I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
10



POV Nathan.


"Itu bukan salah mu" ucap Florence dengan nada yang lembut, sambil terus mengusap kepala ku dengan pelan.


Aku sangat puas setelah bisa bercerita tentang nyonya Dianna yang terkena kutukan padahal orang yang menyebabkan nya aku tahu dan aku ada di tempat kejadian.


Dia berpura-pura baik, dan menolong ku demi menyempurnakan kutukannya yang berasal dari zaman kuno.


Karena hanya bisa di lengkapi dengan buku buku tua yang terpencar jauh di setiap tempat berbahaya di benua ini.


Selain itu kesulitannya adalah buku itu di tulis dengan bahasa dark Elf yang hanya bisa di terjemahkan oleh keturunan asli yang mempunyai tanduk 2.


Dan aku yang membantu nya menerjemahkan buku-buku itu, saat aku tahu kebenaran nya, aku merasa terpuruk bahkan aku membunuh orang orang yang berkomplot dengan nya dengan sadis.


Sampai rasa dendam ku, juga amarah yang meluap-luap di hatiku tidak bisa dikendalikan lagi, dan disaat itu Hephaestus datang dan menawarkan untuk memakan amarah itu.


Makanya terkadang aku tidak bisa menahan rasa membunuh ku, aku bahkan selalu berharap kalau waktu di putar kembali agar aku bisa langsung membunuh orang itu sebelum melempar kutukannya.


Aku bercerita seperti itu sambil menangis dengan keras seperti anak kecil padahal aku tahu ini memalukan.


Tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti menangis, aku benar benar seperti anaknya sendiri.


"Sudah puas nangis nya?"


Aku mengangguk patah patah karena malu, sambil melepas pelukan nya, mata ku terasa sembab, bahkan bengkak parah.


Dia menatapku dari matanya aku melihat ada rasa kasihan, dan perasaan menyesal, tapi aku tidak memedulikan itu karena kakak yang tersisa di sisiku adalah dia.


"Dan aku akan melakukan apapun untuk mu nyonya" ucap ku dengan nada yang paling berwibawa yang aku bisa.


Dia menunjukkan wajah tidak enak sekarang, saat ia ingin membuka mulut untuk berbicara, tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa menerima sumpah mu"


"Dan aku tidak peduli"


"Hah... Dasar keras kepala, kau akan menyesal nanti"


"Tidak akan, kalau begitu aku pergi untuk keliling" ucapku berpamitan untuk berjaga pagi, memastikan kalau tempat ini aman.


Aku berdiri, matanya tidak lepas dari ku, aku merasa ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahan, dan aku sangat penasaran tapi aku tidak mau mendesak kakak.


Akhirnya aku hanya berkata kalau ia ingin cuci muka atau melakukan hal lain bisa diantar oleh Hephaestus, dia menyetujuinya dan kami pergi ke arah yang berbeda.


Aku bahagia, tapi merasa was-was dengan apa yang ingin kakak ucapkan, tapi itu bisa di pikirkan nanti.


................


POV Destiana


Aku berjalan masuk kedalam gudang dengan lesu, karena aku merasakan perasaan bersalah yang sangat besar jika memanfaatkan kebaikan end pada Florence yang telah pergi.


Harimau yang menjagaku menghilang saat kami telah memasuki gudang, dan aku melihat end dengan senyum cemerlang melihat ku.


Dia sedang memasak sesuatu di atas kuali tanah yang bahan bakarnya kayu bakar, aku berjalan mendekati nya.


"Anda ingin makan apa nyonya?, Sup apa tidak apa-apa?"


Aku duduk di dekat nya, dan mengangguk lalu dia mengambil kan mangkuk dan menuangkan isi dari kuali itu.


Aku mengambil mangkuk yang ia sodorkan, bau sup yang enak menggelitik hidung ku, karena merasa familiar dengan wanginya.


Aku mulai menyeruput nya pelan pelan sambil sesekali meniup agar tidak terlalu panas, saat aku merasakan sup itu, akhirnya aku merasa yakin kalau ini adalah makanan yang sering di masak Dianna bersama kami.


Aku melirik nya yang tersenyum senang karena menunggu reaksi ku karena bisa merasakan makanan ini.


Akhirnya aku tersenyum sambil berkata, "terimakasih kau sudah mengingatkan rasa makanan buatan nya."


End yang tadinya masih tersenyum, mulai memasang raut wajah murung, dia kembali menatap kuali dan mengaduk aduk nya.


