kearah mereka, dengan belati di kedua tangan nya, pria itu tersenyum senang seperti seorang yandere atau psycho.
"Heh, anda benar benar mencari mati!!!"
Duchess menyerang mereka bertiga secara serempak, meskipun dua orang menggunakan sihir mereka tidak bisa mengenai Duchess karena dirinya yang terlalu gesit dan pengucapan mantera nya terlalu lama.
Sedangkan ketuanya tidak diuntungkan karena menggunakan pedang panjang, aku benar-benar tidak melihat Duchess mengeluarkan dua belatinya sebelum yang ternyata saat di ingat lebih cermat, waktu ia tertawa terbahak bahak.
Beberapa pukulan keras membuat ketiga orang itu tidak bisa bangkit berdiri, "bagaimana bisa perempuan yang seperti itu melawan para pria, padahal dirinya sedang di keroyok?" Pikir ku dalam hati.
Beberapa gerakan saja Duchess berhasil memenangkan pertarungan itu, ketiga orang itu mengeluh kesakitan di bagian perut, kaki, dan kepalanya yang terkena tonjokan keras.
Mereka meringis kesakitan duchy dengan bangga mengangkat satu kepalan tangannya yang terkena darah mereka tinggi tinggi seperti memenangkan pertarungan ini,
Dan Duchess juga berkata, "Makanya kau jangan berani melawan macan yang sedang menjaga anaknya karena dia bisa mengorbankan segalanya!"
Duchess melirik ku sebentar memastikan keadaan ku lalu berkata, "Albert bantu aku ikat mereka"
Aku mengangguk dan bangkit berdiri kearah nya.
...
POV author
Duchess dengan cekatan mencoba mengikat mereka dengan alat seadanya yang ia temukan atau dimiliki para penjahat itu, Florence lumayan tenang karena mereka tidak akan bisa bangun lagi karena dirinya sudah menyerang titik akupuntur tubuh atau bagian yang bisa membuat manusia lemas atau mati rasa untuk beberapa saat.
Lagi pula para pria ini berotak udang, jadi dia dengan santai mengikat para bawahannya dari pria cambuk itu, dan tanpa Duchess sadari pria itu memasang wajah benci yang sangat kesal terhadap Duchess yang bisa mengalahkan nya dengan mudah.
Dia berfokus ke Albert yang berada di dekat nya sedang mencari benda untuk mengikat nya, dia tiba-tiba tersenyum licik dan berniat melakukan hal buruk kepada nya.
Pria itu dengan diam-diam dan tanpa sepengetahuan mereka berdua Albert dan Florence, mulai merapalkan sihir tanpa suara, saat Duchess dan Albert menatap kearah lain.
Dan rapalan itu selesai saat Duchess memeriksa ketua dari ketiga orang itu, jari pria itu tepat di depan Albert, lalu ia menembakkannya ke arah Albert yang sedang lengah.
"Zzzzrttt!!!!"
"ALBERT!!!"
Duchess berteriak panik tidak sempat mendorong atau menghalangi sihir itu ke arah Albert, "BLUP....."
Tiba-tiba suara aneh itu muncul dan membuat sihir penjahat menghilang, dan disusul suara derap langkah kaki para pria, yang ternyata para prajurit atau kesatria kerajaan, mereka pas sekali menyerbu ke tempat itu dan bisa membatalkan sihir nya.
Kenapa mereka yang pergi bersama Duchess baru datang dan membantu? Padahal Duchess sudah datang sejak tadi, itu karena Florence meminta mereka untuk tidak melakukan apa-apa, hanya cukup diam dan melihat.
Yang akan di jadikan sebagai saksi mata sekalian merekam kejadian ini agar bisa disidang lebih lanjut oleh keluarga Devonte ketiga penjahat itu panik karena kesatria kerajaan datang.
Yang pasti akan mengintrogasi mereka tanpa ampun, mereka dengan cepat saling lirik untuk memutuskan sesuatu, dan akhirnya dengan persetujuan singkat para penjahat itu, mereka berniat bunuh diri dengan meledakkan diri bersama Duchess dan lainnya agar menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka selesai.
