I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
bonus 3



Badan ku bergetar hebat, bahkan aku sampai tidak bisa rasakan kaki dan tangan ku lagi, Aisyah panik karena aku mulai nge_drob lagi dan mencoba menenangkan ku.


Kami terdiam dalam keheningan masing masing sampai akhirnya rasa sesak di dada ini menghilang, karena aku bisa menenangkan diri setelah itu aku mengangguk kepada nya.


Yang bermaksud siap untuk menonton video itu, dia memeriksa kondisi ku yang sudah tenang lalu menyetel video nya tapi sebelum itu dia berpesan


"Tia lu bisa mukulin gue kalau hati lu gak kuat nonton ini, tapi jangan pernah sekali kali mukulin diri Lo sendiri oke!, Janji?"


Aku mengangguk dan menyerahkan kedua tangan ku di tangan nya, dia menaruh handphone itu di lantai bersender kan kotak kotak makan yang kami beli sebagai penyangga setelah itu menyalakan videonya lagi.


Gelap hanya itu yang bisa kulihat di dalam video aku merasa hp milik Brian terbanting, Aisyah berkali-kali menatap ku cemas karena didalam layar tidak menunjukkan apapun.


Dia berusaha berkata lewat mata untuk mematikan videonya karena tidak ada satupun yang terjadi setelah itu tapi aku yakin pasti akan ada yang mengirim kan video ini.


Jadi aku dengan sabar menunggu dan benar saja setelah menunggu hampir 30 menit terdengar suara, dan handphone yang diangkat.


"Ksrek ksrek"


Aku menahan nafas ku karena video nya mulai menunjukkan gambar kolong mobil lalu diangkat sampai menunjukkan wajah seseorang anak yang tidak lain adalah Brian.


Wajahnya di penuhi darah yang mengucur deras dari kepalanya, dia berusaha mengusap darah nya dengan sikut kiri yang terjepit oleh kursi depan.


"Oh..... Video nya masih menyala" ucapnya pelan seperti tidak ada rasa sakit.


Dia dengan santai nya berkata "mama jangan khawatir ini tadi mobilnya kepeleset doang dan darah ini cuma luka kecil" suara nya sekarang terdengar bergetar,


"Mama maaf ya, kalau Brian punya salah gak bisa jadi kebanggaan bagi mama atau punya kekurangan yang lain tapi yang pasti Brian sayang sama cinta banget sama mama kok!!!, selalu.... pasti... Hiks.... Hiks....."


Tiba-tiba Brian menangis dan wajahnya sekarang berantakan karena tangisan bercampur darah yang mengucur dari kepala, dia mencoba mengusap wajah nya dan menahan tangisnya.


"Mama tenang aja kita cuma kecelakaan kecil, kepala ku kalau di jahit pasti bakal sembuh, kakek nenek cuma pingsan di sebelah aku nih"


Dia memutar handphone nya ke arah ibu dan ayah ku yang terlihat tertidur pulas padahal kalau dilihat dengan teliti di bagian leher yang tak terlihat di kamera darah segar mengalir dari situ.


Mata ku mengucur kan air mata yang sangat banyak tangan ku gatal ingin merusak sesuatu tapi di tahan oleh Aisyah, dan akhirnya aku hanya meremas pergelangan tangan nya dengan keras.


"Ayah sama paman di depan baik baik aja, jadi mama gak usah khawatir oke janji ya, awas loh kepalaku sekarang pusing aku gak kuat mengang handphone nya lagi"


Ucapnya sambil menyenderkan handphone nya ke dada nya sampai terdengar suara yang sangat ku kenal dari dalam video meskipun tidak terlihat gambar nya karena kamera menghadap dadanya Brian.


"Bri..... Brian..... Kamu masih sadar nak, Brian...."


Terdengar suara krasak krusuk dari kursi depan lalu terdengar lagi kalau Rangga memanggil manggil nama nama yang lain mulai dari Dimas ibu dan ayah ku beberapa kali.


"Bri!!! Kamu masih sadar kan jangan di tidurin dulu nak paksa buat melek inget mama kamu!"


