
Aku melihat ke bawah pohon, telapak kaki hewan buas di jalan yang becek benar benar terlihat jelas.
"Ini jam 9 malam kurasa" pikir ku sendiri sambil memandang langit
"Huuuu, aku akan tidur di atas sini saja" Gumamku sambil mencari tempat duduk yang nyaman di dahan yang besar.
Baru beberapa menit aku bisa tertidur, tiba tiba saja
"Grrrrr!!!"
Aku melihat kebawah dan hampir melompat karena kaget karena seekor singa berusaha memanjat pohon yang sedang ku tempati.
Dia di temani dengan macan macan perempuan karena lebih terampil memangsa, aku langsung mencari jalan keluar dengan melompat kedahan pohon terdekat dari ku.
"Hap!!!"
Aku berhasil mencapai nya dan mulai naik ke atas, singa yang melihat ku lompat ke pohon lain, berpindah tempat dengan istri istri nya ke bawah pohon yang aku lompati tadi.
"Sial lan!, jika terus begini aku akan kelelahan!"
Tubuh Florence benar benar lemah, aku tidak yakin bisa melawan kawanan singa itu sendirian kecuali membunuhnya dengan racun.
Saat Florence bersiap untuk menggunakan kipas nya, tiba tiba saja tanpa ia sadari seekor macan berhasil naik di pohon yang sebelumnya Florence tempati.
Dan macan itu sedang bersiap untuk mengambil ancang-ancang lalu melompati dahan yang berada tepat di atas nya dia.
Untung saja ia mempunyai insting yang bagus dia langsung berpindah pohon dengan melompat terus tanpa henti bahkan arah jalan pulangnya sudah melenceng jauh.
Dan dengan beberapa kesempatan ia berhasil menyerang singa dan macan macan itu yang akhirnya bergelimpangan mati terkena racun.
Florence mengambil nafas banyak banyak ia sangat kelelahan, kakinya bergetar lemas menyebar ke seluruh tubuh nya.
Matanya tidak bisa di ajak kompromi lagi agar terjaga,
"Hah.... Hah..... Sial!!!"
Aku ingin istirahat tapi tidak bisa, dengan keadaan hutan yang di penuhi binatang buas, kalau memaksakan diri aku bisa saja mati.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di dahan yang paling tinggi di atas pohon, lalu memejamkan mata dengan insting yang masih menyala.
Bahkan senjata ku masih tetap di pengang untuk berjaga jaga, saat waktu telah lewat beberapa jam aku memperlonggar pengawasan ku.
Dan tanpa sadar seekor serigala tepat berada di depan mata ku, saat terbangun, aku refleks menyodorkan belati ku untuk menyerangnya.
Tapi ia lebih gesit dari ku yang langsung melompat dan menunjukkan cakarnya, demi menghindari cakaran nya aku menghindar ke samping lalu terjatuh.
Pohon itu sangat tinggi, aku berusaha untuk jatuh dengan mengurangi hantaman dengan tanah, dengan memutar balik badan, di batang pohon saat terjatuh.
Agar kepala ku tidak mengalami gegar otak yang parah karena benturan, dan dengan beruntung aku hanya terkilir saat sudah sampai di tanah.
Aku merasa sakit di kaki ku, dan mencoba untuk bangun lalu lari, tapi saat itu aku melihat si serigala, menatap geram kepada ku karena berhasil lolos dari serangan nya.
Dan bisa turun dengan selamat dari pohon yang tinggi ini, dia mulai mengambil ancang-ancang dan ikut melompat, aku mencoba untuk bangun tapi rasa pusing menyerang kepala ku.
"Hah.... Hah.... Sialan"
Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena rasa pusing dan lelah yang menjadi satu, pandangan ku mulai buyar, sekilas aku melihat serigala itu semakin mendekat dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
................
"Ini dimana?"
