I Am A Perfect

I Am A Perfect
Suprise!



Seharian ini Mire benar-brnar sibuk sekali dengan Niki galeri yang semakin ramai. Memang tidak merasa lelah dalam mengerjakan tugasnya disana, hanya saja adanya Wiliam sungguh membuatnya sangat pusing dan sebal. Bagaimana tidak? Seharian ini Wiliam terus mengganggunya dengan alasan-alasa aneh bagi seorang Mire. Mulai dari takut wanita yang kemarin akan datang dan mengganggunya lah, belum lagi keram perut yang membuat Mire terbebani dengan banyaknya permintaan manja Wiliam yang sebentar-sebentar meminta Mire untuk melihat perutnya. Tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu si pria menyebalkan itu, tapi Mire sudah mulai paham jika harus menjaga jarak dengan Wiliam sebelum orang lain akan menyalahpahami hubungan mereka, terlebih dia juga tidak ingin kalau sampai Drago berpikir buruk tentangnya dan Wiliam.


" Mire, aku antar pulang ya? "


Mire menghela nafas panjangnya, melirik kesal kepada Wiliam yang kini tersenyum aneh.


" Jangan! Aku tidak mau perempuan-perempuanmu menjadi salah paham denganku, lalu mengeroyokku dan memakiku saat bertemu di jalan nanti. Aku juga sudah bertunangan, jadi aku tidak mau terlalu dekat dengan lawan jenis, nanti bisa-bisa tunanganku marah dan meninggalkan ku. " Mire meraih tasnya, lalu bersiap untuk membuka pintu galeri yang terbuat dari kaca, bahkan tembok bagian depan galeri juga full menggunakan kaca.


" Heh? Kalau priamu itu meninggalkan mu hanya karena masalah sepele seperti ini, itu artinya dia bukan pria yang pantas untuk mu. "


Mire mengeryit bingung, lalu membatalkan niatnya yang sudah akan menggerakkan handle pintu, lalu menatap Wiliam dengan tatapan tajam.


" Lalu? Apakah aku tidak boleh menjaga perasaannya? Dan sesuka hati dekat dengan siapapun pria meski tidak memiliki hubungan spesial? Kalau tunanganku begitu, aku pasti akan marah, jadi aku tidak akan melakukan hal yang tidak aku sukai. "


" Cih! Dasar galak dan tukang mengomel! " Sebal Wiliam.


" Masa bodoh! Dari pada sibuk mengurusi tunanganku, bagaimana kalau kau belikan pembalut untuk perempuanmu saja? " Mire tersenyum mengejek, lalu meraih handle pintu, membukanya dan melenggang keluar.


" Drago? " Langkah kaki Mire terhenti melihat seorang pria berdiri di bawah pohon dengan pakaian serba hitam, juga tak ransel yang lumayan besar di punggungnya.


" Drago! " Mire berlari menghampiri Drago, memeluknya dengan bahagia. Iya, hampir tiga bulan setelah mereka memutuskan untuk menjalin hubungan hati, akhirnya bisa bertemu lagi.


Drago juga memeluk erat tubuh mungil tunangannya yang sangat membuatnya rindu. Tidak tahu mulai dari kapan perasaan itu tumbuh, tapi tiga bulan terakhir ini benar-benar membuatnya tak bisa melewatkan hari tanpa memikirkan gadis manja yang sudah menjadi tunangannya.


" Kenapa tidak menghubungiku? Kapan kau datang? " Tanya Mire setelah mereka mulai mengendurkan pelukannya.


Drago tersenyum, lalu menangkup wajah mungil Mire.


" Aku ingin memberi kejutan untukmu, aku juga ingin masuk ke dalam tadi, tapi sepertinya kau sedang sangat sibuk jadi aku memutuskan untuk menunggu disini saja. "


" Sibuk apa? Aku tidak melakukan apapun terkecuali berbicara dengan Wiliam. "


Drago memaksakan senyumnya, lalu sejenak menatap ke arah belakang Mire, atau tepatnya ke arah Wiliam yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


" Jadi, apakah anak manja ini merindukanku? " Tanya Drago seraya kembali menatap Mire dan tersenyum. Kedua tangannya masih menangkup wajah Mire dan mengusapnya lembut.


" Pertanyaan macam apa itu? Ya tentu saja aku merindukanmu! " Mire memeluk tengkuk Drago, lalu mengecup singkat bibir Drago.


" Kau sudah berani memulai ya? " Ledek Drago.


