
"Brukk!!!"
Suara benda jatuh yang sangat keras, aku yang setengah tertidur langsung melompat dari kursi karena kaget.
"Ada apa!!!?, kenapa!!?"
Teriakku ke arah suara, kenapa aku bisa langsung bangkit dan teriak, kalian akan tau jika sudah jadi ibu, karena hal ini adalah hal yang lumrah.
Refleks dari kepekaan ibu ibu, jika anak atau suami nya merusak atau menjatuhkan barang, aku langsung melihat Joy dan Wren terpaku di tempat, saat aku berteriak.
Kendi yang berisi sup hampir tumpah kelantai jika Joy masih terpaku dengan ku dari tadi, sedangkan 3 mangkok tanah yang kutebak di bawa Wren hancur dan tergeletak di lantai.
Dan dengan cekatan aku membantu Joy mengangkat lalu menaruh kendi itu di meja, sambil membereskan mangkok yang hancur itu dan membuang nya.
Setelah itu persidangan di mulai, aku bersedekap dada dengan tatapan yang menyeramkan, membuat mereka berdiri dengan ketakutan, mereka seperti anak kandung ku sungguhan, padahal kita belum dekat dan aku baru sehari disini.
Bahkan Wren yang kukira akan melawan tetap diam dan menunduk takut takut, aku menarik nafas panjang lalu bertanya dengan nada tegas.
"Jelas kan padaku apa yang terjadi?!!"
"E.... Itu kak..!!!"
"Joy memasak makanan dan melakukan pekerjaan yang berat untuk mu, padahal ia masih sakit!!!"
Wren menyela ucapan Joy sambil mengacungkan satu tangannya, Joy terkejut dengan ucapan Wren lalu dengan panik mengangkat tangannya juga.
Tapi aku menyela Joy lalu berbicara dengan nada lembut, sambil senyum ramah dengan menatap nya.
" Joy sayang, kau tau kan kalau kau tidak boleh kelelahan?!"
"Tapi... Tapi.... Bu...kan itu...." Dia dengan ragu ragu ingin memberitahu sesuatu.
"Tidak ada tapi tapian, lebih baik kau kembali ke kamar dan istirahat lebih lama"
Joy melihat ke arah Wren dia tersenyum puas karena aku hanya mendengarkan pendapat nya saja, tapi tiba-tiba saja tanpaku duga Joy berkata dengan nada tinggi.
"Kakak Wren menyuruh ku untuk tidak memberikan anda sarapan!!!,
Aku, Wren bahkan Joy sendiri terkejut dengan suaranya yang menggelar Karena berteriak memberikan penjelasan.
"Itu.....itulah yang sebenarnya terjadi....." Dia melanjutkan dengan nada takut takut.
"Ah maaf Tante jika aku tidak sopan" dia dengan malu malu menunduk kan kepala.
"Ah!!, Tidak apa apa aku jadi tahu ini adalah kesalahan siapa"
Aku tersenyum miring kearah Wren, dan orang yang ku maksud melihatnya, seketika ia merinding lalu kabur dengan cepat.
Dan aku bisa membayangkan cerita nya kenapa sampai mangkok itu pecah, pertama Joy sedang ingin membawa sup nya ke ruang tengah.
Dan Wren berinisiatif membawa mangkok, tapi ia hanya membawa 2 saja, akhirnya Joy menaruh kendi nya dulu di meja lalu kembali ke dapur membawa 1 mangkok tambahan.
Tapi Wren tidak setuju karena itu buat ku, dia mengancamnya dengan mengambil kendinya, akhirnya barter terjadi ia menyerahkannya mangkok nya dan ia mendapat kendinya.
Dan saat Wren ingin menaruh satu mangkok lagi, Joy sudah memengang 2 mangkok yang lain, dan berkata
Ini untuk Tante dan aku kau harus pakai yang itu (di pengang).
Lalu akhirnya keributan di mulai, Joy dan Wren saling tarik-menarik mangkok, dengan beban yang lebih berat di Joy karena memengang kendi dan dua mangkok.