Aku yang melihat nya seperti itu makin merasa bersalah, jika tidak memberi tahu kalau Florence tidak menempati tubuh ini lagi.


Dan aku bertekad akan memberitahu nya di waktu santai, kami makan bersama, dia lebih sering menatap ku yang makan dengan lahap.


"Bisakah kau tidak terlalu menatap ku terus?" Ucap ku mulai risih dia tersenyum kecil, lalu membalas.


"Aku hanya ingin memperhatikan wajah yang telah lama tidak kulihat"


"Huh...... dasar, sesukamu lah" balas ku malas


"Hahaha... Kakak tidak pernah berubah ya, selalu saja cuek dan terlihat tidak perhatian padahal aslinya tidak begitu"


Dia yang tiba-tiba tertawa membuat ku ikut tertawa kecil, wajahnya saat tertawa benar benar imut, padahal dia laki laki, aku benar-benar iri.


...........


Di kediaman Duke, terjadi insiden yang sangat mengerikan karena Duchess di culik, dan yang paling banyak merasakan ke khawatiran itu adalah Edward.


Dia menghukum semua orang yang terlibat karena membantu Duchess, untuk menjadi korban dalam penculikan yang bertujuan kepada Albert.


Dan saat ini dia sedang duduk di meja kerja nya, dengan gaya yang sombong juga wajah yang marah, menatap para pelaku yang membantu istri nya.


"Kalian harus di hukum berat karena tidak memberi tahu ku rencana penculikan Albert, yang di ketahui oleh Duchess!!!"


Di depan Edward bersimpuh para pelayan setia Duchess yang ia tau, dan sisanya adalah kusir kuda yang membawa kereta istrinya kemarin.


Lionna, red, Mery, dan pria yang terlihat masih muda, mereka menundukkan kepala sampai menyentuh lantai.


Lionna dan red terlihat takut takut tapi mereka siap menerima hukumannya, sedang kan kusir itu dia tidak bisa menyembunyikan rasa panik nya di wajah nya.


Sedangkan orang yang paling berani di antara mereka semua adalah Mery, dia tidak terlihat panik atau gugup, wajahnya tenang.


Dan Edward yang melihat raut wajah itu entah kenapa membuat nya kesal, lalu ia berkata sambil menunjuk nya.


"Hei.... namamu siapa!?, Kenapa kau memasang raut wajah seperti itu jangan jangan kau mata mata juga?!"


"Nama saya Mery tuan, dan karena saya adalah dayang nyonya kami harus mengikuti semua perintah nya, lalu saya yakin beliau akan baik baik saja"


"Heh!, Seenaknya saja kau bicara, aku adalah tuan mu, dan aku berhak tahu apa yang dilakukan istri ku!!!"


"Maaf tuan, akan saya ingatkan bahwa saya adalah pelayan nyonya terdahulu karena aku yang ingin mengabdi kan diri dan tidak ada sangkut pautnya dengan anda"


Dia memberi jeda lalu bangun dan berbicara dengan posisi duduk agar tidak kalah debat, matanya dengan tegas menatap mata Duke yang marah.


"Lalu beliau menugaskan saya untuk membantu Duchess sekarang, dan jika bukan karena perintah beliau aku tidak akan mau berkerja di sini lagi"


Duke mengeluarkan aura yang menyeramkan dan membuat orang orang disekitarnya menjadi tertekan, karena tidak bisa bernafas, kecuali satu orang yaitu Mery.


"Huffttt....... Aku akan menangguhkan hukum kalian dulu sampai Duchess datang, dan itu tergantung pada luka yang ia terima."


Edward melangkah pergi keluar ruangan, dia mengetahui kalau Franks sang kepala pelayan mengikuti nya, dan akhirnya dia berhenti berjalan lalu bertanya.


"Bagaimana dengan Albert?"


"Keadaan nya buruk tuan, tubuhnya memar memar karena memaksa lepas dari ikatan sihir, dia terus meraung-raung memanggil Duchess berkali-kali" balas Franks sambil berhenti berjalan, karena mengikuti Duke yang berhenti.


"Sudah??" Nada suara Duke terdengar kesal karena masalah yang datang bertubi-tubi.