Aku bertanya tanya sambil melihat ke sekeliling tempat ku berada, hanya ada warna putih tidak ada apapun,
"Apa aku mati lagi?" Pikirku cepat
"Hahaha....., Kau lucu Destia"
"........!!!!!, Siapa itu!??", Balas ku tidak tahu siapa yang tertawa.
"Aku di sini....."
Lalu saat aku melihat ke sekeliling lagi, sudah ada seseorang yang berada di belakang ku sambil meminum cangkir yang berada di teh.
Dia duduk di atas bangku dengan meja yang di atas nya tersedia cangkir dan teko yang berisi teh hangat, dari pada aku terkejut dengan meja dan lainnya yang muncul tiba-tiba aku lebih penasaran dengan orang ini.
Karena dia adalah.......
"Florence???!!"
Ucap ku dengan nada bingung, sambil mengedip beberapa kali untuk memastikan kalau orang itu adalah Florence.
"Ya, kau benar, kalau begitu mari kita berbincang sejenak sebelum kau sadar"
Dia menjawab ucapan ku sambil menengok kearah ku dan tersenyum ramah, aku yang melihat senyuman itu langsung tau ada yang tidak enak dari senyuman nya.
Karena meskipun ia tersenyum, aku merasakan sesuatu dari senyuman nya yang sengaja terlihat tulus.
"Itu senyuman yang cukup jahat Florence......." Ucap ku sambil berjalan mendekati nya.
"Ha???, Kau berfikir begitu Destiana, kau sungguh kejam" dia memasang wajah seperti itu lagi, saat aku sampai sebuah bangku muncul di dekat ku dan dia menyuruh ku duduk dengan isyarat matanya.
"Sudah cukup basa basinya apa mau mu? Tanya ku cepat
"Aku??, Aku tidak mau apa apa darimu"
"Hah!!, aku tidak percaya dengan orang yang telah menyerahkan tubuhnya sendiri!, Apalagi menurut Dianna kau adalah orang jahat!"
Aku mendengus tidak percaya, lalu melanjutkan,
"Kukira kau tidak bisa menampakkan diri lagi, tapi tiba-tiba kau datang adahal kau sudah menyerahkan tugas untuk ku membalas kan dendam mu, apa itu saja belum cukup?"
"Sudah ku bilang aku kesini bukan untuk kepentingan pribadi ku, dan bicara mu sangat tidak sopan dengan seorang yang berkedudukan tinggi"
Setelah ia berkata, Florence dengan elegan menyeruput teh nya, aku kesal dan membalas.
"Hah?? Memang nya kau siapa di dunia mu?"
"Kau tidak akan percaya jika aku menyebut kan nya, karena aku adalah raja yang paling terkenal dan di takuti di seluruh dunia ku, sang pemilik sihir paling tinggi dan kuat yang jarang ada di dunia ku, si jenius yang langka, dan juga pemilik pedang legenda"
Nada suaranya terdengar sombong, aku berfikir di dalam hati "terlihat sekali bahwa orang itu congkak!!!"
"Oh begitu pantas saja kau mempunyai dosa yang besar" akhirnya aku membalasnya dengan nada meledek.
Dia terlihat kesal tapi di tahan nya dengan baik, aku rasa kemenangan di pihak ku, akhirnya dia menghela nafas berat lalu menatap dengan malas kepada ku.
"Ya, aku menyerah..... Pokoknya Tia, kau harus menerima Nathan saat ia bersumpah kepada mu"
"Apa apaan permintaan mu!!!, aku tidak suka seseorang yang mempertaruhkan nyawanya demi diriku"
"Sudah terima saja, aku tau kau orang yang tidak peduli akan sekitar nya, makanya tuhan sedang menghukum mu melalui renkarnasi ini"
"Apa maksudmu!!?"
Aku dengan mudah terbawa emosi sampai tidak menyadari kalau meja didekat ku mulai menghilang.
"Oh sudah waktunya"
Dia menaruh gelas nya ke atas meja yang sedari tadi ia pegang dan seketika itu juga teko dan gelas menghilang.
