I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation

I Became The Wife In The Place Of All My Family's Reincarnation
14



"Kenapa anda meminta hal seperti itu?!!" Tanyanya dengan nada kesal


"Memang nya itu urusan ku, jika kesal untuk putus dari tunangan mu?, cepatlah putus kan saja iya atau tidak aku akan segera membuat kontrak untuk perjanjian nya!!!"


"Apa kau adalah rekan nya?!" Tangannya lagi tapi dengan nada yang tetap sama.


"Bukan" jawab ku cepat "tapi kami bisa di bilang Sekutu yang bisa saling menguntungkan satu sama lain"


"Huh...."


Dia menghela nafas lelah dan aku melihatnya seperti seseorang yang sedang tertekan, "salah nya sendiri karena di kehidupan sebelumnya membuat seseorang jadi sangat membencinya" pikir ku membela velly.


"Baiklah, kurasa perbincangan kita hanya bisa sampai sini saja karena aku tidak bisa mengabulkan persyaratan mu itu"


Dia bangkit berdiri dan pengawalnya berusaha menghentikan nya karena seorang yang berkuasa hanya tinggal menyuruh seorang pengawal untuk membereskannya untuk kepentingan pribadi nya sekalian pun.


Tapi pria itu menggeleng lalu beranjak berjalan dan berkata kalau akan ganti rugi atas gelas piring dan teko nya serta cemilan nya juga.


Saat ia akan membuka pintu aku berbicara, "tunggu dulu!", Dia berhenti berjalan dan aku langsung berkata,


"Memangnya siapa yang menyuruh anda untuk pergi?, Kan aku tidak bilang kalau menyewanya anda harus menyutujui persyaratan"


Wajahnya terlihat tertarik, dan berfikir sebentar lalu setelah itu ia tersenyum dan mengangguk "baiklah apa persyaratan nya kali ini?"


Aku tersenyum kecil lalu dia kembali ke bangku nya, dan kami mulai membuat surat kontrak nya.


...


Matahari sebentar lagi akan terbenam, saat aku akan kembali ke istana, "Huh....., Untung saja percakapan nya berjalan lancar"


"Nyonya aku penasaran kenapa anda memberikan kesempatan bagi nya di detik-detik terakhir?"


"Kenapa kau bisa menyadari nya?" Aku berjalan ke luar dengan tangan yang bergandengan ala bangsawan.


"Ya, kelihatan saja"


"Oh gitu, jadi saat aku melihat nya membanting meja dan mengeluarkan aura mencekam kurasa dia adalah orang yang pantas di balas dengan cara seperti itu, tapi saat aku berkata kalau kami hanya sekutu di wajahnya terlihat sedih"


"Memangnya kenapa kalau wajahnya terlihat sedih? mungkin bisa saja dia membuat ekspresi seperti itu karena tidak bisa mencapai tujuannya" Ucap Nathan yang mengatakan logika


"Tidak Nathan kau tidak tahu saja kalau tatapan seperti itu adalah tetapan tulus seseorang yang sangat mencintai"


Ucap ku sambil teringat kenangan saat Rangga dulu mengejar ngejar ku, dia sudah mencoba segala macam ajakan untuk ngedate dan semua ajakan nya itu selalu ku tolak.


Setelah itu dia pasti akan memasang wajah sedih dan juga kecewa, tapi kurasa itu juga ada perasaan sakit hati yang ia tahan cukup lama.


"Makanya saat aku melihat raut wajahnya seketika aku langsung paham kalau sebenarnya putra mahkota mencintai lady velly"


Ucap ku dan naik ke dalam kereta kuda dibantu Nathan, dan dia menyusul ku lalu menutup pintu dan kereta berjalan.


"Tapi kalau seperti itu kita tidak akan tahu dengan cepat si pelaku" lanjutnya lagi atas jeda masuk ke dalam.


