I Am A Perfect

I Am A Perfect
Im Down



" Jangan terus mengatakan kalau aku kekasihmu lagi kepada pengunjung galeri! " Protes Mire kepada Wiliam yang beberapa saat lalu lagi-lagi mengatakan kepada pengunjung bahwa dia adalah kekasihnya. Mungkin benar Wiliam melindunginya dari beberapa kolektor lukisan yang rata-rata adalah orang yang memiliki banyak uang dan berpengaruh, tapi cara Wiliam itu benar-benar membuat Mire merasa terganggu.


Wiliam, pria itu hanya sedikit tersenyum dengan tatapan seolah meremehkan ucapan Mire barusan. Sebentar dia melihat ke arah Mire, lalu kembali fokus dengan laptopnya. Rasanya ingin mengatakan banyak hal, tapi dengan sifat Mire yang keras kepala tentu saja percuma kalau berbicara banyak hal karena pada akhirnya ucapannya hanya akan di bantah secara tegas oleh Mire.


" Aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya, tapi aku harap tadi adalah yang terakhir kali kau mengaku-aku sebagai kekasihku. Aku punya seseorang yang harus aku jaga perasaannya, apa kau mengerti?! " Nada bicara Mire melonjak naik di akhir kalimat karena Wiliam malah terlihat tidak menanggapi serius, tapi ini jugalah yang membuat Wiliam tak tahan lagi untuk diam.


" Lalu bagaimana denganmu? Kau terus saja menjaga perasaan pria itu tapi bagaimana denganmu? " Wiliam menatap Mire dan kini mulai bangkit dari posisinya. Sementara Mire, gadis itu nampak tak bisa menjawab ucapannya barusan.


" Sebuah hubungan haruslah memiliki sistem simbiosis mutualisme, karena kalau hanya satu pihak yang banyak berjuang dan berkorban, hanya pihak itulah yang akan mati perlahan, seperti itulah yang akan terjadi denganmu, Mire. "


Mire meremas kain dress polos yang ia kenakan, tatapan matanya yang marah begitu jelas terlihat seolah begitu tidak setuju dengan kata-kata Wiliam barusan.


" Jika aku tidak mengatakan kau adalah kekasihku, kau pikir mereka tidak akan mencoba mendekatimu? Meskipun kau mengatakan memiliki tunangan, kau pikir mereka akan perduli? Tidak, mereka tidak akan perduli selama yang ada di sampingmu adalah orang yang bisa mereka injak. Mungkin kau menganggap aku terlalu buruk menggambarkan pemikiran mereka, tapi aku sudah sangat mengenal orang-orang seperti mereka, juga cara berpikir mereka. "


" Kalau begitu terimakasih karena sudah menolongku, tapi dibandingkan mengakui ku sebagai kekasih, kau bisa kan mengakui ku sebagai adik angkat mu, atau saudara sepupu? "


Wiliam terkekeh, lalu menatap Mire dengan tatapan seolah kata-kata Mire barusan sama sekali tidak bisa ia terima, dan malah terkesan lucu baginya.


" Mire, kalau aku mengatakan kau adalah adik, atau sepupu, kau pikir mereka tidak akan memintaku atau bahkan nantinya akan mendesak agar membuatmu menikah dengan mereka? Kau terlalu polos dan naif, Mire. Dengan kau yang seperti ini, kau hanya akan terus berjalan di tempat yang sama. Itulah sebabnya aku pernah memberitahumu, kau hanya bisa berada disamping orang yang bisa membuatmu maju, menopang mu saat kau ingin terbang ke atas, melindungi mu agar kau tidak jatuh. Pria seperti itu apa kau pikir cocok dengan Drago mu itu? "


" Kau, kenapa kau selalu merendahlan tunanganku? Berapa kali harus aku katakan? Suatu hari nanti, kau akan tahu bahwa kekuatan kami berdua cukup untuk menghalau dunia yang ingin menyakiti kami. "


" Pft! " Wiliam menutup mulutnya dengan kepalan tangan, lalu menatap Mire seraya menghentikan ekspresi tawanya yang sempat tak tertahankan tadi.


