
POV Destiana
Sejak hari itu aku mulai risih karena anak culun itu mulai mengikuti ku meskipun secara diam-diam, terutama saat istirahat makan siang, dia benar-benar kekeuh harus makan di jarak yang lumayan jauh dari ku, tapi masih bisa terlihat oleh mata.
Dan ketika aku mendekati nya ia malah lari menjauh, sampai aku bertanya-tanya dalam hati.
'Sebenarnya apa maunya?'
Dia berada di kelas yang berbeda tapi di tahun yang sama dengan ku, dirinya selalu sendirian seperti ku mungkin karena gaya pakaian nya.
Dan juga wajahnya yang gampang di tindas membuat nya semakin gampang menjadi bahan bullyan, selama beberapa bulan dia terus melakukan itu, tanpa pernah mau untuk mengobrol dengan ku.
Sampai semester 2 selesai dia terus melakukannya,
"Menyebalkan"
Ucap ku kesal melihat dia lagi lagi membuat posisi yang sama seperti biasa, aku melirik sekilas dirinya yang sedang terfokus untuk mengambil makanan nya di tas, dan seketika aku berlari ke arah nya.
Dan langsung berteriak, "Woi lu ngapain ngintilin gue terus?! Emang gue gak risih apa hah!?"
Dia yang baru saja mengambil kotak bekal langsung terkejut sampai hampir melemparkan kotak yang ia pegang, dia hanya menundukkan kepala dan terus gemetar ketakutan.
"Ck!"
Aku mendecak kan lidah karena kesal, lalu kembali membentak,
"Lu Mau Manfaatin Gue Jadi Pelindung Kan Dari Bullyan Ngomong Lu!!!"
Karena sejak hari itu para pembully yang melihat si bocah itu, jika berada di jarak yang lumayan dekat dengan ku mereka tidak akan berani mendekati nya.
"Seharusnya memang bener gue gak usah nolongin siapapun itu!"
Teriak ku dengan marah, dan langsung berfikir kalau anak ini sangat licik, lalu sekarang aku akan berjalan untuk mencari tempat makan yang lain.
Tapi sebelum aku bisa bangkit berdiri aku mendengar suara isakan kecil dari arah belakangku dan setelah menengok pria itu sedang menangis sambil menutupi wajahnya yang terus meminta maaf.
Tadinya aku hanya ingin mengabaikan nya tetapi saat aku melihat pergelangan tangannya yang setiap hari tertutupi jaket tiba-tiba sedikit merosot lalu menemukan banyak luka memar.
Saat itu tanganku langsung mencengkram tangannya dan menariknya ke arahku sambil mengekspos seluruh tangannya bahkan ke siku yang memperlihatkan dengan jelas luka memar itu.
Tanpa sadar aku mulai mencari cari luka yang lain dengan cara menekankan setiap bagian tubuh nya dan pria itu meringis kesakitan sambil terus menangis.
Seketika amarahku naik dan berteriak ke arahnya
"Siapa Yang Melakukan Ini Kepadamu!!!"
Amarahku tiba-tiba naik, karena bisa-bisanya dia yang selalu menempel seharian di sekolah tetap mendapatkan luka ini.
"SIAPA!!!?"
Teriak ku lagi dan dia hanya menggeleng pelan tidak mau memberitahu siapa yang melukainya hingga lebam biru ini, seketika diriku bertambah kesal dan lanjut berkata,
"Anak-anak Geng Itu Kan?, Sini Gua Laporin Lagi Ke Bk!!!"
Seketika tanganku menarik keras tangannya dan menyuruhnya untuk berdiri ke ruang BK, tapi Ia terus menolak dan akhirnya berkata dengan lemah.
"Tidak itu bukan mereka...."
Lalu dia membuka kacamatanya yang telah berembun karena air mata nya yang terus mengalir setelah itu mengusap wajahnya yang basah dengan lengan jaket.
Aku sedikit terkejut setelah melihat wajahnya yang tidak memakai kacamata ternyata dia cukup lumayan jika melepas kacamata, pikir ku tanpa sadar.
Kembali ke topik akhirnya aku bertanya dengan nada kecil Siapa yang melakukan itu kepadanya karena itu benar-benar termasuk tindakan kejahatan dan bisa dibawa ke pengadilan.
Dia terdiam sebentar mulutnya beberapa kali bergerak, ingin mengatakan sesuatu tapi kembali tertutup karena terus ragu-ragu, tapi aku tetap membujuknya sampai ia berkata
"Itu mirip geng anak remaja yang ada di komik komik...."
"Senang merusuh menghancurkan instalasi publik tawuran dan banyak lagi"
"Tapi geng ini masih baru baru ini beroperasi"
"Lalu apa hubungannya mereka denganmu?"