"Tenang saja musuh bisa ditemukan secara bertahap dari pada cepat tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa (membalas nya)"


"Ya, mungkin anda benar..... Jadi kita harus bersabar"


Kami terdiam dalam pikiran masing-masing sampai aku mengangkat topik percakapan lagi,


"Hey Nathan kau tahu sebenarnya putra mahkota tidak terlihat bodoh kan" tanyaku sambil mengipasi wajah ku dengan pelan.


"Iya anda benar dia tidak seperti yang anda katakan di dalam surat dari lady velly, aku bahkan memata-matai nya dari orang-orang yang berada di bawahnya"


"Dan menemukan fakta mereka adalah orang sangat teliti dan setia, bahkan sampai aku tidak bisa mendapatkan informasi penting tentang nya sedikit pun"


"Lalu saat aku melihat nya secara langsung aku bisa memastikan bahwa ia orang yang berakal, dan tidak bodoh"


"Jadi mulai sekarang kita harus berhati-hati terhadap nya karena dia adalah salah satu orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, juga salah satu tersangka terhadap keluarga Devonte" ucap ku dengan yakin


"Tenang saja nyonya aku akan berhati-hati mencari informasi lagi tentang nya, oh ya ngomong ngomong apa suami anda dulu (di kehidupan sebelumnya) seperti itu?"


"Ya, dia memang seperti itu dulu, makanya saat aku tahu Rangga yang sekarang aku sedikit terkejut karena dirinya yang sekarang sangat berbanding terbalik dengan yang dulu"


"Dan anda tetap mencintainya?"


"Tentu saja lah, karena dia sudah berjuang dulu, jadi aku yang harus berjuang sekarang"


"Meski rasa lelah dan ingin menyerah ku menjadi rayuan yang manis untuk berkata, ya itu cuma masa lalu jadi lupain aja dan jalani kehidupan yang bahagia yang sekarang"


"Kata-kata anda dalam sekali"


'Tentu saja lah kan suamiku dulunya adalah seorang yang puitis dan kata-kata puitisnya juga tersangkut di otakku, sampai sekarang"


"Hahaha jadi begitu"


Nathan tersenyum sedikit sedih dan berkata "aku berharap, aku juga mempunyai seseorang yang bisa dicintai seperti itu"


"Kau akan punya suatu saat nanti, aku yakin !!!"


"Tapi bagaimana kita bisa mengetahui jika seseorang itu jodoh kita atau bukan?"


"Aku juga tidak tahu, kan aku bukan Tuhan, tapi yang pasti kau akan mendapatkan feeling atau perasaan yang kuat untuk terus bersamanya saat pandangan pertama"


"Oh sungguh?"


"Yah dan itu benar terjadi, karena saat pertama kali aku melihat Rangga untuk menolongnya, aku merasa dia akan terus mengganggu hidupku dan benar saja sebelum aku menyukainya dia terus mengejar-ngejar ku, sampai aku mencintai nya"


Tiba tiba Nathan berdiri dia berjalan mendekati pintu, "kau ingin langsung pergi?, tidak mampir dulu untuk makan?" tanyaku


"Pffftt...."


Nathan hampir tertawa tapi di tahan sambil berkata,


"Apa keramah tamahan dari dunia mu seperti itu? mengajak pembunuh bayaran untuk makan dirumahnya?"


"Tapi kau bukan pembunuh bayaran lagi sekarang"


"Memang sih, tapi aku termasuk orang yang berbahaya untuk mu"


"Tidak apa-apa aku percaya" aku tersenyum tulus dia menatap wajah ku lama, lalu menutup wajah mungkin karena malu dan pamit.


"Hati hati" ucap ku lalu melihat ia membuka pintu dan langsung lompat ke atas atap dan menutup pintu yang ia buka dari atas atap.


"Kunci pintu nya!" Teriak Nathan dari atas atap,


Aku dengan segera mendekat ke pintu untuk menguncinya agar tidak terbuka saat guncangan kencang, lalu terdengar suara yang lumayan kencang dari atap dan aku langsung paham dia sudah tidak ada di atas atap.


