
POV author
"Brak brak!!!!"
Suara bantingan terdengar kencang bahkan beberapa barang telah rusak meskipun terbuat dari bahan yang keras, itu disebabkan oleh seorang wanita cantik yang sedang bersimpuh kesal di lantai dan memukul mukul lantai sebagai pelampiasan nya.
"Nona!!!!"
Teriak seorang kesatria berkulit gelap berbadan besar dan berwajah sangar karena disekujur tubuh nya penuh dengan luka, dia dengan cepat menahan tangan nona nya yang sedang memukuli lantai sampai berdarah.
"Jangan melawan ku Gray!!!, Kau hanya kesatria!"
"Tapi anda memberikan wewenang untuk ku sebagai ayah angkat!, Jadi dengarkan ayah mu ini dan jangan lah melukai tangan mu sendiri!"
"Hiks.....hiks.... Bagaimana bisa!, Coba beritahu aku bagaimana caranya agar lepas dari bajingan itu!!!"
Gray melihat nona berambut pink merah cantik nya menangis kencang, rasa sakit tiba-tiba muncul di hati nya karena ia menganggap nona nya ini adalah anak nya juga.
Tapi karena ia hanya seorang kesatria yang bahkan mantan budak dan bukan ayah asli, dia hanya bisa mengelus rambut nona nya dengan pelan karena tata krama.
Nona nya menangis dengan keras yang bahkan terdengar pilu bagi orang orang yang mendengar kan, dia juga dengan erat memeluk satu lengan milik Gray seperti guling.
Para pelayan yang mendengar nya menangis seperti itu merasa iba karena nona nya sudah berusaha untuk memutuskan pertunangan nya dengan putra mahkota.
Mereka hanya bisa berdiam diri di depan pintu kamar yang terbuka sampai mendapatkan perintah, karena mereka sama sekali tidak bisa menenangkan tangisan nona nya yang malang.
Sampai tiba-tiba suara derap kaki seseorang yang sedang berlari dan ketika sampai di kamar dia melihat situasi lalu segera menyuruh para maid untuk membersihkan barang barang yang hancur.
"Nak kau disini" ucap Gray kepada gadis yang berusia 11 tahun ini yang tidak lain adalah anak gadisnya.
"Ya ayah, kakak velly masih menangis?"
Dia mencoba melihat raut wajah wanita yang seharusnya adalah nona nya itu, tapi karena velly memendamkan wajah nya ke bahu gray dia masih belum bisa menebak apakah kakak nya sudah tenang atau belum makanya bertanya.
"Ya, dia masih menangis dan memengang ku dengan erat"
"Haah....."
Dia menghela nafas berat lalu mendekat ke arah mereka berdua, setelah dirasa cukup dekat anak itu dengan lembut mengelus rambut kakak nya sambil berkata.
"Auristela Ada disini"
"Stela?"
Tanya velly dengan suara yang cukup serak, bahkan matanya berusaha untuk mencari nya karena buram dan saat ia melihat dengan jelas anak di depan nya adalah stela ia dengan segera memeluknya dengan erat.
"Oh kakak ada apa lagi? Apa kah ibu tiri mu yang tidak tahu diri atau saudara tiri mu yang rada rada itu?"
Tanyanya kepada velly dengan nada lembut sambil terus mengelus elus rambut nya agar dia tenang, dan velly dengan lemah menggeleng.
"Oh jadi bukan mereka, berarti itu pasti ulah bajingan putra mahkota yang tidak tahu diri itu ya?!"
Ucapnya ikut kesal, dia melihat ayahnya yang berdiri setelah pelukan erat velly berpindah ke padanya, ayah nya memberi isyarat kepada nya bahwa dirinya akan keluar dulu.
Dan Auristela mengangguk setuju dan mulai memfokuskan diri kepada velly, setelah ayahnya keluar ia dengan segera benar benar memeriksa kondisi kakak nya secara menyeluruh.
Setelah dirasa velly cukup tenang, Stela mulai bertanya,
"Apa yang ia lakukan terhadap mu kak?"