"A.. ayah...." Suara berat Brian sambil mengangkat handphone nya lagi dan menunjukkan wajahnya yang pasrah


"Ya bangun dulu nak kita kirim video itu ke mama mu dulu"


"Hehehe ayah ngomong sesuatu dulu lah...."


Ucap Brian sambil mengganti kamera depan dengan kamera belakang yang memperlihatkan kepala Rangga dan tangan kanannya yang terlihat di kamera, tangan kanannya melambai ke kamera dengan lemah.


Tapi sebuah kejutan karena tangan kiri Dimas yang terkulai di kursi bergerak dan mengacungkan jempol nya, Rangga dan Brian berteriak panik meski lemah karena Dimas masih sadar.


Rangga melihat ke arah Dimas yang membalas sesuatu yang tidak terlihat di dalam kamera, karena setelah itu raut wajah nya berubah menjadi sedih dan aku tahu dari hasil otopsi, dia berkata dengan isyarat mata kalau lehernya tertusuk pecahan kaca jadi tidak bisa berbicara dengan baik.


Rangga menyuruh Brian menutup kamera dulu dan suara untuk video nya, lalu Brian menurut untuk menutup kamera nya dan menahan perekam suara nya dengan tangan.


Tapi itu masih bisa terdengar oleh kami meskipun suaranya sangat pelan, terdengar suara mungkin dia membetulkan posisi nya agar nyaman dan bertanya.


"Ayah baik baik aja?"


Aku tidak bisa mendengar jawaban dari Rangga karena mungkin Rangga hanya menggeleng untuk menjawab nya, setelah itu dia bertanya kepada Brian.


"Kita buat video terakhir buat mama habis itu kamu keluar dari mobil sendiri soalnya ayah, paman, kakek, nenek, udah gak bisa di tolong, bisa kan temenin mama sendirian?"


"Aku mau, tapi kaki sama badan sebelah kiri ku kejepit bahkan gak kerasa lagi"


"Hah.... Ya udah angkat handphone nya lagi kita buat video perpisahan karena sebentar lagi mobil nya meledak"


Aku terus menangis sejak awal dan menyadari kalau mereka sudah pasrah karena mobil nya akan meledak, lalu gambar pun terlihat dan Rangga berkata dengan nada suara mengancam.


"Sayang maaf ya kalau aku banyak ngerepotin kamu selalu pengen ngambil perhatian kamu dengan cara apapun, jail, gak berguna, bukan lelaki idaman, lemah.... Hiks.... Haah..., Intinya kamu harus bahagia!!!!, Dan jangan pernah mikir yang aneh aneh untuk nyusul karena aku bakal marah liat kamu dari atas oke!"


Dia berkata seperti itu sambil mengacungkan jempol nya lemah, lalu Rangga melihat ke Dimas dan berkata pesan terakhirnya untuk diriku.


"Tolong..... jaga..... Selvi, dan jaga diri sendiri, itu aja?"


Dan tangan kiri Dimas mengacungkan jempol nya, lalu kamera berganti ke arah depan dan terlihat wajah Brian yang pucat, dia tersenyum lemah dan berkata sambil matanya terpejam.


"Ma.... Tau gak sih waktu kayak gini aku mikir nya apa?, Bukan karena kematian yang semakin dekat aku jadi takut..... tapi aku malah mikirin cilok buatan mama, tapi kita buat nya berdua di dapur sambil sekalian makan disana juga"


Brian mengedipkan mata nya beberapa kali lalu kembali menatap kamera,


"Ah.... Aku nyesel banget terakhir makan waktu tahun kemarin karena kita nya sama sama sibuk, tapi itu malah yang buat terkenang dan terasa spesial"


"Huffttt....." Brian beberapa kali akan kehilangan kesadaran tapi ia tahan dan berkata "jadi ma.... Besok makan cilok yuk jangan lupa ya bye kami disini sayang dan cinta sama mama"


Setelah itu video berhenti dan aku bisa membayangkan apa yang terjadi setelah nya, handphone Brian di lempar keluar dari jendela yang pecah setelah itu selang beberapa menit mobil meledak.


Dan polisi mengira handphone nya terpental saat mobil jatuh dari jurang padahal di lempar saat sebelum meledak.