"Hah... Sungguh hari yang melelahkan aku akan mandi air hangat dan minta pijitan juga saat sampai"


Aku bersandar dengan nyaman tanpa mempedulikan tata Krama lagi atau kesopanan, karena tidak ada orang yang berada di dalam kereta ini yang melihat.


Kembali melihat ke arah jendela yang menampakan pemandangan yang gelap di luar "kurasa aku akan makan malam sendirian di kamarku" pikirku


sendiri.


"Baru setelah itu mengurus beberapa pekerjaan yang tertinggal, sungguh bulan-bulan ini aku sangatlah sibuk, padahal aku baru saja pulih"


...


POV author


"Brakk!!!"


Nathan melompat dari atap kereta ke tanah dan dia sedikit berguling untuk meminimalisir dampak dari lompatan yang tinggi.


Setelah berdiri mantap ia mulai berkata dengan suara keras


"Aku tahu kalian mengikutinya!!!"


"Sreekk sreekk..."


Beberapa orang yang memakai jubah lengkap dengan masker wajah keluar dari semak semak, mereka berdiri di depan end.


"Hahahaha... jangan bercanda!, memang nya aku tidak tahu kalau anda juga mengikuti kami putra mahkota!"


"Tak tak, srek....."


Seseorang keluar dari balik pohon yang rimbun dan mendekati Nathan dengan jarak aman, diikuti dengan kesatria nya pria berambut merah itu sudah siap mencabut pedang nya.


"Sudah kuduga kalau dirimu bukan pengawal biasa"


"Yang mulia boleh kan aku memenggal nya?" Tanya pengawal berambut merah itu


"Jangan clif dia seorang dark elf" larang tuannya


"Heh..... Memangnya kalau aku seorang dark elf kau bisa memperlakukan ku sesukamu!? Lebih baik mati daripada menjadi budak jika aku kalah" ucap remeh End.


"Tapi kenapa kau mau menjadi anjing perempuan itu?"


"Siapa kau sampai harus memberi tahu tentang nya?!"


"Yang mulia!!!" Cilf mendesak tuanya agar membiarkan dirinya melawan end tapi Philip menggeleng.


"Ayo kita mulai kalau kau ingin bertarung!" tantang Nathan dengan berani, Philips menggeleng dan menyuruh para mata-matanya untuk mundur.


"Aku tidak tertarik bertarung dengan orang berbakat sepertimu" Philip ingin berbalik pergi


"Kau Jangan meremehkan diriku karena lebih lemah dari mu!, aku tahu padahal kau itu kuat!"


"Siapa bilang aku meremehkanmu?!" Dia menoleh kan kepala ke belakang lalu melanjutkan.


"Aku hanya memerintahkan mereka untuk mengikuti perempuan itu dari belakang bukan untuk membunuhnya" ucapnya sambil kembali menghadap ke arah Nathan


"Hahahaha, kau tidak bisa mencari tahu identitasnya kan?!, Tidak akan bisa"


"Memangnya siapa dia sampai kau begitu peduli?, padahal kau bukan anjingnya, yang pasti dia orang yang sangat penting bagimu benar kan?!"


Nathan terdiam sebentar lalu berkata "itu bukan urusanmu!!!"


"Sudah kuduga dia orang yang penting bagimu akan kuingat wajahmu, jadi sampai jumpa lain kali"


Phillip melambaikan tangan dan seketika mulai menghilang karena sihir teleportasi, setelah Nathan tidak merasakan kebebasan mereka lagi dia langsung jatuh terduduk.


"Hah...hah...., Sialan..."


Nathan mengambil nafas banyak banyak dia terlihat sangat engap dan mengingat aura kematian yang terpancar dari Phillip sejak awal.


"Cih!!! peringkat raja sialan, dua orang yang paling kuat di kekaisaran berada di dekat nyonya ku"


Duke Devonte dan Putra mahkota Andrews, membuat tugas melindungi nya jadi semakin sulit, "ini benar benar gila"


Ucap Nathan sambil menggaruk garuk kepalanya karena pusing, dia mengingat kembali pengawal putra mahkota yang menakutkan.