" Mire, Mire. Kau ini sama sekali tidak memahami cara kehidupan bekerja ya? Sekarang kau bisa berbicara seolah-olah kau begitu mencintainya hingga kau yakin perasaanmu akan bertahan selamanya, tapi bahkan kau belum tahu apa yang akan terjadi besok kan? "


" Tidak! Aku tidak tahu memang apa yang akan terjadi besok, tapi aku tidak perduli. Sekarang aku benar-benar tidak tahan lagi, aku putuskan kalau aku tidak akan datang ke Nicki galeri lagi, jadi silahkan saja kau layani pendatang yang datang mulai sekarang. "


" Kau gila? " Wiliam menatap Mire kaget, tapi dia juga kesal. Padahal hanya karena seorang pria, tapi kenapa Mire harus berkorban sebanyak ini? Memangnya pria seperti Drago pantas mendapatkan rasa cinta sebesar itu?


" Iya, aku gila! Aku gila karena nasehatmu selalu menyudutkan ku seolah aku tidak boleh memiliki pilihan yang lain. Aku sudah bertekad, aku tidak ingin kehilangan banyak hal seperti Ibuku, jadi aku akan pertahankan apa yang lebih penting untukku. "


" Maksudmu? Drago itu lebih penting dari cita-citamu? "


Mire mengeraskan kepalan tangannya, semakin kuat setiap saat Wiliam berucap.


" Bodoh! Kau benar-benar bodoh! " Wiliam menggeleng seolah tak percaya dengan ucapan Mire barusan.


" Silahkan saja katakan apa yang ingin kau katakan, tapi aku sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk menanggapi penekanan mu padaku. " Mire berjalan keluar, lalu terhenti dan mematung begitu mendapati dua orang yang sepertinya mendengar semua pembicaraannya dengan Wiliam tadi.


" Drago, nenek? " ( Nenek dari Wiliam. )


Drago menghembuskan nafas panjangnya, lalu tersenyum meski sebenarnya sulit sekali untuk tersenyum sekarang ini.


" Kau lelah bukan? Kita kembali sekarang ya? " Ajak Drago, lalu segera di angguki oleh Mire.


" Nenek, aku- "


" Pulanglah, Mire. Ini adalah hidupmu, jalani apa yang bisa membuatmu bahagia, jangan sampai kehilangan banyak hal hanya karena satu tujuan yang belum pasti akan kau dapatkan. " Ucap Nenek lalu tersenyum.


Mire mengangguk, lalu berjalan mendekati Drago dan meraih tangan Drago untuk ia genggam.


Setelah kepergian Drago dan Mire, nenek kini berjalan masuk untuk berbicara dengan Wiliam.


" Wiliam? " Sapa sang nenek karena mendapati Wiliam dengan ekspresi yang tidak terbaca.


" Kenapa dia tidak mengerti juga? Kenapa dia sangat bodoh? " Ucap Wiliam masih tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi dari bibir Mire sendiri.


" Tidak, bukan karena dia bodoh, Wiliam. Tapi Mire memang tidak bisa sama dengan Ibumu. Dia mencintai tunnaganga nya jauh lebih besar dari pada cita-citanya. Kau lupa satu hal juga Wiliam, Mire hobi melukis hanya karena dia merasa bahagia saat melakukannya. Gadis itu tentu saja tidak akan mempermasalahkan menjadi terkenal atau tidak meski ada sedikit keinginan karena yang paling penting baginya adalah tetap bisa melukis saja. "


" Semua wanita kan memang sok naif pada awalnya nenek, tapi saat sudah berada di atas, dia pasti akan memiliki pemikiran bahwa dia tidak membutuhkan orang yang tidak bisa membuatnya lebih tinggi lagi, lalu mencampakkan dengan sesuka hati. "


Nenek menghela nafas panjangnya.


" Itu tidak akan terjadi pada Mire, dan entah mengapa Nenek merasa kalau pada akhirnya Mire akan tetap bersinar. "


Bersambung.