Dia berdiri, aku ikut ikutan berdiri, lalu tanpa sadar mendekati nya dan bangku yang kita duduki langsung menghilang.
"Ini pesan dari ku, jaga Nathan baik baik dan manfaat kan dia, lalu kita mungkin akan lebih sering bertemu mulai sekarang!"
Ucap nya dengan senyuman yang terlihat cukup baik, lalu tiba-tiba saja, ia menyentil dahiku dan berjalan pergi, sambil berkata,
"Oh ya, aku memberi mu sedikit hadiah di tubuh mu"
"Hey!!! Tunggu!" saat aku ingin mengejar nya ia sudah menghilang, dan tempat yang aku tempati tiba-tiba terkena cahaya yang sangat terang yang membuat ku menutup mata.
Dan saat cahaya yang menyilaukan itu pergi aku membuka mata kembali, dan mendapati diriku berada di kamar yang nyaman meskipun sempit.
Aku mencoba duduk di ranjang kayu itu, dan setiap aku bergerak untuk duduk dengan nyaman ranjang itu berdecit.
"Dimana kali ini aku berada?"
Aku bertanya pada diri sendiri sambil, melihat ke sekeliling ruangan, seketika aku langsung panik jika pindah ke tubuh orang lain lagi, dan pergi ke dunia yang lainnya.
Tapi saat aku memeriksa tangan, dan rambut juga tanda lahir ku, aku merasakan perasaan yang lega karena masih berada di tubuh Florence.
"Tapi bukannya tadi malam aku diserang oleh serigala?"
Aku kembali berfikir sampai ada suara "kresek kresek"di dekat pintu, aku bersiap tapi tidak dengan gerakan seperti memasang kuda-kuda untuk menyerang.
"Siapa disana!!!?" Aku bertanya cukup kencang dan membuat sesuatu di sana ikut terkejut dan terbentur sesuatu dengan keras sampai berguling ke tempat yang terlihat oleh ku.
"Deg!!!"
Saat aku melihat sosok itu rasanya jantung ku berhenti berdetak beberapa detik karena terlalu imut, bagaimana tidak karena.
Anak kecil itu berambut biru dengan satu dari sebagian poninya berwarna putih, dia juga bertelinga serigala dan mempunyai ekor, dengan gaya yang lucu dia tergeletak di lantai kayu, karena terguling sehabis menabrak meja, saat ia sedang sembunyi sembunyi memperhatikan ku.
Saat ia merasa di perhatikan, ia mulai mengambil ancang-ancang memperlihatkan sikap ganasnya yang menurut ku berusaha untuk melindungi diri.
Tapi itu malah menambah keimutan dirinya, dan bahkan bagiku dia mirip dengan kucing jalanan yang pernah ku rawat sebelum ia mati karena penyakit saat SMA.
"Galak di awal manja di akhir, kurasa ini akan lebih mudah daripada pusi (nama kucing ku), karena ras manusia binatang bisa bicara" pikir ku sendiri lalu berinisiatif untuk mengulur kan tangan ke arah nya.
"Hey..... Kau yang menolong ku kan?"
Aku menyapanya dengan nada ramah tapi ia membalas ku dengan geraman marah, aku tersenyum kecut lalu menyadari kalau tubuh ku tidak ada luka sama sekali, bahkan yang ada di leher ku karena tergores oleh pedang Nathan.
Bahkan aku menekan ke bekas luka itu yang seharus nya ada, tapi tidak ada rasa sakit apalagi rasa kulit yang tergores di tangan ku.
"Jangan jangan, Florence menyembuhkan ku dengan sihir penyembuhan" pikir ku, anak itu dengan berani sedikit maju ke dekat ku meski pun dengan gerakan yang waspada.
Dan tanpa ku sangka sangka ia bertanya dengan nada yang kasar,
"Kau!!!, Kau, bisa sihir penyembuhan kan?!!"
"HM??"
