
Mire tersenyum menyabut sepasang suami istri yang datang ke restauran milik Drago dengan tujuan untuk membeli lukisan Mire yang sudah dipasarkan sekitar sebulan yang laku dininternet. Semuanya memang terasa mustahil, tapi berkat kerja kerasnya juga ada Drago yang selaku mendukungnya tanpa perduli Mire tahu tau tidak, sekarang akhirnya nama Mire mulai dikenal, bahkan sudah mulai dibicarakan oleh kolektor lukisan di London.
Benar istilah kata yang menyatakan jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, karena sekarang Mire mulai merasakan betapa indahnya buah dari kesabaran, juga keteguhan hatinya dalam mencintai hobi melukis, juga mencintai pria yang tentunya adalah Drago seorang.
" Terimakasih karena sudah menjelaskan, dan menjual lukisan itu kepada kami. Kami janji akan menjadi pelanggan setia jika ada lukisan mu yang sesuai dengan selera kami. " Ucap pembeli itu seraya menyodorkan tangannya untuk disambut setelah proses pembelian selesai.
" Terimakasih kembali, saya benar-benar sangat beruntung. Kedepannya saya akan berusaha lebih baik lagi, dan semoga lukisan saya berikutnya sesuai selera anda. " Ucap Mire seraya menyambut hangat uliran tangan si pembeli tadi.
Ini adalah pembeli ke delapan, dan Mire sudah menghasilkan hampir dua juta Euro. Sebenarnya bisa dibilang fantastis harga lukisan dari seorang Mire yang baru saja mulai dikenal di kota London. Tapi keberuntungan dan nilai harga yang terbilang tinggi itu juga bukan tanpa alasan, karena semua itu terjadi berkat kehebatan Mire dan menjadikan karyanya nampak nyata, perasaan yang dilukiskan juga sampai ke hati orang yang memandangnya.
" Sayang, kau berhasil lagi. " Ujar Drago lalu tersenyum seraya mengusap rambut Mire dengan lembut.
" Ternyata memajang lukisan di restauran juga bisa menghasilkan banyak uang. Benar-bena beruntung karena kesayanganku memiliki restauran ya? " Mire beruigsut masuk ke dalam pelukan Drago. Tidak tahu mau seberapa banyak mengucapkan kata terimakasih kepada pria yang kini tengah ia peluk, jika saja tidak ada Drago yang juga membantunya meski dia sendiri jatuh bangun saat menjalankan restauran nya, mungkin Mire hanyalah akan menjadi Mire yang tidak tahu seperti apa sekarang ini.
" Ngomong-ngomong Alex tidak kelihatan hari ini, dia kemana? " Tanya Mire.
" Dia sedang melihat tempat yang niatnya akan digunakan untuk membuka cabang. Semoga saja tempatnya bagus, dan strategis jadi kita bisa tambah satu lagi restauran nya. "
Mire tersenyum lalu mengangguk pertanda kalau dia paham dengan apa yang dibicarakan Drago.
" Kita benar-benar beruntung ya sayang? Aku bergantung padamu, dan kau juga bertemu dengan orang-orang seperti Alex dan juga teman-temannya. Semuanya menjadi lebih mudah untuk kita semua. "
Drago mengangguk seraya mengusap kepala Mire yang masih menempel erat di dadanya.
" Aku juga tidak tahu kalau jalan yang awalnya dirasa ragu-ragu, ternyata bisa seperti sekarang ini. Aku sebenarnya jauh lebih beruntung dari pada kalian, aku memilikimu yang tidak ragu memilih untuk bersama ku meski kau tidak tahu akan seperti apa hidup bersamaku, lalu aku bertemu dengan Alex dan teman-remannya yang sekarang ikut membantu mengelola restauran ini dengan kemampuan mereka yang luar biasa. Kau juga bisa lihat kan? Restauran semakin ramai pengunjungnya juga karena Alex beserta teman-remannya ikut mempromosikan restauran ini. "
Mire semakin mengeratkan pelukannya, padahal dia sudah menghasilkan banyak uang, tapi pria yang berstatus tunangannya justru menanggung biaya hidupnya, jadi uang yang dia hasilkan tidak banyak berkurang.