Aku menangis kencang sambil menutup mulut dan Aisyah memelukku dengan kencang dan kami bertahan dalam posisi itu sampai tengah malam baru tangisan ku mereda.


"Syah....."


"He em?"


"Besok kita buat cilok yuk"


"Boleh, nanti aku beli bahan bahan nya, ya"


"Terus nanti kita bawa ke makam Brian"


"Iya nanti gue temenin"


"Dia mau rasa pedas apa kacang ya?"


"Biasanya?"


"Tergantung mood katanya, kenapa dia di video terakhir gak ngasih tahu mau rasa apa yang dia pengenin"


Aisyah hanya tersenyum simpul, sambil menjawab "kita buat aja semua rasanya"


"Iya ya, biar dia milih mau makan yang mana, tapi Brian kan gak bisa makan dia kan udah mati"


"Ti.... Tidur tidur udah malem mikirnya besok aja" Aisyah mengelus rambut ku dengan lembut.


Dan karena aku lelah setelah menangis akhirnya aku pun bisa tertidur pulas.


...


POV Author


Akhirnya matahari pagi pun bersinar Tia melakukan apa yang ia inginkan dia memakan cilok itu sambil berlinang air mata, setelah itu mereka berangkat menuju pemakaman tempat semua keluarga nya di kubur.


Tia menaruh tempat makan sekolah SD Brian di kuburan itu yang berisi cilok buatan nya sambil berharap dalam hati "semoga dia suka dengan rasanya"


Dan pergi dari tempat itu setelah berdoa, sedangkan di masa sekarang seorang wanita cantik bersama keluarga nya sedang menatap sedih 6 makam di depan nya.


"Udah lima tahun aja dari kecelakaan gedung roboh itu dan ternyata kamu nyusul keluarga kamu lebih cepet dari pada yang aku kira, tapi Tia terimakasih atas semua nya tanpa keluarga mu aku gak bisa apa-apa, sekali lagi terimakasih"


Wanita itu menaruh sebuah buket bunga di atas makam yang bertuliskan nama sahabat nya, dia mengangkat kedua tangan nya berdoa sampai sebuah suara menginterupsi nya.


"Syah udah doa nya?"


Wanita cantik itu menengok kearah suara, dari suaminya yang sedang menggendong anak ke 2 mereka, sedang kan yang pertama berada dalam genggaman tangan pria itu.


"Ah.... ya, ayo pulang!"


Wanita itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati keluarga nya, sampai anak perempuan pertama nya menarik ujung baju dan bertanya tanya


"Ummi umi tadi itu makam siapa ada tanda panah nya besar?" Ucapnya dan menunjuk ke arah makam yang dimaksud.


"Oh itu ummi sering cerita kan Tante Tia, nah itu kuburan nya Tante Tia" dia membalas pertanyaan anaknya sambil berjongkok untuk mensejajarkan tinggi nya.


"Oh itu sahabat ummi yang baik itu, sama keluarga nya" ucap anak nya paham


"Iya" jawab Aisyah sambil tersenyum lalu berkata "Udah gak penasaran lagi kan pulang yuk..."


"Tunggu sebentar Abi jangan jalan dulu! Nazwa pengen ngasih hadiah dulu buat Tante Tia" teriak nya penuh semangat dan berlari ke depan makam.


Dia mengorek ngorek saku bajunya dan menemukan sebuah permen lalu dia menaruh nya di atas makam dan berkata.


"Tante Tia terimakasih buat jagain ummi aku sebelum aku ada, kata ummi Tante orang yang sangat baik dan aku berdoa kepada Tuhan semoga Tante bahagia di sana Amin"


Aisyah yang melihat anaknya seperti itu merasa terharu dan bangga dia menutup mulut dan wajahnya yang ingin menangis, suaminya paham dan memeluk nya dengan erat.


Nazwa berlari kembali mendekati ummi dan Abi nya dan melihat ummi nya sedang di peluk oleh Abi nya, dia bertanya tanya kenapa ummi nya menutupi wajahnya tapi Abi nya hanya mengisyaratkan untuk diam dan mereka kembali pulang.


...


