
Saat pagi hari tiba aku sudah bersiap-siap untuk berjalan jalan ke kota wilayah kekuasaan Duke bersama dirinya, bahkan ia memutuskan untuk sarapan lagi di restoran terbaik bersama ku.
Dan entah kenapa dia ingin berdua dengan ku tanpa diganggu oleh anak-anak, karena saat aku memberitahu rencana besok untuk berjalan jalan ke kota, saat sarapan pagi kepada anak anak,
Dia buru buru menyela dan melarang nya dengan alasan "kalian harus lebih banyak belajar!", setelah itu Albert mengeluarkan hawa mencekam yang aneh dan Joy memasang wajah sedih sementara Wren wajah nya memelas.
Aku yang tidak enak karena suasana sarapan pagi menjadi memburuk akhirnya berkata "lain kali ya kapan kapan kita akan keluar dari istana"
Dan sekarang aku bahkan sudah duduk berdua bersama Duke di dalam kereta, dia memandang ku lekat lekat yang membuat diriku sedikit risih.
"Tuan....."
"HM..., Kenapa ada yang ingin kau tanyakan kepada ku?"
"Anda mengajak ku jalan jalan karena ada alasan lain kan? Selain untuk bersenang senang?"
"Ya, ada"
"Oh.... gitu"
Ucapku sambil manggut-manggut padahal yang ada di pikiran ku berbeda,
"Memang....., Rangga itu orang nya bosenan dia sering gabut dan senengnya rebahan di kasur, apalagi di dunia yang sedikit hiburan pasti pelarian nya adalah kasino"
"Ya padahal aku hanya ingin memilihkan dan membelikan mu beberapa gaun, tapi aku harus sekalian mengecek pengiriman tambang itu ke dermaga"
"Oh... " Aku terdiam sejenak lalu terkejut "Tunggu apa!?" Ucap ku karena tidak terlalu memperhatikan ucapannya sampai bertanya ulang seperti itu.
"Aku hanya ingin menemani mu saja hari ini tapi tidak bisa karena harus sekalian mengunjungi dermaga"
Aku terdiam kembali mencerna ucapan nya, dan membalas "Hah.....?! Duke apa kau demam?"
"Tidak"
Dia mengerutkan kening karena pertanyaan ku, "tapi kau berbeda dari biasanya" lanjut ku lagi
"Segitu tau nya kau dengan sifat ku"
"Ya emang tau" balas ku dalam hati yang padahal terucap "aku hanya mengira- ngira saja"
Tidak terasa kereta telah berhenti, Duke berdiri dia keluar duluan dari kereta diikuti diriku dengan diiringi ucapnya dengan mengulurkan tangan.
"Oh gitu, jadi mari kita nikmati belanja hari ini sampai siang"
Aku tersenyum kecil lalu menggenggam tangan nya "baiklah" ucap ku senang, padahal dalam pikiran ku, senang yang ku maksud bermakna lain karena rencana yang sudah di adakan untuk countess yang sangat dadakan itu akan berhasil.
...
Kenapa kemarin Nathan datang ke kamar ku saat malam?, Bahkan ia mengetahui rencana diriku dan countess juga ikut terlibat di dalamnya, itu karena.
Sebenarnya saat kemarin countess akan pulang dan aku menawarkan nya untuk kabur ke kerajaan lain, Nathan sudah mengikuti ku dari awal.
Tapi ia bersembunyi dengan sihir nya didekat ku, dan untungnya saja orang yang peka seperti ku mengetahui perasaan diikuti seperti ini dan mulai memanggil nya.
"End keluar lah..... Aku membutuhkan mu"
Nathan menurunkan tudung kepala nya dan mulai berjalan kearah ku ternyata sejak tadi dia bersembunyi di dekat tirai jendela, dia juga berkata "anda memang sangat peka nyonya"
"Jadi apa yang anda perlukan?"
"Aku butuh surat kontrak sihir"
"Anda tahukan itu sangat mahal dan langka?"
"Ya, aku tahu....., tapi pasti nya orang seperti mu akan mempunyai barang seperti itu"
Dia tersenyum miring lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, dan menyerahkan nya padaku, "anda harus membayar nya dengan mahal"
"Tenang aku kaya"
Balas ku santai, countess tidak terlalu terkejut dengan Nathan yang telah menguping dari tadi, dia bertanya kepada ku.