Tanya ku akhirnya, dia terdiam sejenak dan melanjutkan,
"Saat itu aku tidak sengaja terkepung oleh mereka saat pulang sekolah, dan mereka menawariku untuk memberikan uang dan barang berharga lainnya yang aku punya, atau nyawaku yang akan menghilang...."
Dan akhirnya aku menyerah lalu memberikan seluruh barang berharga yang aku punya hari itu, tapi mereka ternyata mengetahui alamat tempatku tinggal dan mulai meneror nenekku dengan ancaman-ancaman yang menyeramkan,
"Setelah itu aku memohon kepada mereka untuk tidak melanjutkan aksi seperti itu dengan imbalan uang dan akhirnya mereka setuju dan tidak mengusik kembali ke rumahku"
"Perjanjian itu berisi bahwa setiap sebulan sekali aku memberikan uang kepada mereka yang telah di tentukan diriku waktu itu tapi masalahnya mereka tidak hanya mengambil uang tapi juga memukuliku dan menjadikan diriku sebagai samsak tinju"
Setelah mendengarkan ceritanya aku pun bertanya kenapa kamu tidak melaporkan kejadian ini ke polisi lalu dia menjawab.
"Aku tidak berani lagi, karena pernah sekali saat aku melarikan diri, saat sedang dipukuli tiba-tiba saja bertemu dengan polisi, tapi ketika aku meminta tolong kepada polisi itu ia hanya mengacuhkan ku"
"Berpura-pura melihatku yang memohon perlindungan kepada nya seperti sedang bermain bersama mereka dan akhirnya mereka berhasil menyeret ku kembali"
"Hah.... "
Aku menghela nafas berat karena kejadian ini, dan menjadi sedikit tidak tega dengan dirinya, karena dia adalah seorang yatim piatu yang ditinggalkan di Panti Asuhan.
Bisa bersekolah di negeri swasta karena mendapatkan beasiswa dari kesenian dan budaya, cukup untuk dibilang anak yang berprestasi, apalagi pak kepala sekolah meminta tolong kepadaku untuk terus mengawasinya dan menjaganya saat berada di sekolah.
Maupun di luar sekolah jika melihat nya sedang dalam bahaya, apalagi kepala sekolah lebih khawatir setelah melihat bahwa dirinya yang terlalu baik hati bisa menjadi sebuah bencana untuk nya sendiri.
Dan dengan berat hati aku pun memutuskan untuk menolongnya dengan mengambil bukti sebanyak-banyaknya dan meminta tolong kepada sekolah dan juga orang tuaku untuk menangani kasus geng yang masih baru ini.
Dan tak perlu waktu lama untuk mengurus geng itu karena mereka juga meresahkan warga, selama buktinya cukup kami pun bisa membawa permasalahan ini ke hukum tanpa harus membuat pria ini ikut terlibat ke dalam kasus secara langsung.
Saat ia diberitahu masalah ini akan segera selesai oleh Kepala Sekolah, dirinya kembali menangis dengan haru sambil terus berterima kasih.
Tapi kepala sekolah berkata, "kau harusnya berterima kasih kepada Destiana, karena telah melakukan semua hal ini"
Dan dia terus berterima kasih sambil menunduk sopan lalu saat kita keluar dari ruangan kepala sekolah Aku memberikannya saran agar Lebih baik merubah Penampilan dulu agar orang-orang tidak menganggap rendah dirinya.
"Padahal kau cukup tampan, meskipun tidak tinggi cobalah untuk bersikap imut agar bisa mendapat perhatian dan Simpati dari orang-orang"
Saranku singkat setelah itu kami pun berpisah karena sekolah SMA kami berbeda,
Orang tuaku pindah kota lain dan mendirikan sebuah restoran di sana Jadi aku pun ikut pindah dan mencari sekolahan di sekitar sana yang paling bagus, meskipun penampilan sama seperti saat SMP.
Gendut hitam dan jelek
Karena ku benar-benar tidak diberi uang jajan untuk hal-hal yang bersangkut pautan dengan kecantikan, dan terlalu malas untuk ku menggantikan uang makan untuk alat make up.
Makanya aku menghabiskan waktuku untuk banyak-banyak belajar bela diri sampai tanpa sadar tinggiku bertambah sedikit demi sedikit menjadi 170 cm.
Dan terkadang aku melihat di kaca tinggiku yang segini dengan badan yang gemuk dan juga wajah yang jelek terlihat seram, apalagi waktu aku membanting tiga pria itu.
Tinggi ku yang sudah 167 dengan berat badan hampir 80 dan sementara ketiga pria itu tingginya rata-rata 170 makanya aku dengan mudah menjatuhkannya.