POV Edward


Makan malam berlalu cepat, meskipun aku tidak terlalu penasaran kenapa Albert tidak menghabiskan makanan nya, aku merasa khawatir dan cemas terhadap sesuatu.


Dan akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan malam mengitari istana sampai suara Isak tangis terdengar di telinga ku, "siapa itu?" pikir ku penasaran.


"Ini kan daerah dapur tidak mungkin ada orang yang berlalu lalang di saat malam disekitar sini kecuali orang yang punya pemikiran buruk dan jahat, tapi mana mungkin orang yang sedang menjalankan tugas jahat menangis"


Ucapku dalam hati dan tetap memutuskan untuk berjalan kearah suara saat sampai di sana aku melihat seorang wanita cantik menangis tersedu sedu.


Yang tidak lain adalah Duchess, aku mengintip nya dari jauh penasaran kenapa dia bisa menangis seperti itu karena saat aku melihatnya menangis entah kenapa hati ku juga terasa sesak tak tahan untuk menenangkan nya.


Dan tanpa sadar kakiku berjalan mendekat kearah nya dan berjongkok di hadapannya yang sedang meringkuk memeluk kedua lututnya.


"Siapa?"


Tanyanya dengan nada serak dia bahkan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat ku tapi karena air matanya yang terus mengalir, membuat pandangan nya kabur dan alhasil dia tidak bisa melihat dengan jelas.


Aku mengusap air matanya dengan sapu tangan ku dan berkali-kali melirik mangkok yang berada di sampingnya karena isinya terasa familiar.


"Siapa?"


Tanyanya lagi, Florence benar benar belum bisa melihat ku dengan jelas bahkan ia tidak berfikir siapa diriku dari bentuk dan postur tubuh.


"Kau lelah kan? ayo ke kamar"


"Oh..... Duke....."


Suaranya terdengar sangat pelan dan lemah dia kembali menunduk kan kepala, lalu tanpa di sangka sangka dia mengambil mangkuk itu dan menyodorkan satu suapan ke mulut ku.


"Mau coba?" Ucapnya sambil tersenyum manis


Aku meneguk ludah dan menatap sedok yang di sodorkan kepada ku, dan melihat wajah nya kembali "mungkin satu kali sudah cukup" pikir ku


"Ya" balas ku lalu memakannya,


Saat makanan itu masuk ke mulutku yang paling berkesan adalah rasanya karena entah kenapa rasa ini bikin diriku terkenang dengan sesuatu.


Aku menelan nya dengan baik karena rasanya tidak ada yang aneh lalu menatap wajah Duchess lagi yang sekarang tertawa kecil dan berkata


"Kau bahkan menangis sama seperti Brian" lalu ia menaruh kembali mangkuk ke samping nya dan tetap menatap ku.


"Menangis??!"


Aku berfikir sebentar lalu menyadari rasa hangat di pipiku "kenapa aku menangis?" Pikir ku kebingungan.


"Kau bisa menghabiskan nya jika mau..... Aku lelah...." Ucap Duchess tiba-tiba dan jatuh pingsan


Aku menahan tubuh nya yang hampir menghantam tanah, dan memeluknya agar tidak terjatuh lagi, aku kembali menatap mangkuk itu dan kembali menangis.


"Haah..... Ada apa dengan ku kenapa tiba-tiba jadi melow begini"


Ucapku sambil menatap langit dan menutupi mataku dengan satu tangan karena terus mengeluarkan air mata, lalu tanpa sadar terlintas dalam otak ku sebuah ingatan tentang seorang anak laki-laki yang sudah cukup di bilang dewasa berkata.


"Ayah apa yang kau inginkan sebagai permintaan terakhir mu"


"Aku hanya ingin mama mu bahagia"


....


POV Destiana


"Uh um...."


Aku membuka mataku pelan pelan karena sinar matahari yang menerpa wajahku, beberapa kali aku mengedipkan mata agar terbiasa dengan cahaya ini sampai aku menyadari seseorang berdiri di dekat ku.


"Oh nyonya anda sudah bangun"


Aku bangkit untuk duduk di ranjang ku dan red mengambil kan handuk dan baskom berisi air hangat untuk ku mencuci muka.


