
POV Destiana
"Hup hiks hiks hiks..... Hah... Hah....."
Aku berusaha memperkecil suara tangisku setelah sampai di tempat sepi tepat berada di belakang gedung dapur.
Tangis ku pecah karena sudah tidak kuat menahan rasa sesak di hati ini, saat aku melihat Albert menangis aku sangat ingin menangis tapi aku tahan dan cepat cepat kabur untuk memberi ruang bagi ku sendiri.
"Hah.... Hah....."
Aku menarik nafas pelan pelan dan mengeluarkan nya untuk mencoba menenangkan hati ku yang sesak agar bisa bernafas dengan baik dan tidak kembali menangis.
Tapi saat aku menoleh ke samping ku dan aku melihat mangkuk cilok itu mataku kembali berair dan perasaan sedih dan senang membuncah keluar.
Aku sungguh senang Albert memakan nya karena itu adalah permintaan terakhir Brian sebelum kecelakaan yang menyebabkan semua keluarga ku meninggal, yang baru bisa diwujud kan sekarang.
Pikiran ku mulai kembali saat dua bulan setelah kecelakaan itu, para polisi menyerah kan barang barang yang boleh ku bawa pulang selain sedikit barang barang bukti yang diperlukan.
Dan disitu aku menemukan handphone Brian yang telah rusak karena layarnya retak atau mungkin dalam nya telah rusak, aku yang sedang berkabung mencari cara untuk menyalakan handphone nya kembali.
Dengan tidak menghilangkan isi dari memori handphone yang berharga ini, sahabat ku yang baik, Aisyah dia bersedia mencari tempat untuk membetulkan handphone yang rusak parah ini.
Karena jika aku yang mencari bisa bisa terjadi hal yang tidak diinginkan ucap orang-orang, karena pada masa itu aku masih saja selalu berfikir untuk menyusul mereka semua.
Dan aku menurut, sambil terus menunggu waktu selesai servis handphone Brian dengan perasaan yang sangat bahagia dan juga sedih, tidak lama Aisyah datang dan aku langsung mengambil handphone Brian yang ada di tasnya.
Dengan cepat aku menemukan galeri galeri yang tidak terhapus tentang aplikasi apa yang ia suka penyimpanan data yang sering ia habiskan, dan karena data data itu lah aku merasa Brian masih ada disisiku sekarang.
Karena saat dia besar dia sama sekali tidak mau kalau handphone nya di periksa olehku, makanya aku biarkan tapi karena saat ini dia tidak ada aku dengan sedikit berharap dia berlari ke arah ku dan mencoba mengambil handphone yang telah ku sita untuk di periksa.
Air mata mengalir dari pipiku sangat deras, perasaan sesak yang sangat mendalam ini ada karena dia tidak akan pernah bisa mengambil handphonenya lagi yang berada di tangan ku.
Aku ingin terjatuh ke lantai tapi Aisyah menahan ku dan membantu ku duduk di lantai dengan sandaran sofa yang berada di belakang kami.
"Ikhlasin Tia Brian udah meninggal, biarin dia tenang di sana" ucapnya sambil memeluk ku bahkan tangan nya ingin merebut handphone itu.
Tapi aku memeluknya dengan erat karena tidak ingin di ambil oleh orang lain, "aku gak peduli biar Brian dateng karena aku periksa handphone nya, biar dia hidup lagi gak peduli dia jadi zombie atau apapun itu"
"Sssstttt..... Tia apa kamu gak kasian sama keluarga mu mereka merhatiin kamu dari atas loh mereka pasti akan sedih kalau kamu kayak gini terus"
"Aku gak peduli Syah!!!, mereka kasian kan ngeliat gue kayak gini jadi mereka harus balik kesini gak mau tahu!!!, Atau gak gue yang bakal nyusul kesana!!!"
"Plakk!!!!"
Aku terdiam karena terkejut dengan tamparan keras yang di berikan Aisyah dipipi ku, tapi saat aku ingin membalas nya aku tersadar dengan air mata nya yang mengalir.
Dia bakal telah berdiri dengan jarak yang begitu jauh dari ku dan mengeluarkan semua unek-unek nya.