Kesatria kerajaan itu menyuruh Duchess dan Albert untuk pergi saja karena mereka akan membawanya ke Baginda ratu untuk bukti penangkapan, Duchess tanpa basa-basi menuruti perkataan mereka dan mulai mengajak Albert pergi.
Para ksatria itu dengan tenang mengikat mereka tanpa tahu apa yang akan terjadi Untung saja Albert meyakini bahwa para penjahat itu akan melakukan sesuatu, dia menyadari kelakuan aneh mereka dan segera berlari untuk menyekap mulut mereka yang sedang mengucapkan mantra.
Tapi hampir satu bait lagi mantra yang diucapkan agar sihir aktif, Albert tidak sempat menahan mulut mereka, tapi "BRAAKKK!!!! Krakkk!!!," suara tendangan kencang dan patahan tulang terdengar sangat ngilu bagi yang mendengar.
Itu adalah tendangan maut dari Duchess dia sudah menendang mulut mereka secara serempak mungkin sampai rahangnya retak, para kesatria yang melihat betapa kejamnya Duchess hanya bisa melongo.
Duchess dengan cepat mencari cari sesuatu di dalam mulut ketiganya dan mengambil dan menemukan sebuah pil dari masing masing dari mereka, yang ternyata adalah racun bunuh diri.
Duchess bangkit berdiri dan menemukan tiga batu yang muat di dalam mulut lalu menyumpal nya kedalam mulut ketiganya, agar tidak mencoba untuk bunuh diri dengan menggigit lidah sendiri.
Setelah selesai Duchess bangkit berdiri dan menyadari ia menjadi pusat perhatian dari para kesatria itu, dia dengan tegas berkata, "jika kesatria lelet dan tidak peka seperti ini bisa di pastikan yang dilindungi akan mati duluan!!!"
"Lanjutkan pekerjaan mu dan lakukan dengan baik!!!" Lanjut Duchess yang menohok perasaan mereka.
Mereka seketika terdiam kaku dan mulai mengikat mereka dengan benar, Albert yang masih mencerna keadaan di tarik tangan nya untuk pergi dari tempat itu oleh Duchess.
"Jangan terlalu sering melamun seperti itu, pertama tama kita harus mengobati luka mu dulu"
....
POV Edward
"Jleb!!!!"
"Bruk!"
Aku tersenyum menatap rusa besar ini tertangkap dengan panah tanpa perjuanganku, lalu mulai menghitung jumlah buruan yang telah kudapat sampai sekarang.
"50 binatang, HM.... Apa itu sudah cukup untuk menjadikan Florence sebagai putri perburuan?"
Gumamku sambil terus berfikir, "saingan kali ini lumayan berat karena ada putra mahkota juga kesatria nya dan beberapa bangsawan yang menjanjikan, berarti kurang Lima puluh lagi dan itu semua harus binatang buas!" Pikir ku dalam hati bersemangat.
Tapi tiba-tiba saja aku teringat sesuatu dan mulai cemas juga bingung,
"Hah...."
Aku menghela nafas lelah karena menunggu terompet darurat berbunyi, aku sangat ingin pergi ketempat yang telah direncanakan oleh Duchess tapi aku terus saja terngiang-ngiang ucapan nya,
"Jika kau datang duluan dan menggagalkan rencana nya kejadian buruk pasti akan menimpa kami berdua!"
"Dia memang benar benar berbeda"
Gumamku sambil terus membidik mangsa yang dilewati dengan kuda, tidak perlu waktu lama aku berhasil mendapatkan hasil buruan yang lebih dari yang aku inginkan.
"Ini yang terakhir" ucap ku dan memberikan lingkaran sihir ke badan hewan yang telah ku buru tadi sebagai tanda ini adalah hasil buruan ku.