"Apa orang itu ada di pihak mu?"
"Ya, bisa dibilang begitu"
Balas ku singkat, dia tidak bertanya tanya lagi, dan kami mulai membahas rencana nya untuk kabur, Nathan banyak membantu ku dan anak kecil yang kukira pelayan nya, juga orang yang hebat karena beberapa kali memberikan saran yang tepat.
Setelah beberapa lama akhirnya kami mencapai kesepakatan, lalu kami berdua menandatangani kontrak nya, dan aku berkata "semoga berhasil"
"Terimakasih"
Balas nya terharu lalu bangkit dari kursi dan berpamitan lalu keluar dari ruangan ini, aku melihat nya sampai pintu tertutup kembali, tanpa sadar aku juga melihat raut wajahnya yang terlihat lebih tenang sekarang.
"Sebesar itu kah dia depresi?"
Pikir ku, End mendekat kan wajah nya padaku "Nyonya kenapa anda bisa tahu tentang kertas kontrak sihir? Yang sudah di anggap mitos di dunia ini"
Aku menjawab dengan santai, "ya karena aku membaca buku, memang nya apa lagi?, aku jadi tahu dan menemukan itu menjadi mitos karena mulai langka dan termasuk barang ilegal"
"Apa anda juga mengetahui kegunaannya yang lain?"
"Ya, untuk mengikat janji dengan kematian orang yang membuat kontrak jika ia melanggar perjanjian nya dia akan mati"
"HM.... Anda ternyata benar benar mengetahui segalanya tentang dunia ini"
"Tidak juga, aku mengetahui ini karena aku diberitahu oleh Jerome kalau kelompok kalian memakai kontrak yang seperti ini jadi aku bisa menebak kalau kau pasti mempunyai nya"
"Hmm....., Baiklah aku permisi dulu untuk melaksanakan tugas yang anda inginkan"
Dia kembali menegakkan kepalanya lalu berjalan mundur, "Nyonya apa aku harus datang nanti?" Tanya nya dengan nada sedikit menggoda.
"Ya, kita perlu membahas persiapannya sampai matang, jadi jangan lupa untuk datang"
"Baik.... kalau gitu aku permisi"
Dia kembali memakai tudung kepala nya dan seketika dirinya menghilang, aku yang melihat nya pergi seperti itu merasa iri, jika saja aku mempunyai kekuatan yang sama aku pasti bisa pergi dengan cara yang keren.
Pikir ku.
...
Kembali kenyataan saat ini aku benar-benar di sibukkan dengan pakaian yang sangat bertumpuk yang ada didepan mataku, dan belum lagi tumpukan lain yang perlu ku coba di hadapan Duke.
Apa apa ini!!!!, dia yang enak-enak hanya berkata, "Ganti!"
"Itu tidak bagus"
"Bahan nya jelek"
"Terlalu norak"
Dan lain seperti itu, rasa kesal ku sudah bertumpuk tinggi lalu dengan cepat melangkah ke luar untuk menunjukkan baju terakhir yang akan ku coba kepada nya, jika ia juga berkata penolakan aku akan menjambak rambutnya!.
"Duke ini yang terakhir aku lelah berganti pakaian terus!!!"
Dia tersenyum miring lalu berkata "ya itu cocok untuk mu" lalu bangkit berdiri dan menarik tangan ku untuk berjalan keluar.
"Bungkus semua baju yang telah ku pilih kan tadi, bersama baju yang ku tolak saat Duchess pakai dan kirim kan ke mansion"
Du....duke!!!, Lalu untuk apa aku mencoba nya satu....." Ucapan ku terhenti karena ia langsung membekap mulutku sambil berkata dengan nada keren untuk para pemilik butik.
"Minta tagihan nya kesana, dan untuk yang satu ini tidak perlu di bungkus"
'Waaa!!!!"
Teriak mereka histeris setelah kami kembali naik ke kereta, seketika atmosfer keseruan di dalam butik berubah menjadi sorak sorakan kebahagiaan karena telah memborong hampir setengah dari isi butik.
"Kau benar-benar menyebalkan!!!" Sindir ku yang masih tidak terima berganti pakaian terus menerus yang ternyata Edward akan membelinya semua.