"Masih ada hal yang lebih buruk tuan, karena tuan muda membuat semua makhluk hidup yang berada lima meter di dekat nya menjadi mati"


"Hah......., Kenapa saat Duchess diculik Albert malah kambuh???, Malah semakin memperparah kekuatan nya yang tidak terkontrol"


Gumamnya sendiri sambil berjalan kembali, tapi suara teriakan yang memanggil nya membuat dirinya berhenti kembali.


"Tuan, tuan Duke!!!" Seorang kesatria berteriak di lorong sambil berlari menghampirinya.


"Ada apa, kenapa kau tidak bisa sedikit lebih sopan terhadap tuan!" Tegur Franks terhadap kesatria itu.


"Maaf tuan, karena ada hal yang mendesak yang harus saya laporkan" ucapnya dengan sikap hormat kesatria.


Sebelum Franks menegurnya kembali, Edward mengangkat tangan dan membuatnya diam, setelah itu dia langsung bertanya.


"Memang hal mendesak apa yang harus kau sampai kan padaku?"


"Kuda!"


"Kuda??"


"2 Kuda yang membawa kereta Duchess kembali dengan, salah satu kuda mempunyai tulisan di perut nya"


"Apa!!!?, Dimana kuda itu, cepat antar aku ke tempat kudanya berada!!" Balas Duke cepat, kesatria itu mengangguk lalu mulai berjalan, yang langsung diikuti Duke dan Franks sambil berbicara.


"Kuda nya ada di halaman pacuan kuda dekat kandang nya, tuan!!!"


Seketika ia tau lokasi nya, Duke langsung berlari menuju lokasi itu, saat sampai di tempat itu ternyata sudah sangat ramai dengan para kesatria, pelayan dan lain lain yang sedang bertugas di sekitar.


Dia melihat 2 kuda yang sedang di tenang kan oleh pengurus kandang, dan saat ia melihat Duke dia langsung memberikan hormat, diikuti oleh semua orang yang ada di sana.


"Apa yang di tulis di perut kuda itu!"


Saat Duke berjalan mendekati kuda yang sudah di ke rumuni, orang orang itu langsung membukakan jalan.


"Ini adalah...." Ucapan sang pengurus kandang terhenti karena Duke telah melihat tulisan itu sebelum.


[Aku masih hidup, tunggu aku dalam waktu tiga hari jika belum kembali kau boleh mencari ku atau tidak itu terserah pada mu, dan kelompok yang terlibat adalah Jack the ripper ]


PS: ada mata' dari bawahan mu


Duke terdiam sejenak setelah membaca tulisan itu, hatinya sedikit sakit karena membaca tulisan kalau Florence mengira dirinya tidak akan mencari nya.


"Tuan....., Apa yang akan anda lakukan? " Suara Franks membuat nya tersadar dari pikirannya


"Tidak peduli apapun yang terjadi kalian harus menemukan nya secepat kalian bisa!, Cari petunjuk sebanyak mungkin"


"Baik tuan perintah akan di laksanakan" ucap para kesatria yang berada di tempat itu sambil memberi hormat.


Franks langsung menyuruh kelompok kesatria untuk berpergian ke seluruh tempat yang memungkinkan untuk menemukan Duchess.


"Aku pasti akan menyelamatkan mu Florence!"


Sumpah nya dalam hati.


.............


POV Destiana


Kami telah selesai makan dan end sedang bersiap siap untuk pergi mengantarkan ku pulang, dia berkata padaku kalau kita akan melewati jalan yang berbeda karena bisa jadi pembunuh tingkat tinggi datang bersama sama, dan menyerang kita.


"Memang nya kau tidak bisa membunuh mereka?" Tanya ku saat dia memberi tahu informasi ini


"Tidak, karena aku tidak tahu kemampuan mereka"


"Jadi jika kamu tau kemampuan mereka, kau bisa mengalahkan nya?"


"Belum tentu karena mereka benar benar elite apalagi jika kekuatan sihirnya sangat tinggi, dan main keroyok kan, aku tidak akan punya kesempatan untuk menang apalagi hidup" jawab nya santai.


Aku terdiam sejenak lalu membalas perkataannya,


"Bagaimana kalau tambahan nya adalah diriku?"


Dia ingin tertawa, tapi di tahan lalu membalas dengan cepat "Itu sama saja bunuh diri lebih cepat"


"Oh baiklah" aku membalas ledekan secara tidak langsung itu dengan nada kesal.


Aku melihat nya telah bersiap, dan sekarang ia menengok kearah ku memberi tanda kita bisa berangkat sekarang.