Jadi memang bagi para peserta untuk tidak di perbolehkan memakai sihir saat membunuh hasil buruan, agar semua nya adil tapi jika itu untuk menguatkan panah atau pedang di perbolehkan.
Meskipun begitu aku benar-benar tidak perlu tambahan kekuatan seperti itu lagi dari sihir, kecuali aku menggunakan sihir radar untuk merasakan dimana terdapat hewan buas yang banyak untuk di bantai.
Dan diwajibkan bagi para pemburu setelah berhasil membunuh buruan nya agar menandai hewan buruannya, karena tidak akan dibawa oleh sang para peserta melainkan para bawahan masing-masing saat perburuan telah usai.
Jadi itu untuk menandai siapa pemilik bangkai binatang ini, para peserta diwajibkan untuk membuat lingkaran dari sihir, dan menyuruh para bawahannya untuk mengambil nya.
"Treeeetttt treeeetttt treeeetttt!!!!!"
Suara terompet yang bersahut-sahutan pertanda darurat, dan untuk segera kembali ke pos, "akhirnya....." ucap ku sambil tersenyum kecil lalu segera menaiki kuda ku dan memacunya kembali ke pos.
Saat sampai sana suasana nya lumayan cukup ricuh dari pada dugaan ku, para kesatria ku tak terlihat dimana pun, para wanita bangsawan yang cukup lebay berjatuhan dan berkata tidak sanggup dengan teror ini.
"Paman!"
"Apa yang terjadi?!, Dimana Duchess dan Albert?" Aku berusaha menahan senyum ku karena senang atas rencana Duchess yang pasti akan berjalan lancar dan membuat semua orang takjub dengan keahliannya.
"I....itu..." Di menjawab dengan ragu ragu dan enggan untuk menjawab, aku merasakan ada yang tidak beres dengan hasilnya.
Seketika dadaku bergemuruh karena ketakutan akan sesuatu, lalu berteriak panik sambil mencengkram erat kedua bahunya,
"Apa itu!, Cepat katakan ANDRE!!!!"
Tekan ku diakhir kalimat, tanpa sadar badan ku mulai gemetar membayangkan salah satu dari mereka terluka parah, "Duchess....."
"KENAPA!!!"
Bentak ku marah, seketika aku terbayang kejadian di gang sempit dan kumuh itu, Florence melawan satu pembunuh sendirian, lalu berakhir kalah telak dan juga kematian jika aku terlambat untuk datang.
Teriakkan kesakitan nya dan suara remuk tulang masih terngiang-ngiang di telinga ku, memikir kan nya saja membuat ku frustasi, apalagi jika dia terluka lagi bisa bisa aku gila.
"Dia...., dia, terkena sihir hitam kutukan nya para ******* itu"
Seketika kaki ku lemas, dan mencoba tetap tenang, "Albert?, lalu mereka ada dimana?"
"Albert sedang menunggu di tenda tempat Duchess sedang diobati oleh para penyihir yang spesialisasinya sihir hitam kutukan"
"Lalu cerita kan kejadian lengkap nya"
Lanjut ku, dan aku mulai mendengarkan penjelasannya putra mahkota dari sudut pandang nya, sedangkan dari sudut pandang ku bisa di artikan begini.
Duchess mengatakan bahwa para penjahat telah ditangkap dan dia berjalan kembali saat dia berjalan kembali ke pos yang senang dengan kerja kerasnya, tiba-tiba para ksatria yang menangkap para penjahat itu berlari ke arah mereka tanpa membawa para penjahat yang telah tertangkap.
Florence yang mempunyai insting yang peka mulai merasakan ada yang tidak beres dan bahaya yang besar, lalu benar saja mereka diserang oleh beberapa orang lagi yang hanya mengincar Albert.
Lalu menawarkan kepada para bangsawan agar menyerahkan Albert baik baik ke mereka jika tidak ingin mati, para bangsawan terdiam karena tidak ingin mencari masalah dengan keluarga Duke.