POV Author
"Jaga mulut kamu Tia memang nya aku gak sedih sahabat aku satu satunya kehilangan keluarganya dalam semalam!!!!"
"Sedangkan orang tua Lo nganganggep gue kayak anak sendiri dari pada keluarga gue yang ngebuang gue, suami mu yang selalu bantu gue jadi pembacot saat ketemu matan suami laknat"
"Anak mu yang selalu bilang ke gue kalau aku boleh nganggep dia kayak anak sendiri, karena pernah ngeliat gue di pukul sama anak kandung aku sendiri, bahkan dia yang nolongin aku juga"
"Juga adik angkat mu Dimas yang selalu jadi body guard kalau keluarga mantan suami gue pake cara rame rame ngedobrak rumah gue"
"Dan Lo yang selalu ngehibur gue dan bikin rasa sedih kecewa plus rasa sakit ini hilang kalau lagi terpuruk, sebelum gue ketemu sama agama gue yang sekarang, memang nya gue gak bakal gila kalau kamu tiba-tiba bunuh diri!!!!"
Tia terdiam karena melihat sahabatnya menangis sambil bercerita kebenarannya hatinya,
"Gue juga sedih karena mereka semua yang pernah melindungi aku meninggal!!!, gue juga bisa kalau milih jadi orang yang terpuruk tapi gue sadar karena orang orang itu meninggalkan satu orang yang paling berharga untuk mereka, yaitu kamu Tia..."
Aisyah mengingat alasan orang orang itu membantu nya di mulai dari orang tua nya Tia saat ia berkunjung ke rumah makan milik keluarga nya.
"Eh Aisyah tumben jarang banget kesini lagi, kesini atuh kalau ada waktu ajakin juga Tia dia betah banget di gak pulang kampung"
Ucap mama nya Tia yang mendekati Aisyah saat mau masuk ke dalam rumah, Aisyah tersenyum dan mencium punggung tangan nya setelah Tia.
"Kan aku gak bisa pulang kampung karena sibuk banyak kerjaan, Aisyah juga sama" balas Tia dan pergi menuju kamar nya yang lama.
"Hih...... Dasar....." Mama Tia hanya menanggapi balasan anaknya dengan memutar bola mata malas, sedangkan Aisyah tertawa kecil.
Dan saat Aisyah ingin mengikuti Tia kekamar nya untuk menaruh barang, mamanya masih menggenggam tangan nya karena ingin bertanya secara rahasia tentang Tia.
"Si tia, baik baik aja gak di rantau?"
"Iya dia baik baik aja mam"
"Ih bukan itu Syah yang ayah maksud" tiba-tiba saja bapak tia ikut berbicara
"Oh hubungan sama Rangga? mereka baik baik aja kok"
"Yang bener?, Hah.... Kalau begitu ya udah lah..."
"Issss gak boleh begitu sama calon mantu!!"
Mama Tia memukul bahu suaminya gemas karena dia masih berharap kalau Tia tidak jadi menikah dengan Rangga.
"Pokoknya Syah mama minta tolong buat jagain Tia kalau tiba-tiba berantem sama Rangga soalnya sebentar lagi kan mau nikah masa undangan udah di sebar malah gak jadi"
Mama Tia berkata seperti itu sambil menepuk pundak Aisyah dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya mam saya bakal jagain Tia sampe nikah" balas Aisyah dengan menggenggam erat kedua tangan beliau agar percaya.
"Nah kan begini saya tenang, kalau ada apa apa kamu bisa telpon mama kok oke?"
"Iya makasih mah"
Lalu saat Aisyah berada di cafe dan tiba-tiba mantan suaminya datang dan ngelabrak dia, tapi untungnya saja Rangga sedang menulis novel di cafe itu dan membantu nya bacot, sampai orang itu menyerah dan pergi.
"Kenapa pak Rangga bantu saya ngomong sama mantan suami ku?" Tanya Aisyah penasaran
"Kan kamu sahabatnya Tia masa kayak gini doang aku gak bisa bantu, kalau aku ngeliat Tia di posisi kayak kamu direndahin di hina hina, mungkin aku bisa bisa langsung mukulin cowok tapi tanpa pikir panjang, hahaha"
Bahkan saat di pukulin oleh anaknya sendiri tapi sudah di balas pukul oleh Brian, dia bertanya dengan nada perhatian.