Aku menarik nafas panjang dan memantapkan hati untuk memberi tahu nya sekarang, karena aku tidak suka menipu orang yang tulus seperti nya.


"Nathan sebelum kita berangkat aku ingin memberitahu mu sebuah rahasia"


Mataku menatap matanya dengan tatapan tajam dan tidak main main, dia yang tadinya memasang senyuman mulai memudar.


Dia terlihat was-was karena mungkin ia sudah menduga hal ini akan terjadi, aku mengangguk lalu menambahkan.


"Dan tidak masuk akal, Karena sebenarnya aku bukanlah Florence....."


"Sreett!!!"


Pedang panjang yang ia gunakan saat menggores leher ku kemarin, kembali mengancam di tempat yang sama karena berhenti tepat di leher ku, jika aku bergerak sedikit saja.


"Sudah kuduga akan terjadi hal-hal seperti ini, jadi dimana kakak ku yang asli!!!"


Dia dengan nada membunuh yang kuat membuat ku sulit untuk menyingkirkan pedang nya, jika aku salah bicara.


"Kau harus dengar penjelasan ku dulu!"


"Tidak karena setelah kau mengatakan tempat nya aku akan membunuhmu dengan cara tersadis, lalu mencincang tubuh mu hingga bagian terkecil untuk makan para monster!"


"Dia ada di dunia lain"


"Hah.... Jangan berkata hal aneh seperti itu, hanya untuk mengulur waktu...."


"Tidak, karena aku juga berasal dari dunia lain" sela ku cepat dan langsung menceritakan semuanya.


Tidak lama karena aku menceritakan itu sesingkat singkat nya dan hal hal yang penting yang perlu ia ketahui dari ku dan hubungannya dengan Dianna dan Florence.


Dia berfikir keras dengan cerita ku, bahkan saat berfikir ia tetap mempertahankan posisi pedang nya yang masih mengancam leher ku.


"Jika kau masih tidak percaya, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, silahkan kau ingin membunuh ku, tapi jangan harap aku akan diam saja saat nyawaku terancam"


Aku menarik nafas pelan "Karena masih ada yang harus kulakukan di dunia ini, dan itu karena keluarga ku"


Dan mungkin karena perhatian nya teralih sebentar, aku jadi bisa mengambil kipas di saku dan menyingkirkan ujung pedang yang menempel di leher ku jika bergerak sedikit saja.


Lalu aku melompat menjauh, untuk menjaga jarak dari nya, dia melihat ku yang siap bertarung, dia akhirnya memutuskan untuk bertarung sampai mati dengan ku.


Tapi posisi siaga kami terhenti karena hawa mencekam di sekitar hutan tempat kami berada, dia memasang raut wajah cemas.


Aku tau dari mana hawa mencekam ini, karena itu berasal dari para elit assassin, menurut instingku ada 25 orang yang datang, 2 orang pemanggil roh setingkat menengah ke 5 dan 6.


"Kau merasakan nya juga ya, tapi bagaimana bisa?, Padahal tubuh anda hanya memiliki mana yang sedikit"


Dia bertanya seperti itu dengan nada yang tidak ramah, lalu melanjutkan


"Apa ini kekuatan jiwa lain"


"Ya, aku bisa melihat energi baik dan buruk" ucap ku asal.


Terus apa yang ingin kau lakukan?, Bertarung dengan ku, terlebih dahulu sampai kita ditangkap?, Atau bekerja sama setelah itu saling membunuh?"


Nathan terlihat bingung, aku mengambil inisiatif dengan berkata,


"Bagaimana jika kita menentukan nya nanti setelah berhasil kabur secara terpisah dari sini, saat itu jika kau memutuskan untuk membunuh ku, maka kita akan bertarung secara adil di tempat yang kau inginkan "


Dia melihat ku, tidak terlalu percaya pada ucapku karena bisa jadi saat aku sudah kembali ke rumah aku memperketat keamanan dan tidak keluar rumah, aku mengerti ke khawatiran nya, lalu meyakinkan dengan berkata.


"Mau aku beri token agar kau bisa masuk ke dalam rumah ku, agar kau percaya?"


Aku melepas hiasan yang mengikat rambut ku menjadi gelungan besar setelah di kepang panjang, yang menyisakan 1 kepangan panjang ku.


Aku memegang hiasan bulat berukir unik itu, dan melemparnya ke Nathan, dia menangkap nya dengan cekatan lalu melihat hiasan itu.