" Memang kenapa? Kan nanti kita akan menikah, latihan dari sekarang juga bukan salah kan? Lagian kalau bukan mencium mu, aku ma mencium siapa? Lusi? Aku baru mendekat dia saja sudah kabur ke kamar dan mengunci pintu dengan rapat, lalu bilang kalau otakku sudah sinting. "


Drago terkekeh, lalu mengubah posisi tangannya untuk mengaitkan jemarinya dengan Mire.


" Tentu saja kau hanya boleh mencium ku, tidak boleh yang lain, Lusi juga termasuk. " Drago melihat Wiliam sebentar lalu kembali tersenyum kepada Mire. Iya, dia sengaja ingin menunjukkan bahwa Mire adalah miliknya karena dia bisa melihat dengan jelas, sedari tadi dia memperhatikan bagaimana sikap Wiliam yang dengan seperti ingin membuat Mire jatuh cinta. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan tadi memang, tapi dia juga bisa melihat bahwa Mire mencoba untuk menjaga jarak.


" Iya. "


" Eh, tunggu! Aku lupa ponselku. " Ujar Mire yang ingat benar biasanya selalu meletakkan ponsel di saku celana, atau kalau tidak biasanya akan ia pegang.


" Tunggu sebentar ya? " Drago mengangguk sembari tersenyum. Mire bergegas kembali masuk untuk mencari ponselnya, tapi Wiliam dengan sengaja menyembunyikan di tempat yang sulit ditemukan Mire, dan dia berjalan keluar untuk menghampiri Drago.


" Tunangan Mire? "


Drago terdiam menatap datar saja Wiliam yang berjalan mendekat ke arahnya. Senyum miring yang ditunjukkan Wiliam tentu dia bisa mengartikannya sebagai sikap meremehkan, tapi bukan Drago namanya jika akan merasa rendah diri.


" Mire menyukaimu pasti hanya karena kau tampan ya? " Wiliam terkekeh tapi tidak tahu apa maksudnya.


Drago menghela nafas, lalu menatap Wiliam dengan kesan jengah.


" Kalau begitu harus aku akui aku beruntung memiliki wajah ini. " Ujar Drago tapi tak menunjukkan ekspresi apapun.


" Kau pikir, rasa suka hanya karena rupa bisa akan bertahan lama? "


Kini Drago mulai mengeryit menatap Wiliam yang tersenyum smirk dengan mimik yang menjijikkan bagi Drago.


" Kau bukan Mire, jadi jangan mendeskripsikan seolah kau tahu benar siapa Mire. "


Wiliam kembali terkekeh.


" Mire, dia memiliki kelebihan yang luar biasa di bidang lukis. Tapi, itu juga adalah kelemahannya, kau paham apa maksudnya kan? "


Drago mengeraskan rahangnya menahan diri agar tak meluapkan emosi.


" Bisakah kau berterus terang saja jika kau tertarik dengan tunanganku? Jangan berbicara kesana kemari, bahkan kau juga mengancamku dengan ucapanmu. Apakah kau pikir kau pemilik kehidupan sehingga kau bisa mengatur semua sesuka hatimu? "


" Aku tentu saja bukan pemilik kehidupan, tapi apa yang aku inginkan, akan aku usahakan dengan segala kemampuan ku. Benar, aku menginginkan Mire. Kau memang tunangannya sekarang, tapi saat aku bertindak sedikit nekat, kau hanya akan menjadi orang asing baginya dalam sekejap mata. "


" Silakan banyak bicara, tapi aku mempercayai Mire. "


" Pft! Mire sangat menyukai melukis, dia bahkan tidak mengenal lelah untuk memajukan galeri ini, bahkan dia juga tidak kalah semangat demi menjadi pelukis terbaik. " Wiliam mendekatkan dirinya agar lebih bisa dekat dengan Drago.


" Menurutmu, disaat buntu dan krisis, siapa yang akan Mire pilih? Karir melukis, atau kau? Sekarang jika kau bertanya padanya, dia tentu saja akan memilihmu, tapi tidak tahu kalau dia berada di kondisi kritis. "


Drago terdiam sesaat.


" Terserah kau saja, katakanlah apa yang ingin kau katakan, Mire bebas memilih bagiamana dia akan hidup, jalan mana yang ingin dia pilih, dan dengan siapa dia ingin menghabiskan waktu. Aku yakin kepadanya, Mire, tidak akan memilih sesuatu yang jelas itu bukan pilihan. "


Bersambung