Pada akhirnya Joy melepaskan mangkok saat di tarik oleh Wren, tapi Wren langsung kehilangan keseimbangan dan tidak mempedulikan mangkok yang ia bawa dan ia rebut dari Joy terjatuh demi keseimbangan badan nya.
Dan dari situ lah asal-muasal suara mangkok tanah pecah, Joy menatap ku bingung karena sedang berfikir serius.
"Tante..... Apa anda tidak apa-apa?, Aku khawatir karena anda kelihatan berfikir keras"
"Oh tidak apa-apa aku tadi hanya sedang menganalisis kejadian kalian"
Aku langsung tersadar dan membalas perkataan Joy yang terlihat cemas, aku terfikir kan sesuatu lalu mengubah topik pembicaraan kita.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan saja sup nya, karena kalau didiamkan akan dingin"
Dia mengangguk lucu, tapi ingat dengan Wren yang tiba-tiba kabur karena takut dengan ku, mukanya berubah cemas.
"Tenang saja aku akan mencari nya dan membujuk nya untuk makan bersama kita"
Aku menepuk bahunya yang layu, dan usahaku berhasil karena membuat nya tersenyum cerah, dia dengan semangat menawarkan diri untuk mengambil mangkok lagi di dapur.
Aku menyetujui nya lalu ikut pergi mencari Wren bersembunyi, aku mengingat setiap ruangan di rumah ini karena kemarin telah di ajak berkeliling dengan Joy.
Padahal aku baru satu kali berkeliling rumah, tapi sudah bisa mengingat semua ruangan, dan alhasil aku tidak bisa menemukan di mana Wren.
"Hah.... Dimana ya anak itu"
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, dan berusaha berfikir dimana tempat pelarian anak kecil saat sedang di marahi oleh orang tuanya.
Tiba tiba saja aku terfikir kan loteng rumah, karena Brian kalau ngambek di rumah lamaku pasti dia bersembunyi di sana, dan jika di rumah kami dia naik balkon kamar dan menguncinya.
Tapi aku sudah bertanya pada Joy saat berkeliling dan ia bilang tidak ada loteng rumah, karena benar kalau rumah ini lebih kecil dari rumah ku dan tidak bisa di buatkan loteng.
Dan Joy menambahkan kalau mereka tidak punya lantai dua, yang berarti tidak punya kolong tangga yang dulu tempat ku suka bersembunyi.
Tapi aku teringat lagi cerita Rangga tentang salah satu adiknya di panti dulu suka sekali bersembunyi di atap rumah, padahal itu terbuat dari genteng dan bukan semen atau cor-an.
Dan kami baru mengetahui tempatnya bersembunyi saat ia berteriak ketakutan karena ada kucing lucu yang panti punya, tapi ia benci tiba tiba naik ke tempatnya.
Dan itu membuatnya hampir terjatuh dari sana, aku akhirnya mulai memutari rumah dari luar sambil melihat baik baik ke atas genteng.
Dan benar saja aku melihat telinga bewarna biru, dan ekor yang berkibas kibas yang sedang bersembunyi di balik batang dan daun.
Kenapa ada batang dan daun di atas atap?, Itu karena pohon yang cukup tinggi dan besar tumbuh lumayan dekat dengan rumah nya, dan membuat tempat persembunyian Wren yang nyaman.
"Hey baby wolf kenapa kau bersembunyi di situ?"
Dia bergerak gerak panik, tapi tidak pindah dari tempatnya atau membalas ucapan ku.
Tapi tak lama kemudian ia menjawab dengan memunculkan sedikit wajahnya di balik dedaunan.
"Kau akan memukul ku"
Aku terdiam sejenak mencerna ucapnya lalu tertawa terpingkal pingkal, setelah beberapa menit aku pun selesai tertawa, lalu berkata.
"Kenapa aku harus memukul mu?"
"Karena aku melakukan kesalahan, dan mengusulkan hal yang jahat...."