"Tatapan mata orang yang di panggil clif itu sangat tajam juga mengerikan, bahkan membuat pembunuh bayaran seperti ku bisa bergidik ngeri" pikir ku dalam hati.


"Makanya kau jangan memprovokasi orang seperti mereka" ucap suara didekat nya.


"Ah.... Hephaestus kenapa kau keluar?"


Ucap Nathan yang sedang melihat api yang terbang di dekat nya lalu berubah menjadi kucing bewarna merah yang tetap melayang memutari badannya.


"Kau mengeluarkan emosi ketakutan dari tadi jadi aku tidak bisa makan"


"Oh maaf, padahal kau pasti sudah makan emosi marah dari putra mahkota kan?"


"Ya kau benar, dan kau tahu slurrpp.... itu sangat enak apalagi saat ia menendang meja, aku merasa puas saat itu"


"Lalu bagaimana dengan pria yang satunya?"


"Dendam nya sangat kuat dan jika ia ingin memanggil iblis dengan dendamnya pasti akan berhasil, oh ya aku puas akan amarah keduanya"


"Dasar dan kau masih mengeluh tentang emosi ku?!"


"Tapi kalau amarah mu itu bagaikan makanan yang sangat enak dan susah di dapat" lanjut nya sambil menjelaskan dengan serius


"Kalau kau ingin tahu kenapa? karena ada beberapa perbedaan dari amarah yang ku makan salah satu nya dari emosi yang lain yang bercampur aduk di dalam kemarahan"


"Misalnya seperti putra mahkota tadi aku merasakan di kemarahannya ada campuran rasa sedih dan juga rasa kecewa yang sangat mendalam tapi segitu saja belum cukup, sedangkan yang satunya aku merasakan ads kebencian, kesengsaraan, bercampur dendam didalam kemarahannya dan itu juga masih belum cukup untukku makan dari amarah mereka berdua"


"Hah.... Kau benar benar sesuatu Hephaestus"


"Makanya aku mau menjalin kontrak dengan mu karena kau mungkin satu-satunya yang pernah kurasakan amarahnya paling lezat"


"Baiklah ayo kita pergi aku perlu melakukan penyelidikan lagi"


"Ayo!!!!"


....


POV Albert


Setelah mandi sehabis latihan aku berjalan menuju ruang makan, dan saat sampai di sana ayah telah duduk di kursi nya dan kursi di samping ku sudah terisi Wren lalu di sebrang depannya ada Joy.


Aku berjalan santai ke kursi ku di samping Wren lalu duduk di sana ayah berkata mari mulai makan dan kami langsung menyantap makanan yang telah tersedia.


Aku terus menatap kursi di samping Joy yang kosong "kemana Duchess? Sejak siang dia tidak melihatnya" tanyanya pada diri sendiri, tapi segera disadari oleh ayah yang menjawab.


"Dia ada urusan di luar dengan pembuat mesin ini dan orang yang mempunyai hak ciptanya, jadi mungkin dia akan terlambat atau makan malam di kamar"


"Oh jadi begitu...."


Ucap ku dengan nada datar tapi entah kenapa jantungku berdegup kencang karena mendengar kabar dari Duchess, dan tetap melanjutkan makan tapi belum juga setengah nya habis, aku sudah menghela nafas dan menaruh alat makan.


"Hah....."


"Ada apa Albert? Apa makanannya tidak enak?"


"Tidak ini enak seperti biasa tapi hari ini aku tidak nafsu makan jadi lebih baik untuk undur diri duluan, permisi....."


Aku bangkit berdiri lalu berjalan pergi dari ruang makan, ayah hanya menatap ku datar sedang kan Joy wajahnya terlihat bingung.


Sedangkan Wren dia hanya melirik ku sekilas dan melanjutkan makannya dengan lahap, "huh memang anak itu padahal dia lebih tua dari pada ku"


Pikirku sambil berjalan, sampai aku tidak sadar kakiku melangkah ke tempat yang biasa Duchess dan dua anak itu duduk bersama ku jika sedang dalam pengaruh kutukan.


