I Am A Perfect

I Am A Perfect
To Fighting



Satu persatu tamu undangan mulai mendatangi sebuah Art Galery nomor satu di London. Seperti yang di inginkan Mire, Drago dan juga Nenek Santi juga turut hadir disana melihat bagiamana Mire tersenyum bahagia karena lukisannya banyak dikagumi oleh para penggemar seni lukis. Tidak bisa banyak mengobrol dengan Mire, karena hadis itu sibuk berbincang dengan banyak orang untuk menjelaskan tiga lukisannya yang mengikuti pameran.


" Drago, Nenek benar-benar bahagia melihat Mire seperti sekarang ini. Nenek memang tidak tahu bagaimana kehidupan Mire sebelumnya, tapi Nenek berharap dia akan terus bahagia seperti sekarang ini. "


Drago mengangguk setuju, dia juga merasakan yang sama. Di bahagia melihat Mire bahagia, tapi ada juga hal yang tidak ia suka kali ini dan itu adalah Wiliam yang selalu saja menempel dan memgikuti kemana Mire melangkah. Sebenarnya awalnya Drago merasa kalau Wiliam tidak akan mungkin bisa membuat hati Mire goyah, tapi kalau Wiliam sendiri terus mepet dan mengikis jarak di antara mereka, bukankah akan terjadi perubahan pada akhirnya?


Dari jauh, Wiliam tersenyum karena melihat tatapan tidak suka Drago saat dia terus bersama dengan Mire berbincang dengan para tamu yang tertarik dengan lukisan Mire. Sebenarnya Wiliam tidak begitu perduli akan lukisan, tapi melihat bagaimana banyak nya orang yang tertarik dengan lukisan Mire, dia jadi merasa senang juga karena pada akhirnya dia menjadi memiliki lebih banyak waktu bersama dengan Mire saat ada Drago disana.


" Mire, aku kesana dulu ya? " Tunjuk Wiliam ke arah yang tak jauh dari Drago dan juga Nenek Santi.


" Iya. " Ucap Mire penuh syukur, ya bagaimana tidak? Wiliam itu terus saja membuatnya risih dengan berada di dekatnya sedari tadi. Sebenarnya adanya Wiliam juga membantu sih, karena ada beberapa aktor yang mengenalnya langsung menyapa, berbincang dan pada akhirnya Wiliam mempromosikan lukisannya Mire. Tali meskipun lukisannya jadi banyak peminat, Mire malah jadi tidak fokus dengan baik karena Wiliam bersikap seolah-olah mereka memiliki hubungan khusus meski tidak mengiyakan dari ucapannya. Mulai dari cara bicara uang lembut saat ada orang bersama mereka, bertanya terus menerus apalah Mire merasa lelah berdiri dan berbicara terus, dan masih banyak hal lain lagi.


Wiliam berjalan menghampiri Drago, lalu tersenyum setelah berada di hadapan pria itu. Tahu benar jika nantinya Wiliam akan bicara dengan tidak baik, maka Drago meminta nenek Santi untuk segera menemani Mire yang saat ini sedang berbicara dengan sepasang suami istri tak jauh dari mereka.


" Tidak disangka pada akhirnya kau bisa datang ke pameran lukisan yang kebanyakan pengunjungnya adalah dari kelas atas. Sepertinya Mire banyak usaha untuk membuatmu bisa datang kesini ya? " Wiliam tersenyum seolah dia mengejek dengan begitu percaya diri.


Drago, pria itu juga tersenyum seolah tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Wiliam. Dia memang tidak tahu apa yang Mire lakukan sehingga dia bisa ikut menghadiri pameran lukisan kelas atas ini, tapi apakah dia harus merasa rendah diri karena ucapan Wiliam? Tentu saja tidak! Meskipun sadar benar bahwa keuangannya tidak dapat dibandingkan dengan Wiliam, tapi bukankah uang tak berarti jika tak bisa memiliki kebahagiaan yang di inginkan?