"Tidak, tidak alasan seperti itu tidak cukup untuk membuat kau di pukul oleh ku, jadi turun lah dari situ"
Ucap ku sambil mengangkat kedua tangan untuk bersiap menangkapnya jika melompat turun, tapi dia menggeleng, bukan karena takut untuk turun tapi masih belum bisa percaya pada ucapku.
Aku menurunkan tangan ku, sambil mendesah maklum, lalu mataku langsung mencari pijakan yang cukup tinggi untuk melompat ke tempat Wren berada.
Saat aku menemukan nya aku mundur memberi jarak, lalu bersiap dengan ancang-ancang dan berlari secepat mungkin.
Setelah itu melompat dengan bantuan pijakan batu dan akhirnya sampai di samping Wren yang membuat nya sedikit terkejut karena bisa bisanya aku lincah dan mendarat dengan mulus disamping nya.
"Apa yang belum kau percayai dari ku Wren?"
Tanya ku tanpa basa-basi lagi sambil menatap wajah nya, ia terbelalak kaget dengan pertanyaan ku, dan ia berusaha untuk mengelak dari pertanyaannya.
"Aku tahu maksud mata mu, jadi kau bisa bilang padaku agar tidak ada kesalah pahaman, karena kau tahu kesalah pahaman itu sangat menyebalkan"
Dia meneguk ludah saat mendengar perkataan ku, lalu memberanikan diri bertanya dengan suara keras sambil memejamkan mata nya.
"Padahal kau bangsawan tapi kenapa kau tidak membawa bawahan sedikit pun!, Dan juga jika kau diculik kenapa tidak ada yang mencarimu hingga saat ini!?"
"Puk...."
Aku menepuk puncak kepala nya pelan sambil mengusap-usap rambut nya dengan lembut yang membuat Wren membuka matanya dan menatap ku.
"Oh jadi begitu, ya memang aku habis di culik, tapi aku bisa melarikan diri dari nya, dan kenapa aku tidak dicari sampai sekarang..........................."
"Itu karena ini adalah hari terakhir dari pesan yang tertulis di perut kuda saat kereta kuda ku dihadang"
Dia mengedipkan matanya karena penasaran, dan aku melanjutkan ceritanya.
"Pesan yang tertulis di sana seperti ini jika kau ingin mencari ku carilah setelah 3 hari jika aku tidak datang"
"Jadi....." Kata kata Wren terhenti karena berfikir.
Aku yang tahu maksud nya hanya membalas dengan kata "ya", dan akhirnya Wren mengangguk mengerti dan tersenyum karena dia bersedia mempercayai ku sepenuh hati.
Aku ikut tersenyum karena senyuman nya, lalu mengulurkan tangan kepada nya mengajak untuk turun, dia menggenggam tangan ku dengan erat dan kami melompat turun.
Setelah itu kami segera menuju ke ruang tengah yang sudah tersedia sup yang agak dingin karena kami mengobrol terlalu lama dan Joy yang mengomeli kami karena terlalu lama.
.............
Setelah makan, dengan cepat rapat dibahas agar Joy bersedia untuk pindah rumah ke rumah ku, dan sekarang ia mengaduk aduk gelas berisi susu yang ada didepan dengan sendok.
Tatapannya matanya sedikit sedih, dan terus menerus melihat pusaran air yang terbentuk dari gelas yang ia aduk.
"Jadi apa kau setuju Joy?"
Aku bertanya dengan lembut kepada nya, Wren yang melihat wajah sedih Joy mulai berkata, sambil bersujud di lantai.
"Maaf Joy andai kakak mu ini bisa lebih baik merawat mu kita tidak perlu melakukan cara ini, tapi masalahnya nyawamu yang jadi taruhan nya "
"Dan aku......a...aku... Tidak ingin kehilangannya keluarga lagi....., Jadi kakak mohon kau harus tetap sehat"
Tiba tiba saja wren berkata seperti itu dengan terbata bata dan mulai menetes kan air mata, Joy yang tahu Wren menangis langsung menarik nya untuk duduk lalu memeluknya dengan erat.