"Tante apa yang sakit harus ku gendong sampai rumah sakit?"
"Ah... Gak perlu lagian kan Tante di tolong sama kamu"
"Argghhh!!!, awas aja sampai ketemu tuh cowok bakal gue pukulin sampe mampus!, Eh....?!!!, tadi itu anak Tante ya?!"
"Iya"
"Oooh.... Kalau begitu aku akan iket dia sampai minta maaf ke Tante"
"Hahahaha, Brian Brian kamu kenapa sih nolongin Tante"
"Ya karena aku gak suka, apalagi kalau mama berada di posisi kayak tante, makanya kalau Tante di lecehin lagi telfon aku pasti aku bakal datang"
Lalu saat rumah ku di keroyok warga oleh ulah keluarga mantan suami ku Dimas yang mengusir mereka karena rumah kami tetanggaan dan menawarkan diri untuk menjadi bodyguard ku.
"Kamu kenapa sampai seperti ini?, Bahkan nawarin diri jadi body guard kalau rumah ku dikeroyok lagi"
"Ya aku gak mau aja pacar aku di keroyok rame rame kalau ulah penghasut seperti itu, apalagi kalau memikirkan kakak aku gak bisa gak khawatir diposisi Tante"
Dia terdiam sebentar lalu melanjutkan,
"Lagi pula aku gak punya kerjaan banyak dan pacar ku kan tinggal di luar negeri jadi aku bosen makanya aku akan jadi bodyguard Tante sampai masalah nya selesai, boleh kan?"
"Iya boleh"
.......
POV Destiana
"Jadi Tia pliss.... jalanin hidup Lo seperti biasa, memang kebersamaan dengan keluarga Lo itu adalah hal yang gak bakal terganti"
"Tapi gue gak nyuruh Lo untuk lupain tapi ikhlasin karena suatu hari pasti Lo juga bakal nyusul mereka dengan cara yang baik dan pastinya mereka akan nerima kamu dengan senang hati"
"Ya?"
Aku melihat wajah nya yang basah oleh air mata, aku sungguh sangat tidak tega melihat nya menangis karena memikirkan ku jadi aku berlari dan memeluk nya erat dan kami menangis dengan kencang bersama.
Bahkan tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan karena kami menangis dengan keras dan kencang perlahan kami hanya bersandar lemah di sofa tadi.
"Kamu udah sholat?"
Tanyaku karena aku mengamuk dari siang sampai jam 8 malam, dia menengok sekilas dan berkata "lagi enggak"
"Oh....."
Ruangan kembali sunyi lagi tapi hanya terdengar suara ingus yang tersumbat di hidung di keluarkan atau di serap lagi karena bernafas.
"Mau makan gak?"
"Pesen online?" Balas ku
Dia mengangguk dan aku mengambil handphone ku yang berada di nakas dan memesan dimsum kesukaannya secara banyak.
Dia mencoba melihat apa yang sedang kupesan di handphone ku lalu protes saat aku menekan tombol pesanan 30 biji, "Dih kebanyakan...."
"Ih protes aja" balas ku singkat dan dia cemberut tapi berkata kembali
"Lo harus pesen nasi!"
"Gak mau gak nafsu"
"Astagfirullah haladzim kamu belum makan nasi dari minggu kemarin loh...."
"Makan roti kok"
"Ih itu mah bukan makan namanya"
Dia merebut ponsel ku dan memesan nasi goreng dan sushi kesukaan ku "kamu kayak gak tahu aja pepatah Indonesia, kalau makan gak pake nasi itu bukan makan namanya"
"Pokoknya harus habis ya" lanjut nya setelah menyerahkan handphone yang ia rebut kepada ku lagi.
"Huffttt" aku menghela nafas berat karena bingung harus melakukan apa lagi tapi dia dengan inisiatif nya menawarkan untuk melihat bersama isi handphone Brian agar aku tidak sedih.