" Terimakasih telah memberitahu seberapa banyaknya usaha Mire demi diriku. Aku sungguh merasa beruntung karena Mire terus melakukan apapun untukku, dan semua itu berkat anda ya Mr. Wiliam. Aku semakin beruntung memiliki Mire di hidupku. "


Wiliam berdecih tak percaya, lalu kembali menatap Drago yang tidak nampak goyah sama sekali.


" Sekarang kau merasa beruntung, tapi saat Mire sudah jauh berada di atas mu, dia hanya akan menganggap sampah, atau paling bagus ya pajangan saja. Kau tahu kenapa? " Wiliam memajukan langkahnya dan sorot matanya seolah begitu berani karena meyakini ucapannya nanti adalah sebuah fakta yang tidak akan pernah bisa di ubah.


" Wanita yang bisa melakukan apapun segalanya sendiri, dia tidak akan membutuhkan pria sepertimu, dan dia akan mulai melihat ke atas, mencari sosok yang seharusnya bisa melampauinya. "


" Mr Wiliam, di dunia ini ada banyak macam tipe manusia. Sepertinya kau memiliki pengalaman yang kurang baik dengan satu orang, lalu sekarang ini kau menyamakan Mire dengan orang itu. Mire, mungkin pada akhirnya akan di atas, tapi aku akan berada disampingnya,bukan di atasnya lagi, atau di bawahnya. Satu hal lagi, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, jadi aku yakin kalau aku akan tetap bisa melakukan beberapa hal yang tidak bisa Mire lakukan seorang diri, atau dengan orang lain. "


Wiliam tersenyum, lalu membuang nafas kasarnya.


" Kepercayaan dirimu memang luar biasa ya, Mr Drago? "


" Drago, cukup panggil seperti itu karena aku tidak layak dipanggil dengan begitu hormat oleh anda, Mr Wiliam. "


Wiliam tersenyum miring dengan perasaan yang mulai kesal. Benar-benar membuat emosi, Mire yang kukuh bersama dengan Drago, kemudian Drago yang keras kepala dan tidak sadar diri juga, sekarang sepertinya Wiliam mulai mengetahui dari mana ngeyel Mire berasal.


" Setelah pameran ini, aku yakin nama Mire akan melambung naik di dunia seni lukis. Kau bisa melihatnya nanti, apakah kata-kataku barusan benar, atau kah pendapatmu yang akan terjadi. Jadi kalau Mire pada akhirnya jatuh keperluanku, jangan terlalu banyak menangis ya? "


Drago tersenyum tapi enggan menatap Wiliam yang terus menatapnya dengan maksud meremehkan. Biar saja, tatapan seperti itu sudah biasa dia lihat saat dia dan Ayahnya merintis usaha di negaranya dulu.


" Terserah anda saja, Mr Wiliam. Aku dan Mire sudah berjanji bahwa kami adalah satu yang terbagi dua hanya untuk kami saja. Mire sudah melakukan banyak hal, dan memberikan semua yang dia punya untukku, tidak perduli pada akhirnya bagaimana, dan siapa yang akan bersama dengan Mire sampai akhir. Tapi, selama Mire masih mencintaiku, aku akan berjuang sebisa yang aku mampu, dan sisanya biarkan Tuhan yang melakukannya. "


Drago memilih menatap Mire yang kini menatapnya juga dengan senyum yang begitu indah. Drago juga tersenyum untuk membalasnya.


" Ucap mu barusan benar-benar mirip seperti casanova ya? " Sindir wiliam.


" Mire, memang bukan wanita pertama bagiku, dan melakukan hal diluar batas juga bukan pertama kali bagiku. Tapi, aku tidak pernah mempermainkan wanita, dan aku selalu bertahan meskipun itu sulit. Dan kali ini, aku akan terus berusaha sekuat yang aku bisa, agar kau tahu apakah aku sama seperti dirimu, ataukah tidak. "


Bersambung