Seketika aku bingung karena aku merasa tidak mempunyai kekuatan sihir, mungkin dia aneh dengan luka luka di badan ku yang menghilang.
"Ah itu...., Karena"
"Jangan bohong!!! aku tahu kalau kau bisa menyembuhkan luka secara langsung, bahkan kekuatan sihir mu sangat terlihat meski sedikit tapi itu sangat lah murni, jika bukan karena itu aku tidak akan pernah membawa mu kesini!!!"
Anak itu dengan cepat memotong perkataan ku, aku sedikit terkejut dengan kata kata nya yang bilang kalau diriku mempunyai kekuatan yang murni.
Padahal aku yakin kalau aku tidak bisa sihir sekecil apapun karena tidak mempunyai mana yang cukup di tubuh ku.
Mungkin ini adalah hadiah yang di berikan Florence, yang kukira cuma menyembuhkan luka ku saja tapi benar benar memberikan ku kekuatan sihir.
Oh kan manusia ras binatang bisa dengan mudah mengukur kekuatan lawan, karena bisa melihat energi mana dan sihir mereka.
Aku tersenyum miring menatap anak kecil itu, lalu berkata "kalau ya memang nya kenapa?"
"Grrrrr.......!!!!, aku mau kau mengobati seseorang!"
"Untuk apa aku menuruti keinginan mu?, Padahal kalau kau meminta dengan sopan aku bisa membantu mu loh...." Goda ku sedikit
"Kenapa???, Padahal malam itu aku tidak jadi untuk membunuh mu!" Dia berkata dengan nada protes.
"Hey!!! niat mu itu sungguh jelek sekali nak, kau tidak akan membiarkan ku hidup jika tidak punya sihir kan?"
"........"
Dan menurut Jerome, saat kita belajar ras yang ada di dunia ini lalu membahas tentang ras hewan juga, aku hampir lupa bahwa di dunia ini ada perbudakan.
Dan tentu saja anak kecil imut dan lucu seperti nya sudah seperti incaran banyak orang kaya yang gila, lalu menyiksa nya meskipun banyak yang baik karena memeliharanya dengan kasih sayang.
Tapi tetap saja hal seperti itu, tidak pernah ada di pikiran mereka (anak-anak yang di jual), dan itu seperti mimpi buruk, apalagi sikap penjual budak yang sangat jahat melebihi apapun.
Aku menatapnya dengan kasihan, akhirnya menawarkan kesepakatan.
"Hey nak!, beri tahu namamu dulu, baru aku akan menyembuhkan orang yang kau inginkan"
Dia melihat ku dengan pandangan berkaca kaca, bahkan kewaspadaan nya terhadap ku menghilang.
"Sungguh!!!?"
"Ya, kau tau kan kalau aku orang yang baik?, Bahkan kau sampai lupa harus bergerak waspada lagi terhadap ku"
Kenapa aku tahu itu?, Itu karena setiap ras memiliki kemampuan yang unik dan termasuk ras hewan, seperti yang telah kalian tahu dia bisa mengukur kekuatan lawan, bisa tahu kalau orang itu baik atau tidak dengan insting nya.
Tapi itu semua tetap tergantung dari seberapa murni darah keturunan mereka, dan aku berterima kasih pada Jerome yang mengajarkan ku dengan sungguh sungguh.
Dia terkejut lalu memasang kuda-kuda lagi, tapi beberapa detik kemudian ia berdiri dan membalas perkataan ku.
"Ya, aku merasa kau orang yang baik, tapi ayah menyuruhku untuk tidak boleh percaya pada siapapun meskipun insting ku berkata bahwa ia baik"
"Jadi apa pilihan mu?" Aku mengulurkan tangan kepada nya.
Dia terlihat ragu-ragu tapi akhirnya mulai mendekat ke arahku dan menggenggam tangan ku, sambil berkata.
"Namaku wren, jika kau berbohong aku pasti akan langsung membunuh mu!"