"Hasil usaha kita tetap tidak membuahkan hasil, lalu parah nya lagi dia tetap keras kepala dan malah mempercepat tanggal untuk menikah"
"Oh benarkah? memang dasar bajingan sinting itu!!!!, padahal rencana itu sudah sangat sempurna"
"Stela tolong..... Bagaimana ini..... Tangannya bergetar hebat lagi tandanya velly mulai panik"
Dia mengelus-elus rambut velly agar tenang sambil terus berbisik "tidak apa-apa dia tidak akan bisa menyakiti mu lagi, siapa pun itu karena ayah ku akan melindungi mu"
Stela memasang wajah kesal karena ulah putra mahkota menyebabkan nona nya menjadi trauma mental meskipun dia mencoba untuk tetap terlihat kuat.
Dia dan ayah nya mengetahui rahasia nona nya yang berkata kalau ini adalah kehidupan ke duanya setelah secara kejam di siksa oleh bajingan itu.
"Kak kau mulai tenang?"
Velly mengangguk dia kembali tenang, Stela memasang raut wajah sedih lalu kepikiran tentang Duchess Florence yang bekerja sama dengan nona nya.
"Anda tenang saja nona bukan kah kita masih memiliki sebuah kartu?"
"A...apa?"
"Yaitu nyonya Duchess Florence"
"Percuma, dia bahkan juga menyangkut pautkan itu saat aku datang kemarin dengan mengancam ku jika coba coba mengendalikan beberapa bisnis nya lagi"
"....."
Stela terdiam sejenak lalu membulat kan tekat, "aku akan berbicara dengan Duchess langsung!"
"Tapi..... Stela...."
"Kita masih bisa membatalkan nya sebelum minggu depan, upacara pernikahan nya, ini adalah kesempatan terakhir, jadi kak semangat lah kak!!!"
Velly terdiam sebentar untuk berfikir untuk tidak menyalahkan apa yang telah terjadi meski dia sudah berusaha keras memutuskan pertunangan nya dan tidak membuahkan hasil.
"Baiklah ini yang terakhir... Ternyata dewa benar atas ucapannya yang menyindir ku saat memberikan kesempatan kedua, memang nya kau bisa membalas kan dendam?"
"Kak, jangan pernah berfikiran seperti itu!"
"Dan jika usaha terakhir ini tidak berhasil aku akan puas dengan posisi boneka yang cantik untuk hiasan istana"
"Kak..." Stela merasa sangat sedih setelah mendengar perkataan velly.
"Ayo kita bersiap" ucapnya bangkit berdiri
...
POV Destiana
Aku menatap taman bunga disebelah ku wangi harum nya menusuk indra penciuman ku, "yang mulia apa anda ingin diambil kan cemilan lagi?"
Tanya seorang pelayan, aku menggeleng pelan "kenapa mereka menawarkan cemilan yang lain sedangkan ini masih banyak?" Pikir ku dalam hati.
"Huh.... Bosen banget!"
Para pelayan melirik ku kaget karena tidak pernah mendengar bahasa itu, tapi aku dengan cepat segera berdiri dan pergi mengelilingi istana duke agar perhatian mereka teralihkan dari bahasa aneh di dunia lama ku.
Saat aku sedang berjalan jalan mengitari mansion yang terasa seperti ini suara kepakan sayap mulai terdengar, aku melihat ke atas dan sebuah burung mendarat di lengan ku.
"Pasti penting" ucapku yang tahu maksud kedatangan burung elang ini, aku melepaskan surat yang berada di kakinya lalu seketika ia terbang.
Aku membaca surat itu yang isinya mengatakan bahwa countess ingin kita bertemu di sebuah tempat, aku menghembuskan nafas lalu memerintahkan kepada para pelayan untuk memanggil para dayang ku.
Untuk membantu ku bersiap, dan memerintah mereka agar menyiapkan kereta sambil terus berjalan ke kamar, saat sampai di kamar, tiga orang dayang dari lorong berlari dengan tergesa-gesa.
"Yang mulia..... Anda memanggil kami?"