"Ini hampir siang nyonya"


"Oh....."


Balas ku singkat sambil membasuh wajah dengan air dan mengelapnya dengan handuk, setelah mencuci muka, red menaruh kembali baskom nya lalu aku kembali bertanya.


"Siapa yang membawaku ke kamar semalam?"


"Itu tuan Duke nyonya"


"Duke??"


"Iya nyonya Mery melihat nya sendiri anda di gendong ala putri"


"Benarkah?"


Ucapku tak percaya sambil berusaha mengingat ingat kejadian semalam dan benar saja setelah aku berlari menangis di tempat sepi di dekat dapur tiba-tiba seseorang datang dan mengelap air mata ku dengan sapu tangan.


Saat itu aku tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas karena tempat yang lumayan gelap dan mata ku yang buram karena menangis, bahkan aku menyuruhnya untuk mencicipi cilok buatan ku.


Dan mengatakan hal yang aneh kepadanya karena menangis, bahkan sampai pingsan di bahunya.


"Argghhh!! Itu sungguh memalukan"


Teriak ku dalam hati, red yang menunggu perintah ku memasang raut wajah bingung lalu bertanya "ada apa nyonya apa yang salah?"


"Huuh.... Tidak, tidak tidak ada yang salah"


"Oh kalau begitu saya akan menyampaikan pesan tuan muda dan tuan Duke yang isinya hampir sama, yaitu jika anda tidak lelah bisakah anda pergi untuk makan siang bersama nanti?"


"HM..... Tentu aku tidak lelah sekarang"


"Apa benar itu nyonya? Mereka berpesan jika aku melihat anda terlalu lelah aku bisa saja mengirimkan pesan lain untuk menolak nya"


"Tidak tidak aku sungguh sehat sekarang, jadi bisakah kamu membantu ku untuk mandi dan membantu pekerjaan ku?"


"Tentu saja nyoya saya akan menyuruh lionna dan Mery menyiapkan bak mandi anda, sementara saya akan menyampaikan pesan kepada tuan Duke dan tuan muda"


Ucapnya sambil undur diri dari ruangan ku, mataku mengikuti nya sampai pintu kamar tertutup kembali baru kembali rebahan dan merenggang otot.


"Haaaah..."


Aku mendengus kan nafas malas dan berfikir dalam hati "ternyata di mana pun aku berada, aku gak bisa santai santai padahal enak juga kalau bisa jadi kaum rebahan"


"Huh!! Jangan ngeluh terus, kerjaan masih numpuk!, Pemasukan dari bisnis tambang, pengeluaran istana duke, kerjasama dengan nona velly, kontrak dengan putra mahkota, musuh keluarga ini dan masih banyak lagi, hah.... pokoknya Kerja! Kerja!"


Ucapku untuk menyemangati diri sendiri dan bangkit dari tempat tidur ku dan berjalan menuju meja kerja ku dan mengerjakan dokumen yang tergeletak di sana sambil menunggu bak mandi siap.


...


Setelah mandi selesai para pelayan pribadi ku di bantu oleh para maid lainnya mulai mendandani diriku seperti biasa.


Bahkan setelah selesai semuanya mereka berpendapat kepada sesamanya tentang diriku saat ini.


"Makeup?" Tanya seorang maid antusias


"Sudah!!!" Teriak yang lainnya


"Gaun?" Tanya maid yang terlihat fashionable


"Sudah!!!" Jawab beberapa maid kegirangan


"Rambut?" Tanya maid yang menyarankan gaya rambut ku tadi


"Oke!!!"


Teriak sisa maid, red bahkan ikut ikutan untuk mengomentari penampilan ku hari ini setelah di hias oleh mereka, sedangkan lionna dan Mery mulai membereskan barang barang tapi mereka tetap memperhatikan para maid itu sambil menggeleng kan kepala.


"Wah anda benar benar seperti malaikat nyonya" ucap pelayan yang wajahnya terdapat beberapa bintik di hidung nya.


Dia bahkan menatap ku dengan takjub, lalu seorang pelayan menyeletuk seperti ini,


"Memang ya, nyonya itu sangat cantik jika di dandani....."


"..."