"Tenang saja itu tidak akan terjadi, dan bahkan arti namamu sangat bagus, apa kau ingin tahu?"
"Hah?? Memang nya apa?"
"Arti nya si luar biasa"
...............
Sejak itu, aku di beritahu orang yang harus ku sembuhkan adalah adik angkatnya, dan kami membuat beberapa kesepakatan.
Ia sangat mencintai adik angkatnya itu, karena orang tua kandung adik nya lah yang menyelamatkan nya dari perbudakan.
Dan membuat nya hidup bahagia untuk beberapa tahun, tapi orang tua nya tidak mempunyai umur yang panjang karena penyakit parah, yang tidak pernah diobati karena masalah biaya.
Dan penyakit itu juga di turunkan kepada adiknya, dan sejak saat itu ia bertanggung jawab terhadap kesehatan adik nya, dengan cara apapun, yang bisa ia lakukan.
Dan saat aku memeriksa nya ternyata ia punya penyakit bawaan yang cukup mengejutkan dan itu lebih tepatnya seperti gen khusus dari keturunannya.
Yang biasa disebut gen CDH2, atau lemah jantung dan aku butuh dokter untuk obat nya, karena ini bukan penyakit jangka pendek, dan bisa menyebakan kematian.
Tapi ia mulai menunjukkan tanda-tanda sehat, dan aku senang dengan anak perempuan ini, karena dia sangat imut.
Karena dulu aku sangat berharap punya anak kedua perempuan, tapi keinginan itu tidak tercapai karena rahim ku harus di angkat karena kista.
"Tante...... Apa anda lelah?"
"Ah...... Maaf aku melamun sebentar tadi" aku mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum manis kepada joy
"Lebih baik ku tidur lagi" ucap ku menasihati dan menarik selimutnya untuk menutupi lehernya yang terbuka.
"Tapi Tante....., Aku tidak lelah"
"Kau butuh banyak istirahat meskipun tidak lelah!"
"UM......"
"Pejamkan mata mu dan akan aku ceritakan kisah yang seru"
"Baik"
Tidak lama setelah bercerita tentang Cinderella, Joy tertidur pulas dengan wajah tersenyum, aku yang melihatnya ikut tersenyum senang tapi karena menyadari kalau ia yatim piatu aku malah memasang senyum sedih.
"Pssstt... Hey kau! cepat keluar dari kamar!" Suara pelan tapi dengan nada yang kasar keluar dari mulut Wren.
Aku yang mendengar nya merasa kesal, dan mengeluh dalam hati, sambil membayangkan Albert dan Wren yang sering berkata kasar.
"Hah.... Ternyata ada tambahan orang yang harus ku ajarkan sopan santun"
Tanpa basa-basi aku keluar dari kamar dan saat sudah mencapai pintu aku menjitak kepalanya Wren pelan.
"Aw.... Kenapa kau memukul ku?!!" Dia dengan nada kesal protes pada ku
"Kalau berbicara dengan orang yang lebih tua gunakan sopan santun mu!, Sudah ayo kita keluar"
Tanpa banyak banyak omong aku menariknya keluar dan berhenti di ruang tengah, karena ia dengan tidak sabaran berusaha melepaskan tangannya nya dari genggaman tangan ku.
"Kau ingin berbicara apa dengan ku Wren?"
"Cih..... Apa Joy sudah sembuh" dia berbicara dengan nada acuh tak acuh, bahkan sambil memalingkan wajahnya dari ku.
"Tidak, dia belum sembuh"
"Apa maksudmu!!!, Bukannya kamu sudah berjanji akan menyembuhkan nya?"
Kedua tanganku bergerak sendiri dan menarik pipinya dengan keras karena gemas, Wren berteriak dengan keras, dan setelah selesai dia bersumpah serapah.
Dan aku menjelaskan, kalau penyakit Joy lumayan parah dan harus menggunakan dokter untuk mendapatkan obat nya.