Aku setuju dan kami pun melihat lihat isi dari handphone itu dia dengan penasaran melihat ke bagian WhatsApp dan membuka buka isi chatting ngan Brian dengan para perempuan.
Aisyah tertawa tiba-tiba saat menemukan hal yang menarik seperti chatting nya dengan salah satu fans Brian yang bisa mendapatkan no hp nya entah dari mana.
Dan Brian membalas nya setelah pesannya menumpuk itu hanya dengan stiker gambar jari tengah ditulisi dengan kata-kata ****!!!.
"Liat geh Tia..... Brian cuek banget sama cewek... Ish ini mah udah parah banget...., PFFFTT... jawab pake emoticon doang hahahha"
Dia dengan semangat menggerakkan jarinya untuk melihat lihat pesan pesan aneh seperti itu dan tiba-tiba mendapat ide gila, Kenapa aku tahu karena dia akan tersenyum nakal seperti ini.
Dan benar saja aku hanya mendiamkannya karena penasaran apa yang akan dia lakukan, dia telah menyambung kan hotspot dari handphone nya lalu dering pesan dan telfon mulai bersahut sahutan.
"Ya elah nge lag hp nya kebanyakan notifikasi"
"Tungguin aja dulu" balas ku karena keluhannya.
"Nah nih dah bisa hehehehe"
Dia mulai membalas chatting ngan para fans Brian dan ada satu orang yang sedang on, dan dia membalas dengan senang karena akhirnya chatting ngan nya di liat sama Brian.
"Lah Tia kok dia gak takut sih? Emang belum tau"
"Pffttt..... Udah gue kasih tau ke sekolah nya kok kan lu yang ngurus bareng gue....."
"Oh ya lupa, berarti ini fansnya dari sekolah lain..... jailin ya?"
"Terserah"
Aku mengalihkan pandanganku dari handphone Brian dan berdiri untuk mengambil handphone lama ku yang tersimpan baik di laci meja kamar sekalian aku mengambil pesanan karena Aisyah akan sibuk mengurusi fans aneh itu.
Setelah mengambil handphone dan memasukkan nya kedalam saku aku mendengar bel pintu di bunyikan lalu bergegas kesana dan mengambil pesanan yang sangat banyak.
Setelah sampai ke ruang tamu aku menemukan Aisyah yang tertawa terpingkal-pingkal sampai kehabisan nafas, aku yang penasaran ikut mendekati nya dan melihat isi handphone Brian.
"Kenapa sih, asik amat"
"Ta...tadi..... Pftt... Hahahaha..... Si cinta kan aku baperin sampai aku tawarin mau jadi pacar gak?, terus dia mungkin salting dan ngechat temen nya nanya gimana baiknya soalnya dia bilang, tunggu dulu bentar nanti gue balik lagi"
"Gue tunggu tuh 2 menit terus gue chat lagi gimana jawabannya?, Terus chatt an aku udah di baca tapi masih belum di bales, padahal dia on sampai ada tulisan dia mengetik yang isinya aku denger kamu kecelakaan ya?"
"Gue bales aja iya, terus dia nanya lagi tapi pake foto 'ini Lo?' Dan itu foto nya Brian yang ada di dalem peti mau di kubur dan gue telfon tuh anak, lalu diangkat gue bales aja singkat iya itu gue di dalem peti"
"Pfttt.... Udah mah pake suara editan laki-laki dan disitu gue langsung denger suara bantingan HP sama teriak kan dia, plus suara nangis yang manggil manggil mamanya"
"Terus karena lucu gue takut takutin aja lagi, bilang katanya Lo sukakan sama gue ayok ikut ke peti mati biar so sweet tidur pelukan berdua, dia nangis kejer sambil teriak teriak gak mau..."
"Dan akhirnya gue matiin deh telfonnya"
Ucapnya santai padahal dia gak tau aja nanti anak yang bernama cinta itu akan kena trauma padahal cuma prank.
