
Setelah pemeriksaan keseluruhan, Drago sudah dinyatakan baik-baik saja. Bagian jantungnya yang bocor akibat tusukan kaca dan sudah di operasi juga sudah tak mengalami masalah, cedera di belakang kepalanya juga beruntung tak memberikan efek berbahaya karena gumpalan darah yang ada di kepalanya sudah di angkat setelah kecelakaan itu. Tidak tahu harus bagaimana dan sebanyak apa mengucapkan kata syukur atas segala kebaikan yang Tuhan berikan, tapi berbuat baik tanpa pamrih mungkin akan mewakili bentuk dari rasa syukur yang mereka rasakan.
Lima bulan sudah Drago menjalani perawatan, mulai dari memperkokoh jalannya, mengembalikkan kekuatan di bagian tangan, juga suruh tubuhnya, kini pria tiga puluh tahun itu bisa kembali seperti sedia kala. Memang, ada bagian kepala yang tidak bisa tumbuh rambut karena bekas operasi, tapi percayalah pria itu tak kehilangan ketampanannya, juga pesonanya.
Sudah tertunda satu tahun lebih, tapi syukurlah pernikahan keduanya akan digelar hari ini juga. Sempat memang dinikahkan saat Drago koma karena Ibu Rina takut Drago tidak akan bisa bertahan, tapi pernikahan itu hanya di saksikan oleh kelurga inti, dan juga sahabat baiknya, Lusi. Jadi hari ini, hari yang paling mendebarkan bagi pasangan yang akan naik pelaminan, hari yang begitu di dambakan oleh Mire dan Drago tiba.
Dengan senyum mempesona, setelah tuksedo lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam menghiasi kerah kemejanya, Drago menyambut kedatangan Mire. Gadis yang ia pikir akan membuatnya repot, gadis yang ia anggap menyebalkan, tapi dialah gadis yang telah mendongkrak pintu hatinya, singgah di sana dengan begitu kukuh dan membuatnya terperangkap tak punya pilihan selain mencintainya hingga diluar dugaannya sendiri.
Cantik, itulah yang Drago lihat dari seorang Mire yang kini berjalan ke arahnya dengan tubuh yang terbungkus gaun pernikahan berwarna putih dan sedikit manik-manik menghiasi hingga menentukan efek Kilauan indah membuat Mire bak seorang peri cantik. Dengan senyum manis, riasan wajah menambah kesan cantik menjadikan wanita. bernama Mire bak sebuah bintang indah yang membuat semua mata menatap kagum padanya.
" Hei, wife? " Drago mengulurkan tangannya menyambut hangat penuh cinta sang pujaan hati yang selalu saja membuat matanya tak ingin beralih pandang.
Sumpah pernikahan telah di ucapkan, satu persatu tamu undangan juga sudah mengucapkan kata selamat, dan mendoakan agar Mire dan Drago selalu bahagia. Tak terkecuali juga Wiliam, pria itu sebenarnya semakin latah hati, tapi janjinya yang akan menganggap Mire sebagai seorang sahabat juga adik, mau tak mau membawanya hadir bersama dengan neneknya. Sementara Lusi, gadis manis yang selama ini sibuk dengan pekerjannya juga tak mau absen di pernikahan sahabat terbaiknya. Sungguh dia bahagia minat bagaimana Mire mendapatkan kebahagiaanya sekarang. Dia menjadi salah satu pelukis terkenal, dan dia menikah dengan cinta pertama, bahkan juga sudah punya anak. Tidak apa-apalah, meskipun merasa iri dan ingin menikah juga, toh nanti kalau ada jodoh menikah.
Satu, dua, tiga!
Mire melemparkan buket bunganya kepada para pengunjung, tapi entah mengapa Mire sempat akan jatuh karena menginjak gaunnya sendiri, dan untunglah ada Drago yang menahan tubuhnya. Dan, tahukah bunga itu terlempar kemana? Bunga itu terlempar jauh dari para pengunjung yang berebut bunga, dan jatuh di tangan Lusi yang berdiri di sebelah Wiliam. Jangan tanya kenapa Lusi bisa berdiri di samping Wiliam, karena jawabannya adalah karena Nenek galeri yang ngotot ingin menjodohkan mereka berdua.
