
"Tia...."
"Tia...."
"Tia!!!"
"Ah ya pak!?"
"Kayak nya akhir akhir ini kamu sering melamun ya? "
"Ah maaf Pak lagi gak bisa fokus"
"Gak.... Bukan itu maksud saya, biasanya kamu kayak gini padahal sudah semingguan, tapi kamu begini terus"
Aku hanya terdiam tanpa menatap mata pak didi, tidak ingin menjawab perkataan nya, tapi dia berkata lagi,
"Mikirin siapa sih...? kok, saya gak di ajak ajak?"
Suara cekikikan mulai terdengar di berbagai penjuru kelas, pak didi masih melihat ku dengan rasa penasaran dan akhirnya bertanya.
"Saya jadi penasaran, ada yang tau gak nih temen temen nya?"
Seketika tawa teman teman sekelas meledak dan seseorang menimpali pertanyaan dosen.
"Itu loh pak...., dia lagi di deketin sama anak pindahan jurusan seni.... "
"Emang siapa namanya?"
"RANGGA PAK!!!"
Ucap teman sekelas serempak, seketika ruangan menjadi heboh dan siulan untuk menggoda ku terdengar di segala penjuru kelas dan dengan cepat aku membenamkan wajah ke meja karena memerah oleh rasa malu, sambil ngedumel dalam hati.
"Gila gue malu banget!!!"
Tapi untung nya pak didi tidak membahas masalah itu lagi dan melanjutkan pelajaran, dan aku tidak bengong lagi setelah di tertawakan seluruh teman sekelas.
Saat kelas berakhir aku pun mulai berjalan pulang sambil terfikir kan masa ospek yang telah selesai, jadi rangga akan sulit mengganggu ku lagi, dan aku bisa kembali fokus dalam belajar.
Saat Ospek waktu itu dia benar-benar sangat menggangguku dengan terus bertanya ini dan itu, yang padahal mudah dimengerti.
Lalu ketika aku menyuruhnya untuk bertanya kepada teman atau kakak pembimbing yang lain untuk menjawab pertanyaan yang ia tidak pahami, dia menggeleng tidak mau.
Dan sangat keras kepala untuk dijelaskan oleh orang lain kecuali diriku apalagi saat tugas tiba dan beberapa pengurus terpilih untuk menjadi pembimbing.
Rangga pasti selalu di kelompok yang aku bimbing dan Ketika aku bertanya kepada ketua penyelenggara ospek ini, kenapa dia selalu berada di kelompok yang aku pegang?
Ketua hanya menjawab santai.
"Udah sih, tia..... lagian Kamu jomblo ini...."
"Dan dia juga ngejar-ngejar kamu, jadi aku bantu aja sekalian, Kalau kamu nggak mau sama kelompok itu minta aja tukeran ke pengurus lain."
Usulnya saat aku bersikeras menolak.
Lalu saat aku ingin meminta tukaran kelompok kepada para pengurus lain yang menjadi pembimbing acara, mereka berkata
"Kami tidak mau mengganggu pdkt-an anak baru kepada Ratu es abad ini"
"Sialan dia benar-benar didukung oleh teman-teman seangkatan ku!"
Dumel ku dalam hati dan mulai menyerah sampai pada akhirnya aku bisa melewati tujuh hari itu dengan aman.
Meskipun pikiranku hampir semua tentang dirinya yang mengganggu saat itu,
"Tia~~~"
Tiba-tiba suara yang terdengar manja itu muncul dari arah depanku
"CK!!!"
Tanpa sadar diriku berdecak kesal karena melihat Rangga yang sedang melambaikan tangan di depanku sambil berjalan cepat untuk menghampiri ku.
Seketika langkah kaki ku ingin ku putar kan ke arah lain untuk menghindarinya, tapi dia dengan cepat menangkap tanganku dan menariknya.
"Kenapa Anda menghindari ku pembimbing?"
Tanyanya dengan nada imut yang di buat buat,
"Ospek udah berakhir ya!"
Ingatku cepat tapi dia tidak peduli dengan itu dan tetap berkata,
"Anda kan tetap pembimbing saya dalam universitas ini"
"Rangga Berhentilah bersikap seperti ini aku tidak suka"
"Tapi Anda tidak pernah membalas pesanku!?, Bukankah Anda berjanji saat itu....."
