
Mire dan Drago saling menatap dan tersenyum setelah pagi datang menyapa. Hari sudah pagi, tapi mereka masih saja berbaring seolah tak ingin bangun rasanya.
" Sayang, aku mandi dulu ya? " Ucap Mire.
" Nanti saja, mandi bersama. "
Mire terkekeh karena tahu benar akan terjadi apa setelah ucapan Drago barusan. Tidak ada masalah, dia juga tidak keberatan justru merindukan Drago yang seperti ini. Akhirnya, setelah sabar menunggu, pria tampan sekaligus Ayah dari anaknya telah kembali sehat seperti semula. Lagi-lagi mengucap syukur di dalam hati hingga matanya berkaca-kaca.
" Em! "
Tak ada suara obrolan, karena setelah beberapa saat hanya ada lenguhan dan memekik indah saling menyahut.
***
Setelah hari itu berlalu, Mire dan Drago menghabiskan waktunya untuk pergi berbulan madu, dan lagi-lagi terpaksa meninggalkan Camelia yang tentu saja atas saran Nenek Santi dan juga Ibu Rina. Ya sudah lah, tidak apa-apa, toh hanya untuk dua Minggu saja.
Tak ada lagi air mata kesedihan, hanya ada tawa bahagia dari wajah Mire, dan juga Drago. Benar, mereka juga merindukan dengan sangat Camelia putri mereka, tapi karena bisa terus menghubungi lewat panggilan Video setiap waktu, mereka berdua bisa tenang dan menikmati waktu dengan santai, tak lupa juga mereka rajin membagikan momen bahagia bersama.
" Sayang, berjanjilah tidak akan meninggalkanku ya? Kalaupun maut harus memisahkan kita, tolong biarkan aku mati duluan karena aku tidak akan sanggup hidup tanpamu. " Ucap Mire yang kini tengah berada di pelukan Drago karena udara yang cukup ekstrim.
Drago menatap wajah Mire yang menatapnya dengan begitu berharap. Jujur, dia begitu tak percaya kalau wanita yang telah menjadi istri serta Ibu dari anaknya begitu mencintainya, bahkan mengaggap dirinya sebagai dunianya. Bahagia? Tidak, karena setiap waktu Mire selalu mengatakan hal-hal menakutkan seperti jangan mati lebih dulu, dan biarkan dia mati karena dia tidak ingin merasakan kesedihan yang jelas tak akan bisa ia lalui. Tapi, dia juga tidak ingin ditinggalkan oleh Mire, dia ingin hidup selamanya bersama Mire jika bisa, tapi Tuhan bukan miliknya, jadi mana bisa dia mengiyakan permintaan Mire barusan?
" Sayang, mana bisa aku mengiyakan permintaan mu? Dari pada memikirkan kematian yang belum tahu kapan akan datang, mari kita fokus dengan kebahagiaan kita. Mari kita hidup bahagia, melakukan apa yang kita inginkan selama kita bersama agar tidak ada penyesalan saat kematian itu tiba. " Drago mengusap wajah Mire yang memerah karena cuaca dingin di negara itu. Sekarang ini mereka tengah berada di balkon hotel tempat dimana mereka tinggal selama bulan madu.
" Iya, mari kita lakukan hal yang membuat kita bahagia. Aku mencintaimu. "
Drago mengecup kening Mire.
" Aku juga, aku sangat mencintaimu. "
***
Tetesan air mata deras membasahi pipi tirus Derel. Sudah satu setengah tahun, tapi dia masih tidak bisa keluar dari cinta sebelah hati yang menyakitkan itu. Entah dia tidak bisa keluar dari rasa sakit itu, atau memang dia sendiri yang tidak ingin keluar. Setiap hari yang ia pantau adalah media sosial untuk melihat bagaimana bahagianya kehidupan Mire bersama Drago, bahkan mereka juga sudah memiliki seorang anak tapi sayangnya wajah anak mereka, atau Camelia memang tidak pernah di ekspos demi keamanannya.