"Ya, sudahi urusan makanan yang kukatakan itu..... buatnya nanti saja, sekarang lebih penting"
Lionna mery dan red langsung mengambil bagiannya masing-masing mulai dari memilih kan perhiasan, mengambil gaun dan menata rambut.
Dan tidak perlu waktu lama aku sudah siap di depan kaca, "Wow..... Memang hasil tangan kalian tidak pernah mengecewakan, simply dan cepat"
"Terima kasih sudah memuji nyonya tapi anda akan pergi ke mana?" Tanya mereka penasaran dan terdengar nada suara mereka yang sedikit berharap
"Menemui seseorang yang penting"
"Haah..."
Seketika mereka kompak mendesah kecewa, aku penasaran dan bertanya "memangnya apa yang kalian harapkan?"
"Kukira anda akan berjalan jalan dengan tuan Duke"
"Hahahaha..... kalian terlalu banyak berkhayal!, Duke kan sibuk mana mungkin dia bisa meluangkan waktu untuk berjalan-jalan di kota"
"Tapi nyonya....."
"Sudah lah aku akan berangkat sekarang mungkin sudah disiapkan kereta didepan"
"Siapa bilang aku sibuk saat ini....."
Terdengar jawaban dari balik pintu, di iringi suara pintu yang terbuka lalu muncul sosok Duke yang sekarang sedang bersandar di pintu.
Para pelayan langsung memberi hormat, dan Duke menyuruh mereka untuk keluar dari kamar ku dulu, aku mendekati nya sambil berkata.
"Maaf saya sok tahu jadwal pribadi anda"
"Tidak tidak kau memang benar aku sibuk sekali sekarang, oh ya kau ingin pergi ke mana?"
"Aku mempunyai urusan diluar"
"Bisnis?"
"Ya bisa dibilang begitu, dia meminta ku untuk bertemu langsung"
"Pria atau wanita?"
"Dia adalah seorang countess"
"Oh....."
Introgasi Duke berhenti sampai situ dia sekarang memasang wajah yang ragu ragu dan juga sedikit malu-malu, akhirnya aku memancing keinginan nya sedikit.
"Kenapa anda menanyakan hal seperti ini?, Apa anda sedang bosan dan ingin ikut dengan ku ke kota?"
"Ya benar, tapi kau keluar sekarang tidak untuk bersenang senang, jadi mungkin besok kita bisa pergi"
"Baiklah.... Kita akan jalan jalan besok, kalau begitu saya pamit dulu"
Aku memberi hormat kepadanya, tapi dia mencegah ku dan malah menarik lengan ku untuk berjalan, aku hanya memasang raut wajah bingung sambil terus mengikuti nya yang menarik ku keluar.
Duke melirik ku saat aku sedang memasang raut muka yang bertanya tanya lalu ia membalas nya dengan ucapan, "aku akan mengantarmu sampai kereta"
"Loh....tumben....." Pikir otakku cepat.
Saat sampai di depan kereta dia melepaskan pegangannya dan berkata untuk berhati-hati, karena dia tidak ingin ibu kota menjadi tempat yang bisa membuat mu trauma.
"Oh..."
Aku berfikir mungkin dia khawatir aku akan jadi debu di rumah karena takut untuk keluar setelah kecelakaan yang disebabkan pembunuh bayaran dulu.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku"
Ucapku tulus lalu masuk ke dalam kereta diiringi dengan red yang sekarang bertugas mengikuti ku jika keluar dari istana, dia tersenyum kecil dan aku melambaikan tangan dari jendela setelah itu kereta berjalan.
...
Tidak terasa perjalanan lebih cepat sampai, ke tempat yang sama seperti dulu kami berbincang berdua waktu itu, aku melangkah masuk ke dalam dengan percaya diri lalu seorang pelayan mengantarkan ku keruangan yang telah di pesan oleh countess setelah menyebutkan nama ku.
Saat aku sampai di ruangan yang dipesan, mataku langsung tertuju kepada dua orang yang bersamanya seorang kesatria kekar yang penuh dengan luka dan seorang anak perempuan yang matanya menunjukkan tatapan berani.