Seketika atmosfer keseruan yang tadi mereka buat menghilang dan menjadi ketegangan yang luar biasa karena salah satu maid berkata seperti itu.


"Eh.... ta....tapi bukan maksud saya anda tidak cantik saat tidak memakai makeup" ucapnya terbata bata karena salah bicara.


Tapi aku menanggapi nya dengan senyuman kecil dan berkata "ya semua perempuan itu cantik cuma standar cantik di mata orang itu berbeda beda"


"Wah..."


Mereka menunjukkan wajah kagum lalu membalas dengan semangat "Anda benar nyonya!!!!"


"Hidup nyonya!!!" Teriak satu orang maid


"Hidup!!!" Sorak yang lainnya


"Perempuan semakin di depan!" Teriak maid itu lagi


"Benar!!!" Jawab yang lainnya


"Emang dikira Honda?"


Ucapku dalam hati, sampai ada suara di depan pintu yang menginterupsi kesenangan para maid itu, mereka memasang wajah panik karena tahu sang pemilik suara.


"Ada apa ribut ribut disini!?"


"Maaf tuan!!!"


"Kami minta maaf tuan!!!"


Mery dengan sigap menunduk untuk meminta maaf dan diikuti oleh para maid yang lain.


"Aku hanya bertanya ada apa, jadi jelas kan" balas Duke singkat


"E... Itu....."


Para maid kebingungan untuk mencari penjelasan, dan akhirnya aku angkat bicara, "Mereka berteriak-teriak seperti itu karena kata kata ku yang memotivasi"


"Memotivasi?"


"Oh ya sudah kalau begitu, ku kira ada apa heboh heboh"


Aku tersenyum kecil dan dia mengulurkan tangannya dan berkata "jika kau sudah siap ayo turun bersama",


Aku mengedipkan mata beberapa kali tidak percaya, Duke yang berada di lantai dua naik ke lantai 4 dimana kamar ku berada hanya untuk menjemput makan siang?


"Kenapa kau belum siap?" Tanya nya lagi karena melihat reaksi ku yang terkejut


"Ah sudah kok" balas ku dan mengambil tangan nya dan turun bersama.


...


"Drap drap drap!!!"


"Duchess!!!!"


Sebelum sampai di ruang makan tiba-tiba Albert berteriak memanggil namaku dari arah belakang sambil berlari, aku menoleh dengan cepat dengan raut wajah panik karena ku kira ia sedang terpengaruh oleh kutukan.


Tapi ternyata tidak, saat aku membalikkan badan bahkan sampai tidak sengaja melepaskan genggaman tangan duke, dia sudah berada di hadapan ku, dan mengatur nafas.


"Ada apa tuan muda?"


"Aku!, Haa...haa..."


".....?, Ya"


"Aku ingin kau membuatkan ku makanan itu lagi!"


"Ya?, Maksudnya cilok?"


"Ya itu aku ingin memakannya lagi!"


"Baiklah setelah makan siang aku akan membuat kan nya untuk mu"


Ucapku tersenyum kecil, dia dengan senang memengang tangan ku lalu menariknya ke ruang makan sambil berkata "ayo kita masuk"


"E.....eh..... Pelan pelan" ucap ku panik karena tiba-tiba di tarik tangan nya oleh nya dan meninggalkan Edward di belakang.


...


POV author


Dan tanpa Duchess sadari Duke memasang raut wajah kesal sejak tadi setelah genggaman nya terlepas karena kehadiran Albert,


Bahkan tangan nya direbut oleh Albert dan ia di tinggalkan di belakang oleh Duchess, dan itu membuat nya memasang wajah bad mood saat makan.


Duchess bertanya tanya dalam hati, kenapa Duke menjadi bad mood padahal tadi masih terlihat senang, mereka para pelayan dan kesatria yang menjadi saksi mata saat Duke mulai menunjukkan wajah kesal mendesah tanpa suara,


Setelah melihat wajah Duchess yang bingung karena perubahan sifat Duke yang cepat, kenapa mereka seperti itu?, itu disebabkan karena para pelayan dan kesatria yang berjaga disana saja tau apa penyebab Duke kesal,


"Tapi kenapa Duchess tidak sadar sama sekali ya?" pikir mereka semua, tapi untungnya saja makan siang berlalu dengan lancar, syukur mereka lagi.


