
POV author
Florence termenung di dalam kamar nya, dia tidak bisa tidur karena perlakuan Duke yang sekarang mengacuhkan nya.
Kenapa....?
Kenapa dia begini lagi.....
Tanpa sadar air mata mulai mengalir melewati pipinya dan cepat cepat dia usap, karena mendengar suara ketukan pelan di jendela.
"Siapa itu!"
Ucap nya mengancam meskipun nada suaranya hampir serak karena tiba-tiba menangis,
"Ini aku"
Balas orang itu yang sangat ia kenal suaranya Nathan,
"Oh... Kamu di sini?"
Lanjut Florence dan membuka jendela lebar lebar, dan menemukan END sedang bersandar di pagar,
"Anda menangis lagi?"
Tanya nya tiba-tiba,
"Memang nya kau tahu apa?"
"Anda sering menangis karena lelaki itu kan?"
"Kalau ya memang nya kenapa?"
Balas Florence sedikit kesal, kenapa anda tidak membuang nya?,
"Dirimu kan cantik, berbakat, hebat, pasti lelaki manapun akan dengan senang hati mencintaimu"
"Jangan ikut campur END!!!"
"Kan aku hanya menyarankan"
Balas Nathan sambil mengangkat bahu, "terserah bagi mu untuk menjauh dari nya atau terus berada di sisinya"
"Yang makan hati kamu kok"
Florence terdiam dan Nathan melanjutkan dengan berkata "aku tidak ingin berbasa-basi dengan mu intinya aku ke sini untuk menyampaikan berita"
"Berita?"
"Ya, Santeinss akan muncul"
"..... "
"Apa kau tau Saintess itu apa?"
"Ya, seperti nya aku tau kurang lebih"
"Kukira kau tak tau"
"Terus intinya?"
"Kau bisa kembali ke dunia mu"
Seketika wajah Florence mengeras sambil berkata, "apa maksud mu tentang itu?!"
"Aku menyarankan untuk mu pulang"
"Cih..... Hahaaha, kamu sangat lucu nathan, kenapa kau sangat ingin mengusir ku HAH!!!?"
"Lagi pula kau tak bahagia di sini, jadi untuk apa kau bertahan? Seseorang pasti menunggu mu di sana"
"Semua keluarga ku di sini!!!"
Teriak nya dengan keras, tapi untung nya nathan telah membuat tempat itu menjadi kedap suara, jadi suara teriakan Florence sama sekali tidak terdengar,
"Itu terserah dirimu aku hanya menyarankan ide kepada mu, intinya Saintess akan muncul saat ulang tahun raja nanti, dah.... aku akan pergi"
Ucap nya sambil menghilang kan pelindung suara lalu melompat keluar dari pagar, dan Florence hanya menatap nya kesal.
........
POV Destiana
Tak terasa hari berlalu begitu cepat saat ulang tahun raja akan diadakan besok, aku ragu-ragu untuk minta tolong Edward untuk ikut denganku agar hadir di acara itu.
Dan karena kita sedang dalam hubungan yang renggang sekarang, tapi Marry Liona dan red sudah mewanti-wanti dari kemarin untuk segera meminta Duke menjadi pasangan saat ke pesta.
Tapi sekali lagi aku terlalu segan dan merasa tak enak karena kita yang seperti ini, Padahal Jika boleh aku ingin menolak undangannya saja.
Tapi ini adalah pesta yang diwajibkan bagi seluruh bangsawan di kerajaan ini, dan sangat susah untuk memiliki izin agar tidak bisa hadir...., jadi mau tidak mau aku harus mengikutinya.
Akhirnya malam ini Aku memberanikan diri untuk pergi menemuinya, seperti biasa dia tidak mengikuti makan malam, jadi aku langsung menuju ke kamarnya karena Edward menjadi lebih sibuk di kantor sekarang.
Sebab kejadian Franks yang tidak mungkin bekerja dan aku tidak ingin mengganggu saat dia bekerja jadi waktu yang tersisa untuk membuat permohonan adalah ke kamarnya larut malam.
"Tok Tok Tok...."
Aku mengetuk pintu pelan, tapi tidak ada jawaban setelah menunggu beberapa menit aku memutuskan untuk membuka pintu itu secara perlahan, karena ini adalah waktu terakhir agar aku bisa membuat permintaan.
Diriku menemukan sebuah meja dengan beberapa dokumen menumpuk di atasnya dan juga Edward yang tertidur pulas secara tidak sengaja sambil memegangi pena.
Mungkin...., karena kelelahan sampai dia tertidur, dan tiba-tiba saja rasa amarahku hilang karena dia menjauh kan ku juga semua negosiasi yang aku pikirkan untuk pergi bersama Edward besok ke pesta hilang.
Aku mendekatinya secara perlahan dan menatap wajahnya secara lekat-lekat,
Dejavu.....