Dia menyilahkan ku untuk duduk di depan bangkunya, dan juga pelayan ku, aku sengaja tidak membawa kesatria kesini karena aku rasa mereka bukan orang yang berbahaya.
"Baiklah ada perlu apa?"
Tanyaku saat ia sedang menyeruput teh nya, dia dengan sikap anggun menaruh cangkir nya ke meja.
"Kau terlalu terburu-buru nyonya"
"Ya, kau tau aku sibuk"
Ucapku yang padahal bohong, karena hari ini sedang senggang, dia akhirnya berbicara kembali "jadi sesuai kesepakatan aku mempunyai sedikit bukti yang kau perlukan tapi bagaimana dengan permintaan ku?"
"Ehem.... Maaf aku sudah berusaha tapi dia bukan pangeran bodoh yang kau katakan jadi dia mengancam dengan kekuatan dan kekuasaan nya"
"Jadi kau tidak bisa membuat nya memutuskan pertunangan kami?"
"Maaf nona aku tidak bisa, jadi mungkin kesepakatan kita bisa berakhir di sini"
Aku mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh sambil menundukkan kepala, lalu berfikir dalam hati bahwa putra mahkota itu sangat berbahaya untuk di usik, bahkan kesatria pengawalnya juga terlihat kejam dan haus darah.
Dia bisa membuat instingku berkata untuk menjauhi nya, sampai tanpa sadar aku tidak memperhatikan tangan countess bergetar.
Aku sedikit khawatir karena dia terlihat sangat ketakutan, dia mencoba menahan getaran di tangannya sambil berkata,
"Tidak..... terimakasih telah menghawatirkan ku....., Kalau begitu perjanjian nya akan berhenti sampai di sini.... Aku pamit pulang"
Saat dia akan bangkit berdiri aku buru-buru mencegah nya, dan berkata
"Kau....!,haah...., apa nona tau sebentar saat aku mengancam putra mahkota dengan koneksi ku dia menunjukkan wajah sedih saat mendengar kalau kita aliansi untuk memutuskan pertunangan mu"
Dia tersenyum hambar, "dia mungkin sedih karena tidak bisa mendapatkan hati ku karena dia tipe orang yang suka hal yang menantang...."
"Tidak!!! Aku melihatnya dengan jelas bahwa wajah itu adalah orang yang telah jatuh cinta, karena aku pernah mengalami nya"
"Mungkin saja itu hanya ke pura pura an nya!"
Aku terdiam tidak ingin berdebat dengan nya lagi, mungkin masa lalu countess dengan putra mahkota sangat menyakitkan dan membuatnya trauma, itu memang tidak bisa disembuhkan dengan hanya keberanian.
"Kalau begitu saya pamit,"
Sekarang countess benar benar akan mulai berjalan tapi aku berfikir cepat dan menemukan sebuah solusi terbaik untuk saat ini.
"Apa anda ingin kabur dari kerajaan ini?"
Dia berhenti berjalan dan menengok pelan kepada ku, "apa kau bisa melakukan nya padahal tidak tahu kondisi ku yang selalu di mata matai?"
"Bisa asalkan anda menandatangani kontrak untuk memberikan 50% dari kekayaan anda untuk saham di mesin uap ku"
"Oh aku dengar kau bekerjasama dengan seorang wanita, untuk membuat mesin itu dan menjual nya ke berbagai kerajaan jadi bagaimana caranya aku bisa kabur"
"Silahkan duduk dulu dan aku akan menjelaskan lebih lanjut"
.....
"Tuk.... tik.... tak..... tik..... tuk"
"Huh... Akhirnya selesai juga"
Ucapku merasa lega setelah
merenggang kan badan setelah duduk di dalam kereta kuda, red yang berada di depan ku tersenyum kecil dan dia memulai percakapan ini dengan nada bingung.
"Yang mulia sebenarnya rencana tadi benar benar membuat ku bingung"
"Bingung?, Apa nya yang tidak jelas aku bisa menjelaskan bagian mu nanti"
"Eh maksud saya bingung itu, heran? kenapa anda bisa bisanya kepikiran cara itu?"