Ibu Ana, dia yang sudah beberapa tahun tak bisa memeluk Mire kini hanya bisa mengais di setiap harinya karena rasa rindu tak berujung yang ia rasakan. Benar, dia sama seperti Derel yang selalu melihat bagaimana bahagianya Mire yang sudah menikah dan memiliki anak, tentu dia juga bahagia melihat putri bungsunya bahagia, tapi bisakah ada kesempatan untuk memeluknya lagi? Mirelia, putri yang dia lahirkan dua puluh tiga tahun lebih itu kini bak menjadi orang asing. Sakit? Iya, bagaikan hati yang latah dan tak ada yang bisa menyatukan lagi. Sempat sesekali menyalahkan Tuhan, tapi jika dikoreksi, semua itu juga terjadi karena dia memiliki andil disana. Hanya sebuah potret yang ia cetak dari photo yang di unggah Mire, saat dia tersenyum dengan manis sembari menggendong anaknya yang wajah anaknya di tutupi emotikon hati. Perlahan dia mengusap photo itu sembari berdoa di dalam hati agar ada sedikit saja pengampunan dan memiliki kesempatan untuk memeluk erat putrinya seperti dulu lagi.
Ayah Luan, pria lima puluh dua tahun itu hanya bisa berpura-pura baik-baik saja meski hatinya begitu hancur, remuk bagikan kaca yang tertabrak bongkahan besi. Sudah hampir dua tahun tidak melihat secara langsung bagaimana wajah putrinya yang menurut kabar di televisi sudah menikah dan memiliki seorang anak. Sadar jika Mire masih belum datang padanya, dia hanya bisa bersabar menunggu dan berdoa semoga akan datang hari dimana Mire datang padanya, tersenyum lebar seperti biasanya, memeluk dan bergelayut manja seperti dulu.
***
Semakin hari nama Mire semakin melambung naik, apalagi setelah kisah cintanya dan Drago di tulis dalam sebuah novel, nama Drago juga ikut tersorot, dan memberikan dampak positif bagi usahanya. Bahkan belum lama ini, kisah cinta Mereka juga sampai di film kan. Sama seperti Mire, Drago juga semakin jaya dan bisa dibilang mampu mengimbangi Mire.
" Pantas saja Drago menolak gadis cantik yang waktu itu, ternyata istrinya se-cantik ini? Belum lagi seorang pelukis terkenal. " Ujar Deni kepada karyawan restauran lain yang melihat berita tentang Mire dan Drago.
" Aku dengar, wanita yang waktu itu datang adalah kakaknya. "
" Benarkah? " Deni menggeleng heran.
***
Mirelia, nama itu adalah pemberian Ibu kandungku. Aku bahagia dengan nama indahku, dan terimakasih sudah memberikan nama itu untukku, Ibu Bernika.
Sekarang aku baik-bak saja, aku hidup bahagia bersama putriku Camelia, dan aku juga selaku ditemani oleh suami tercintaku, Eldrago. Aku mendapatkan apa yang sama sekali tidak aku bayangkan sebelumya, aku mendapatkan kebahagian dari banyak hal. Aku merasakan cinta dari Ibu, aku disayangi Nenek, di jaga dan di nomor satukan oleh suamiku, dan aku juga memiliki tambahan cinta, yaitu dari putriku, Camelia.
Aku pernah bersedih, bahkan sangat sedih. Aku juga pernah berpikir tidak ingin hidup.
Tapi lihatlah dunia yang luas ini, disana ada banyak kebahagiaan yang terlewatkan jika terus sibuk dengan kesedihan. Jangan merasa rendah saat orang lain mengutuk ketidakmampuan mu, jangan merasa sempit hati, dan katakan pada diri sendiri, ' Aku bisa, aku mampu, aku sempurna, aku akan berhasil. '
Jika satu tempat membuatmu tak berhenti merasa sedih, maka pergilah ke tempat lain dimana kau merasa tenang, karena saat kau tenang, kebahagiaan akan datang.
Katakan pada diri sendiri, I'm A Perfect!
END
Halo kesayangan, apa kabar? Semoga baik-baik tentunya.
Terimakasih sudah mengikuti cerita ini, cerita yang hampir saja aku mau Hiatus karena pembacanya yang sedikit. Tapi karena satu dua komen yang selalu mendukung, aku jadi merasa berat buat Hiatus karena nggak mau kecewain kalian❤️❤️
Pokoknya terimakasih banyak, dan aku tunggu di karya ku yang lain, dan juga semoga tulisan yang jauh dari kata sempurna, banyak typo ini bisa memberikan hiburan buat kalian semua.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️