I Am A Perfect

I Am A Perfect
Happy birthday, Bernika



Derel menatap marah photo Mire yang terpajang di lemari samping tempat tidurnya. Photonya bersama Mire saat ulang tahun ke dua puluh tahunnya, kala itu semua masih terasa indah, dan hatinya juga tetap mencintai dan menyayangi meski sadar benar jika Mire bukanlah adik dari orang tua yang sama. Tapi, perasaan itu kini semua berubah, berubah hanya karena ia tidak bisa mendapatkan apa yang dimiliki adiknya saat ini.


Sejenak timbul rasa bersalah, lalu tak lama ada juga rasa marah dan cemburu yang sulit sekali untuk ditahan. Tidak tahu harus bagaimana, tapi dia juga seperti tidak ingin menyerah dan melupakan saja hati adiknya yang pastinya akan terluka. Egois? Iya! Dia sadar benar bahwa dia egois, tapi tetap dia tidak ingin memperdulikannya. Untuk pertama kalinya, dia menginginkan sesuatu, dan itu adalah sosok yang ingin dia jadikan pendamping di masa depannya.


Kemarin, dia beralasan ingin membahas tentang selisih nota dengan Drago demi untuk bertemu dirumahnya, tapi dia harus lagi kecewa saat Ibu Rina memberi tahu jika Drago tengah mengunjungi Mire di luar negeri. Marah? Tentu saja dia marah, bahkan dia hampir saja membuat dirinya dalam bahaya karena menyebrang jalan tanpa perduli banyaknya kendaraan yang berhenti mendadak karenanya.


" Maaf Mire, tapi untuk yang satu ini aku tidak akan membiarkan mu mendapatkannya. Aku sungguh menginginkan Drago, jadi aku akan melakukan apapun, iya! Apapun bahkan harga diri, kesucian juga akan aku relakan demi untuk mendapatkannya. Sekali lagi maaf, Mire. "


Derel segera memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Drago menikah dengannya begitu Drago kembali. Kalau memohon kepada Mire tidak mungkin akan direlakan kan? Kalaupun menyusul Drago, tabungan miliknya yang hanya sekitar tiga hingga empat puluh juta, takutnya tidak cukup karena dia juga tidak tahu Mire tinggal dimana karena Ibu Rina tegas sekali mengatakan tidak tahu.


" Kalau memohon kepada Mire tidak mungkin, memohon kepada Bibi Rina juga tidak berguna, maka aku hanya bisa memaksamu saja dengan caraku saat kau kembali nanti Drago. "


Derel menggigit kuku ibu jarinya dengan tatapan frustasi. Tidak tahu apa yang akan direncanakan Derel, tapi sepertinya itu bukanlah isapan jempol semata.


***


Ibu Rina menitihkan air mata meski bibirnya dipaksa untuk tersenyum hingga bergetar hebat. Sakit, dan sulit sekali melupakan masa lalu yang terjadi dengan dua sahabatnya itu.


" Aku ingin tersenyum dan terlihat bahagia saat melihat photo kita bersama-sama dulu, tapi aku tidak sanggup berpura-pura, aku tidak bisa sepertimu, dan juga seperti Mire yang bisa tersenyum saat hati hancur. Aku sedih, aku marah, aku benci saat terakhir kali melihatmu. Wajahmu yang berlumur darah, matamu yang menitihkan air mata ke arahku, bahkan saat tanganmu menggenggam erat tanganku, aku tidak mampu melupakan itu semua. Aku tidak bisa berpura-pura tidak benci, aku tidak bisa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Ini pasti tidak adil kan bagimu? Kau seharusnya dikenali olehnya, kau seharusnya bisa menggenggam tangan putrimu, mengantarkan dia menuju mimpi yang sama seperti mimpimu. " Ibu Rina Mengusap wajah dari tiga wanita yang berada di tengah-tengah.


" Aku menghindarinya selama puluhan tahun, dan kembali saat waktunya tiba, aku pikir aku akan baik-baik saja, tapi aku malah semakin tidak berdaya, hatiku sakit karena kebencian ini tidak bisa menghilang dariku. " Ibu Rina memeluk photo itu, membawanya kedalam pelukannya, bahkan berbaring di tempat tidur pun photo itu juga ia bawa.