"Ah..... Begitu kau bertanya tanya dari mana ide tersebut kan?, HM..... Kalau kubilang dari pengalaman apakah kau percaya?"
"HM....ya aku percaya" ucap red yang terdengar sedikit ragu ragu, tapi tidak mempersalahkan nya lagi aku tersenyum tidak enak karena sedikit berbohong, dan berkata dalam hati.
"Yah karena yang sebenarnya ide itu datang dari pengalaman menonton film tentang action, dan mana mungkin aku memberi tahu nya seperti itu bisa bisa dia kebingungan dengan penjelasan ku"
"Oke persiapan nya akan selesai besok aku berharap semua nya berjalan lancar"
Ucapku berharap pada keberuntungan besok pagi, tidak terasa kereta sampai di rumah yang lebih pantas disebut istana ini, aku melangkah kan kaki keluar setelah red turun duluan.
Tapi secara tidak sengaja gaun yang kupakai ini terinjak oleh kaki ku saat turun dengan tangga, tubuh ku benar benar hilang keseimbangan dan pasrah untuk jatuh.
Tapi tanpa disangka sangka seseorang menangkap ku dan menggendong ku dari samping dengan cepat, saat aku sadar ternyata itu adalah Duke.
"Duke!?"
Aku sedikit terkejut karena orang ini entah dari mana tiba-tiba saja menolong ku, dia menatap gaun ku tidak senang lalu berkata ke Franks yang baru datang dengan berlari.
"Dari butik mana gaun dia di buat?!"
Suara Duke terdengar kesal, Franks terkejut dan buru buru untuk menjawab pertanyaan nya sekarang "dilihat dari model nya tuan, itu dari butik Tabrizz"
"Memang nya kenapa anda menanyakan hal tersebut?"
"Besok kau harus menuntut mereka karena bahan dari gaun Duchess adalah kain rendahan dan bahkan hampir mencelakakan nya!"
Aku mengedipkan mata beberapa kali karena mendengar alasan Duke sedikit tidak masuk akal, memang bahan
Jersey sangat elastis dan itu tidak sengaja terlilit di kaki ku dan terinjak.
Franks sedikit bingung dengan perintah tuan nya, dan baru beberapa saat mengerti setelah melihat beberapa kali tuan Duke yang menggendong ku setelah itu ujung gaun yang terlilit di kaki, dan sebuah kereta di depan mereka.
"Ah.... Baik tuan!"
Ucapnya patuh, "saya akan menyiapkan nya gugatan nya untuk besok" ucapnya sekalian pamit, "E... eh.... Tunggu dulu!"
Aku dengan cepat menahan nya pergi, sambil menyuruh Duke untuk menurunkan ku dari gendongan nya, Franks menengok kebelakang dan bertanya "apa yang bisa saya bantu nyonya?"
"Ini salahku karena tidak berhati-hati saat turun jadi batal kan gugatan nya"
"Tapi nyonya..."
Franks menjawab dengan ragu ragu ia melihat wajah Duke yang marah dibelakang ku karena tidak setuju kalau aku yang salah.
"Duke anda tidak tahu fashion dan bahan, jadi aku tidak ingin namaku tersebar jelek hanya gara gara bahan Jersey yang seharusnya digunakan dengan baik dimulai dari jalan yang elegan"
"Huh..... baiklah" ucapnya menyerah lalu menggendong ku lagi "A... apa yang kau lakukan!!?" Ucapku sedikit menjerit, "Kau tidak bisa berjalan dengan ujung gaun yang terlilit itu....., jadi aku menggendong mu"
"Ta....tapi aku bisa membetulkan nya sendiri!"
"Tidak usah!" Ucapnya sambil berjalan, dan Franks mengikuti nya dari belakang, "Mulai besok bakar gaun yang mempunyai bahan seperti ini semua nya jangan terkecuali!!!, Dan ganti dengan bahan yang bagus tidak seperti ini, paham Franks"
"Sesuai keinginan mu tuan"
Ucap Franks patuh, aku yang mendengar ucapan nya terkejut lalu kembali protes
"Eh! Kenapa dibakar?, kan masih bisa digunakan atau diberi ke orang yang lebih membutuhkan"
"Hukuman benda dan manusia yang mencelakai Duchess adalah lenyap, turuti kemauan ku, sekarang karena aku sudah mengampuni kepala pemilik butik itu"
"Haaah...., Baiklah" Aku menghela nafas lelah karena menuruti kemauan aneh duke.