Tapi pada akhirnya kita tetap bertemu meskipun itu saat di Olimpiade sekolah se-provinsi aku lomba IPA dan dia cerpen, dan di saat itu aku benar-benar tidak mengenalimu secara langsung, karena dirimu yang sangat berbeda dengan SMP.
.........
POV author
"Hai! Tia!!"
Tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah belakangnya dan saat Tia menengok kebelakang, ia menemukan seorang pria tampan yang tingginya kurang lebih sedikit tinggi dari nya tiba-tiba menyapanya.
Dengan Melambaikan tangan dan memanggil namanya Tia, Tia yang disapa seperti itu mengerutkan kening sambil terus bertanya-tanya siapa pria ini.
Tapi pertanyaan nya langsung menghilang saat pria itu meminta untuk bisa duduk di sebelah bangkunya, dan Tia mengizinkan dan mulai memberikan tempat untuk pria itu duduk.
'Mungkin dia hanya tau nama panggilan ku secara kebetulan'
Pikir nya singkat.
Sementara dirinya kembali terfokus dalam buku-buku soal yang akan diujikan nanti, tidak peduli lagi siapa pria itu.
Pria tampan itu tersenyum malu-malu seperti salah tingkah dan terus menatap kakinya sendiri, Tia berusaha untuk tidak menggubris orang aneh itu, dengan terus mengisi soal latihan yang akan ia kerjakan nanti, Saat lomba dimulai.
Tapi tiba-tiba saja pria itu bertanya kamu dari sekolah ini bukan...
Dan Tia hanya mengangguk singkat untuk membalasnya tapi setelah itu dia menunjukkan raut wajah sedih dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk mulai melirik Tia, sambil bertanya
"Kenapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa pemberitahuan Destiana Putri Olivia?"
Tiba-tiba saja Tia terkejut karena pria itu memanggil nama lengkapnya.
"Kamu lupa sama aku?"
Tanya nya langsung.
"Aku ini Rangga Yang kamu tolongin waktu SMP dulu...."
Lanjut nya lagi dengan nada sedih karena tidak di kenali.
Seketika mulut Tia ternganga karena kaget dan melihat ke arahnya dari atas ke bawah berkali-kali dan mulai menemukan kemiripan nya yang dulu, tapi dari wajah, gaya pakaian dan tingginya sama sekali berbeda.
"Hahaha"
Tia tertawa kecil karena tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi dan mulai memuji nya dengan santai.
"Ternyata lo udah tumbuh seperti yang gue bilang ya...., Rangga" dengan nada sedikit bangga
"Kamu belum jawab pertanyaan ku Tia!?"
Tapi pada akhirnya Tia menjawab,
"Ya mau gimana lagi, kan orang tua gue pindah kota, jadi gua ikut mereka dan daftar sekolahan di sana cepat-cepat sebelum pendaftarannya ditutup"
"Tapi...., tapi kan bisa nunggu sampai hari wisuda! dan perpisahan yang dibuat sama teman-teman"
"Kubilang tidak sempat"
Ucapnya cepat, "Karena jika aku tidak mendaftar buru buru saat itu, aku benar-benar tidak akan bisa masuk ke sekolahku yang sekarang!"
Rangga hanya memasang wajah sedih mendengar alasan Tia, lalu berkata dengan lirih, "Padahal...., saat itu aku benar-benar menunggumu.... "
"Menungguku?"
"Iya aku menunggumu, untuk mengatakan bisa nggak kau jadi pacarku!?"
"BRAKK!!!"
Seketika buku dan kertas kertas latihan yang Tia pegang terjatuh bersama alat tulis nya sambil terus ternganga kaget karena pengakuan yang tiba-tiba itu.
"Lo bercanda kan?"
"Aku serius Tia"
"Hah..!!!"
Seketika Tia kembali ke pikiran nya dan memungut buku dan alat tulis nya yang terjatuh yang akan di bantu oleh rangga tapi segera ia tepis, lalu Tia berdiri di depan nya sambil menatap pria itu sinis.
"Kita pura-pura nggak kenal aja, gue nggak mau denger kata-kata itu lagi dari mulut lu"
Ucapnya sambil akan berjalan pergi dari bangku itu tapi tangannya segera di cengkram oleh Rangga,
"Tunggu Tia aku nggak bercanda Aku serius!"
Tapi dengan cepat dia menepis cengkraman itu dan pas sekali pengumuman untuk lomba cerpen akan dimulai sebentar lagi yang disiarkan di toa toa sekitar lapangan tempat mereka duduk.
Tia kembali melihat pria itu dan berkata
"Lebih baik kau cepat untuk pergi karena lombanya akan dimulai sebentar lagi dan jangan ganggu aku!"
Lalu setelah kejadian itu mereka berdua tidak bertemu kembali sampai lulus SMA tapi entah bagaimana Rangga berhasil mendapatkan nomor telepon milik Tia.