Dirinya saat itu sangat mirip dengan Rangga Yang kelelahan jika deadline nya menumpuk, tiba-tiba mataku terfokus pada bayangan itu, aku maju dengan perlahan dan ingin mengusap kepalanya yang tertidur pulas.
Tapi seketika aku tersadar kalau dia yang sekarang itu adalah Edward dan tanganku yang hampir menyentuh rambutnya tadi kembali ku tarik.
Seketika perasaan aneh menjalari hatiku dalam beberapa menit tapi keinginan ku untuk menyentuh nya lebih besar, jadi aku berkata pelan,
"Sekali Ini Saja aku akan menganggap mu sebagai rangga"
Lalu aku mencari kursi yang tingginya sepantaran dengan kursi miliknya di dalam kamar, dan setelah ketemu aku menyeret kursi itu secara perlahan untuk berada di hadapan meja kerjanya.
Setelahnya aku duduk di kursi itu dan menatap wajahnya yang tertidur lelap tiba-tiba saja diriku ingin bernyanyi lagu yang sedih dan sebuah lagu terpikirkan di benakku lalu mulai menyanyikannya.
"Pernah ada...
Rasa cinta
Antara kita
Kini tinggal kenangan.....
Huppp haaah.....
Aku menarik nafas sebentar karena mata ku terasa panas, dan melanjutkan
Ingin ku lupakan...
Semua tentang dirimu...
Namun tak lagi kan seperti dirimu Bintangku...
Tangan ku tanpa sadar sudah mengelus rambut nya secara perlahan sambil terus bernyanyi
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Di sini aku merindukan dirimu
Ingin kucoba mencari penggantimu namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih
Tes tes tiba-tiba air mata ku turun, aku mencoba menyeka nya tapi itu malah semakin banyak sampai tidak bisa ditahan dan akhirnya tangis ku pecah saat itu.
Aku memutuskan untuk segera keluar dari kamarnya tapi tiba-tiba saja tangan milik Edward yang tadi menopang kepalanya di atas meja untuk tidur, sudah menggenggam tanganku yang hampir ingin bangkit dari kursi dengan erat.
Lalu dia mengatakan dengan nada dingin,
"Rangga itu siapa?"
Diriku terkejut karena dia terbangun, bagaimana bisa? dan Sejak kapan? Padahal aku rasa dia benar-benar sudah tidur pulas tadi, apa mungkin dia berpura-pura tidur saat aku mengetuk pintu?
"Rangga siapa?"
Tanya nya yang mengulangi pertanyaan tadi, aku panik dan ingin segala pergi dari sini tapi saat aku berusaha untuk menarik tangan ku yang digenggam, pegangan nya lebih kuat sampai aku sedikit kesakitan dan tidak bisa melarikan diri.
"Siapa Rangga?"
Tanyanya lagi, seketika pikiranku tidak fokus dada ku terasa sesak pada akhirnya semua kesedihan ku keluar lalu berteriak dan menangis,
"ITU KAMU RANGGA!!!!"
"Itu kamu Rangga....., tapi kenapa? tidak seperti dia?"
"Kenapa kalian menjadi orang yang berbeda?"
"Kenapa kau memperlakukan kan ku seperti itu?"
"Menyingkirkan ku dengan kejam"
"Mengucilkan ku... "
"KENAPA! KENAPA! KENAPA?!!!!"
Tanpa sadar tanganku sudah terlepas dari genggamannya dan langsung menutupi wajahku yang menangis dan sebuah pelukan hangat datang dari Duke aku berusaha memberontak sambil berteriak,
"LEPAS!!!"
Tapi dia terus memelukku erat dan berkata maaf berkali-kali dan aku terus meracau dengan berkata,
"Aku lelah...."
"Hati ku gak sanggup Nga..."
"Tolong jangan begini..."
"Aku capek"
"Kemana kamu yang dulu?"
"Hiks.... Hiks.... "
Pada akhirnya diri ku mulai tenang dan menyerah untuk memberontak, dia mengusap usap kepala ku dengan lembut dan berkata,
"Sebagian mimpiku selalu bercerita tentang seorang pria yang mencintai seorang wanita, mungkin memang benar Rangga yang kau maksud itu adalah aku tapi aku masih menganggapnya itu adalah Ingatan orang lain"
"Tapi yang pasti hati ku sekarang telah di rebut oleh mu, jadi Maukah kau memberi ku kesempatan terakhir untuk belajar mencintaimu?"
Wajah kami saling bertemu dia dengan lembut mengusap air mataku yang masih mengalir, aku berpikir sebentar untuk kata-katanya dan memutuskan untuk menerimanya terakhir kali.