"Bukannya kau sendiri sudah cukup!!!, Kan mana mu itu murni!!!, Kenapa kau lemah sekali sih!!!"
Dia berbicara sambil menghentak hentak kan kaki dengan cepat karena kesal, Wren tiba tiba berhenti kau menatapku tajam.
"Lebih baik kalau kalian ikut dengan ku tinggal di rumah?, Di sana ada lebih banyak makanan apa lagi saat musim dingin, tempat yang hangat, pakaian yang nyaman, dan lebih penting adalah dokter untuk kesembuhan Joy, bagaimana?"
"Tidak aku tidak mau meninggalkan rumah kami!!!, Meskipun di rumah mu lebih nyaman dan hangat" Wren berkata dengan cepat sambil memalingkan muka dari ku.
"Huh...." Aku menghela nafas panjang aku merasa anak ini sangat keras kepala, tanpa segaja aku melihat beberapa tetes air jatuh kelantai berada tepat di bawah tempat berdirinya Wren.
"Eh Wren kamu kenapa???!!"
Aku mendekat kan wajah ku ke mukanya yang memerah karena menangis, air mata terus bercucuran membasahi pipinya.
Aku dengan panik memengagi kedua pundaknya, dia menggigit bibirnya untuk menahan suara tangisannya, aku yang bingung harus berkata apa mengambil keputusan dengan memeluknya erat.
"A....aku tidak.... Bisa meninggalkan.... rumah ini... Karena, i....ini adalah tempat yang nyaman bagiku yang hanya seorang budak....., Ta....tapi kesehatan Joy malah semakin memburuk, karena...... di....dia terlalu bekerja keras, dan tenggelam dalam kesedihannya, yang ia sembunyikan dari.....ku, a....aku takut....ia akan menyusul ayah yang ibu....dan aku sendirian lagi....."
Wren menumpahkan segala keluh kesah nya yang ia pendam sendiri, aku tau pasti kehidupan nya terlalu berat untuk dirinya yang masih berumur sekitar 12-13 tahun.
Dan aku hanya bisa memberi nya usapan hangat di kepala dan pundak, karena aku tidak tau cara mengurusi anak kecil selain anak ku.
Beberapa menit kemudian Wren berhenti menangis dan mendorong ku menjauh karena malu sudah di peluk dan mendengar kan keluhan nya.
"Hah.... jadi sekarang kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang Wren?"
Aku bertanya menatap mata nya yang masih memerah karena bengkak, dia mengangguk, aku tersenyum puas lalu ingin berjalan pergi tapi ia menahan lengan baju ku.
"Bisakah kau berjanji tidak akan menyiksa joy, dan membuat nya melakukan pekerjaan berat?, Karena kami tidak sanggup membayar dokter, aku bersedia melakukan apapun, bahkan sampai aku tidak bisa kemana-mana lagi dengan kaki ku"
"Hey Wren, kenapa kau berfikiran negatif seperti itu terhadap ku?"
"Em.... Mungkin karena kupikir kau seorang bangsawan yang besar, dan suka memelihara budak dan bawahan untuk aksi kejimu"
"Aku tidak membutuhkan bayaran dengan dirimu atau dirinya" aku mengucapkan itu dengan nada tegas, lalu melanjutkan.
"Tapi jika kau berada di bawah asuhan ku, aku akan memberi kalian apa saja yang bisa didapatkan oleh anakku, seperti kursus untuk belajar semua ilmu dan pastinya berpedang"
"Dan jika kalian menolak aku akan melepaskan kalian, terserah jika kalian ingin pulang ke rumah ini lagi, dan datang saat Joy sakit"
"Lalu misalnya kalian ingin berada di bawah pengasuhan ku aku mungkin hanya meminta satu hal dari kalian"
Aku berkata seperti itu sambil melihat ekspresi Wren yang sekarang penasaran, lalu melanjutkan.