" Wah, Lusi! Sepertinya kau akan segera menikah ya?! " Teriak Mire kegirangan.
" Heh? " Lusi menatap bunga itu dengan tatapan malas. Apa-apaan sih? Bunga aneh ini sedang menyindir aku yang tidak punya pacar ya? Batin Lusi menggerutu.
" Buatmu saja nih! " Lusi menyerahkan bunga itu kepada Wiliam.
" Apa-apaan! Buat mu saja! Aku belum ingin menikah! " Ucap Wiliam mengoper lagi bunga itu kepada Lusi.
" Duh! Ambil saja! Aku juga tidak ingin menikah! " Lusi mengoper kembali bunga itu kepada Wiliam.
" Aku sudah bilang tidak mau! "
Lusi dan Wiliam tanpa sadar membuat para tamu undangan merasa kalau mereka nampak manis dan serasi dengan bunga di antara mereka. Nenek galeri juga semakin yakin kalau Lusi adalah gadis yang cocok untuk cucunya.
" Lusi anak yang baik, Wiliam pasti akan merasa beruntung menikah dengannya. " Ujar Ibu Rina yang sedari tadi menatap Lusi dan Wiliam sembari menggendong erat-erat cucu kesayangannya.
" Iya begitu kelihatannya. Ngomong-ngomong, sudah dari tadi kau menggendong Camelia, sekarang biarkan saja Bibi ya gendong ya? " Pinta Nenek Santi.
" Nanti Bibi lelah, biar aku saja ya? " Ibu Rina tersenyum dengan begitu manis saat Nenek Santi merengut sebal karena lagi-lagi cicitnya yang diberi bama Camelia Eldrick harus dikuasi oleh Ibu Rina.
Setelah pesta selesai, Mire dan Drago kini masih tinggal di hotel tempat mereka melangsungkan pesta pernikahan sementara yang lain kembali ke kediaman mereka masing-masing.
" Sayang, Camel tinggal dengan siapa ya? Ini pasti Nenek dan Ibu sedang rebutan deh. " Ujar Mire seraya memainkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Lusi untuk mengetahui kabar putrinya karena Ibu Rina bum membalas pesan darinya.
" Malam ini jangan pikirkan yang lain bisa tidak? Ini kan malam pertama kita. " Ujar Drago seraya memeluk Mire yang tengah berdiri dengan ponsel di tangannya dari belakang, dan mencium ceruk Mire dengan lembut.
" Iya maaf, aku hanya ingin tahu saja Camel tidur dengan siapa. "
" Sayang, sudah lama, dari aku koma, sampai sekarang kita tidak melakukannya kan? Aku benar-benar sangat merindukan itu. " Drago menjalankan tangannya mulai membuka kain pengikat jubah mandi yang Mire gunakan karena dia sudah mandi sedari tadi. Mire sudah mulai memejam merasakan tangan hangat Drago menyusuri perutnya. Tapi tiba-tiba dia juga penasaran, Drago biasanya akan lebih banyak waktu bersama Camel, mengajaknya bermain, membersihkan kotorannya, bahkan tidur juga selalu memeluk Camel.
" Sayang, apa kau tidak merindukan Camel? "
" Rindu, tapi lebih rindu yang begini sekarang. jangan tanya apa-apa lagi, aku tidak ingin suasananya jadi tidak mendukung. " Mire terdiam, iya benar! Sudah lama mereka tidak melakukannya karena dia terus menolak dengan alasan takut terjadi hal buruk kalau sampai Drago mengeluarkan tenaga berlebihan. Tapi setelah berkonsultasi dengan Dokter dan dinyatakan baik-baik saja, Mire kini sudah bisa merasa tenang.
Drago membalikan tubuh Mire, meraih jubah mandi bagian atas dan menjatuhkannya di lantai setelah berhasil menanggalkan dari tubuh Mire. Tidak ada kain penghalang di bagian dada, jadi mudah baginya untuk menyalurkan kerinduannya dengan bagian itu secara langsung. Pijatan lembut, tangan maupun bibir dari Drago membuat Mire mulai masuk ke dalam permainan dan mulai menikmati dengan iringan lenguhan dari bibirnya.
Bersambung..