Aku menggigit bibir kesal dan membentak nya keras.
"Baik-baik!!!, aku akan membalas pesan mu nanti jadi lepaskan aku sekarang!, aku mau pulang!!!"
Seketika tanganku kutarik untuk melepaskan diri dari pegangan nya dan berusaha pergi dari gedung kelasku berada, secepat mungkin.
Tapi dia berusaha menyemai langkahku yang berjalan cepat.
"Tia...., Kenapa Anda benar-benar menjauhiku dengan segala cara?"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan tentang itu!"
Balas ku cepat dan langsung memasuki lift, karena kelas ku berada di lantai 30 jadi menaiki lift dan turun ke bawah menjadi halangan ku untuk cepat menghindari pria ini.
Dia dengan cepat mengikutiku ke dalam lift dan bisa bisanya didalamnya ada aku dan hanya dia, Berdua saja!!!
Rangga kembali bertanya, "Tia apa kamu membenciku?"
"Ya"
Tanpa pikir panjang membalas itu dan melanjutkan,
"Aku sangat membencimu"
Lalu dia menarik kedua Bahuku untuk menatap wajahnya sambil berkata,
"Bagian Apa yang kau benci dariku?"
Seketika mataku melihat wajahnya yang tampan badan yang tegap dan rasa percaya diri nya yang tinggi tidak dimiliki oleh diri nya yang dulu.
Apalagi bagian bawah nya yang ehem....
Membuat wajah ku sedikit merah dan segera mengalihkan pandangan sambil berteriak.
"Semua!!!"
"Aku membenci dirimu semuanya!"
Dia mendengar itu sedikit terkejut, lalu berkata.
"Anda tidak suka diriku yang tampan dan seksi ini? Anda benar-benar adalah gadis yang berhati malaikat masih menyukai diriku yang culun itu!"
"Memangnya siapa yang menyukaimu dulu!!!"
Teriak ku kesal dan saat lift terbuka aku pun melaju dengan cepat tapi Rangga tetap mengejar ku, meski begitu aku terus berjalan cepat tanpa melihat ke belakang.
Dan akhirnya teriakan pengakuan nya terdengar keras seantero halaman.
"Destiana!!!, bahkan Jika kamu membenciku!, aku akan tetap mencintaimu!!!"
Umumnya dengan keras seketika orang-orang yang berlalu Lalang di sekitar gedung itu menengok ke arah kami berdua yang membuat wajahku merah padam karena malu.
Dan segera berlari menuju motor ku untuk pulang, bahkan setelah beberapa hari atau bulan berlalu dia benar-benar seperti penguntit sejati.
Mengirimku pesan sebanyak-banyaknya setiap pagi, siang, sore, malam, dengan menanyakan hal-hal remeh seperti
Sudah makan belum?
Udah tidur belum?
Pengen makan apa?
Nanti aku beliin....
Dan dia akan membelikan ku makanan tanpa ku minta, apalagi pernah sekali aku membalas nya dengan setengah hati, saat dia bertanya mau makan apa atau udah makan belum.
Dengan kata 'belum' dia langsung mengirimiku makanan dengan aplikasi, dan seperti tau apa yang aku inginkan saat itu.
Apalagi saat beberapa hari setelah nya tiba-tiba dia tahu aku ingin makan makanan ini, misalnya saat 2 bulan kemarin aku sangat menyukai crepes.
Tiba-tiba saja setiap hari grab dengan rasa berbeda datang ke kontrakan ku, dan saat aku ketagihan kebab, dia langsung membelikanku di tempat yang sama yang aku sukai.
Bagaimana bisa dia tidak dibilang penguntit? dan aku sangat heran kenapa dia tidak membuat cara tarik ulur? tapi terus mengejar-ngejar aku seperti orang gila?.
Diriku jadi geli sendiri, bahkan sampai beberapa orang yang melihatnya lelah dan mengatainya bodoh atau apapun itu.
Ada juga yang menasihatinya untuk mencoba tarik ulur tapi dia berkata bahwa dia tidak sanggup untuk menjauhiku sehari saja.