Dan penjahat itu mengancam akan membunuh mereka semua jika tidak mengeluarkan Albert dari pelindung di tenda keluarga kerajaan, lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorong Albert sampai terjatuh dan keluar dari pelindung itu, para penjahat tersenyum senang dan mulai mendekati Albert.
Ratu hanya menatap pasrah, dan para kesatria mulai berjaga di sebelah nya Duchess dengan panik meminta kepada ratu untuk meminjamkan bawahannya karena tidak mungkin bagi dirinya untuk melawan 5 orang yang berpangkat tinggi dalam pedang dan sihir.
"Yang mulia Kenapa anda tidak meminjamkan keempat orang ini untuk membantu melawan mereka diluar? agar masalah cepat selesai?"
Tapi bukannya yang mulia ratu yang menjawab, malah para ksatria yang menjawab perkataan Duchess.
"Maaf nyonya Duchess, pangkatmu lebih rendah daripada ratu, kami di tugas kan sini hanya untuk menjaga keluarga kerajaan, bukan calon Duke"
"Jadi kami tidak bisa membantu Anda untuk melawan mereka, maaf....."
"Hahaha, padahal bahayanya sedekat ini kalian tidak ingin keluar dari pelindung ini untuk melawan?" Dia berkata seperti itu sambil tertawa terpaksa karena tidak percaya dengan perkataan dari kesatria pelindung.
"Karena ini tugas kami jika yang mulia ratu terkena serangan sedikit saja bisa bisa kepala kami lepas, tolong mengerti lah alasannya"
"Sampah!!!"
Ucapnya dengan kesal lalu Duchess dengan cepat melawan mereka dan membantu Albert, dia dengan kejam melawan 5 orang itu sendirian dengan membabi buta, dibantu Albert sebagai pendukung yang menggunakan sihir.
Pertandingan hampir dimenangkan oleh Duchess tapi tiba-tiba saja dia terkena cambuk yang telah dipegang oleh penjahat yang tadi dikalahkannya duluan oleh Duchess sendiri saat di hutan.
Dan sekarang berada di tangan penjahat yang baru itu cambuknya bukan sembarang cambuk karena telah di aliri sihir hitam seperti kutukan Albert, yang belum tahu efek apa yang akan terjadi jika terkena manusia.
Dia terlihat seperti tersengat arus listrik yang besar, bahkan dirinya tidak sanggup untuk menopang kedua kaki nya, satu orang penjahat ternyata masih bisa berdiri setelah di serang habis habisan oleh nya.
Ia tertawa keras dan berniat akan menyerang Albert yang lengah juga panik dan lebih peduli keadaan dengan keadaan Duchess, Duchess yang masih sadar meskipun kesakitan menyerang dengan sisa sisa tenaga nya.
Dengan menggunakan hiasan kepala di rambut nya yang memang di pesan khusus sebagai senjata berbentuk jarum panjang dan itu tepat mengenai jantung, tangan dan lengan meskipun diri nya hanya melempar 3 jarum dalam sekali lemparan.
Penjahat itu mati, dan Duchess pingsan bahkan sampai saat itu para bangsawan dan ratu hanya duduk diam menonton, setelah aku mengartikan cerita dari sudut pandang Duchess yang kurasakan adalah kemarahan.
Dengan kesal mengepalkan tangan dengan erat dan menonjok Andrew dengan kencang sampai semua bangsawan menoleh ke arahku dengan memasang wajah kaget cemas dan lainnya.
Tapi aku tidak peduli, dan mulai berkata dengan nada kesal, "karena kesatria bawahan mu yang lemah dan bodoh lah kejadian ini bisa terjadi!," Andrew hanya terdiam dengan perkataan ku.
Aku melirik sekilas ke semua orang, yang sibuk bergosip karena kelakuan ku, karena meskipun aku adalah pamannya dan termasuk gurunya juga, tidak mungkin seorang Duke berani menampar putra mahkota yang akan menjadi raja masa depan juga posisi bangsawan nya lebih rendah dari nya.