"Pedang yang tertutupi bunga, tidak salah lagi karena lambang keluarga Duke Devonte adalah pedang"


Aku tersenyum kecil, "kau percaya kan sekarang?"


"Ya, karena tidak sembarang hiasan yang boleh menggunakan ukiran pedang" ucapnya sambil terus meneliti bentuk hiasan itu.


"Kalau begitu aku akan pergi ke arah Utara langsung menuju ibukota kerajaan, karena aku yang akan menjadi umpan mereka"


Dia terdiam lalu melihat ku sambil memasukkan hiasan tadi ke sakunya, lalu berbicara lagi


"Dan kau lebih baik pergi kearah barat langsung, agar mereka tidak dapat mengejar mu, lalu meminta bantuan pada Duke di daerah selatan jika kau tidak mau itu terserah karena aku hanya mengusulkan"


Dia langsung berjalan keluar, aku yang melihatnya lalu berkata seperti ini, sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih karena mau memberiku usulan"


Aku berbalik lalu berjalan berlainan dengan nya tanpa menoleh atau pun berhenti, dan tanpa aba aba aku mengucapkan ini dari lubuk hati ku,


"Aku hanya ingin memberi tahu mu Kalau dia juga menyayangi mu, kau tahu kan kalau aku tidak hanya mendapatkan ingatan nya juga tapi perasaan dan rasa sakit jika ia mengingat ingatan yang menyakitkan"


Aku menarik nafas sebentar lalu melanjutkan,


"Meskipun dia lebih memilih kehidupan yang dulu dari pada saat renkarnasi nya kesini, jadi kau harus bahagia karena ia juga akan bahagia di dunia lain sekarang, setelah dosanya di bayar dan terampuni, disini"


Dan tanpa Florence sadari, Nathan menoleh saat itu meski hanya sebentar, dan ada yang menetes dari mata nya.


.................


Pov Nathan


Aku melompat di dahan pepohonan dengan cepat, untuk menghindari posisi para assassin yang jauh dari ku semakin menjauh, agar mereka kehilangan jejakku.


Dan di ketegangan seperti itu aku masih bisa sempat sempat nya mengenang kenangan tentang Florence yang dulu.


Dan aku tidak sengaja mendengar kan percakapan Dianna dan Florence saat aku sebentar lagi terlelap karena ngantuk.


Dianna mengucapkan mantra sambil memegang tangan Florence dengan pelan, setelah ia selesai tiba tiba Florence berdiri dan menjauh dari nya.


"Kenapa kamu ada disini!?" Suara nya sedikit naik


"Kan aku bilang kalau ingin membantu jiwa lain yang akan menempati tubuh mu, bukan kamu!, Aku juga sudah memberi tahu kepada mu saat itu!"


Dianna terdengar kesal dengan Florence, Florence memasang wajah datar.


"Sesukamu lah....."


Ucap nya dengan nada malas, lalu duduk kembali di samping Dianna, karena tidak ada tempat duduk lagi di gubuk itu.


"Sebentar lagi aku bisa mengulang kehidupan ku!!!" Gumamnya bersemangat.


Dianna hanya melirik Florence sekilas, lalu berkata, "Apa kau tidak bisa merelakan masa lalu mu saja?"


"Bagaimana jika pertanyaan itu mengarah kepada mu?, Padahal kau sudah bahagia?" Tanya balik Florence


Dianna terdiam tidak bisa menjawab, tapi pada akhirnya ia berkata tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Florence tadi.


"Karena jika kau melakukan pembantaian lagi hukuman mu akan tetap sama seperti sekarang ini"


"Aku tidak peduli!!!, Aku akan balas dendam dan menikah dengan orang itu, mau tidak mau dia, akan aku gunakan kekuasaan ku!"


"Padahal kau bisa bahagia saat aku mati nanti karena menikah dengan Duke"


"Aku .......... Bodoh!!!" Balasnya cepat


Aku tidak mendengar ucapannya dengan jelas saat itu karena tiba-tiba mataku terpejam lalu terbangun karena suara teriakan Florence yang berkata bodoh dengan sangat kencang.


"Kan sama saja jika kau dengan nya atau dengan Duke!!!"


"Tidak, itu berbeda aku menyukainya, tidak dengan suamimu yang sementara itu nanti"


"Hah....., Terserah lah" Dianna yang malas menanggapi perkataan Florence lagi, tapi dia berkata dengan topik lain.


