I Am A Perfect

I Am A Perfect
Missing Her



Hari demi hari terlewati, dua bulan sudah Drago terbaring dengan posisi tengkurap karena memang bagian belakangnya lah yang banyak mengalami luka serius. Sesekali Dokter akan merubah posisinya dengan perlahan, sementara Mire, calon Ibu muda itu dengan telaten terus mengurus Drago dan melakukan semua hal yang diperintahkan Dokter padanya. Mai dari menggerakkan bagian-bagian tubuh Drago dan memijatnya dengan pelan seperti lengan, jemari, kaki agar saat Drago terbangun nanti tubuhnya tidak akan menjadi kaku.


Hari ini adalah hari dimana tiga bulan sudah kandungannya, pagi, siang, malam, dia habiskan untuk mendoakan Drago agar segera bangun dari tidur panjang yang belum juga terlihat tanda-tanda akan bangun. Sudah tak seperti sehari dua hari setelah kecelakaan, kini Mire sudah bisa lebih sabar, lebih tegar, juga terlihat lebih memiliki tekad yang besar. Mungkin besok, atau lusa, Minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan pun tidak akan jadi masalah baginya menunggu Drago untuk bangun, tapi jika melihat ke dalam hatinya, seorang Mirelia bukanlah Supergirl yang tidak kenal air mata dan rasa sakit. Dia menangis di dalam hati setiap kali mencium kening Drago yang masih terlelap dengan banyaknya alat terpasang di tubuhnya.


" Sayang, pagi tadi aku pergi mengunjungi Dokter, dia bilang bayi kita sudah baik-baik saja karena berat badannya naik lumayan banyak. Dia juga sudah bisa bergerak meskipun aku belum bisa merasakannya. Sayang, apa masih belum ingin bangun? Apa kau tidak lelah tertidur seperti ini terus? Restauran mu semakin berkembang berkat Ibu Rina, Alex dan tim. Tapi, apakah tida kasihan melihat Ibu kelelahan seperti itu? " Mire menyeka air matanya, mengigit bibir bawahnya karena tidak ingin mengeluarkan suara saat sedang tak bisa menahan tangisnya.


Mire menghela nafas setelah cukup puas menangis diam-diam barusan. Dia tersenyum melihat photo mereka berdua saat sedang mengenakan gaun pengantin layaknya pasangan yang telah melakukan sumpah pernikahan. Sebenarnya agak takut melihat photo itu karena terlintas sedikit pemikiran bahwa itu adalah photo terakhir mereka, tapi walau bagaimanapun photo itu adalah keinginan dari Drago jadi dia tidak boleh membenci atau mengacuhkan begitu saja photo mereka.


" Lihatlah, sayang! Saat kau tersenyum seperti ini, kau terlihat jauh lebih tampan dari pada hanya diam dan tertidur. Jadi aku benar-benar Merindukan mu yang tersenyum seperti ini. " Mire menoleh ke arah brankar dimana Drago berada. Rasanya lagi-lagi ingin menangis, tapi juga harus bisa menahannya bagaimanapun caranya. Mire kembali berjalan mendekati Drago, mengusap kepalanya yang sudah di potong habis rambutnya beberapa hari yang lalu. Tangannya yang gemetar sungguh tak bisa ia tahan, boleh lah matanya memerah karena memang tidak mudah bertahan di situasi seperti ini.


" Sayang, aku, Ibu, nenek, teman-teman menunggumu bangun. Ada satu orang lagi, bayi kita juga menunggumu, jadi cepat bangun ya? " Mire mengecup kembali dahi Drago, pipi, juga kepalanya yang kini sudah pelontos tanpa rambut.


" Sayang, sebentar lagi Ibu datang untuk menjagamu, aku pergi ke galeri dulu ya? Sore nanti aku akan kembali lagi. Aku mencintaimu, Drago. " Mire memaksakan senyumnya seraya menggenggam erat sebentar tangan Dargo sebelum meninggalkan ruangan itu.


Tes!