Dia hanya menyeringai, dan kereta kami berjalan menuju restoran besar di kota, tidak terlalu lama karena jarak dari butik ke kota lumayan dekat, bahkan rencana ku untuk countess sejak tadi pagi sudah di mulai.
Kami berjalan masuk dan disambut dengan baik oleh pelayan mereka memberi hormat dan menyiapkan ruangan private buat kami karena telah Duke pesan entah kapan.
Edward Menarik kan kursi untuk ku dan aku duduk menerimanya setelah itu dia duduk di kursi nya yang berada di hadapan ku.
Para pelayan membawa troli dengan makanan pembuka, setelah mereka pergi aku pun memulai percakapan,
"Yang mulia sebenarnya apa yang anda ingin bicarakan kepada ku secara pribadi, karena aku yakin anda mengajak makan di luar itu pasti mempunyai alasan"
"Hmm..HM... Ternyata kau memang mengerti dengan cepat ya?"
"Tuh kan!!, sifat aslinya keluar" ucap ku dalam hati.
"Ya, jadi apa yang ingin anda katakan kepada ku?"
"Apa kau mengunakan sihir tertentu untuk ku?"
"Tidak," jawab ku cepat "aku tidak bisa menggunakan sihir kecuali penyembuhan, bukan kah anda mengetahui nya?" Lanjut ku lagi.
"Apa kau mengetahui mimpi yang sering aku dapatkan akhir akhir ini?"
Aku menggeleng, dia menghela nafas lalu menunjukkan wajah serius, dan seketika seluruh ruangan terasa pekat dan berat, aku berfikir dalam hati "dia sedang mengancam ku!!!"
"Apa kau benar-benar tidak mengetahui mimpi yang ku dapat kan ada sangkut pautnya dengan dirimu, maksudku seperti sihir yang membuat menarik?"
"Aku sama sekali tidak mengetahui nya tuan"
Dia menatap mataku yang sama sekali tidak bergeming dari tatapan tajamnya, sampai akhirnya ia menghilangkan aura mencekam di ruangan ini dan menghela nafas panjang.
"Tapi jika kau ada sangkut pautnya dengan kematian Duchess Dianna atau kutukan Albert aku tidak akan segan segan untuk membunuh mu!!!"
Ancam nya tiba-tiba dengan wajah serius, aku meneguk ludah dengan berat dan menjawab "baik," ternyata dia masih belum bisa melupakan mantan istrinya itu disini.
Pikir ku sedikit sedih dalam hati, dia kembali memengang kendali atas suasana lalu menyuruh ku untuk memakan makanan yang sudah tidak terlihat menarik di mataku lagi.
"Yah..... Pokoknya pikir kan itu nanti karena sekarang harus nya countess velly sudah dalam perjalanan menuju dermaga"
.....
POV author
Di tempat lain velly sudah berhasil menipu mata mata yang dikirim kan putra mahkota, dan saat ini dia sedang naik kereta menuju dermaga dan disana adik angkatnya sudah menunggu.
"Nyonya aku diperintahkan untuk mengawal anda sampai tujuan" ucap sang kusir yang memakai pakaian rakyat biasa.
"Oh terimakasih" ucap velly yang masih memakai tudung kepala karena rambutnya yang masih terbungkus sihir untuk mengeringkan pewarna rambut nya yang alami.
Tapi bajunya telah diganti dengan baju lain yang ia pakai pertama kali, velly menatap jalanan dengan cermat, "kita akan sampai sebentar lagi," ucap pria itu.
"Anda hanya perlu berjalan lurus sampai ada stand jualan seseorang yang menawarkan kue manis bangsawan murah" ucapnya melanjutkan, velly mengangguk paham dan pria itu berkata lagi.
"Anda mendekat kesana dan membalas 'aku ingin kue dengan taburan emas', akan ada seseorang yang menjawab dan orang itu yang akan bertanggung jawab menunjukkan jalan ke pos selanjutnya.
"Aku mengerti" jawab velly paham
"Oke kita sudah sampai" kereta gerbong berhenti di jalan kereta yang sangat ramai dikunjungi oleh nya kereta pengangkut barang dan alat transportasi.
