I Am A Perfect

I Am A Perfect
Are You Sure?



Dua bulan sudah berlalu, namun tanda-tanda akan bangunnya Drago masih belum terlihat. Perut Mire juga sudah terlihat membuncit dengan begitu jelas terlihat. Calon Ibu muda itu juga masih sama selama dua bulan ini, dia hanya menghabiskan waktunya untuk bersama dengan Drago di rumah sakit, lalu sebagian waktunya ia gunakan untuk berada di galeri. Tidak ada lelah atau pun bosan dalam menjaga dan menemani Drago, meski pria itu masih tak bergeming dan matanya terpejam, nyatanya ini adalah momen bagi Mire untuk kumpul keluarga. Semenjak usia kehamilannya menginjak usia empat bulan dan dia sudah bisa merasakan tendangan-tendangan kecil dari janin di dalam perutnya, Mire mulai lebih sering menemani Drago, membiarkan tangan Drago. berada di perutnya dan ikut merasakan bagaimana bayi mereka begitu aktif dan menyapa lewat tendangannya.


" Sayang, kau merasakan bagaimana anak kita begitu aktif menendang kan? " Mire tersenyum sembari menahan tangan Drago di perutnya, lalu sebentar menjalankan tangan Drago untuk mengusap perutnya.


" Sayang, Dokter bilang bayi kita adalah seorang gadis. Jadi nama apa yang ingin kau berikan untuknya? Aku sudah memikirkan beberapa nama, tapi aku dilema karena takut kau tidak setuju nantinya. Tapi selama ini aku memanggilnya bubu, itu semua karena anakmu yang selalu saja menendang bahkan saat aku tidur pun begitu. Aku sudah sering kurang tidur beberapa hari ini karena putrimu selalu mengajak bermain, tapi bagaimanapun aku tetap bahagia dan bersyukur karena pada akhirnya bubu tumbuh sehat dan normal. "


" Mire? " Panggil Ibu Rina dengan tatapan pilu, bahkan matanya juga terlihat sembab seolah baru saja menangis.


" Ada apa, Bu? " Mire bangkit dari duduknya perlahan, lalu berjalan menuju Ibu Rina.


" Ayo duduk dulu Bu. " Mire mengajak Ibu Rina untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari jendela.


" Ada apa, Bu? Kenapa Ibu terlihat sedih? " Mire bertanya seraya mengusap punggung Ibu Rina perlahan agar bisa membuatnya sedikit lebih tenang.


" Dokter bilang, harapan untuk Drago bangkit sangat sedikit. Mereka juga menyarankan untuk merelakan saja karena Drago juga pasti kesakitan harus dipaksa untuk bertahan. "


Mire menjatuhkan kedua tangannya yang sedari tadi sibuk menenangkan Ibu Rina dengan usapannya. Sejenak dia terdiam dengan tatapan kosong dan mata memerah menahan tangis.


" Lalu, apa yang Ibu katakan kepada Dokter? "


" Ibu tidak tahu, Ibu bingung, Ibu tidak ingin kehilangan Drago, tapi juga tidak ingin dia menderita. Ibu tidak bisa berpikir, Mire. " Ibu Rina kembali menangis karena sungguh tidak bisa menahan perasaan sakit dan kesedihan itu. Mire, dia juga menitihkan air mata, tapi dengan segera dia menyeka dan menggeleng penuh keyakinan.


" Drago, tidak akan mungkin menyerah. Aku tahu alat-alat ini, dan luka membuat sakit, tapi aku yakin Drago tetap akan bertahan, dia sedang melawan rasa sakitnya, dia pasti akan bangun! Jadi jangan dengarkan ucapan Dokter itu, yakin saja Drago akan bangun, Ibu. " Sesungguhnya mengatakan kalimat itu sungguh membuatnya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. Tapi keyakinan yang ia yakini di dalam hatinya terus menguatkan dia dan memaksanya untuk jangan menyerah dan. bersabarlah lagi meski menunggu hal yang tida pasti memang melelahkan.