" Oh iya, tadi aku tidak sengaja bertemu nenek galeri saat akan survei tempat. Dia bilang untukmu agar segera mengecek rekening tabunganmu, juga dia menitipkan salam, dan berharap kau selalu sehat dan bahagia. "
Mire sontak terdiam, inilah yang tidak dia sanggup, nenek galeri sudah seperti neneknya sendiri, jadi dia tetap saja merasa tidak tega dan rindu. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau sampai dia bertemu dengan Wiliam, dia juga malas kalau harus terus berdebat tidak jelas seperti sebelumnya.
" Aku juga berharap dia sehat dan bahagia selalu dimanapun, dan dikondisi apapun. " Ujar Mire lalu membuang nafas panjangnya.
Drago menatap sebentar Mire yang jadi agak murung setelah membicarakan nenek galeri. Tidak ingin berlangsung lama, Drago akhirnya membicarakan apa yang memang ingin dia bicarakan dari kemarin.
" Sungguhan? Kau kan sudah memiliki pengajian yang lumayan, kau bisa menyewanya dulu selama satu tahun untuk percobaan, nanti lihat bagaimana perkembangan nya. Tapi aku yakin kalau lada akhirnya kau akan berhasil dengan cara apapun. "
" Aku tahu kau akan bicara seperti itu! "
***
" Ayah, yakin sungguh ingin mendatangi Mire? " Taya Ibu Ana saat melihat Ayah Luan memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam kopernya, bahkan juga sudah menyiapkan paspor dan keperluan yang lainnya disana.
Ayah Luan terdiam sesaat berbarengan dengan gerakan tangannya.
" Iya, aku tidak bisa hanya menunggu saja. Aku sudah bertahan, tapi ini sudah hampir dua tahun, aku sudah tidak ingin menunggu lagi. "
Ibu Ana menghela nafasnya, lalu mengambil posisi untuk duduk di samping koper yang kini sedang dibereskan oleh Ayah Luan.
" Apa yang ingin Ayah katakan saat sudah bertemu dengan Mire? Apakah meminta maaf? Apakah memaksanya pulang? Memarahinya karena ini menganggap Mire tidak menghargai orang tuanya? "
Ayah Luan menatap Ibu Ana dengan tatapan seolah dia merasa aneh dengan apa yang ditanyakan Ibu Ana barusan.
" Mire adalah putriku, aku menjadi kasar karena aku pikir aku bisa membuat jalan hidup yang berbeda dengan Ibunya, tapi jika itu semua adalah sebuah kesalahan dan menjadi penyebab kebencian Mire yang mendarah daging padaku, maka aku sebagai Ayah hanya bisa memohon pengampunan dari putriku, lalu membujuknya untuk dia ikut pulang. "
Ibu Ana menghela nafas panjangnya.
" Bisakah jangan begitu ambigu? Yang Mire inginkan bukan tentang kembali ke rumah ini, dan hidup seperti dulu lagi. Dia menginginkan kebebasan untuk memilih jalan hidup, jadi biarkan saja dia menjalani pilihannya itu. "
Ayah Luan menatap Ibu Ana tajam. Padahal Mire sudah hampir dua tahun tidak tinggal bersama dengannya, dan juga keluarganya sendiri. Jadi bagaimana bisa membiarkan Mire jadi lebih lama berada jauh dan mungkin saja akan melupakan Ayah Luan dan keluarganya sendiri.
" Seorang anak kadang tidak tahu benar apa yang baik dan apa yang buruk untuk hidupnya, aku hanya ingin yang terbaik untuk Mire, aku juga ingin Mire hidup bahagia dengan jalan yang aku yakini bahwa jalan yang dipilih anak ku adalah jalan yang terbaik. "
" Bisakah kau mengganti pola berpikir mu? Jalan yang kita anggap terbaik kalau anak kita tidak bahagia lalu untuk apa jalan terbaik itu? "
" Maka dari itu, aku harus membuat Mire memahaminya lebih dulu. "
Bersambung...