Velly dengan cepat turun dari kereta dan berjalan lurus, dia menengok satu kali kebelakang dan kehilangan kereta yang ia tumpangi tadi, "jangan jangan kereta yang ku naiki tadi adalah kereta sihir"
Pikir nya disela sela jalan nya ia mendengar suara yang sangat keras dari para penjual yang mempromosikan dagangan nya, ia hanya melewati mereka yang menawarkan nya bermacam-macam barang.
Sampai terdengar promosi seperti yang dikatakan kusir tadi, ia segera mendekat kerumunan tersebut sampai melihat ke pedagang kaki limanya, dan membalas dengan suara keras dengan pertanyaan yang diberitahukan nya tadi.
Tukang itu tersenyum, lalu menyuruh seseorang mengantarkan nya kedalam toko, sedangkan para pembeli yang lain menoleh kearah nya dengan aneh, karena berfikir.
"Memangnya dia benar-benar akan membeli kue yang bertabur emas?"
Tukang itu tersenyum lalu berkata kepada masyarakat yang kebingungan dia itu sebenarnya tahu diskon dan tiket gratis khusus hari ini dan menyebutkan kata sandi nya makanya dirinya akan dapat semua kue secara gratis di dalam.
"Wah....." Semua pembeli bertepuk tangan lalu kembali tenang untuk berbelanja.
Orang yang mengantarkan nya masuk kedalam lubang perapian, velly melihat nya ragu ragu, meskipun dirinya tahu kalau perapian itu mati dan tidak panas, tapi akhirnya dirinya mulai mengikutinya.
Ternyata saat sudah di dalam perapian orang itu meraba raba dinding dan menemukan sebuah tuas, "pegangan!!!,"
Ucap nya memperingati.
Tiba-tiba saja saat orang itu menarik tuas, mereka terjatuh kebawah karena lantai batunya terbuka, velly hampir berteriak karena kaget.
Mereka jatuh keruangan bawah tanah dengan agak keras tapi untungnya saja telah disediakan sofa agar pantat mereka tidak terlalu sakit jika menyentuh lantai secara langsung.
"Hahaha, selalu seru melewati perapian itu" tawa bahagia dari perempuan yang mengantar nya.
"Kau wanita?, Dan jika ada jalan lain kenapa harus lewat situ?" Tanya velly tidak percaya.
"Ya, karena itu adalah jalan yang paling tercepat" ucapnya segera bangkit dari sofa, saat terjatuh dari atas tudung kepala nya terbuka dan menampilkan wajah perempuan berusia belasan tahun.
Rambutnya pendek sebahu dan bewarna hitam, "ayo lady, kita harus berjalan kaki dari sini" lanjut nya lagi dan mengulurkan tangannya kearah velly.
Velly mengambil tangan nya, dan bangkit berdiri "jadi kita masih harus berjalan?"
"Benar tapi tenang saja kita akan naik ini," Dia berjalan dan membuka kain putih yang menutupi sesuatu benda, velly menatap takjub oleh benda tersebut yang kita tahu adalah kereta tambang zaman dahulu.
"Lalu bagaimana cara menggerakkan nya,?"
Tanya countess penasaran, ia sedang mencoba masuk ke dalam kereta kotak itu, tapi cukup sulit akhirnya dia di bantu oleh perempuan itu naik setelah dirinya naik duluan.
"Dengan mana, anda punya mana yang lumayan kan?"
"Ya"
"Baiklah kalau begitu anda hanya perlu memengang pinggiran kotak dan mengeluarkan mana secara alami, seperti ini" ucapnya sambil memberikan contoh.
Perempuan itu memegang tepi kotak dan mengeluarkan mana dari tangan nya yang bewarna hitam, seketika kotak mulai berjalan pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat.
"Aku mengerti," ucap countess lalu mencoba nya, mana nya bewarna merah muda, perempuan itu tersenyum karena countess mengikuti arahan nya dengan baik.
Kereta nya semakin cepat berjalan.
....