Dan menemukan beberapa akun sosial medianya dan terus menyepam nya dengan pesan-pesan Kerinduan dan terkadang curhatan, juga beberapa kali pernyataan cinta yang tidak pernah sekalipun Ia balas pesannya,
Sekali pun dalam 3 tahun itu, tapi tetap saja Rangga tidak pernah menyerah.
Dan setahun setelah lulus SMA, Tia memutuskan untuk bekerja sebentar agar mendapatkan penghasilan sendiri dan memperlakukan diet ketat kepada dirinya lalu berhasil.
Dia menjadi wanita yang cantik dan dikagumi oleh para pria tapi dia membuat garis kepada para pria yang merayu nya, dan malah kebingungan karena keputusan untuk menjadi apa di masa depan belum jelas.
Tapi pada akhirnya dia memilih untuk kuliah di jurusan sekretaris untuk masa depan nya, meskipun ia anak IPA dan harus belajar IPS dari awal.
Sambil bekerja dan kuliah membuat dirinya benar benar sibuk sampai beberapa kali kelelahan tapi tetap ia paksa bahkan masalah rangga pun ia lupakan.
Dan tanpa ia sangka-sangka mereka bertemu di sebuah taman dekat tempat kuliahan nya berada yang ternyata kuliahan Rangga juga.
Jadi Rangga dipindahkan ke Universitas itu dengan menerima beasiswa penuh karena di kuliahan sebelumnya Ia membuat tes untuk masuk universitas yang Destiana tempati.
Dan itu juga di segaja setelah mendapat kabar kalau dirinya kuliah di sana.
Meskipun tinggal 2 tahun lagi untuk bersama Tia di kuliahan ini
POV Destiana
"Tia!?"
Suara yang sangat familiar tapi sudah lama ku lupakan berteriak ke arah ku, aku pun menengok untuk melihat siapa kah orang itu, tapi yang ada di pikiran ku adalah Rangga.
Dan benar saja orang itu...., dia dengan cepat melompat ke arah aku dan memeluk dengan sangat erat, sambil berkata.
"Akhirnya kita bertemu lagi!!!, kenapa kau tidak pernah membalas chat ku?"
Aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya yang kuat lepaskan Rangga tapi tidak bisa, dan dia melanjutkan perkataannya dengan nada sedih.
"Padahal tidak apa apa jika hanya dengan beberapa huruf atau kata...."
"Lepas...!"
Ucap ku dan berusaha melepaskan diri, tapi belum juga ia lepas.
"Baik-baik, tapi berjanjilah untuk menjawab pesanku setidaknya satu kali sehari, Tidak tidak, itu terlalu sedikit setidaknya 5 kali dalam sehari"
"Tidak mau!!!" ucap ku kekeuh
"Maka tidak akan ku lepaskan pelukan ini bahkan sampai matahari terbit lagi"
Ancamnya serius aku yakin dia akan benar-benar melakukan itu jika aku tidak mengiyakan nya sekarang jadi aku hanya mengangguk kecil dan mendorongnya menjauh.
Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia ke arahku Bagaimana bisa anak polos itu menjadi selicik ini, mungkin teman-teman SMA yang bergaul dengannya benar-benar mengajarkan hal ini kepadanya.
"Janji adalah janji jika kau melanggarnya pasti akan mendapatkan dosa benarkan Destiana?"
Aku hanya aku hanya berdecak malas melihat raut wajahnya yang menyebalkan sekarang.
"Oh ya mohon bantuannya kakak"
Ucap nya tiba-tiba dengan nada hormat sambil membungkukkan badan sedikit.
Seketika aku tersadar akan kata katanya yang seperti itu kalau dia akan mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa), dan mengetahui kalau diri ku tahun ini yang menjadi panitia nya.
"Sial.... Ini sungguh menyebalkan"
Gumam ku kecil, dan membuat pertanyaan menyebalkan keluar dari mulut Rangga.
"Apa yang Anda Gumam kan?"
"Tidak ada!"
"Bohong..."
"....."
Aku terdiam tidak bisa menjawab ocehannya dan memutuskan untuk segera pergi dari sini.
"Sudah lah pergi sana!, aku sibuk!"
Usir ku seketika lalu beranjak pergi dari taman menuju ke kelas, tapi saat dalam perjalan sampai kelas di mulai pikiran ku selalu berisik dengan memikirkan hal tadi.
"Tapi bagaimana bisa dia mengenali ku dalam satu kali lihat?"
"Padahal kan meskipun dia mengetahui diriku saat ini dari foto dia pasti akan terlihat kebingungan dan tidak akan bisa menemukan ku dalam sekejap mata"
"Apa jangan jangan dia sering menguntit ku?"
"Cuih menjijikkan!!!"
.........