"Tolong jadi teman anak ku bermain Wren, karena ia dijauhi oleh teman teman sebayanya, karena membawa kutukan yang berat, bisa membuat orang mati jika kutukan nya sedang aktif"
Dia melihat ku dengan ekspresi terkejut, aku tersenyum lalu melanjutkan lagi.
"Maka dari itu para bangsawan yang lain menyuruh anak-anak nya menjauhi Albert, dan meskipun aku ibu tirinya aku berharap ia bisa menganggap ku sebagai ibunya juga meskipun saat ia sadar"
Aku berkata seperti itu dengan nada sedih yang membuat Wren ikut berfikir sebentar sambil menunduk, dan beberapa menit kemudian ia mengangkat kepalanya kearah ku lalu berkata.
"Baiklah aku bersedia menjadi teman nya, tapi aku tidak akan membiarkan Joy terlalu dekat dengan nya, sebelum ia dinyatakan aman bagiku"
"Benarkah??!!, Aku sangat senang saat mendengarnya, akan ku pastian kalian dapat yang terbaik"
"Jadi kapan kita akan pergi?" Dia bertanya dengan nada penasaran
"Besok!" Aku membalas pertanyaan nya dengan senang
"Hah?!! Apa itu tidak bisa, aku belum siap!"
Dia sangat terkejut karena aku mengatakan besok kita pergi, aku mengerti kenapa dia sangat terkejut, pasti itu disebabkan oleh kenangan yang belum ia ikhlaskan di sini bersama ayah dan ibu angkat nya.
"Waktu itu berharga bagi Joy, ingat itu Wren"
Dia termenung dengan kata kata ku, aku mengulurkan tangan, dia mendongak menatap mata ku, lalu aku berkata.
"Hari mulai gelap lebih baik menyiapkan perapian agar tetap hangat, oke?"
Dia sekarang menatap tangan yang ku ulurkan, dia menggenggam tangan ku sambil mengangguk, dan kami melakukan pekerjaan yang lain.
..............
"Whuuuuuussss.........."
"Tes..... Tes......"
"Brak!!!, Ciittttt...., Brak!!!"
"Ah malam yang benar-benar ribut" keluhku saat membaca buku di ruang tengah.
Aku melihat jendela yang terus berulang ulang terbuka lebar lalu tertutup keras karena hujan angin yang sangat kencang.
Air yang merembes dari atap yang telah di tadah kan oleh perabotan kayu yang ada di dapur.
Dan suara angin dan hujan yang menggoyang kan pohon, aku menyerah karena tidak bisa fokus sambil menutup buku.
Lalu melihat Wren sudah tertidur lelap di kursi kayu yang panjang dia terlihat kedinginan, aku menaruh buku diatas meja lalu mendekati nya.
Dan memakai selimut yang ia berikan tadi saat aku ingin membaca di ruang tengah, pada akhirnya aku memberikannya kembali dengan menyelemuti nya.
Aku tahu kenapa ia tidak mau tidur dikamar, itu karena ia masih belum percaya padaku, ia takut sesuatu terjadi pada adiknya.
"Ah benar benar anak ini, dia bahkan menyembunyikan senjata ku setelah aku pingsan, keduanya malah, pintar sekali"
Aku mengelus-elus rambut nya, kalau di pikir pikir Albert, Edward, Nathan, dan Wren mempunyai banyak kesamaan, terlebih dari kepala nya, karena Edward dan Albert rambutnya berwarna hitam pekat, sedangkan matanya berwarna biru langit, dan terkadang terlihat seperti biru tua.
Sedangkan Nathan mempunyai tanduk bewarna hitam, rambut yang berwarna biru dongker, dan mata perak yang indah.
Kalau Wren berambut biru dongker dengan sedikit warna putih di bagian poni dan telinga, dengan mata biru langit dan juga biru tua.
Kurasa karena aku suka warna biru sampai sekarang, makanya ini juga kejadian, aku tertawa kecil lalu duduk di kursi yang tadi ia duduki dan bergegas untuk tidur juga.
...............