Aku melihat pohon di atas bukit itu dengan takjub karena terpesona keindahan langit malam yang di taburi bintang dan dedaunan yang terbang ke sana kemari karena angin.


"Albert..."


Sebuah suara yang sangat kukenal terdengar dari arah belakang ku, dan seketika aku menengok dan mendapati Duchess berdiri menyapa ku.


Dia berbalut busana hitam dan biru dongker yang menawan dan berkelap-kelip, aku bahkan berkhayal kalau dia memiliki sayap hitam, dan seorang malaikat turun ke bumi.


"Kenapa kau di luar?, Bukannya ini masih jam waktu makan malam?"


"Ya, aku sedang tidak nafsu makan sekarang"


"Ah begitu ya, kalau anda tertarik bagaimana jika aku membuat kan makanan yang akan kau suka?, Hanya untuk mengisi perut" ucapnya ragu ragu.


"HM baiklah kurasa aku tertarik dengan makanan yang akan Kusuka itu" balasku yang membuat senyum nya ada.


"Kalau begitu ikuti aku tuan muda"


Ucapnya dan ingin berjalan tapi tanpa sadar mulutku berkata,


"Aku tidak mau mengikuti mu" sambil mengulurkan satu tangan agar di gandeng oleh nya, wajah ku terasa panas "ini benar benar memalukan karena tiba-tiba saja badan dan ucapan ku refleks begini" ucap ku dalam hati.


"Oh jalanan di sini gelap ya?, baiklah aku akan menggandeng tanganmu"


Balas nya dengan tidak memperhatikan muka ku yang memerah karena malu, dia juga dengan santainya menggandeng tangan kanan ku.


Dan entah kenapa hatiku terasa sejuk, tidak lama karena kami sampai di dapur, aku menaikkan satu alis karena penasaran apa yang akan kita lakukan di dapur.


Apa kita akan memasak makanan nya dulu seperti biasa, Duchess melihat ku yang memasang wajah penasaran mulai berkata "kita tidak akan membuat makanan tapi hanya menghangatkan nya"


Aku melepaskan genggamannya, dan dia berjalan menuju lemari pendingin, kenapa itu bisa dingin padahal hanya terbuat dari besi?.


Itu dikarenakan lemari es nya di pasang batu inti monster tipe es yang dibunuh dan di jual di pasaran, dia mengambil satu buah panci yang tidak terlihat isinya.


"Tunggu sebentar ya aku akan memanas kan makanan ini dengan mengukus nya"


Dia melemparkan batu diiringi dengan merapal kan mantera nya agar batu itu berubah menjadi api dan membakar kayu.


Itu adalah batu yang sama seperti untuk lemari pendingin hanya bedanya ini adalah inti monster tipe api yang bisa membuat api tanpa perlu harus membuat api secara manual.


Dia tidak langsung menaruh panci ke tungku yang ia ambil pertama kali di lemari pendingin, tapi menaruh wajan disana dengan memberikan sedikit minyak.


Setelah itu dia mengambil beberapa bahan lain yang tidak aku tahu kecuali tomat dan cabai karena ia sangat senang memakan masakan yang terasa pedas.


Aku mendekat untuk memperhatikan nya tapi dia tersenyum melihat ku yang terlihat seperti penasaran lalu bertanya "apa kau mau tahu resep nya?"


Aku hanya mengangguk dan dia tersenyum menjelaskan, sambil tangannya tidak berhenti memasak


"1 kg tomat, yang sudah di buang bijinya dan di potong dadu kecil"


Ia menunjukkan mangkok yang berisi potongan dadu bewarna merah dan oranye, aku tersenyum bangga karena menebak dengan benar ini adalah tomat.


"2 buah bawang bombay, dan sudah di cincang kasar"


Ucapnya sambil menunjuk mangkok lain yang berisi daun yang berwarna putih itu, "wanginya khas ya" ucap ku


yang membuat nya tersenyum lagi.