Aku melihat sang pemilik acara berpura pura sedih karena acara yang tiba-tiba berakhir seperti ini, dia dengan gampangnya melempar kan ke Duchess saat diwawancara oleh para kesatria, dengan kata-kata.
"Lagi pula ini juga kesalahan Duchess yang berkata bahwa para penjahat sudah di tangkap tapi ternyata ada beberapa yang masih bersembunyi dan menyerang kami"
Akhirnya dengan kesal aku berkata dengan bermaksud menyindir orang orang itu,
"Bahkan sang pemilik acara ini tidak bertanggung jawab karena membuat keamanan yang sungguh lemah, sampai bisa di tembus oleh para *******!!!"
Para bangsawan yang mendengar nya terdiam, lalu aku melihat pemandangan buruk yang lain saat para bangsawan wanita yang berpura-pura pingsan tadi di bawa oleh tandu hanya untuk mencari perhatian orang orang.
"Duchess sebagai korbannya tidak pernah mengeluh atau ketakutan, sedang kan para wanita ini sibuk berpura-pura pingsan untuk menarik perhatian, lama lama era bangsawan yang terus jelek seperti ini akan musnah!!!"
Aku mulai berjalan kearah tenda yang terdapat Albert dan Duchess yang sedang dirawat, kenapa aku bisa tahu arah nya karena aku sudah memasang sihir pelacak kepada mereka berdua karena tidak ingin kejadian di gang sempit itu terjadi lagi.
"Benar apa kata nya kalian semua adalah sampah"
Gumamku yang sengaja bersuara kencang, aku tidak peduli dengan reaksi bangsawan yang lain karena ingin cepat cepat sampai sana.
....
Saat sampai disana aku dengan cepat menghampiri Albert yang menunduk sedih di kursi yang berada di samping kasur yang terdapat Duchess yang masih terbaring.
Aku menghampiri dia yang mengangkat kepala ke atas lalu meminta maaf dengan sungguh sungguh, karena kejadian kali ini adalah salah nya, ini sangat mirip dengan kejadian waktu itu ibu kandungnya Dianna, aku memeluk nya dengan erat sambil berkata agar tidak menyalahkan diri sendiri.
"Karena sebenarnya yang salah adalah aku yang tidak bisa melindungi kalian, meskipun di juluki yang terkuat atau mempunyai jabatan di bawah kerajaan, maaf Albert karena tidak bisa melindungi kedua ibu mu"
Aku mengatakan seperti itu karena merasa kalau Florence lebih dari seorang teman kerja atau sahabat yang terpercaya saat ini bahkan sangat layak sebagai ibu pengasuh sungguhan untuk Albert, dia seperti benar benar bagian dari keluarga ini yang telah dianggap sosok ibu bagi Albert.
"Hiks...hiks.....hmmp.... Hiks...."
Aku merasakan bahu kanan ku mulai basah, Albert masih mencoba menahan tangisnya, aku hanya mengusap usap punggung belakang nya sambil berkata,
"Kau boleh menangis sesukamu sekarang, jangan di tahan....., karena aku tahu kamu berusaha tegar saat kematian Dianna"
Akhirnya Albert tidak menahan tangisnya karena dia mulai berbicara patah patah karena menangis, "i...ini semua karena diriku yang beban...."
"Tidak, mereka tidak akan berfikir seperti itu, aku menjamin hal itu mereka dengan keberanian nya melindungi mu hingga akhir, jadi kau harus melakukan yang sama untuk mereka dengan kekuatan yang akan kau miliki nanti"
"Ya!!!, Akan ku pasti kan untuk menjadi kuat!!!" Tekat nya masih menangis.
Aku membiarkan nya menangis kencang di bahu ku, sambil terus membayangkan kejadian saat Dianna yang melindungi Albert hingga mati, dia mengurung diri di kamar nya karena rasa penyesalan.
Sedangkan aku yang terus bersedih karena kehilangan Dianna sampai tidak memperhatikan nya, ini salah ku sampai dia trauma dan kutukan sihir yang di lempar pada nya aktif.
