
Mire dan Drago tidur dengan saling memeluk meski sebenarnya mereka hanya sedang berpura-pura tidur saja. Drago menahan bagian bawahnya yang bereaksi, sementara Mire menahan degup jantungnya yang begitu kuat berdebar tak karuan. Saling menghirup aroma tubuh, merasakan hangat tubuh mereka yang bersentuhan dengan begitu erat, nafas hangat yang menerpa kulit satu sama lain benar-benar membuat keduanya enggan bergerak meski pegal juga dengan posisi saling memeluk seperti itu.
Derel, gadis itu kini malah merasakan panas di dada, juga kesedihan yang tak bisa dengan lantang ia akui. Ini bukan sekedar rasa cemburu belaka, tapi dia juga merasa seperti sampah yang bahkan tidak bisa membuat sedikitpun Drago melirik padanya. Masalah kemarin antara Drago dan Derel memang belum menemukan solusi, tapi setidaknya Derel masih bisa berharap kalau Drago akan mengalah dan memilih menikahinya walaupun itu terpaksa.
Sudah hampir dua jam, tapi Derel malah semakin tidak bisa tidur karena terus berpikir macam-macam tentang Mire dan Drago. Karena tidak tahan lagi, maka Derel segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar untuk melihat apa yang sedang dilakukan Drago dan Mire saat ini.
Klek!
Dengan hati-hati Derel membuka pintu kamar Drago, lalu menjembulkan kepalanya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Drago dan Mire. Ternyata mereka sedang tidur sembari memeluk, padahal tidak ada tindakan dari mereka yang berlebihan, tapi bagi Derel berpelukan seperti itu juga sudah cukup membuat hatinya semakin sakit. Jika saja, yang sedang dipeluk Drago itu dirinya, bukankah akan terasa begitu indah?
Semalaman sudah Derel melewati malam tanpa bisa tidur sedetikpun. Sungguh sangat menyiksa karena melihat kedekatan Drago dan Mire yang sudah seperti suami istri, dan lagi dia masih heran karena Drago memperlakukan Mire semakin lembut dari hari ke hari.
Sama seperti Derel yang tak tidur semalaman, Mire dan Drago juga tak bisa tidur nyenyak karena perasaan mereka masing-masing.
" Hoam.... " Mire menguap begitu sampai di dapur dan duduk di meja makan bersama yang lainya.
" Mire, semalam apa kurang tidur? " Tanya Ibu Rina yang tentu saja bisa melihat Mire seperti kurang tidur malam tadi.
" Eh! Tidak kok Bu, malahan terlalu nyenyak sampai maunya tidur terus. " Mire tersenyum sembari menatap Drago yang hanya bisa ikut tersenyum saja. Apanya sih? Padahal di dalam hati dia sudah akan mengambil waktu siang nanti untuk tidur menggantikan tidur malamnya.
Derel tak bicara, dia hanya memilih untuk diam karena apapun yang akan dia katakan tidak akan ada gunanya. Sekarang boleh saja tersenyum seperti itu, tapi sebentar lagi Ayah beserta Ibunya akan datang untuk membahas apa yang memang seharunya dia bahas hingga usai dari kemarin.
" Mire, makanlah yang banyak ya? Kau kan butuh banyak energi agar bisa kembali bersemangat seperti sebelumnya. " Ujar Ibu Rina yang lagi-lagi diangguki dengan senyuman oleh Mire.
" Mau aku suapi? "
Benar-benar Derel hanya bisa menatap dengan tatapan sedih dan tak percaya. Drago, pria yang setahu dia sangat terbiasa menjaga jarak dengannya kini menawarkan diri untuk menyuapi makan Mire? Derel segera menggeleng untuk mengusir dugaannya yang selalu saja sukses membuat dirinya sendiri menderita karena semakin cemburu.
