I Am A Perfect

I Am A Perfect
I Love You!



Tiga hari adalah waktu yang di lewati dengan penuh suka cita antara Mire, Nenek, dan juga Drago beserta Ibunya. Sudah selama berpuluh-puluh tahun kebenaran terkubur karena ke egoisan seseorang, tapi syukurlah kini semua sudah terkuak, dan Mire bisa menghabiskan lebih banyak lagi waktu untuk bersama Nenek yang selama ini tidak diketahui keberadaannya.


" Kau terlihat begitu senang ketika akan kembali keluar negeri, apakah tidak sedikitpun sedih meninggalkan ku? " Drago mencium pipi Mire dari belakang, lalu memeluk si gadisnya yang kini tengah duduk membereskan peralatan lukis milik Ibunya yang disimpan rapih oleh sang Nenek.


" Aku senang untuk beberapa hal, tapi tentu saja aku agak sedih karena harus jauh darimu. Yang aku tahu adalah, kau pasti akan datang menemui ku lebih sering dari sebelumnya karena kita kan sudah melakukan itu. " Mire tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya yang tersusun dengan rapih.


Ah benar-benar tidak bisa berkata-kata dengan mulut los Mire, akhirnya Drago memutuskan untuk duduk disebelah Mire dan saling menatap sebentar sembari melayangkan senyum.


" Bagaimana perasaan mu sekarang ini? " Tanya Drago seraya terus menatap kedua bola mata Mire.


Mire tersenyum, lalu menghembuskan nafas panjangnya.


" Drago sayangku, apa aku terlihat sedih? Ataukah apa aku terlihat bahagia? "


Drago menghembuskan nafas sebalnya. Jika saja Mire tidak selalu menyembunyikan kesedihan di balik wajah sedihnya, mana mungkin dia akan meragukan dirinya dalam mengenali bagaimana perasaan Mire.


" Mire, kau bisa menunjukkan perasaanmu, dan apa yang kau rasakan kepadaku. Jangan berbohong dengan tersenyum saat kau sedih, aku memang belum sepenuhnya mengenal mu, tapi setidaknya aku juga ingin perlahan memahami agar aku bisa langsung tahu tanpa kau bicara lagi nantinya. "


Mire menatap bola mata Drago yang nampak sekali begitu tulus saat berbicara. Sudah puluhan tahun, dan baru kali ini ada seseorang yang begitu perduli hingga mengetahui kalau Mire sering kali berpura-pura tersenyum saat hatinya ingin sekali menangis dan marah karena tak mendapatkan bahan pelampiasan. Dulu, dia boleh selalu tersenyum dan menghibur teman-temannya saat mereka sedih, tapi karena Mire sering berpura-pura bahagia, tidak ada teman yang menghiburnya karena tidak tahu kapan Mire merasa sedih terkecuali Lusi.


" Aku tahu, aku tidak boleh lagi berpura-pura bahagia saat sedang sedih. Aku akan berbagi suka duka denganmu, sama seperti aku kepada Lusi. Aku janji, aku akan menunjukkan kesungguhan apa yang aku rasakan. Tapi, "


Drago mengeryit bingung sembari menatap kedua bola mata Mire dengan penuh tanya.


" Tapi apa? " Tanya Drago yang tentu saja penasaran dengan apa kelanjutan kata-kata Mire yang belum selesai di ucapkan.


" Tapi, kau harus memanggilku sayang juga mulai sekarang. "


Drago tersenyum, yah dia kira akan ada syarat yang sangat berat, eh! Tapi memanggil dengan begitu mesra juga tidak mudah baginya.


" Kenapa langsung diam? Kau tidak mau? Apa kau belum mencintaiku setelah apa yang kita lalui bersama? " Mire bertanya dengan wajah yang terlihat sebal.


" Bukan, bukan begitu! Aku, aku hanya merasa gugup saja harus memanggil dengan begitu mesra. '' Drago terlihat kikuk dengan wajah memerah entah bagaimana situasi hatinya saat ini. Gugup kah? Malu? Atau apa yang sebenarnya?


