I Am A Perfect

I Am A Perfect
Sayang



Hari ini, adalah hari dimana Drago datang ke London untuk menemui Mire, dan sekaligus juga mencoba peruntungan membuka restauran disana. Memang belum menu seperti apa yang akan dijual, tapi keyakinannya seolah membuatnya tak kenal rasa ragu sedikitpun.


Drago tersenyum lega begitu kakinya menapak di halaman rumah yang disewa Mire dan Lusi. Ini sudah malam, tentunya suasana sepi seperti sekarang ini adalah hal wajar kan? Apalagi Drago sengaja tidak memberitahu kepada Mire kalau dia akan datang, jadi tentu saja gadis itu pasti sudah tidur, atau melukis saat dia tidak bisa tidur seperti biasanya.


Drago meletakkan dua koper besar yang dia seret sedari tadi, meletakkan juga tas ransel yang berada di punggungnya, lalu membentuk pintu. Cukup lama Drago berdiri disana, hingga Nenek Santi yang membukakan pintu.


" Drago? Ya ampun! Ini sungguh kau? " Nenek Santi memeluk Drago, lalu menangkup wajahnya setelah dirasa cukup berpelukan.


" Apa kabar Nek? " Tanya Drago dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya.


" Baik, baik sekali. Bagaimana denganmu? Kenapa kau kemari? "


" Aku juga baik, Nek. Aku datang karena, "


" Iya, Iya Nenek tahu lah pasti karena Mire kan? "


Drago menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bibirnya tersenyum seolah tak berani menjawab iya melalui bibirnya.


" Dasar anak muda zaman sekarang memang tidak bisa berjauhan, padahal kan ada ponsel. Ya sudah ayo masuk dulu, Mire belum pulang, mungkin sebentar lagi. "


Drago mengeryit bingung, ini benar-benar tidak biasa. Padahal selama ini Mire selalu pulang tepat waktu karena dia tidak menyukai lembur di tempat kerja. Ditambah lagi Mire memang paling tidak suka berada di luar rumah saat malam hari kan? Tidak tahu perasaan apa ini, tapi Drago juga tidak ingin memikirkan hal buruk tentang tunangannya dulu.


Setelah membawa masuk koper dan tas ranselnya, Drago dan Nenek duduk diruang tamu sembari menunggu Mire dan ditemani teh hangat di meja. Tak lama terdengar suara mobil berhenti, Drago dan Nenek kompak bangkit untuk melihat, dan itu adalah Mire.


Deg!


Drago terdiam tak bicara karena ternyata bukan hanya Mire seorang, mobil itu adalah milik Wiliam, dan tentu saja Wiliam ada disana untuk mengantar Mire, membuka kan pintu, sebentar mengobrol entah apa yang mereka bicarakan, sebenarnya itu bukan masalah besar bagi Drago, hanya saja saat Wiliam mengacak rambut Mire, dia mulai tak bisa menahan diri, lalu memilih untuk keluar dari rumah itu dibanding hanya bisa melihatnya dari jendela saja.


" Mire? "


Wiliam yang saat tengah terkekeh saat Mire merengut sebal, kini kompak menoleh ke arah Drago yang sudah berdiri di ambang pintu.


" Sayang?! " Mire sejenak mematung karena tak percaya dengan adanya Drago tanpa kabar, iya dia pikir hanya halusinasinya saja hingga dia masih saja melongo tak percaya.


" Sayang? " Benar-benar masih kaku menyebut kata itu untuk Mire, tapi karena sekarang ini ada Wiliam, sepertinya ini dirasa perlu olehnya.


" Ini sungguhan? " Mire mengerjapkan matanya karena masih tak percaya.


" Aku baru saja datang, maaf tidak memberi tahu karena aku pikir aku ingin mengejutkanmu. " Ucap Drago lalu memaksakan senyumnya mencoba untuk mengabaikan Wiliam disana.


Mire, gadis itu segera berlari dan memeluk Drago dengan erat, hampir dua minggu tidak bertemu, dan rasa rindu itu sudah terasa menggunung di hatinya.