Aku mengangguk sebagai jawaban atas permintaannya dan dia tersenyum membalasnya lalu kami berciuman, tapi ciuman itu tidak terlalu lama setelah aku sudah lumayan tenang,
Aku berkata dengan suara tegas yang tidak main main,
"Ini yang terkahir Duke, jika kamu mengulanginya lagi aku benar-benar akan menghilang"
Dan dia mengangguk yakin lalu kembali memeluk ku, dan pelukan itu terasa seperti penghangat di musim dingin, penyejuk di musim panas dan indah di musim gugur.
Aku harus berterimakasih kepada nathan karena setelah di pikiran kan perkataan nya secara mendalam seharusnya aku tidak boleh diam saja dan menunggu.
Karena sifat ku ini yang haus perhatian tapi mereka yang berubah membuat diriku marah, tak menerima kenyataan dan selalu merasa menjadi yang paling tersakiti.
Memang seharusnya aku bilang langsung apa yang ku mau ke Edward dan Albert, dan itu terserah mereka untuk menerima nya atau tidak.
Toh... yang penting aku sudah bilang dan berusaha tinggal takdir yang menentukan.
Lalu pelukan itu di lepas meski hanya sebentar tapi perasaan bahagia ini terus ada di dalam hati ku, dia menatap wajah ku dengan lekat lalu bibir nya mulai terbuka dan berkata.
"Bisakah kau tidur malam ini di sini? Sambil bercerita tentang aku (Rangga) dan dirimu, juga semua tentang mu?"
Aku mengangguk kecil lalu dia menuntunku ke ranjang kami berdua tidur di kasur tapi Edward menopang satu tangannya sebagai penyangga kepala untuk menghadap ku.
Dan aku berbaring miring ke arahnya,
"Oh ya sebelum itu...., aku ingin meminta sesuatu kepadamu...."
Ucapku cepat, lalu dia menaikkan satu alis nya bertanya-tanya apa itu, tapi dengan cepat menjawab.
"Apapun itu akan aku kabulkan"
Balasnya yakin, aku sedikit tertawa lalu membalas,
"Maukah kamu datang ke pesta ulang tahun Raja bersamaku?"
"HAHAHA......"
Dia tertawa lepas tak menyangka permintaanku seperti itu, mungkin dia mengira aku menginginkan sesuatu yang mewah atau mahal, dan segera menjawab
"Tentu saja aku akan pergi denganmu...., mana mungkin aku pergi dengan orang lain..... "
"Baiklah jadi dari mana aku harus mulai bercerita?"
"Terserah kamu, tapi aku mau kamu cerita tentang awal pertemuan kita"
"Awal kita bertemu ya? Jadi mungkin kita bertemu sejak Sekolah SMP"
"SMP?"
"Sekolah menengah pertama"
Ucap ku menjelaskan singkatan nya, dan mulai memberi penjelasan yang panjang,
"Jadi di sana banyak lembaga pendidikan seperti Pada tingkat bermain, contohnya taman kanak-kanak (TK), umumnya anak bisa sekolah mulai usia 4 tahun"
"Sementara untuk sekolah dasar (SD) yang wajib, usia anak untuk mulai sekolah anak paling tidak sudah masuk 6-7 tahun"
"Di lanjut ke sekolah Menengah Pertama di mulai dari usia 12-13 tahun, berlangsung selama 3 tahun (kelas 1 sampai 3 SMP), hingga anak berusia sekitar 15-16 tahun"
"Sekolah Menengah Pertama di mulai dari usia 15-16 tahun, berlangsung selama 3 tahun (kelas 1 sampai 3 SMA), hingga anak berusia sekitar 18-19 tahun."
"Wow!!!, pasti di sana orang-orang yang sangat pintar, apalagi bisa menciptakan benda-benda keren seperti buatan mu."
"Hahaha...., gak juga...., pokoknya saat itu kita bertemu karena kita satu sekolah dan sifatmu itu sangat berbanding terbalik dengan yang sekarang"
.........
Flashback on
POV author
"Ting Ting Ting..."
Suara Bel istirahat berakhir mulai berbunyi, murid-murid yang sedang makan di kantin atau bermain di luar kelas dan di seluruh penjuru sekolah mulai kembali ke dalam kelasnya masing-masing.
Destiana yang telah menghabiskan bekalnya mulai bergegas menuju ke kelas nya, dan sejak dia SMP dirinya sering makan sendiri.
Karena dia merasa tidak cocok untuk bergabung ke dalam circle manapun, lagi pula wajah dan badannya yang tidak tergolong bagus membuatnya sedikit rendah diri dan memutuskan untuk selalu sendirian.
Tapi saat perjalanan menuju ke kelasnya ia tanpa sengaja harus melewati tiga orang laki-laki yang sedang mengelilingi seorang anak laki-laki yang terlihat culun dan memakai kacamata.
Ia mempunyai bintik-bintik di wajahnya dan menunduk ketakutan di hadapan mereka bertiga, aku mencoba tidak peduli dan terus berjalan menjauh tetapi suara percakapan mereka terdengar.