"Aku tahu kakak selalu melakukan hal yang terbaik untuk ku, dan aku berterima kasih karena itu, dan aku paham kok maksud pergi dari sini"
Joy berkata seperti itu sambil mengusap usap punggung kakaknya agar tenang lalu melanjutkan.
"Karena ini demi kesembuhan ku, dan ayah juga ibu berpesan agar aku tetap hidup untuk bersama dengan kakak"
Joy memberi jeda sejenak untuk mengambil keputusan akan pergi atau tidak, dia bahkan tidak mengusap punggung Wren lagi dan membuatnya duduk dengan benar lalu menatap nya lekat lekat padahal habis menangis.
Dan karena sikapnya itu membuat aku dan Wren menahan nafas, bibir nya mulai bergerak dan berkata.
"Jadi aku akan pergi"
"Hah....."
Aku menghembuskan nafas lega sedangkan Wren tersenyum bangga dengan tampang yang lucu setelah menangis dan langsung memeluk Joy dengan erat.
Akhirnya tidak terlalu lama kami berangkat setelah Joy dan Wren mengambil barang-barang yang di perlukan.
Aku berkali-kali memastikan bahwa Joy tidak kelelahan, dan untuk tidak memaksakan dirinya jika ingin istirahat.
Dia mengangguk paham dengan senyum yang ia paksakan, yang tandanya akan membangkang.
"Huffttt......"
Aku menghembuskan nafas berat, lalu berkata dalam hati
"Aku akan menggendongnya sebentar lagi"
...........
Sementara itu, sejak kemarin kemarin, di tempat Duke ia sudah menghabisi orang orang dari kelompok pembunuh bayaran Jack the ripper.
Setelah meminta bantuan dari sepupunya yang tidak lain adalah putra mahkota yang bernama Philip, karena ibu nya adalah saudara ayah nya, yang berasal dari keluarga Devonte juga.
Dan sekarang ia sedang menulis surat terimakasih untuk putra mahkota karena telah mengizinkan nya membasmi para pembunuh itu dengan keterlibatan nya sebagai penyihir tingkat raja.
Bahkan baju nya yang terdapat noda darah belum di ganti sejak tadi karena membereskan sisa sisa orangnya sejak kemarin.
Yang berarti dia belum sempat untuk beristirahat, dan bahkan Duke berencana setelah menulis surat ia akan membereskan pekerjaan nya yang menumpuk karena ia sibuk membereskan mereka.
"Tok tok tok!, Ini saya tuan"
"Masuk lah Franks, ada apa?"
Edward membalas dengan cepat perkataan Franks tanpa melihat kearahnya sedikit pun, Franks dengan tatapan sedih karena melihat tuanya seperti itu mulai berkata.
"Tuan, lebih baik anda beristirahat sejenak setelah membereskan mereka"
"Hahaha, apa maksud mu Franks, kau ingin menyuruhku untuk berleha leha, sedangkan hal hal yang berbahaya menimpa Duchess dan Albert!!!"
Nada suaranya terdengar marah, bahkan dengan ucapannya saja bisa mengintimidasi Franks, apalagi jika ia mengeluarkan kekuatan sihirnya.
"Jika anda memaksakan diri setelah selesai membasmi para hama yang tersisa itu, dengan melanjutkan tugas dan berkas yang menumpuk, aku yakin anda akan tumbang tanpa menyelesaikan apa apa!"
Edward tahu kalau tubuhnya sudah diambang batas, tapi......
"Maaf tuan surat anda berlubang karena tinta yang merembes"
Tanpa sadar Edward menekan terlalu lama pena yang ia pegang di kertas surat terimakasih nya.
"Hah....."
Edward menghembuskan nafas berat sambil bersandar di kursi kerja nya, tangan nya menaruh pena bulu ketempat semula tanpa melihat, karena ia menutup matanya dengan satu lengan.
"Bangun kan aku setelah kau selesai menyortir berkas yang harus didahulukan terlebih dahulu"
"Baik tuan" Franks mematuhi perintah nya sambil membungkuk hormat.