Dan aku merasa sedikit kasihan dengan sifatnya itu, tapi tetap saja aku tidak mau, dengan terus menghindari nya.
Rangga juga yang paling mengerti diriku saat aku sedang bad mood dan tidak ingin diganggu, dia pasti akan mengurangi spam nya di chat.
Menjadi sebuah perhatian-perhatian kecil yang singkat dengan membawakan beberapa makanan ringan dan minuman dingin, saat aku lelah... Dan terlihat kesal.
Tapi.... Saat sudah di taruh ia langsung kabur, benar-benar tidak mengajak bicara sama sekalipun dan mengikuti ku dari datang sampai pulang.
Kecuali mengendap-endap untuk melihat ku dari jauh.
Bagaimana bisa orang tidak tersipu dengan kelakuan manis nya itu? Tapi tetap saja aku tidak ingin menerimanya atau menjadikan dirinya sebagai pacar.
Karena rasa overthinking ku yang lebih besar ketimbang rasa sukaku ini, ya..., kalau dipikir-pikir aku memang benar-benar sangat berpikiran sempit dan penakut ingin dicintai.
Tapi tidak ingin membalasnya, karena aku benar-benar takut untuk merasakan namanya sakit hati, entah itu untuk orang lain yang di sebabkan oleh ku atau diriku sendiri karena orang lain.
Makanya aku memutuskan untuk pindah atau tinggal sendiri di kontrakan karena diriku yang sering bertengkar dengan orang tua, Kenapa kita harus tinggal satu atap padahal sering bertengkar tapi ketika aku nggak ada, tinggal berjauhan kita tidak pernah bertengkar.
Malah perasaan Rindu semakin besar.
Dan lebih baik menurutku untuk mempunyai masalah dengan orang lain atau teman yang tidak terlalu dikenal daripada dengan keluarga.
Bahkan beberapa kali Aisyah mengingatkan aku untuk segera membalas perasaan Rangga karena dia akan kecewa, tapi itulah yang aku inginkan.
Karena jika dirinya menyerah berarti dia tidak serius kepada ku dan aku bisa cepat untuk melupakannya,
Itu yang aku kira dulu.
Pov author
Meskipun kuliah S1 Tia telah berakhir dia tetap mengejarnya seperti orang gila, bahkan lebih gilanya lagi, saat kelulusan waktu itu.
Dia membuat pernyataan lamaran kepada nya seperti yang dilakukan di dalam drama atau film-film romantis, dengan diiringi lagu atau tarian setelah acara wisuda berakhir.
Setelah itu orang-orang nya serempak berbaris atau mengelilingi mereka.
Rangga membuka kotak cincin itu lalu menyodorkan nya kepada Tia, sambil memegangi tangan kanannya Tia untuk memasang kan nya.
Tapi seketika Tia melihat kotak itu terbuka dan akan di pakai kan ke jari manis nya tanpa sadar tangan kiri nya melempar cincin itu jauh jauh.
Yang membuat canggung para penonton atau tim yang rangga bawa tadi, karena melihat kejadian itu, segera nya tia merasa malu dan kabur dari tempat dengan rasa penyesalan yang mulai menghampiri nya.
Sampai beberapa hari berlalu.
Tia terus merenungi perbuatan saat itu, yang sangat tidak pantas dan mulai berpikir untuk meminta maaf kepada Rangga dengan menunggu sebuah pesan seperti biasa dari nya.
Tapi bahkan sampai tiga hari berlalu notifikasi dari pesan miliknya tidak muncul juga, dan dirinya sedikit resah karena mungkin saja rasa kecewa Rangga lebih berat daripada yang Tia pikirkan.
Dan karena gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf, Tia membiarkan kejadian itu begitu saja.
Bahkan saat dirinya pergi ke universitas untuk mengambil ijazah dan surat-surat lainnya, Tia sama sekali tidak melihat orang itu, yang biasanya selalu ada di kampus karena mempunyai banyak urusan dari seorang mahasiswa beasiswa.
Seketika pertanyaan muncul di benak nya,
"Apa dia sekarang yang menghindari ku?"
Hati nya terasa perih sebentar tapi segera ia tepis dengan cepat perasaan itu, dan tetap berpegang pada prinsip bahwa jika Rangga tidak benar-benar tulus untuk mencintainya.