Baru selang beberapa saat, tiba-tiba detak jantung Drago melemah, alarm tanda gawat darurat juga otomatis berbunyi nyaring memenuhi ruangan. Mire dan Ibu Rina sontak menjadi kompak bersamaan, lalu tak lama datanglah beberapa Dokter yang memang berjaga disana. Mire dan Ibu Rina segera diminta untuk keluar, lalu dengan segera para Dokter mulai menangani Drago.


Beberapa saat kemudian, Mire dan Ibu Rina kompak berjalan cepat menuju Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Drago.


" Dokter, bagaimana keadaan anak saya? " Tanya Ibu Rina dengan mimik khawatir, sama dengan Mire juga.


Dokter itu menghela nafas panjangnya, lagi-lagi tatapan tak berdaya itu, seolah bisa mengartikan apa maksudnya, Mire kini hanya bisa menguatkan hati dan meneguhkan keyakinannya.


" Nyonya, saya paham sekali kalau anda sangat menyayangi pasien dan ingin pasien tetap hidup. Tapi, pasien ini sudah tidak merespon apapun, bahkan jantungnya masih berdetak juga karena mesin yang memaksanya. Pasien pasti menderita karena terus dipaksakan seperti ini, Nyonya. "


Ibu Rina menggeleng tak berdaya, sungguh berat sekali untuk merelakan Drago, tapi juga dia tidak sanggup melihat putranya menderita.


" Tidak, dia akan bangun. " Ucap Mire dengan wajah dingin penuh keyakinan.


" Nyonya, tolong pikirkanlah penderitaan pasien juga. " Pinta sang Dokter.


" Berapa harga semua alat yang di butuhkan Drago? Dan juga berapa harga perawat yang harus dibayar? "


" Mire? " Ibu Rina menatap Mire dengan tatapan pilu.


" Katakan, berapa harga semua alat yang dibutuhkan Drago, dan berapa harga sewa perawat? Aku akan membawa Drago pulang bersamaku, biarkan aku merawatnya dirumah, hanya tolong bantu aku menggunakan dua perawat agar bisa dua puluh empat jam menjaganya. "


" Nyonya, anda yakin? Anda benar-benar tahu dan sadar dengan apa yang anda katakan ini? "


Mire mengepalkan kedua tangannya.


" Tahu, aku juga sangat sadar. Aku mengenal calon suamiku dengan baik, dan aku sangat yakin bahwa dia juga tidak akan menyerah dan pasti ingin bangun. Dia tidak akan mau mati secepat ini meninggalkan aku, dan juga calon bayi kami. Dia juga tahu kalau aku, aku tidak akan bisa hidup tanpa dia, jadi dia pasti akan bangun. "


Ibu Rina dan Dokter di sana hanya bisa terdiam karena mereka bisa melihat kalau Mire tidak akan bisa di beri masukkan apapun. Keyakinannya sungguh sangat besar, dan itu Adah hak yang sulit untuk menerima saran apapun meski dari para ahli sekalipun.


" Mire, apa kau yakin dengan keputusan ini? " Tanya Ibu Rina sembari menatap Mire dengan tatapan yang masih terlihat sedih.


" Yakin, aku sangat yakin, Ibu. "


" Lalu, bagaimana kalau pada akhirnya Drago tidak bangun? "


Mire menoleh menatap Ibu Rina dengan maksud kecewa.


" Ibu, kalau Drago tidak bangun, setidaknya dia tetap hidup di dekatku. Aku tahu Ibu mulai goyah dan ingin membuatku mengerti dan merelakan Drago, tapi jika Drago tiada, aku juga tidak ingin hidup. Jadi tolong maafkan keegoisanku ini, Ibu. "


Ibu Rina tak lagi bicara, dia menyeka air matanya yang masih tak ingin berhenti mengalir. Sungguh dia benar-benar dilema dengan keadaan ini, tapi apapun itu sungguh dia berharap pilihan ini bukanlah pilihan yang salah, dan semoga ini juga yang di inginkan Drago juga.


Setelah seharian menunggu, mesin yang dibutuhkan kini sudah lengkap dan sudah akan dikirim ke rumah yang disewa oleh Drago. Rencananya Mire akan tinggal disana, bersama dengan dua perawat, sementara Ibu Rina dan nenek Satu akan tinggal di rumah sewa Mire dan otomatis juga bisa membantu merawat Drago di rumah.


Bersambung...