....
Saat malam hari semakin larut aku telah berada di dalam kamar sendirian, dengan langkah cepat aku membuka tirai jendela yang sangat besar sambil berkata "kau sudah datang? End"
"Ya sudah"
End keluar dari persembunyiannya, "mari masuk, aku sudah menyiapkan beberapa camilan" ucap ku santai
"Tidak!!!" Balas nya tegas
"Loh kenapa?" Tanyaku penasaran
"Anda benar benar tidak berhati-hati terhadap laki-laki yang mengunjungi kamar tidur anda saat malam hari"
"Ah!!! benar juga, mungkin kalau orang lain aku akan melumpuhkan nya dengan obat bius tapi untuk mu tidak perlu"
"Anda benar benar murah hati"
Ucapnya sambil tersenyum kecil, aku akhirnya menawarkan dirinya untuk duduk di meja teras, sambil menaruh beberapa kue kering di meja.
"Memangnya aku disini berniat makan atau membahas rencana?"
Tanya nya basa basi, aku tersenyum sambil menjawab "Monggo, dimakan kue nya"
"Monggo?, Kurasa aku sedikit mengerti maksudnya"
Aku tersenyum dia mulai mengambil satu kue dan mencobanya, "enak", pujinya aku tersenyum lebar sambil berkata "kalau mau nambah ambil aja"
"Ya, nanti..... jadi apa yang akan kita bahas sekarang?"
"Mana surat kontrak nya?" Ucapku tanpa basa-basi
"Ada disini" ia mengeluarkan sebuah kertas dari saku bajunya dan menyerahkan nya kepada ku, aku melihat lihat isi kontrak nya dan bertanya untuk berbasa-basi.
"Kau sudah menghubungi kawan mu?"
"Mereka bukan kawan" jawab nya cepat
"Lalu?" Aku meliriknya sekilas karena penasaran
"Hanya rekan"
"Oh..... kalau begitu apa kau sudah memberitahu rencananya kepada rekan mu" tanya ku lagi memastikan
"Ya" balas nya yakin
"Coba jelaskan ulang rencana nya, siapa tahu kau salah menerangkan kepada rekan rekan mu" tantang ku
Dia menarik nafas panjang lalu mulai menjelaskan,
"Jadi.... Mery pelayan mu akan menyamar menjadi lady velly karena ia memiliki badan yang paling mirip olehnya, lalu besok di jam delapan pagi, pasar akan sangat sesak karena waktu nya orang orang berbelanja, dan lady velly akan berbaur dengan rambut asli nya.
Dengan tetap memakai tudung, lalu saat para mata mata mulai mendekat karena tiba tiba lady berlari karena dompetnya di copet dan dia berpura pura untuk mengejar pelakunya, lalu pasti nya saat itu mata mata terbagi menjadi dua kelompok.
Yang pertama mengejar pencopet yang kedua mengikuti lady, lalu disaat yang tepat seperti perempatan atau belokan, para rekan ku yang telah merekrut orang-orang secara acak akan memenuhi tempat itu dan menyamarkannya.
Karena pelayan mu Mery akan mengganti kan nya berlari mengejar pencopet, dia akan memakai pakaian yang sama persis seperti lady dan tudung yang mirip dengannya.
Dan pasti nya dia akan diikuti oleh para mata mata, Mery akan terus mengulur waktu, untuk tetap berlari mengejar pencopet itu, sementara lady velly akan di arahkan menuju dermaga untuk kabur ke kerajaan lain.
Tapi sebelum itu ia akan di make up cepat dan diberi pewarna rambut coklat saat pengelabuhan terjadi, karena saat itu ia akan di antar ke suatu rumah yang akan menjadi tempat make up dan mewarnai rambut sebelum menuju pos selanjutnya.