Dan menaruh mangkok yang ia tunjukkan padaku barusan sambil berkata "kau benar Albert"


Aku melihat nya yang memasang wajah sedih tapi ia mencoba bersikap biasa dan mulai melanjutkan penjelasannya yang lain, aku hanya berpura-pura untuk tidak melihat dan penasaran kenapa ia memasang wajah sedih meski hanya sebentar.


"4 siung bawang putih, yang di cincang kasar, 1 buah wortel, yang telah di potong dadu kecil, juga jangan lupa bahan terpenting adalah cabai yang telah di potong kecil kecil,1 sendok teh daun oregano kering, 1 sendok teh daun thyme, yang sudah di cincang, 1 sendok makan gula pasir kalau yang terakhir 1sendok makan micin"


"Micin???" Ucap ku ulang karena merasa akrab dengan bahasa itu, tapi seperti sudah lama sekali aku mendengar nya.


Duchess memasang wajah panik ah "E.... Itu maksudnya seperti garam dengan campuran rempah-rempah lainnya dan sudah di giling halus"


"Oh begitu jadi lanjut kan saja masakan mu" balas ku yang membuat nya dia tersenyum lima jari karena menyebutkan sesuatu yang asing bagiku dan setelah itu kami melanjutkan praktek nya, sambil Duchess memperagakan nya.


"Pertama tama panaskan minyak, tapi karena sudah jadi sekarang mari kita tumis bawang bombay hingga harum. Masukkan bawang putih dan wortel. Tumis kembali selama 2 menit"


Tangan nya lincah bergerak menuangkan semua bahan bahan itu kedalam wajan, dan mengoseng oseng nya dengan spatula.


"Masukkan tomat, oregano, thyme, gula, dan micin, masak dengan api besar sambil diaduk hingga tomat layu"


Dia kembali mempraktekannya, sambil terus berbicara "Jika sudah layu kecilkan api, masak saus tomat di atas api yang sangat kecil selama 1-2 jam atau hingga mengental dan angkat"


"Bukannya lama lagi jika menunggu?"


"Pffftt..... hahaha"


Duchess tertawa kecil lalu berkata "benar tapi kau tenang saja karena sudah ada yang jadi, jadi kita tidak perlu menunggu lama" dia mengambil mangkok yang berisi saus yang telah jadi diantara mangkok yang tersusun dimeja.


"Pantas saja aku tidak melihatnya jadi untuk apa anda memasak makanan begitu lama?"


Balas ku yang melihatnya yang sedang menyiapkan tungku di sebelah wajan yang memasak saus, lalu menaruh panci yang dia ambil dari lemari pendingin.


"Karena wajah anda yang terlihat tertarik?"


Balas nya singkat sambil mengaduk aduk saus yang berada di wajan, aku memasang wajah malas, dan teringat dengan kata-kata 1-2 jam.


"Oh ya 1-2 jam itu apa maksudnya?, Tapi aku mengerti tentang itu padahal baru pertama kali mendengar nya"


Dia yang sedang mencoba mencicipi saus yang berada di wajan tiba-tiba tersedak "Uhuk uhuk...," Aku yang dekat dengan teko air menuangkan air untuk nya dan menyodorkan nya.


Duchess dengan cepat meminum isi gelas yang ku berikan, dia mengelap bibir nya yang basah bekas minum yang terburu-buru dengan jari, lalu berucap dengan ragu ragu ingin memberitahu ku atau tidak.


"Em... Jika suatu hari nanti jam itu akan ada aku pasti akan mengajari mu"


"????"


Aku terdiam sebentar karena berfikir lalu kembali bertanya "memang nya jam itu belum ada sekarang?"


"HM.... Bagaimana menjelaskan nya ya?, Itu sudah ada di daerah yang sangat jauh dari sini"


"Meskipun disini adalah kerjaan yang besar?"


"Ya, dan sekarang kita hanya perlu menaruh saus nya di atas cilok dan jadi deh....."


Dia berkata seperti itu sambil mengambil bulat bulatan bewarna putih dari panci yang telah di kukus untuk menghangatkan nya ke dua mangkuk lalu menuangkan saus di atas keduanya.