Tidak butuh waktu lama Edward sudah tertidur pulas di kursi nya, dan Franks melakukan apa yang diperintahkan nya.
Sedangkan di penjara ruang bawah tanah milik Duke, Albert diikat dengan rantai sihir yang kuat, dari tangan sampai kakinya.
Sejak kemarin ia sudah berteriak seperti hewan yang marah, tapi hari ini dia terdiam dengan kekuatan yang masih sama besarnya dan bisa membunuh orang orang yang berada didekatnya.
Dia tertidur tapi memanggil mamanya dengan suara lirih berkali kali, para penjaga yang mendengar nya dari jauh memasang wajah sedih.
"Kasian sekali tuan muda padahal diumur nya sekarang dia harus nya bisa bahagia dengan kehadiran Duchess dan tanpa mempunyai kutukan" ucap penjaga yang berwajah lembut kepada penjaga disebelahnya.
"Ya, tidak seperti anak anak yang lain dia menanggung beban berat karena kehilangan ibu dan mendapatkan kutukan yang tidak normal" temannya yang berada disebelahnya ikut berbicara dengan nada sedih bercampur kasian.
"Bahkan ia sejak pagi terus mengigau memanggil mamanya" teman nya ikut menyahuti pembicaraan mereka.
Sedangkan Albert sedang memimpikan sesuatu yang rasanya sangat familiar bagi nya.
Ia melihat sebuah gambar yang sangat nyata (foto), seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat karena tertutup cahaya yang menyilaukan tapi menurut nya wanita itu cantik.
Dia merasa tersenyum hangat hanya dengan melihat gambar itu, dan tiba-tiba saja ada suara nyanyian dengan bahasa yang aneh menurut Albert.
Ia yang berada di dalam mimpi itu dengan cepat mengambil benda berbentuk persegi panjang yang bisa menyala dan menaikkan gambar bewarna hijau keatas.
Dan muncul lah keajaiban karena terdengar suara orang yang berada di gambar itu, dan juga wajahnya terlihat di dalam benda itu.
"Ibu!!!"
"Happy birthday!!!, sayang ku Brian......"
"Hiks....."
Albert yang berada di mimpi itu merasa sedikit sedih bahkan dadanya ikut terasa sesak entah karena apa, dan ia yang ada di mimpi hampir menangis tapi ditahan.
"Kukira ibu tidak akan mengucapkan selamat ulang tahun"
"Tentu saja tidak lah sayang......."
Muka wanita itu terlihat lelah menurut nya, meskipun tidak terlihat karena ada cahaya yang menutupinya.
"Ibu..... Apa ibu sehat?"
Dengan nada sedih Albert yang berada di dalam mimpi, merasa sedih karena melihat wajah lelah wanita itu.
Orang yang di sebut ibu itu tersenyum lelah, lalu membuka mulutnya dan berbicara dengan nada semangat.
"Oh ya, ibu sudah mengirim hadiah untuk mu, sebentar lagi akan sampai jadi tunggu saja ya!!!"
"Aku tidak mau hadiah di hari ulang tahun ku ............., Karena aku hanya mau ibu disini......."
Ibu tersenyum manis lalu membalas,
"Akan ibu usahakan ya, besok pagi saat kamu masih tertidur ibu sudah berada di samping mu, bagaimana!!?" Tawarnya.
Albert yang berada di dalam mimpi mengangguk paham karena setuju dengan ide wanita itu.
....................
POV Albert
Latar mimpi pun berganti dengan, dengan seorang pria yang membangun kan ku dengan cepat.
"Hoam..... "
Aku yang berada di dalam mimpi menguap lebar sambil mengucek ucek mata, lalu bertanya.
"Ada apa ayah?...."
"Ayo kita harus pergi ke rumah sakit"
"Loh?? Memang nya siapa yang sakit?"
Aku yang berada di dalam mimpi itu bertanya sambil bangkit dan duduk berdampingan dengan pria yang ia panggil ayah.
"Kau akan tahu nanti, cepat pakai jaket mu kita akan langsung berangkat"
Dan entah kenapa jantung ikut berdebar-debar khawatir dan aku di dalam mimpi itu, berharap dalam hati semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.