Tapi saat dirinya akan pulang dari kampus tiba-tiba saja Tia mendengar obrolan dari anak-anak yang sedang duduk di taman dekat kampus.
Yang kemungkinan mereka adalah mahasiswa baru tahun sekarang, Karena rasa penasaran nya yang tinggi akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi belakang mereka.
Sambil berpura-pura mengutak-atik HP padahal mendengarkan ucapan mereka.
"Eh lu tau nggak sih...., kalau ada kating (kakak tingkat) kita yang so sweet banget tapi ditolak mentah-mentah sama ratu es tahun kemarin."
"Oh lulusan tahun itu ya?, Iya ya gue juga pernah denger cerita nya sih..."
"Tapi lu tau nggak orangnya yang mana?"
"Emangnya yang mana? Gue lupa lupa inget sama wajahnya"
"Itu tuh!..., kakak kelas kita yang suka main ke kampus"
"Yang mana sih?"
"Nih gue tunjukkin mukanya"
Dengan cepat wanita itu mengotak atik hp nya dan menunjukkan wajah Rangga yang tersenyum cerah memakai jas almamater kampus, Tia melirik HP milik anak itu dan terkejut kalau di foto itu Rangga sangat tampan.
Dan kembali berpura-pura sibuk.
"Oh..... Iya, ya, gue inget!, sumpah sih.... demi apa ganteng banget!!!"
"Iya bener, padahal kalau itu gak terjadi kita masih bisa sering ngeliat dia loh...."
"Masalah apa tuh? Kok gue kabar tentang nya rada aneh deh"
"Itu loh..., sebelum hari-hari wisuda dia kan sering banget main ke sini, masa itu nggak tau?, tapi akhir-akhir ini sih nggak bisa datang, apalagi selepas waktu acara wisudanya itu."
"Gua tahu!, yang kejadian dia nembak-terangan sama ratu es kan dan dia kabur tanpa tau malu itu? Bahkan sampai cincin nya di lempar?"
"Sumpah sih kalau gue jadi cowok itu pasti sakit hati banget."
"Padahal kalau bisa kenapa dia harus ngejar ngejar ratu es ya?, padahal banyak kok..., kakak senior yang lebih cantik darinya?"
"DEG!!!"
Seketika jantung nya terasa sakit, memang benar kata kata junior itu padahal banyak sekali senior atau junior dan teman seangkatan mereka yang sangat cantik di banding kan dirinya.
Mereka bahkan menggelari wanita wanita itu sebagai MOS wanted pujaan bagi seluruh universitas melebihi Destiana.
"Tapi kenapa dia masih mengejar ngejar diriku?"
"Apakah aku harus terlihat jelek lagi agar membuatnya paham dan menjauh dari ku?"
Ucap nya dalam hati sedih, lalu terdengar perkataan lagi yang memukul hati nurani nya.
"Setidaknya....,jika ratu es tidak menyukai nya sejak awal bisa kan ia untuk meminta maaf duluan"
"Iya itu benar aku merasa kasihan dengan senior padahal dari wajahnya ia terlihat seperti orang yang sangat tulus dan tidak akan bermain main dengan wanita lain.
"Hahhh..."
Mereka menghela nafas bersama lalu salah satu nya berceletuk,
"Memang nya kak Rangga sampai sampai gak dateng ke kampus cuma gara-gara sakit hati doang?"
"Wuuuussst.... mulut mu nih ya!, kalau sakit hati itu bisa menyebabkan berbagai macam penyakit tau tidak!"
"Tunggu dulu deh..., gue punya pernyataan penting!, bukan nya Kak Rangga sering di gituin sama Ratu es, tapi kenapa baru sekarang dia merasa sakit hati?"
"Eh iya juga, tapi mungkin saja, dia baru menyadari itu akhir-akhir ini dan Merenungkan diri...., seperti yang kau lihat tadi foto wajahnya sedikit polos"
"Mungkin saja pikirannya masih kecil karena masih imut, jadi dia terlalu lambat untuk mencerna bahwa Ratu es sama sekali tidak menyukainya dan mencampakkannya"
"Jadi dia berakhir seperti itu...."