Dan menyodorkan mangkuk nya kehadapan ku yang telah duduk di meja terdekat, aku mengedipkan mata beberapa kali karena ia juga memberikan ku minuman, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa kita akan makan di sini?"


Dia yang telah duduk di kursi dan mengangkat sendok nya karena ingin langsung memakan nya selagi hangat, tapi saat aku berkata seperti itu dia mulai menaruhnya kembali di meja dan berkata sambil bersiap membawa makanan nya ketempat lain.


"Ah.... Iya, kau tidak suka ya?, Kalau begitu ayo kita pindah ke ruang makan!"


Duchess bersiap untuk berdiri tapi aku mencengah nya "tidak!, tidak perlu aku suka makan di dapur"


Dia terdiam sejenak setelah itu tersenyum dan kembali duduk dia menatap ku dengan lekat sambil berkata "coba tuan muda duluan yang mencoba nya"


Aku melihat matanya yang terlihat sangat bahagia jadi tidak merasa tega mengatakan kalau aku tidak suka makanan yang terlihat bulat bulat lengket dan bersaus kental seperti ini.


Tapi karena mata nya sangat berbinar-binar aku akan mencobanya satu dan memuji masakan nya, karena meskipun rasanya bukan selera ku aku senang menghargai pemberian nya kepada ku.


"Jadi cobalah sekarang"


Dia berkata seperti itu dengan matanya yang terus berbinar-binar, itu benar benar membuat ku lemah karena siapa yang bisa bertahan dengan tatapan penasaran seperti itu?.


"Hah..."


Aku menghela nafas karena mengalah lalu mengangkat sendok yang berisi satu butir cilok itu dan menggerakkan nya masuk ke dalam mulut ku.


Saat sausnya menyentuh Indra perasa ku aku berfikir bahwa saus ini lumayan kalau di beri bintang akan mendapat bintang 3, tapi saat aku mulai mengunyah cilok itu dengan saus yang ada di mulut ku tiba-tiba tanpa sadar aku menjatuhkan sendok nya.


"Trang Trang"


Bunyi sendok yang terlepas dari jari ku, Duchess dengan wajah panik langsung bergegas menepuk nepuk pipiku karena takut aku memakan racun dan mati di tempat.


Dia terus mengguncang nguncang ku yang terbawa ke fikiran yang lain setelah mengunyah cilok dan menelannya, sampai dia melihat air mata yang tiba-tiba mengalir di pipi ku.


Dia berhenti mengguncang nguncang badan ku dan malah memeluk ku dengan erat sambil mengusap usap puncak kepala ku dengan erat dan berkata di telinga ku dengan bahasa yang tidak ku mengerti.


Tapi membuat mataku pedih, hatiku sakit seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat, padahal aku tidak mengetahui apa artinya tapi Kenapa badanku merespon ucapnya sampai seperti ini?.


"Aku akan pergi makan di kamar ku kau bisa disini sampai tenang, aku akan menugaskan pelayan untuk menunggu saus yang ada di wajan matang jadi kau tidak perlu khawatir"


Aku mendengar suara Duchess yang bergetar dan terdengar serak "apa dia juga menahan tangis?" Aku berusaha melihat wajah nya tapi air mata yang mengalir membuat pandangan ku buram.


Lalu terdengar suara mangkuk yang diambil secara cepat dan langkah kaki yang berlari


"Ja..hah....ngan..... lupa habis kan ya....BRI... Albert, dah....hiks"


Entah kenapa saat aku mendengar suara nya yang menahan tangis dan memanggil namaku terasa sangat sedih dan menyesakkan.


Aku memutuskan untuk memakan dengan cepat isi mangkok itu dan setiap aku menelan nya tangisan ku bukan nya berhenti malah bertambah deras.


"Kenapa ini? kenapa badanku bereaksi seperti ini padahal aku sendiri tidak mengerti kenapa aku memakan cilok ini sambil menangis"


Pikirku aneh.


Mungkin aku akan menemukan jawabannya suatu hari nanti.