POV Destiana
Kami telah selesai makan dan segera menuju ke dermaga, "jadi anda benar benar harus mengecek pengiriman tambang nya sekarang?, Tumben sekali padahal anda biasanya mempercayakan nya kepada Jerome dan Franks"
"Ya, ini disebabkan oleh hasil tambang yang sangat banyak beserta pesanan nya yang sama besarnya, jadi itu harus bisa dikirim kan dengan baik"
"Aku mengirimkan 5 kapal besar dan pesanan tidak hanya ada di kerajaan kita tapi akan di impor kerajaan lain"
"Oh begitu" balas ku yang membuat kereta kembali sunyi karena diriku yang berhenti bertanya dan malah memperhatikan pemandangan di luar jendela.
Tidak perlu menunggu lama kami telah sampai di dermaga kapal kapal besar berlabuh dan berangkat pergi, aku menghirup udara segar yang berbau asin laut.
"Sungguh ini benar benar menenangkan" Gumamku sendiri sambil terus berjalan tanpa menunggu Edward yang sedang mengobrol sejak sampai di sini dengan para bawahannya.
"Selamat siang nyonya" sapa seseorang yang terdengar familiar, aku segera menengok ke belakang dan menemukan Jerome yang memberi salam kepada ku dengan membungkuk hormat.
"Ah selamat siang guru"
Aku memberi hormat juga padanya dia dengan risih berkata anda tidak harus membungkuk kan badan nyonya, tapi aku menolak mengatakan seorang murid harus terus menghormati guru yang telah menjadikan nya orang hebat.
"Tidak peduli dia hanya pernah mengajarkan pada nya satu kata sekalipun"
"Baik, baik lah..... saya akan menerima hormat anda yang menganggap saya seorang guru, jadi apa yang anda lakukan disini?, Menemani suami mengontrol para bawahan?"
"HM.... Mungkin bisa di bilang begitu, kami habis berbelanja, setelah itu pergi kesini"
"Oh... Begitu" balas nya singkat sampai ada suara yang menginterupsi percakapan kami berdua, "Kau tidak memberi salam kepada ku Jerome?"
Tanya Duke yang tiba-tiba berada di belakangnya, Jerome terkejut lalu segera membalikkan badan dan memberi salam, Duke membalas nya dengan singkat lalu mendekati ku.
Tiba-tiba saja tangan nya melingkari pinggang ku dengan erat, aku tidak menunjukkan ekspresi terkejut meskipun terlihat aneh, karena dia seperti tidak sudi jika aku berbicara berdua dengan pria lain tanpa kehadirannya.
"Apalagi jika dia mengetahui tentang end" pikir ku dalam hati, dia sekarang membahas tentang bisnis dengan Jerome, ada beberapa yang ku mengerti dan yang tidak.
"Jadi dimana kapal yang akan pergi ke timur laut?" Tanya Duke yang langsung ku perhatikan percakapan nya.
"Itu yang paling pertama dan berpanji biru" jawab Jerome cepat, aku segera mengangguk kan kepala pelan dan melihat ke sekeliling.
Dan saat itu aku mulai berpikir pasti velly akan segera keluar dari pos terakhir bersama pelayan muda nya dengan menyamar, dan benar saja seseorang perempuan berpakaian nyentrik mendekati kami.
Lalu untungnya saja percakapan Jerome dan Edward telah selesai, Jerome pamit kepada kami berdua untuk mengerjakan tugas nya lagi, kami memberi salam dan menatap kepergian nya.
"Hei Duke aku ingin mengenalkan investor dari mesin uap kepada mu"
Ucap ku sambil terus memperhatikan wanita itu yang pasti adalah countess velly, "oh ya, dimana? dan kapan?, aku akan menyiapkan nya sekarang untuk pertemuan persahabatan"
Jawab Duke cepat sambil melihat ku dia telah melepaskan pelukannya dan menghadap ke arah ku, "MMM.... itu sekarang, di sini"
"Sekarang? Di sini? Yang benar!!!"
"Iya!!!," aku segera menoleh ke arah wanita itu dia memakai topi besar yang menutupi wajahnya, Duke ikut ikutan menolah ke arah yang kulihat dan menemukan wanita yang berjalan ke arah kami di temani pembantu nya.
"Oh maksud mu mereka?"
Tanya Duke dengan suara pelan, aku hanya mengangguk mengiyakan nya, dan mereka sampai di hadapan kami, aku melirik kearahnya dan melakukan hal yang sudah disepakati bersama tentang rencana pelariannya.