"Dih awas lu kalau di jailin kayak gitu nanti nangis"
Ancam ku dia hanya membalas nya dengan juluran lidah dan berkata "ya udah yuk makan, laper nih"
Dia membuka bungkus makan dengan cepat dan menuangkan nya ke tempat tempat yang telah dia ambil sebelum nya dan mengambil gelas juga air untuk minum.
Aku tersenyum hanya memperhatikan lalu memeriksakan handphone ku yang lama karena tidak pernah di gunakan lagi sejak nge lag nya parah.
Aku mencas handphone ku dengan power bank dan menemukan banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang tak kukenal.
"Siapa nih?"
Guman ku pelan dan kelewat santai lalu saat aku perhatikan waktunya itu tanggal 16 Februari, "lumayan lama" ucap ku lagi.
"Apa yang lama?"
Aisyah tiba-tiba bersender sambil melihat isi handphone ku "oh no tak dikenal", ucapnya setelah asal menyerobot untuk melihat isi HP ku.
Dia bakalan mengulurkan sumpit yang berisi dimsum ke dalam mulut ku, untuk menutup mulut ku dari omelan yang akan ku lontarkan karena kelakuan nya yang sembrono.
"Gak penting kan hapus kek!"
Ucap nya sambil terus menyuapi ku secara membabi buta berganti gantian untuk semua jenis makanan yang di pesan.
Hah.... Kau sih kebanyakan beli dimsum sih, lauk nya jadi keliatan dikit karena kebanyakan dimsum yang harus di taruh di kulkas.
"Nge...du..mel gue yang bayar..."
Ucap ku dengan mulut penuh, dia menutup mulut ku dengan telapak tangan nya "kalo ngomong telen dulu napa?"
"Alah sendiri nya"
"Huh....."
Dia memasang wajah ngambek sekarang dan melanjutkan makan nya yang tertunda karena menyuapi ku, akhirnya mataku kembali beralih terhadap telfon dari nomor asing itu.
"Siapa ya? Kan kalau penipu mana mungkin berani menelfon di awal awal menipu?"
Pikirku berat, aku kembali menaruh handphone di sebelah ku dan kembali memakan makan makanan yang telah di sajikan di piring, sampai tiba-tiba Aisyah yang sedang asik makan memulai percakapan lagi,
"Lu mau datang lagi tanggal 16?"
"HM....??"
Aki berfikir sejenak karena tidak mengerti apa yang ia bicarakan, "ih jangan pura-pura sok lupa, kamu kan biasanya pergi ke tempat itu meskipun tanggal nya 1 atau 6"
"Memangnya kemana sih?"
"Ya, ke makam keluarga mu lah"
"Oh.... Iya ya"
"Dih apa apaan mendadak amnesia?, hahaha" dia tertawa di buat buat karena bisa bisa nya lupa tanggal itu padahal aku selalu depresi karena tanggal itu dan selalu mengamuk yang berujung di bawa oleh nya ke makam keluarga ku.
Aku memasang raut wajah sedih dan dia dengan segera menepuk pundak ku dengan kencang "gak usah melow melowan lagi gue capek nangis"
Ingat nya, akhirnya aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan nya, "oh ya ngomong ngomong tuh tanggal dan bulan di panggilan tak terjawab hp lu yang lama kenapa bisa pas gitu ya?"
"Pas sama apa?"
"Itu tuh.....brem..... Brruk.....duar...!"
Dia berkata begitu sambil menirukan suara mobil yang sedang berjalan kemudian menabrak dan meledak, dan seketika aku tersadar kalau tanggal dan bulan nya pas sekali waktu kecelakaan keluarga ku.
Aku dengan buru membuka handphone lama ku yang tergeletak disebelah kanan ku dan melihat ternyata waktu saat nomor tidak di kenal ini menelepon adalah waktu yang pas dengan kejadian pas beberapa menit setelah dan sebelum kecelakaan.
Seketika tangan ku bergetar pertanyaan pertanyaan mulai bermunculan di kepalaku "siapa ini? apakah ada saksi mata yang ingin menolong tapi karena tidak ku jawab dia malah pergi?"
"Atau keluarga ku yang ingin memberikan kabar akan datang dan ingin bertanya arah jalan yang benar sekalian membetulkan ban mobil yang kempes?"