"Hei kau bocah culun!"
"Mana uangmu sini!"
"Berikan pada kami!"
Ucap mereka secara bergantian.
"Iya cepat nih! udah Bel!!!"
Desak salah satu nya.
"Lu mau kita gaplok bareng-bareng?"
Ancam yang lain.
"Lu nggak ngasih bayaran nya?!!! "
Tanya kasar yang berdiri di tengah.
"Maaf Bang tapi... tapi Ini uang terakhir saya sampai bulan depan"
"Halah peduli amat Gue sama uang apa kek! atau buat kek!"
Ucap pria yang berada di tengah dan langsung merebut Amplop yang berisi uang anak culun itu, sementara orang nya mulai menangis dan memohon mohon.
"Tolong Bang...."
"Tolong sekali aja...."
"Saya janji kalau bulan depan saya bakal bayar!"
"Halah lu banyak bacot!"
"PLAKK"
Seketika suara tamparan menggema di halaman yang cukup sepi, karena mana mungkin orang dari kelas yang cukup jauh dari tempat ini bisa mendengarnya.
Dan juga tempat ini cukup tersembunyi, dan kenapa Tia bisa pas-pasan melewati halaman ini karena dia makan di bangku taman di belakang sekolah yang jarang sekali di kunjungi, sebab banyak desas-desus yang beredar seperti hantu atau sebagai nya.
Dan halaman ini menjadi satu-satunya yang pas untuk melakukan hal-hal Bullying dan juga pemerasan, seketika darah Destiana menjadi mendidih karena perlakuan para pria itu terhadap anak culun.
Dia langsung berteriak ke arah mereka dengan keras, "WOI!!!, SETIDAKNYA LU KALAU MAU MALAK JANGAN PAKAI" KEKERASAN"
"Hah?!! apa-apaan sih cewek jelek ini?!!!"
Ucap salah satu dari mereka yang Desiana tahu adalah Bajingan nomor 2 di geng nya dan ketua nya berada di tengah lalu sebelah kiri nya adalah Bajingan no 3.
"Udah udah lu Jangan banyak bacot cepet balikin uang anak itu sebelum Gua laporin ke GURU BK!!!"
(Guru Bimbingan Konseling)
"Hah!!! berani-beraninya bocah gendut ini meremehkan kita!!!"
"Iya Iya Betul" ucap para bawahannya kompak.
"Oh Jadi kalian nggak mau dengerin ya baiklah lo bakalan tahu akibatnya"
Ucap Destiana tegas yang segera ingin pergi menuju ruang Kepala Sekolah tapi mereka bertiga dengan cepat mencegahnya,
"Lu main-main sama geng yang salah cewek!!!"
"Udah jelek gendut lagi lo tuh cewek apa babi sih?"
Ucap orang nomor 3 sambil menunjuk-nunjuk jarinya ke dahi tia
"Lo nggak tahu ya kalau ngusik kita ini pasti kehidupan SMP sama SMA lu nggak akan tenang!!!"
Teriak mereka serempak seperti anjing yang ketakutan, yang hanya bisa menyerang secara serempak.
"Hah...!!!"
Seketika Tia menghela nafas kasar lalu berkata ke anak culun itu
"Woi lu, punya HP nggak?"
Dia sedikit terkejut lalu mengangguk secara ketakutan.
"Cepet video ini biar jadi bukti!"
Dengan cepat ia mulai mengeluarkan HP dari tas nya meskipun tangan nya yang terus begetar mencoba mengambil hp dan mulai merekam.
Tapi orang 02 ingin mengambil hp-nya dan melemparnya hingga hancur, tapi dengan cepat aku menangkap nya dan membantingnya ke belakang.
"BRAKK!!!"
Dia terbanting cukup keras sambil berteriak kesakitan
"Anjing lu babi!!! Sakit Bego!!! Agrrrhhhh"
"Kok bisa?"
Ucap orang 03 yang masih terlihat kaget dengan apa yang Tia lakukan barusan kepada teman nya, sementara sang ketua langsung menyuruh orang ketiga itu maju bersama-sama dan menyerang Destiana.
Tapi dengan cepat dia berhasil memblokir serangan mereka dan melempar kan mereka ke tembok, lalu berkata.
"Udah cukup?"
Sambil membersihkan tangannya seperti habis memegang Debu lalu matanya beralih ke anak culun itu, dia melirik amplop uang yang diambil oleh ketua geng dan merebutnya.
Lalu dia berjalan ke arahnya dan menyerahkan amplop itu sambil berkata, "Lain kali uang lu dijaga"
Setelah itu tia Meminta video rekaman tadi untuk dijadikan bukti dan akan Ia berikan kepada guru BK dan pergi meninggalkan keempat pria itu.
...........