" Drago, aku tidak tahu rasanya jatuh cinta sebelum bertemu denganmu. Aku tidak tahu perasaan ini akan bertahan seberapa lama, tapi aku sungguh berharap hanya kau satu-satunya pria yang bisa aku cintai. Aku tidak ingin melihat bagaimana banyaknya pria yang lebih tampan darimu, juga lebih kaya. Aku tidak ingin melihatnya dan memperdulikan semua itu, jadi mari nikmati watu bersama, kita saling bahagia hingga kita tidak memiliki alasan untuk berpisah, apalagi sampai berhenti mencintai. " Mire masih terus menatap kedua bola mata Drago, tapi sungguh dia hanya ingin menyampaikan apa yamg memang dia rasakan sesuai dengan apa yamg diminta Drago dari dirinya. Perihal bagaimana seorang gadis yang sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan pria lalu bisa berbicara semanis dan romantis seperti itu, sungguh-sungguh Mire juga tidak tahu.


" Hebat sekali kata-katamu itu, tapi kau benar-benar membuatku tidak berguna karena tidak bisa mengatakan kalimat indah seperti itu yang seharunya laki-laki lebih dulu mengucapkannya. " Drago terus menatap Mire, tangannya terangkat mengusap lembut wajah Mire yang begitu dekat dengannya, satu tangannya memeluk dan menahan pinggul ramping Mire agar terus berada dekat dengannya.


Mire tersenyum dengan mata yang sama.


" Drago, aku mencintaimu. "


" Aku juga. "


Tak lama setelah mengatakan perasaan mereka, sejenak saling menatap lebih dalam lalu menyatukan bibir mereka. Sungguh tadinya hanya ingin berciuman, tapi siapa sangka kalau pada akhirnya ciuman itu akan terasa semakin panas, dan membuat keduanya memiliki keinginan yang lebih dari sekedar berciuman.


Drago mengubah posisi mereka, dan kini Mire sudah berada di bawah tubuhnya tapi tak menghentikan kegiatan bibir mereka yang semakin dalam dan dalam seolah tak memiliki ujung.


Mire, gadis itu seolah tak perduli bagaimana dunia akan menatapnya seolah dia begitu mudah menjatuhkan dirinya ke dalam tubuh laki-laki yang dia cintai itu. Biarlah, yang dia tahu dia hanya ingin menikmati ke kebersamaan mereka, saling membantu satu sama lain, saling mencintai sebelum maut, dan takdir jahat memiliki niat untuk memisahkan mereka. Tidak apa-apa, hidup adalah hidupnya, tubuh, hati, jiwa dan raga adalah miliknya meski sejatinya Tuhan lah sang pemilik segalanya, tapi bagi Mire menolak takdir yang sama dengan Ibunya adalah salah satu cita-citanya juga.


" Em, ah! " Hanya suara seperti itu yang keluar dari bibir keduanya saat penyatuan itu terjadi. Masa bodoh entah mereka lupa bahwa mereka kini berada di rumah Ibu Rina, tapi kegiatan mereka sungguh membuat orang yang tak sengaja mendengar merasa malu sendiri. Iya, dia adalah Ibu Rina yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar yang Mire gunakan untuk tinggal beberapa hari setelah kembali ke luar negeri. Sebenarnya bukan niat untuk membenarkan apa yang dilakukan Drago dan Mire, hanya saja dia juga merasa tidak mungkin kalau masuk kedalam kamar sekarang juga kan?


" Anak muda zaman sekarang memang mengerikan. " Gumam Ibu Rina seraya menjauh dari kamar Mire dan menuju ke meja makan yang kini sudah ada Nenek disana.


" Rina, kenapa Mire dan Drago tidak turun? " Tanya Nenek karena tak mendapati cucu dan calon cucu menantunya belum juga turun.


Ibu Rina memaksakan senyumnya.


" Mereka sudah makan di atas, Bi. Jadi biarkan saja mereka, sekarang kita saja yang makan malam. "


Nenek mengeryit karena bingung kapan Mire dan Drago mengambil makanan?


Bersambung