Tapi karena aku tidak menjawab mereka malah melewati jalan yang salah padahal ban mobil nya telah kempes dan pecah saat melewati tikungan yang tajam rem tidak bisa menahan dan malah menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang seperti keterangan polisi.
"Ha....ha..... Itu semua karena diriku juga ha.... ha.... Itu karena diriku.... Haaaa!!!!"
Aku menangis kencang, bahkan menjatuhkan HPnya, Aisyah dengan cepat memengang pipiku lalu menepuk nepuknya dan bertanya,
"Kenapa ti.....? Lu jangan nangis bilang dulu kenapa?"
Aku yang masih kepikiran dengan nomor telepon yang tak dikenal itu tidak bisa menjawab pertanyaan nya dan Aisyah berinisiatif untuk mengambil handphone lamaku dan memeriksa nya.
Lalu dia menemukan sebuah keganjilan di panggilan itu "jam nya!!!???....." Dia berkata seperti itu dengan nada yang syok dan aku yang mendengar nya semakin keras menangis.
Karena Aisyah orang yang penasaran ia dengan cepat menelpon nomor itu dan terdengar suara nada dering dari handphone Brian, dia coba berulang ulang dan benar saja itu adalah nomor dari handphone Brian.
Aku menangis sangat kencang sampai dadaku terasa sesak dan nafas ku terengah-engah, dia dengan panik membantu ku untuk tenang dan bernafas pelan pelan.
Setelah aku stabil aku menyuruh nya untuk menulusuri notifikasi dari panggilan tak terjawab itu dengan isyarat, akhirnya Aisyah mulai menelusuri nya.
Di mulai tanggal 16 Februari itu dan menemukan ada 20 panggilan tak terjawab, dan 5 SMS, juga 2 pesan suara tapi yang paling menarik adalah sebuah video.
Aku ingin membaca pesan 5 itu tapi mataku tidak bisa di ajak kompromi karena terus menangis dan semua yang terlihat jadi buram.
"Sy....Syah..... Ba....bacain... SMS..... ce... cepetan!...."
Dia dengan cepat membaca isi pesan nya satu persatu, yang ternyata seperti tebakan ku kalau Rangga yang menyetir tidak tahu jalan dan menyuruh Brian untuk menelfon.
Tapi karena handphone Brian itu pernah rusak karena terjatuh dan semua nomor nya terhapus dia tidak pernah masukkan no ku lagi, jadi ia lupa dan hanya ingat nomor ku di handphone yang lama.
Akhirnya ia tetap menelfon tapi tetap saja tidak terjawab, dan mungkin Rangga nanya "kenapa gak di bales bales?" Dan di kasih tahu dia lupa nomor ku yang itu.
Lalu Rangga berkata "kan no itu udah gak di pake lagi sama mama wajar gak dijawab kan ada dirumah" jadi nya di SMS ini dia pake emoticon ketawa lalu disusul pesan 2 suara.
"Ayah ngomel ngomel mah....., Paman Dimas cuma ketawa kalau kakek nenek cuma senyum kasian ke aku, ya gimana geh.... HP ayah nya di masukin koper, ribet kalau mau berhenti dulu terus nelpon..., kalau hp paman ketinggalan barusan banget di pom bensin rest area tanggung aja kalau balik lagi udah jauh, kalau nenek kakek sengaja gak di bawa hpnya dari rumah"
Pesan suara berhenti sampai di situ lalu Aisyah menatap hpnya lama karena ragu ragu untuk melihat video yang terakhir.
"Yang tersisa hanya tinggal videonya apa kau siap Tia?"
Tangisanku lumayan reda lalu makin mendekat ke arah nya agar lebih memudahkan ku untuk melihat video nya, karena mataku yang masih buram.
Aisyah menekan tombol play dan tampak lah gambar Brian di layar hp itu,
"Tes tes tes....., Halo mah liat nih kita masih dijalan" ucap Brian sambil menghadap kan videonya ke arah depan
Tampak jalan gelap di luar kaca mobil depan dengan kondisi kaca yang basah dan berkali-kali di bersihkan dengan alat penghalang buram saat hujan.