Latar tempat berganti lagi, kami tiba di suatu bangunan yang sangat tinggi dan besar, aku yang melihat bangunan itu, berfikir kalau bangunan itu seperti aula yang berada di istana ku.
Kami berjalan masuk ke dalam, pria yang ku sebut ayah tadi menggandeng tangan ku terus hingga sampai ke suatu pintu bewarna putih, di situ aku merasa kan perasaan yang sangat sedih dan khawatir dari si orang ini dan menjadi aku.
Tapi aku yang asli masih memikirkan sensasi aneh dengan pintu lain sebelum kami sampai di sini, karena itu cukup mengesankan karena bangunan ini lebih rumit di banding kan kamar pelayan karena banyak pintu.
Aku merasakan sensasi yang aneh saat kami memasuki suatu pintu yang tidak punya gagang dan tidak punya lubang kunci, bewarna abu abu, dari besi atau mungkin bahan lain yang tidak Ku tau.
Saat kami mendekati pintu itu, tiba tiba saja secara langsung pintu nya terbuka, orang yang disebut ayah itu menuntunnya masuk ke dalam, padahal ada orang lain yang sedang berdiri di sana sambil menghadap ke arah kami.
Kukira kami salah masuk ruangan tapi ayah dan aku yang di mimpi tenang tenang saja dan mengikuti cara mereka menghadap.
"Jrek..jrek... Ngungggg......."
Tiba-tiba saja terdengar suara itu dan lantai yang ku pijak terasa naik keatas, aku yang asli berfikir seperti itu tapi itu juga tidak mungkin, karena tidak masuk akal.
Aku yang ada di mimpi hanya memperhatikan cahaya berwarna merah yang memperlihatkan 1 huruf aneh yang sepertinya diketahui oleh nya.
Cahaya berwarna merah itu menyala berurutan kesamping dengan huruf yang berbeda beda, dan setiap berpindah dari satu huruf ke yang lain pasti ada suara.
"Ting!!!"
Dan membuat pintu itu terbuka sendiri, lalu ada saja orang yang masuk dan keluar dari ruangan yang kecil ini.
"Brian...."
Aku yang asli tersadar karena panggilan pria itu, karena sejak tadi mengingat perasaan saat memasuki pintu aneh itu, sedangkan orang yang ada di mimpi ku sejak tadi khawatir dan berdoa di dalam hati nya.
"Jangan berisik ya di dalam soalnya ibu lagi sakit, dan ia ingin melihat mu dulu, oke?"
"Deg!!!"
Seketika itu jantung ku berdetak cepat karena kaget, padahal aku sama sekali tidak mengerti percakapan mereka sejak mimpi ini ada.
Tapi aku merasakan perasaan yang sangat sedih bahkan aku yang di mimpi, sampai meneteskan air mata berkali-kali, padahal sudah di usapnya dengan ujung bajunya.
"Sudah sudah jangan nangis nanti ibu sedih...."
Pria itu mengusap punggung ku dengan lembut, aku yang dimimpi mengangguk paham lalu kembali memasukkan ingus yang tersumbat di dalam hidung.
Kami masuk kedalam dan langsung melihat wanita yang ia lihat waktu itu berada di dalam benda persegi panjang, dan sekarang ia sedang berbaring lemah di ranjang kecil.
Di temani tiang aneh yang berada di samping ranjangnya, dan ada kantong bening yang berisi air mungkin? Aku tidak tahu persis apa itu.
Dan selang yang terlihat mengalirkan air itu kedalam tubuh nya melalui tangan kiri wanita itu.
Aku yang di mimpi tidak bisa menahan tangis karena melihat pemandangan seperti itu, dengan cepat ia berlari dan memeluk tubuh wanita itu sambil menangis tersedu sedu.
Wanita itu membalas pelukan ku dan dengan lembut mengusap kepala ku sambil berkata lemah,
"Maaf ya, Brian........, bukan nya mama yang datang ke kamu tapi malah kamu yang nyamperin mama"
Aku yang berada di dalam mimpi menggeleng dengan keras lalu berkata dengan suara serak.