" Aku merindukanmu! " Ucap Mire yang semakin erat memeluk Drago, dan begitu juga sebaliknya. Iya, Drago kini tahu kalau posisinya di hati Mire masih lah sama, karena terbukti Mire tanpa segan memeluknya dihadapan Wiliam yang berarti dia tidak memperdulikan bagaimana perasaan pria itu.


" Aku juga. "


Wiliam, pria itu hanya bisa terdiam kesal dengan apa yang dia lihat. Mungkin memang dia harus lebih bersabar lagi jika ingin menggoyahkan hati Mire, tapi dia juga ragu itu akan berhasil kalau Drago terus berada di dekat Mire seperti sekarang ini.


" Mire, jangan lupa yang aku katakan tadi, dan aku akan pulang. " Ucap Wiliam.


Mire mengurai pelukannya, lalu menoleh ke arah Wiliam.


Setelah memutuskan untuk pulang padahal masih ingin disana, Wiliam kini hanya bisa menanggung kesal tanpa memiliki pelampiasan untuk bisa membuang rasa menyesakkan itu. Padahal dia jauh lebih dari Drago, tapi bagaimana bisa Mire hanya melihat pria itu? Apa yang lebih darinya? Apa yang bagus dari dirinya? Uang, tentu saja Wiliam punya jauh lebih banyak dari Drago, bahkan bisa dibilang kalau Drago tida ada apa-apa dibanding dirinya kalau mengenai uang. Rupa? Bukankah dia juga terbilang tampan dan tentu tidak kalah dari Drago? Postur tubuh? Tentu saja bukan karena itu, sebab tubuhnya juga tak kalah kekar dari Drago. Lalu apa?


Wiliam menghembuskan nafas kasarnya, matanya masih terlihat kesal meski juga tengah fokus memperhatikan jalanan. Tidak tahu bagaimana bisa dia dikalahkan oleh Drago, tapi hatinya masih meyakini kalau pada akhirnya Mire akan datang padanya dan meminta segala bantuan, lalu dengan suka rela membuka hatinya agar dia bisa masuk dengan leluasa sebagai pria untuk masa depan Mire.


" Sayang, kau pasti akan lama ya? " Tanya Mire seraya menyusul Drago yang kini sudah duduk di ruang tamu, sementara Nenek masuk ke kamar Mire untuk tidur disana karena di rumah itu hanya ada dua kamar, jadi Nenek Santi tidur berdua dengan Mire.


" Dari mana kau tahu? "


Mire tersenyum lebar, lalu menunjuk dua koper Drago yang tersusun di ujung ruangan.


" Biasanya kau kan hanya menggunakan satu koper kecil, tapi kali ini besar, dan ada dua lagi. Apa jangan-jangan kau mau tinggal bersamanya denganku ya? " Ledek Mire.


" Iya. "


" Serius? "


Drago tersenyum lalu menguap rambut Mire pelan.


" Aku ingin disini menemanimu, sekaligus aku ingin mencoba membuka restauran jadi bisa bekerja sambil menjagamu kan? "


Mire yang merasa terharu sontak memeluk Drago dan memberikan kecupan di pipi Drago.


" Terimakasih ya? " Mire tersenyum menatap Drago yang juga tersenyum padanya.


" Untuk apa berterimakasih? Aku melakukan ini juga untuk diriku sendiri kok, aku hanya tidak ingin tunanganku dicuri orang. "


Mire terkekeh, lalu kembali memeluk Drago.


" Untung saja sekarang ada kau, dan lusa adalah hari dimana lukisanku akan ikut serta di pameran jadi kau akan datang untukku kan? "


" Iya tentu saja. "


" Jadi, apa kau akan tinggal disini? "


" Lebih tepatnya di rumah sebelah. "


" Serius?! "


" Iya. "


***


Setelah pembicaraan terakhir kali dengan Drago, Derel sama sekali tak terlihat bersemangat. Apalagi dia dengar kalau Drago pindah ke London untuk menyusul Mire dan sekaligus membuka usaha baru disana, hatinya benar-benar hancur hingga terasa sama sekali tidak ingin hidup lagi.


" Bagaimana bisa kau sejahat ini padaku, Drago? Padahal yang mencintaimu bukan hanya Mire, aku kan juga mencintaimu? " Gumam Derel dengan tatapan kosong.


Bersambung