"Duke perkenalkan dia adalah lady turnip"
"Dan lady turnip, ini adalah Edward Devonte Albermarle" ucap ku berdiri dihadapan mereka berdua, Duke mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dia membalas nya dengan anggun.
Tidak terlalu lama karena Duke segera melepaskan jabatan tangan nya, "lady kebetulan sekali anda tiba tiba saja ingin bertemu, padahal kalau anda berkata ingin berkunjung kami akan menyiapkan yang lebih nyaman dari ini"
Lanjut ku basa-basi sesuai dengan rencana, "hohoho....., Sebenarnya saya mengetahui kedatangan kalian kesini secara tidak sengaja, karena saya akan pergi ke kerajaan tetangga.
Dia sedikit tertawa kipas ditangannya berusaha menutupi mulutnya, dia bahkan sangat menghayati peran sebagai perempuan genit, pikirku.
"Oh apa anda sudah membeli tiket pergi nya?" Tanyaku lagi
"Sayang sekali kami kehabisan, tapi jika menunggu besok hari mungkin akan ada kapal yang menuju ke timur laut untuk transit dan kami akan langsung pergi ke kerajaan lain"
Ekspresi dan nada suara terdengar sedih, "kalau begitu bagaimana jika anda naik menggunakan kapal ku yang menuju ke timur laut?"
Tawar Duke sopan, "Yes!!!!, dia memakan umpan nya," ucap ku dalam hati yang tetap menunjukkan wajah tenang, dan menyetujui ide Duke.
"Jika anda mau, kami bisa membawa anda tanpa harus memeriksa identitas diri, bahkan akan mempermudah pos pemeriksaan saat melewati batas laut antar kerajaan"
"Itu seperti nya menarik" pikir lady turnip yang berpura-pura berfikir,
"Ya Duke benar, padahal jika boleh kami akan membuat anda sampai ke kerajaan lain dengan langsung menumpangi salah satu dari kapal yang akan berangkat ke kerajaan tetangga"
Ucap ku yang ikut menyambung kan percakapan, Duke kembali berbicara, "Duchess benar, tapi karena paspor dan identitas kami hanya bisa membawa anda ke dermaga di timur laut karena masih satu kerajaan, jadi bagaimana apa anda akan menerima nya?"
Lady turnip pura pura berfikir, lalu mengajukan permintaan, "bisakah anda membantu saja jika di pelabuhan timur laut dengan identitas lain?, Karena akan membawa nama dari investor yang dilindungi keluarga Duke?"
Duke menjawab cepat, "Ya, lakukan saja aku akan meminta kenalan ku untuk mengurusnya jika anda diperiksa"
"Terimakasih, tapi apakah anak ini juga termasuk?" Dia memberi hormat dan melirik anak remaja yang ada dibelakang nya.
"Tentu saja dia kan masih kecil, hohoho....." Lanjut ku yang langsung disetujui oleh Duke, "baiklah terimakasih tuan atas bantuannya" terimakasih nya tulus.
Duke segera melambaikan tangan nya dan seorang bawahan nya datang, dia dengan cepat memberikan nya instruksi tentang yang kita bahas tadi, setelah selesai pria itu mengangguk dan memandu lady turnip dan pelayan nya pergi ke kapal yang mengangkut tambang mengarah ke timur laut.
Dia berjalan di antar oleh bawahan Duke dan sekarang Duke sedang membahas sesuatu bersama bawahan nya yang ikut mendekat saat ia melambaikan tangan tadi, mata ku terfokus pada countess velly.
Dia melirik ku dan dengan isyarat mata berterima kasih, aku membalas nya dengan senyuman kecil, dan berdoa dalam hati semoga dirinya mendapatkan kebahagiaan nya sendiri.
Aku terus melihat kapal yang telah dinaiki oleh nya, mulai menurun kan layar, suara peluit berbunyi nyaring sebagai pertanda keberangkatan kapal kapal milik keluarga Devonte.
Angin laut berhembus pelan menerbangkan rambut perak ku dengan pelan, "pemandangan yang indah," Gumamku pelan.
"Duchess....." Ucap suara Duke dari belakang ku, karena tanpa sadar aku berjalan mendekat saat kapal kapal itu berangkat, aku segera menoleh ke belakang sambil membalas.