Seperti yang hampir tak pernah terpikirkan oleh Derel sebelumnya, kini Drago benar-benar menyuapi Mire makan dengan sabar seolah benar-benar sangat mencintainya. Tersenyum saat Mire memakan makanan dengan semangat, menyeka sisa makanan dengan Ibu jarinya tanpa terlihat jijik, malah Drago juga menyuap makanan dengan sendok yang sama dengan Mire. Derel semakin tak berniat dengan makanannya, pikiran kacau yang dipenuhi rasa cemburu tanpa sadar malah membuat hatinya tak tenang dan tak terima saat Mire dan Drago nampak bahagia.
" Derel, makanlah makananmu. Kalau sudah dingin nanti tidak enak. " Ujar Ibu Rina, sebenarnya dia sedari tadi bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan cemburu dari mata Derel, tali setidaknya dia cukup bahagia dengan perubahan sikap Drago kepada Mire meski harus menyaksikan satu wanita patah hati karenanya.
Bagaimana bisa sebagai seorang Ibu, bibi Rina membiarkan saja Drago dan Mire yang mesra berlebihan seperti ini? Apakah mereka bertiga sengaja melakukan ini untuk membuatku menyudahi usahaku demi bersama Drago?
" Sayang, aku tidak mau makan terlaku banyak sayuran. Tolong berikan aku ikan saja ya? " Kata-kata Mire kali ini sungguh sudah sukses membuat Derel semakin tak bisa menelan makanannya dengan baik. Dengan segera dia menjauhkan piringnya, lalu meletakan sendok dan garpunya.
" Maaf semuanya, aku tidak bisa melanjutkan sarapan ini, perutku tidak nyaman jadi aku harus ke kamar mandi. " Ucap Derel lalu segera pergi meninggalkan yang lainya disana.
Mereka bertiga kompak tersenyum, lalu melanjutkan kegiatan mereka seperti tak ada yang terjadi barusan.
Dua jam setelah sarapan selesai.
Mire dan Drago kini berada di teras rumah bagian sampinh sembari mengobrol dan juga sembari menemani Mire yang tengah melukis disana.
" Sayang, besok pas acara pameran lukisan kau datang ya? "
" Iya, tentu saja. "
Benar-benar membuat muak dan marah, tali biarkan saja, sebentar lagi semua akan jelas, dan Drago akan menjadi miliknya, batin Derel yang juga berada disana tanpa satu patah katapun. Ya maklum saja, adanya dia disana juga tak di anggap oleh Drago dan Mire.
" Nak, ada orang tua Mire datang, temui ya? " Ucap Ibu Rina yang baru saja tiba dengan raut wajah yang seolah menjelaskan ketidak sukaan nya dengan orang tua More dan Derel yang datang berkunjung ke rumahnya.
Seperti yang diminta Ibu Rina, kini semua orang sudah duduk berkumpul di ruang tamu demi untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh orang tua Mire dan Derel hati ini.
" Mire, kami datang kesini untuk mejelaskan semua yang terjadi dari sudut pandang kami, jadi tolong dengarkan dan jangan menilai kami terlalu buruk agar kau bisa sedikit memahami kami ya? " Ucap Ayah Luan dengan tatapan lembut yang hampir sama seperti beberapa bulan lalu sebelum dia tahu kalau Mire diam-diam sangat suka melukis, dan sebelum dia mengatakan akan merubah cara mendidik Mire agar Mire lebih Dewasa.
Mire memaksakan senyumnya, lalu menatap dengan tatapan seolah lelah kalau harus membicarakan masa lalu Ibu, dan juga orang tuanya.
" Dari sudut pandang Ayah, dan Ibu? Tapi apa gunanya? Apa yang terjadi memang nyata, semua hancur dan berakhir menyedihkan pada akhirnya. Jika Ayah dan Ibu ingin mengatakan bahwa kalian tidak berniat melakukan kesalahan itu, lalu menceritakan hal buruk tentang Ibu kandungku, mengemasnya dan menjadikan sebuah cerita yang menggambarkan kalau kalian juga korban dan tidak berdaya, aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk omong kosong itu, dan aku juga tidak ingin mendengar apapun dari masa lalu kalian karena apapun yang kalian katakan tidak akan bisa membawa Ibu Bernika kembali hidup. "
Bersambung