Setetes air mata jatuh dari ujung mata Drago dengan posisi yang masih terpejam. Iya, dia bisa mendengar semua yang diucapkan Mire, tapi sayangnya dia tidak bisa mengatakan apapun, membuka mata, bahkan menggerakkan satu jari saja dia tidak mampu.


Sesampainya di galeri, Mire segera menuju toilet yang tersedia di sana dan memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya terisi sebuah sandwich, dan segelas susu hamil rasa vanila. Mual, pusing, lemas, bahkan perubahan mood yang baik turun benar-benar dirasakan Mire di kehamilan yang baru berada di trisemester awal. Tidak tahu kapan akan berakhir, tapi sungguh itu bukan masalah besar untuknya. Hanya saja, saat melihat pasangan suami istri yang saling mendukung di masa kehamilan, Mire sering kali menangis karena merasa sedih, juga iri.


" Nak, tidak apa-apa kok seperti ini, tapi mari kita berdoa bersama agar Ayahmu cepat bangun ya? " Ucap Mire sembari mengusap perutnya dengan lembut.


***


" Iya, sudah dinasehati untuk berhenti lebih dulu, tapi dia bilang ada satu projek yang ingin dia selesaikan. " Nenek Santi menghela nafas karena tahu benar bahwa galeri hanyalah alasan bagi Mire agar bisa sejenak melupakan kesedihannya dan tidak membuat bayinya dalam bahaya.


" Tidak apa-apa bi, Mire selalu saja sedih saat melihat kondisi Drago, dan pasti ujungnya akan menyalahkan diri sendiri. Biarkan saja sebentar dia berada di luar, bagaimanapun akan lebih baik kalau dia tidak stres seperti bulan kemarin. Hampir saja bayinya dalam bahaya karena Mire terlalu stres dan tidak nafsu makan. "


Nenek Santi menghela nafas panjangnya.


" Iya, syukurlah semenjak itu dia sama sekali tidak pernah absen untuk sarapan, minum susu, minum vitamin, buah, dia benar-benar berusaha menjaga bayinya dengan baik. "


Ibu Rina tersenyum lalu menatap Drago yang masih saja terlelap.


" Bangun ya nak? Mire bertahan juga karena keyakinannya bahwa suatu hari nanti kau akan bangun, jadi jangan membuatnya kecewa. " Setelah beberapa saat, Ibu Rina membersihkan tubuh Drago dengan kain bersih dan air hangat lalu pelan-pelan menyeka tubuhnya.


***


Derel, gadis itu nampak semakin pendiam dari hari ke hari. Apalagi setelah dia melihat photo Drago dan Mire menggunakan gaun pengantin, lalu photo tangan Mire dan Drago yang saling menggenggam, kemudian photo alat uji kehamilan yang dengan jelas menjelaskan tentang kehamilan Mire. Belum lagi photo USG janin mereka yang di unggah Mire beberapa saat lalu cukup membuatnya tak memiliki minat untuk melakukan apapun, atau bahkan bisa dibilang kehilangan semangat dalam menjalani hidup.


Ayah Luan, seorang Ayah yang gagal dalam memberikan hak berupa kebahagiaan bagi putrinya, kini hanya bisa melihat photo-photo Mire melalui media sosial, juga beberapa kali melihat wajah Mire di televisi karena Mire mulai terkenal setelah lukisan tentang Ibu ( Bernika ) Memenangkan penghargaan sebagai lukisan terbaik di tahun ini. Mire, adalah pelukis yang namanya kini mulai familiar di beberapa negara. Tentu bukan tidak mungkin negara asal Mire tidak meliput beritanya kan?


Ibu Ana, dia boleh hanya seorang Ibu pengganti, tapi kerinduan yang ia miliki sungguh-sungguh layaknya seorang Ibu kandung. Dia bisa melihat wajah Mire, tapi hanya melalui televisi. Dia bisa melihat senyum indah Mire, tapi juga hanya Maui media sosial, dan juga televisi. Bak kehilangan separuh jiwa, Ibu Ana juga lebih banyak diam jika tidak terlalu membutuhkan bicara.


Bersambung...