Dan membuat dirinya pertama kali mengamuk dan membunuh orang orang disekitar nya, sambil terus mencari ibunya, aku akhirnya membuat segel dan penjara khusus untuk nya saat mengamuk, menganti semua pelayan yang masih ingin bekerja sama dengan nya karena tantangan nya adalah nyawa Albert jika ia mengamuk.
Sejak saat itu hubungan kami merenggang, aku tidak ada saat dia butuh diriku, dan dia mulai menyimpan perasaan sedih nya dalam dalam dan mulai membangun tembok tinggi dihatinya agar tidak akan berharap atau bergantung lagi.
Meskipun sekarang aku menyadari nya, aku benar-benar tidak bisa merobohkan tembok dihatinya itu untuk membatasi diri sejak kepergian ibunya, dia bahkan menjadi lebih pendiam terlihat dingin dan berhati-hati.
"Albert aku berharap kamu mau lebih terbuka sekarang kepada ku atau Florence, kurasa kau masih menjaga jarak dari ku dan mulai menganggap Duchess sebagai pengasuh yang bisa memberikan mu tempat yang nyaman"
"Jadi aku tidak masalah jika kau bercerita sesuatu kepada nya, dan jika kau ingin meminta sesuatu hal tapi sulit untuk diucapkan kepada ku, kau boleh meminta ke Florence dan dia akan menyampaikan kepada ku"
"Karena aku tahu kamu membenci ku, karena mengabaikan dirimu saat kita kehilangannya, dan mungkin kamu merasa bahwa aku menyalahkan mu, dan membenci dirimu karena ibu mu Dianna yang kucintai mengorbankan dirinya untuk melindungi mu, dan juga kau membebani diri ku karena terkena kutukan sialan itu"
"Tapi sebenarnya aku sama sekali tidak membenci mu entah itu karena kematian Dianna atau menganggap mu merepotkan karena mempunyai kutukan yang berbahaya itu, kau adalah peninggalan satu satunya dari nya dan aku akan melindungi mu dari apapun sampai nafas terakhir ku"
Ucapku panjang lebar dan melonggarkan pelukan kami, dia sekarang menatap ku dengan mata berkaca-kaca dan mulai menangis lagi, "Tapi.... Bagaimana dengan Duchess kenapa dia terus terusan melindungi ku?"
"Padahal dia bukan siapa-siapa diriku, bahkan aku sering berkata kasar dan bersikap sinis kepada nya tapi....tapi dia bahkan tanpa pamrih melindungi ku"
"Kalau itu mungkin kau harus bertanya langsung kepada nya saat bangun, bagaimana?"
Balas ku yang dibalas anggukan kecil darinya diiringi ucapan nya,
"Ya..., aku akan bertanya dan berterimakasih atas kebaikan nya sampai saat in!!!i"
"Beristirahat lah nak aku akan menjaganya untuk mu"
Aku duduk di sebelah nya dan menarik dengan pelan kepalanya agar tidur di pangkuan ku, "lurus kan kaki mu, agar nyaman" ucap ku karena di dalam tenda tidak ada kursi kecil kecuali kursi panjang ini.
"Buat dirimu nyaman" ucap ku dan mengelus rambut nya pelan pelan, nafas nya berangsur angsur membaik dan teratur, aku merasa bersalah kepada Dianna karena tidak menjaga anaknya dengan baik.
Lalu pikiranku melayang kepada percakapan ku dengan Florence, "Saat aku bertanya kenapa dia mengurusi Albert dengan sungguh-sungguh seperti anak sedini?"
Dia hanya tersenyum singkat dan berkata "memang nya kau tau apa tentang diriku? Siapa tahu Albert benar benar anak ku tapi dari dunia yang berbeda?"
Dan aku hanya terdiam mendengar jawaban nya, "memang banyak sekali hal yang aku tidak ketahui tentang dirimu....."
Gumamku sambil melihat ke arah Florence yang terbaring dengan tenang.