"I...ini sa....salah, Brian!!!, tidak bisa me...mengerti pekerjaan mama!, pa....padahal kan.... ma.... mama sibuk buat ngasilin uang jajan dan sekolah Brian, dan..... dengan tidak sopan nya..... Bri....brian!!!, malah minta yang aneh aneh....., a...... agar ma..... mama cepat pulang!, pa..... padahalkan..... pekerjaan mama sangat banyak!"
"Cup.... Cup.... Ini bukan salah kamu nak, disini mama yang salah karena mengabaikan kamu terlalu lama, jadi bagaimana kalau kita saling berjanji"
"Hnn..... Jan... janji apa?"
Aku yang di mimpi, berkata sambil mendongak kan kepala untuk menatap nya.
"Gimana jika sesudah mama keluar dari rumah sakit selama sebulan kita jalan jalan bareng?!, Sama ayah juga"
Aku yang di mimpi merasa bahwa mataku berbinar binar bahagia, tapi tiba-tiba terfikir kan sesuatu lalu ia berkata.
"Tapi mama kan kerja......"
"Mama tinggal ambil cuti"
"Terus sekolah ku gimana?"
"HM..... Nanti mama izinin ke sekolah, kamu tinggal fokus ngejar mata pelajaran yang ketinggalan aja gimana?"
Aku yang dimimpi merasa ragu, tapi dengan cepat wanita itu berkata dengan nada menyemangati ku.
"Anak mama kan pintar jadi pasti bisa kan?!!"
Aku yang di mimpi pun mengangguk, lalu kembali memeluk nya dengan erat, matanya merasa berat karena mengantuk dan wanita itu terus mengusap usap kepalaku dan berkata dengan nada bahagia.
"Tidur lah kesayangan ku Brian......"
Saat di rasa tidur nya nyenyak, samar samar aku mendengar suara yang familiar memanggil ku.
"Albert!!!"
"Albert!!!"
"Bangun nak!!!"
"Deggg!!!"
Aku terbangun karena kaget, mata ku samar samar melihat seseorang wanita yang sama dengan wanita yang ada di mimpi ku itu.
"Syukurlah....."
Dia memelukku erat, dan berkata dengan lirih,
"Maaf karena aku terlalu lama, sampai membuat mu harus diikat dengan rantai sihir ini"
Aku melihat wajah wanita itu yang ternyata adalah Duchess Florence, dan entah kenapa tiba-tiba saja dari mulut ku keluar kata.
"Mama"
Dengan bahasa yang sama yang dimiliki oleh ku didalam mimpi, karena ia sangat terlihat mirip dengan wanita itu meskipun aku tidak tahu wajahnya.
Dia memasang raut wajah kaget, aku yang mengucapkan nya lebih kaget di dalam pikiran ku tapi tidak dengan raut wajah ku yang melihat nya dengan lekat.
"Zzzrrrrttttt!!!"
Tiba tiba rantai memberikan perlawanan terhadap ku yang sudah tersadar, dan itu sebenarnya untuk menekan kekuatan ku yang sangat besar saat kehilangan kendali atas diriku.
"Argh!!!"
Aku berteriak kesakitan karena setiap rantai yang terlilit di tubuh ku melakukan perlawanan.
Florence yang melihat reaksi ku menjadi panik dan berteriak memanggil siapa saja untuk melepas kan ku dari rantai ini.
Aku yang sudah tidak punya kekuatan lagi tidak tahan untuk memejamkan mata karena lelah.
Florence dengan cekatan menempel kan telapak tangan nya ke pipiku, dan dari situ keluar lah cahaya hijau yang menyelimuti seluruh tubuh ku.
"Oh ini sihir penyembuh..... Tapi bagaimana dia bisa memiliki nya?"
Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak ku, tapi tidak terjawab karena aku yang telah kehilangan kesadaran lagi (pingsan).
Dan aku tidak mengingat apapun lagi........
................