"Ya apa?" dan menemukan gaya Edward yang terlihat sangat tampan, karena aku merasa disekitar kami terasa berhenti.
Posisi tangan nya sedang merapikan rambut, sedangkan tangan kirinya terulur kepada ku, rambutnya berterbangan karena angin yang membuatnya terus membetulkan poni nya.
Tanpa sadar wajah kami terasa merah, "sialan ini sungguh memalukan! dia tersipu juga ternyata" ucap ku dalam hati, lalu melangkah ke arah nya sambil tersenyum.
"Maaf Duke, ada apa? apakah anda mengajak ku pulang?" Tanyaku tanpa ragu, dia yang masih terpaku tadi seketika tersadar akan kehadiran ku.
"Ah ya, ayo kita pulang" balas nya gagap, aku tersenyum lagi dan mengambil tangan kanannya yang sudah tidak membetulkan poninya yang menghalangi.
....
POV Edward
"Sungguh!, sungguh!, tadi hal yang memalukan sekali bagiku"
Pikir ku dalam hati karena duduk dengan gelisah di dalam kereta kuda, pikiran ku kembali mengingat kejadian tadi dan terus menyesalinya dalam hati dengan kata kata,
"Bisa-bisanya aku terus terpesona olehnya, sama seperti kejadian waktu itu saat dia sedang istirahat bersama Albert di bawah pohon yang rindang ini kedua kalinya aku tersipu olehnya"
Aku terus melirik Duchess yang entah sedang berfikir apa didalam otak nya, "Itu karena suasana yang mendukung, entah itu karena angin atau karena cahaya matahari dan bulan!!!" Bantah ku dengan panik berusaha menyangkal bahwa dirinya sangat cantik saat itu.
Aku menatap Florence yang duduk di hadapanku dia dari tadi memalingkan wajahnya ke luar jendela, dan tiba-tiba saja aku melihat rona merah di pipinya yang ku artikan karena kejadian tadi.
Aku kembali merasa malu dan baru menyadari suasana di dalam kereta sangat canggung "Apa yang harus aku lakukan?" Ucap ku kebingungan dalam hati.
"Em....."
"Oh ya"
Saat aku akan memulai topik lain tiba-tiba saja dia angkat bicara
"Kenapa?" Tanya ku dengan datar,
"Katanya sebentar lagi akan diadakan perburuan ya?"
"Oh ya, kau benar... aku lupa memberitahukannya kepada mu tentang itu, memang benar akan ada acara pemburuan binatang di dalam hutan untuk mengurangi keseimbangan binatang-binatang buas yang semakin banyak selain monster, apa kau tahu tentang itu juga?"
Duchess mengangguk sudah tahu kalau kerajaan mempunyai dua kali perburuan, yaitu untuk monster dan hewan buas biasa yang lain.
"Apa kau ingin aku ikut?"
"Jika anda menginginkannya, tentu saja boleh tapi pastikan tetap aman bersama dengan para pengawal yang lain"
"Baiklah" ucapnya singkat, yang membuat keheningan terjadi lagi di antara kami, saat aku ingin bicara lagi tiba-tiba saja Florence berkata kembali dengan nada yang ragu ragu.
"Yang mulia sebenarnya aku punya tebakan tentang seseorang yang ingin mencelakakan keluarga anda, otak dari dalang kutukan Albert dan juga kematian Duchess"
"BLAAAAR!!!!!"
Tiba-tiba saja aku meledakkan emosi marah yang sangat besar kepada nya, dengan mengeluarkan aura membunuh, dia dengan santai menunggu amarah ku mereda, aku dengan cepat menghilangkan aura itu karena reaksi Duchess yang terlalu tenang.
"Sudah marah nya? Kau harus nya mengancam sang penjahat bukan sekutu mu"
"Jadi kau mengetahui siapa orang itu?, Apa jangan jangan kau....."
"Bukan, aku bukan orang itu atau komplotan nya, kau kan tahu dulu diriku gimana" ucapnya dengan cepat membantah ku.
"Jadi siapa?"
"Aku belum mempunyai bukti nya"
"Sudah katakan saja!!!" Balas ku dengan teriakan amarah.
"Latte Charlene Letizia putri dari kerajaan ini"