"Memang seperti itu hal yang meyakinkan, Tapi yang lebih meyakinkan adalah dirinya yang benar-benar jatuh sakit karena seperti yang kau tau, desas-desus selalu ditambah atau dikurangi oleh setiap mulut yang berbeda"
Seketika Tia terkejut dengan perkataan anak itu yang terakhir, karena mungkin saja jika Rangga benar-benar sakit parah sampai tidak bisa memegang HPnya untuk melihat pesan atau menelepon seseorang itu karena cukup sulit.
"Jika benar-benar seperti itu aku harus segera menjenguknya!"
Gumam nya kecil dan bergegas untuk pergi tapi sebelum itu ia berjalan melewati kedua anak itu untuk berterima kasih,
Mereka terheran-heran dengan ucapan terimakasih untuk apa dari tia yang tiba-tiba, dan mengangguk bingung untuk membalas ucapan terimakasih Tia.
Dan segera setelah nya Tia beranjak Pergi dari tempat itu, yang segera setelah Tia pergi dia melihat dari arah berlawanan teman mereka yang lain nya datang dan menghampiri kedua anak itu.
Yang menurut Destiana adalah junior 3 tahun di bawah nya, kedua anak itu terus ternganga, Sambil tetap menatap Tia yang semakin menjauh.
Seketika pikiran lucu muncul di pikiran nya tapi segera ia hilangkan dan fokus untuk menuju rumah Rangga.
.......
Seorang anak perempuan baru saja kembali dari kelasnya, dan menuju ke tempat teman-temannya berada, dia sedikit khawatir melihat teman- temannya yang sedang ternganga hebat sambil terus menatap wanita yang sangat cantik yang sedang berjalan menjauh.
Perasaan dia mengenali orang itu....
Lalu pikiran buruk muncul di benak nya dan dia segera bergegas menuju ke tempat teman-teman nya itu sambil berkata.
"Woi kalian Abis ngomong sama siapa sih?"
"Sampai nyelangap begini...?"
Para wanita itu kembali kesadarannya dan menatap temannya yang masih berdiri, lalu salah satu mereka menjawab.
"Oh itu loh, nggak tahu ya, kayak senior di sini"
"Gile sih cantik banget dia...."
Lanjut yang satunya.
"Tiba-tiba aja ngomong Terima kasih atas sarannya ke kita gitu, gak jelas ya?"
Balas yang lainnya.
"Emang kalian Ngomongin apa barusan?"
Tanya temannya yang masih berdiri.
"Oh....., kita tuh lagi ngebahas topik yang lagi panas di kampus ini nih...., yang masalah Kak Rangga sama ratu es itu..."
"Plakk!"
"Njirr"
Wanita yang sedang berdiri itu menepuk jidat nya malu, sambil mengumpat kebingungan karena dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Emang kenapa sih lu sampai segitu nya?"
Ucap temannya yang dengan santai nya menyeruput minuman yang dia bawa.
"Anjir lu pada nggak tahu dia? itu Ratu es tolol!...."
"Spurrrttt!!!"
Seketika wanita yang sedang minum itu menyemburkan minuman yang sedang ia sedot tadi dan berkata panik., sampai terbatuk batuk.
"Sumpah demi apa!? sumpah gua nggak tahu Anjir!!!"
"Ih gila!!!, gimana nih... gue takut woi!!!"
Mereka berdua dengan panik saling menatap satu sama lain,
"Tapi dia tidak marah-marah ke Kalian kan?"
Tanya wanita yang berdiri dan menyuruh temannya untuk bergeser,
"Enggak"
Jawab mereka serempak.
"Ya udah, nggak papa Lagian dia mah terkenal cueknya ini..., daripada buat masalah...., dia lebih suka menghindari masalah sih.... menurut aku ya"
"Oh begitu...,"
"Eh BTW dia cantik banget ya"
"Iya pantes aja Kak Rangga suka"
"Terus kalau dipikir-pikir sih..., mereka tuh benar-benar cocok tahu!, yang satunya dingin kayak kulkas, satunya kayak musim panas..., udah tuh klop jadi musim semi anaknya"
"Bisa aja nih kata katanya... "
Obrol mereka seterusnya.
.......