"Waktu nya sebentar lagi ya"


Florence hanya menanggapinya dengan anggukan, dan Dianna berkata lagi.


"Lalu bagaimana dengan nasib anak ini?" Dianna melirik sekilas ke arah ku, untungnya saja aku tidak ketahuan belum tidur, karena menyembunyikan kepala ku di selimut yang mempunyai lubang lubang di setiap sudut nya.


"Dia akan bahagia"


"Bagaimana kau bisa yakin dengan itu?"


"Tau saja"


"Dan bagaimana dia terpukul atas kepergian dirimu yang asli saat jiwa yang lain datang dan memberi tahunya?"


"Tidak akan!, Jiwa itu tidak mungkin memberi tahu nya"


"Meskipun kemungkinan nya besar?"


"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu sih"


"Aku hanya menebak dari sifat yang diberi tahu beliau, saja kok!"


"Huh, aku hanya berharap ia bisa menemukan jalan kebahagiaan nya, dan bisa membantu orang itu nanti"


Florence menatap badan ku lama, lalu angkat bicara lagi, sambil menatap lentera yang bergoyang karena tertiup angin di jendela.


"Dan jika kau berharap aku bisa memilih disini dari pada tinggal di duniaku dulu, gara gara menyayangi bocah ini, kau salah besar!"


"Kecuali orang itu juga berada di sini, mungkin aku bisa tinggal di dunia ini bersama bocah itu dan mengangkat nya menjadi anak" lanjutnya


"Pasti itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk mu jika kejadian itu beneran terjadi" balas Dianna


"Ya kau benar"


Setelah itu obrolan terhenti aku yang sudah ngantuk berat tidak kuasa untuk menutup mata.


Tapi telinga ku mendengar suara mereka lagi, "apa sungguh harapannya padamu seperti itu saja?"


"Ya, apalagi selain ke bahagian nya?"


"Heee...... Dari kemarin ia selalu berkata akan melindungi mu, seperti sumpah kesatria, apa kau tega meninggalkannya"


"Ya, dan aku berharap lagi kalau dia bisa memberikannya sumpah itu, dan mengabdikan diri nya kepada jiwa yang lain daripada diriku ini"


"Loh memang nya kenapa berfikir seperti itu?, Bukan nya kau suka bawahan yang setia?"


"Ya memang benar, tapi karena jiwa yang akan datang itu sangat baik, aku tidak bisa membiarkan nya kesusahan dia benar benar tidak punya cela, selain ketidak pedulian nya terhadap sekitar"


Terdengar suara orang berdiri yang kutebak adalah Florence sendiri, aku merasa dia menatap ku lagi, dan dia berkata,


"Ku harap ia bisa mengikuti/ mengabdikan diri pada orang seperti nya, yang telah memperbaiki tubuh ini, dari dosa-dosa ku, karena bukan ia yang meminjam tubuh ini nanti karena aku yang telah meminjam nya"


"Jadi begitu ya" aku berbicara sediri di atas dahan yang paling tinggi di antara pohon yang lain.


"Aku akan menuruti keinginan anda nyonya!" Ucap ku sambil melihat ke langit dan tersenyum cerah.


"Jika suatu hari kita bertemu lagi di dunia antah berantah aku berharap menjadi bagian keluarga mu juga"


Harap ku lalu melanjutkan perjalanan.


....................


Beberapa menit sebelumnya Florence merobek pakaian nya agar mempermudah nya dalam pelarian, dan dengan sigap membuangnya ketempat lain, dari jalan pelarian nya agar di kira sudah mati.


Dan dia dengan cekatan juga membakar gudang bekas menginap nya tadi, lalu mulai berlari ke arah yang dituju.


Rambut Florence bergerak ke kanan dan ke kiri, karena ia berlari, kakinya mulai lecet karena melepas sepatu yang menyulitkan nya saat berlari.


Untung nya saja ia sudah menentukan arah, saat berlari dengan sesekali berhenti, apa ia berjalan jauh menuju arah yang salah atau tidak, dengan bantuan senjata nya yang menjadi kompas.


"Hah hah...." Tenaga nya sudah habis karena berlari dari pagi hingga petang, ia melihat ke sekelilingnya.


"Di daerah ini ada bintang buas, itu lebih baik dari pada moster, tapi mereka akan muncul pada malam hari, sebelum itu aku harus bisa mencari tempat menginap, dan berlindung" pikir nya dalam hati.


Akhirnya pencarian tempat tidur nya sementara di mulai.


.................