....


POV Destiana


Makan siang berlalu dengan cepat aku yang menjanjikan cilok untuk Albert saja, berfikir untuk memasak banyak sekalian buat yang lain dan sekarang mulai memasak, Albert memperhatikan ku memasak.


"Tumben dia tidak belajar, dan hanya ingin memperhatikan cara pembuatan ini lagi?"


Pikir ku singkat sedangkan Joy dan Wren bermain diluar sambil belajar sihir dan jika sudah matang aku hanya perlu memanggil mereka dan makan di dapur.


Sedangkan untuk Duke aku akan minta pelayan membawakan ini kekantor nya, tidak perlu waktu yang lama cilok buatan ku sudah jadi, aku menyuruh lionna untuk memanggil anak anak.


Dan Mery untuk memberikan piring ini kepada Duke, dia mengangguk kan kepala dan langsung membawanya ke kantor nya, tapi saat Mery ingin keluar dari dapur tiba-tiba seseorang membuka pintu duluan dengan diiringi pertanyaan.


"Dimana bagian ku? Jangan jangan kau tidak membuat nya?"


"Ah tuan!"


Mery yang hampir bertabrakan terkejut dan langsung menunduk, aku yang sedang menuangkan saus ke piring anak anak juga terkejut dan menoleh kearah nya, sambil berkata.


"Oh Duke baru saja aku akan mengirimkan bagiannya untuk mu"


"Tidak perlu biar aku makan disini saja" Ucapnya sambil mengambil piring yang berada di nampan yang akan di bawa Mery ke kantor nya.


"Eh?"


Aku terkejut lagi sambil mataku tidak lepas dari dirinya yang sedang berjalan ke meja di samping anak anak dan duduk di kursi yang tersedia.


"Kau juga duduk lah"


Ucapnya sambil menepuk nepuk tempat duduk di sebelahnya yang kosong, aku tersenyum geli lalu berjalan sambil membawa piring ku dan duduk di sampingnya.


Dan akhirnya siang itu di penuhi kebahagiaan dari sepiring cilok, padahal akan lebih so sweet jika kita makan sepiring berdua, seperti kata kata Rangga dulu.


"Tia tau gak sapi sapi apa yang so sweet?" Tanyanya saat aku sedang sibuk makan nasi goreng sendirian.


"Gak" balasku singkat, lebih memedulikan makanan di depan ku sekarang


"Sapiring berdua!" Ucapnya senang dan merebut sendok yang ku pakai, dan memakan nasi goreng milik ku dengan lahap.


"Hei!" aku melototi nya kesal karena acara makan ku di ganggu.


"Kalau kurang nanti beli lagi" ucap nya cepat dan menyerahkan sendok bekas nya kepada ku lagi.


"Hiih...." Aku pura-pura kesal padahal dalam hati aku senang dan mulai menyuap makanan ke dalam mulut ku.


Aku mengunyah nya pelan, dan Rangga beberapa kali bertingkah seperti anak kecil yang makan disuapi tapi aku tidak masalah dan menyuapinya sampai dia berkata.


"Mau nyisain siapa sih?" Ucapnya gemas aku meraba-raba pipiku dan sekitar bibir tapi tidak menemukan nasi yang menyangkut disana.


Akhirnya aku bertanya "dimana sih?", Dan Rangga mengisyaratkan untuk mendekatkan wajah ku ke wajahnya, sampai tiba-tiba ia mengecup pelan bibir ku dan berkata.


"Heeh... Rasa minyak bibir nya"


"Heh.... Syukurin bohong aja sih" balas ku cepat sampai kesadaran ku kembali ke waktu sekarang karena pertanyaan duke.


"Ada apa Duchess?" tanya Edward penasaran "ah hanya teringat masa lalu" balas ku singkat dan dia melanjutkan "oh baiklah", lalu aku tersenyum karena semuanya makan dengan lahap mulai dari Mery, lionna dan red sampai anak-anak dan bahkan Duke.


"Tenyata begini juga tidak terlalu buruk"


Gumam ku pelan


...