Tidak perlu menunggu waktu lama karena ia akan segera berangkat setelah makeup nya selesai, lalu bagaimana pewarna rambut nya kan harus menunggu lama?
Rekan ku akan membalut rambut nya dengan kain sihir agar tetap terjaga sampai meresap dan kering sendiri saat ia kabur ke pos di dermaga, dengan catatan tetap memakai tudung kepala dengan kencang.
Dan saat sampai di pos dermaga pelayan nya akan ikut dengan nya dan membasuh rambutnya terlebih dahulu dan menghias ulang wajah nya untuk menyamarkan dirinya menjadi Perempuan dari rumah bordil bernama Tannaz"
"Tunggu, tunggu.... dia benar benar rekan mu kan?" Tanyaku khawatir dengan identitas rekan Nathan ini.
"Ya, meskipun dia memang genit dan pecinta uang tapi dia bisa dipercaya"
"Baiklah lanjutkan"
"Setelah selesai lady velly akan berpura pura menjadi perempuan itu dan pergi bersama salah satu Kapal yang mengangkut hasil tambang Duke untuk dikirim ke daerah timur laut setelah sampai ia akan transit ke kapal yang langsung menuju kerajaan terdekat"
"Bagus bagus penjelasan mu sangat detail dan di situ lah rencananya dianggap sukses, dan aku akan angkat tangan jika ia tertangkap saat berangkat menuju kerajaan lain"
Lanjut ku lagi, Nathan tanpa malu-malu mulai mencomot kue yang berada di piring sambil bertanya, "Nyonya bagaimana dia bisa masuk ke kapal tambang milik duke?, Bukan nya penjagaannya ketat?"
"Ah.... itu, jadi ini akan ada sangkut pautnya dengan surat ini" aku mengangkat surat ke depan wajah nya.
"Tentu saja aku membuat surat kontrak ini tanpa alasan" ucapku bangga
"Jadi bagaimana?"
"Baiklah akan aku jelaskan, sebenarnya tambang Duke memiliki investor yang banyak tapi meskipun begitu (aku) yang menyamar sebagai Miss Caroline mempunyai dana yang lebih sedikit untuk membuat mesin uap itu.
Dan bisa saja kekurangan dana meskipun keuangan Duke untuk anggaran ku tidak pernah dipakai dulu, dan Duke juga tidak terlalu yakin untuk berinvestasi kepada diriku yang menyamar.
Lalu bagaimana kami akan mendapatkan bahan untuk pembuatan mesin nya sedangkan orang orang tidak mau berinvestasi kepada perempuan yang tidak diketahui identitas aslinya itu, takut ditipu.
Karena aku sedang menyamar menjadi dua orang yang berbeda?, jadi aku menyarankan kontrak dengan berinvestasi mesin uap di Miss Caroline lewat diriku.
Dan aku akan menyampaikan nya kepada Duke tentang investor baru, lalu Duke akan memberikan tanda atau surat sah kepada pemegang saham terbesar ke dua setelah ku, agar menjadi bukti yang mempermudah kan nya melakukan bisnis atau hal yang lain tanpa takut ketahuan identitas aslinya.
Karena identitas Miss Caroline saja tertutup rapat, dia bahkan bisa mendapat kan beberapa kemudahan dengan bisa menumpang kapal atau alat transportasi lain yang dibawa atas nama Duke"
"Oh itu ide yang bagus, Memangnya tuan Duke tidak penasaran karena bukannya anda yang menyarankan tentang flying fox dan mesin uap itu?"
"Ah..... kalau itu aku mengarang cerita dengan berkata kalau aku pernah bertemu seseorang (Miss Caroline) itu, dan dia minta pendapatku tentang mesin uap dan juga tentang flying fox, dia menjelaskan secara keseluruhan dan aku membalasnya dengan bagus jadi dia menawarkan untuk berinvestasi kepadaku lalu aku menerimanya, yang padahal itu adalah diriku sendiri"
"Jadi itu alasan yang anda katakan kepada Duke"
"Ya pintar kan?"
"Ya sangat cerdas"
"Pokoknya semoga besok sukses"