Tidak ketinggalan kelihatan di video itu di kursi kemudi Rangga yang sedang sibuk menyetir sedangkan di kursi sebelahnya ada Dimas yang menengok ke belakang dan melambaikan tangan ke video.
"Udah matiin videonya ngapain di kirimin ke no hp yang gak di pake mama" ucap Rangga menengur
"Kenapa sih ayah... Kan kenang kenangan" balas Brian singkat
Di situ aku tersenyum sedih karena video ini benar benar menjadi kenangan terakhir dari mereka, lalu video berputar ke kanan Brian dan terlihat disebelah nya adalah ibu ku.
Lalu beliau melambaikan tangan juga dan kamera berputar ke arah kirinya dan bapak yang hanya mendengus dingin dan memalingkan wajah dari kamera.
"Hahaha kakek stundre nih mirip mama" ucap Brian didalam video
Bahkan saat mereka mengobrol seperti itu suara derasnya hujan juga terdengar di dalam video ini.
Setelah itu kamera menghadap nya lagi Brian dengan genit mengedip ngedipkan matanya dan memberikan ciuman dari jauh, sampai ibu tertawa dan berkata.
"Kamu kenapa nak kayak ngengodain cewek aja"
"Ya kan ini video nya buat mama"
"DUAR!!!!"
"CITTT....."
Tiba-tiba suara ban meledak dari arah belakang membuat mobil sedikit oleng tapi masih bisa di kendalikan oleh Rangga, dengan menjalankan nya menggunakan kecepatan siput.
"Rangga cepetan nepi dulu" ucap ibuku yang panik
"Tapi mah ini tikungan tajam, udah hujan deres lagi"
Balas Dimas ikut tenggang
"Kita akan menepi setelah belokan ini" ucap Rangga menenangkan hati semua orang yang panik
"Awas ayah!!!!"
Teriak Brian panik karena melihat bus yang melaju kencang dari kaca spion, Rangga dengan cekatan mengendalikan mobil agar tidak oleng dan bisa menghidar dengan baik.
Bus itu dari arah belakang yang tiba-tiba menyelip padahal sedang berada di belokan yang curam, tapi sekali lagi mereka bisa selamat karena ketangkasan Rangga.
Aku yang menonton nya juga merasa mati lemas karena, aku bahkan tidak sempat memperhatikan raut wajah Aisyah karena tenggang saat melihat video ini.
"Tenang aja selama papa yang nyetir kalian semua bakal a...."
"Brukkkk!!!!!!"
"Aaaaaagrrrrh!!!!"
"Brak brak brak!!!!"
Aku menutup mataku dengan telapak tangan karena gemetar dengan suara teriakan mereka, Aisyah yang tahu kondisi ku mempause video nya dan melihat kondisi ku yang sekarang bergemetar hebat.
"Tia..... Udah ya kita lanjut besok aja..."
Aku menggeleng cepat karena ingin melihat video itu sampai selesai,
"Tapi keadaan mu....."
Dia menatap ku dan aku membalas nya dengan tatapan marah dan akhirnya ia menyerah sambil berkata "kamu harus tenangin diri dulu baru kita lanjut lagi oke"
Aku mengangguk setuju dan mulai terbayang setelah melihat video tadi Rangga tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena tiba-tiba dari arah depan sebuah kontainer muncul dan menyenggol sedikit badan mobil yang oleng.
Bahkan lampu Hazard dari kontainer itu terlihat sangat redup jadi mereka sama sekali tidak menyadari kontainer itu dan alhasil malah menyenggol pelan mobil.
Tapi masalah nya mobil dalam keadaan ban betus, dan hantaman kecil itu menyebabkan tidak terkontrol nya mobil meskipun telah menggunakan rem.
Jadi mobil menabrak pembatas jalan dan lompat kejurang, aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas keadaan mereka karena handphone terbanting ke kamana mana meskipun telah di peluk dengan kuat oleh Brian.
Dan yang terdengar jelas adalah suara teriakan panik mereka, badan ku kembali merinding seberapa takut nya mereka saat itu aku tidak bisa membayangkan nya.