" Selamat ulang tahun, Bernika. " Ibu Rina menyeka air matanya.


" Bernika, seandainya kau tidak mati, semua pasti akan baik-baik saja kan? " Ucap Ibu Rina, lalu tak lama matanya mulai tertutup karena lelah juga terus menangis mengenang masa lalu pahit yang hingga saat ini tak bisa ia lupakan tiap adegan yang ia lihat hingga satu sahabat terbaiknya, Bernika meninggal dengan begitu tragis.


Sama seperti Ibu Rina, Ibu Ana juga tengah bersedih mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun salah satu sahabatnya, yaitu Bernika. Sudah puluhan tahun dan setiap tahunnya Ibu Ana, dan Ibu Rina akan mengenang sahabat terbaik mereka.


" Selamat ulang tahun, Be. Maaf untuk segala yang terjadi, tapi aku yakin kau tahu benar aku menyayangimu, dan aku akan selalu menyayangimu seperti dulu, bahkan sampai aku matipun aku akan terus mengingat mu, juga menyayangimu dengan sama. " Ibu Ana menyeka air matanya, mencoba sebaik mungkin menggerakan bibirnya untuk tersenyum sebelum benar-benar tidak sanggup untuk menahan derasnya air mata yang berjatuhan.


" Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menyampaikan kesedihan di hatiku, aku tahu sesal ku tidak akan membuatmu kembali, tapi aku juga tersiksa, aku tersiksa karena gagal dalam banyak hal. Aku gagal, aku sungguh meminta maaf untuk semua yang terjadi, dulu, juga sekarang ini. Maaf, aku selalu berada di pihak yang tidak berdaya. "


Ibu Ana mengusap lembut wajah Bernika di photo itu dengan tatapan yang mengisyaratkan kerinduan, juga rasa bersalah yang amat dalam.


Di luar rumah, tepatnya di halaman rumah mereka yang banyak bermacam bunga-bunga yang ditanam oleh Ibu Ana. Ayah Luan duduk terdiam menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang berkilau seolah mereka tengah saling menyapa dan berbicara satu sama lain. Rasanya begitu indah, tapi keindahan yang ada di langit tak mampu membuat hatinya merasa tenang dan lega. Ada rasa sakit, juga ada sesak yang menyeruak dari hatinya sendiri. Sudah berbulan-bulan tidak melihat putrinya secara langsung, ditambah suasana hatinya yang kacau hari ini.


***


" Kau akan bekerja setelah ini? " Tanya Drago setelah menjauhkan piring kosongnya.


" Aku sudah mengajukan cuti sehari ini, tapi si brengsek Wiliam itu tidak memberikan izin, dia bilang ada banyak pekerjaan, jadi aku dipaksa datang hari ini. " Mire menghembuskan nafas sebalnya lalu menjauhkan piringnya juga setelah selesai dengan kegiatan makan siangnya.


" Wiliam itu pemilik galeri? "


" Bukan, dia anak pemilik galeri yang sudah meninggal. Memang dasar menyebalkan! Masa satu hari libur saja tidak boleh. " Gerutu lagi Mire.


Drago memaksakan senyumnya, lalu mengusap kepala Mire dengan lembut.


" Boleh aku menemanimu bekerja? "


Mire menatap bola mata Drago dengan binar bahagia yang memancar jelas dari sana.


" Sungguh?! "


" Iya. "


Mire memeluk erat tubuh Drago dengan semangat.


" Tapi, jika boleh aku memberi saran padamu, jangan terlalu membencinya juga ya? "


" Kenapa? " Tanya Mire bingung.


" Rasa benci yang berlebihan akan membuatmu dengan mudah mengingat dia, juga bukan hal mustahil untuk tidak jatuh cinta dengannya kan? "


Mire terdiam dengan wajah datar untuk beberapa saat, tapi beberapa detik setelahnya, wajahnya berbinar bahagia kembali.


" Uh,... sayang Drago ku cemburu ya? "


Bersambung