I Am A Perfect

I Am A Perfect
Yes, Loving Her!



Drago menghela nafas sebalnya karena harus menghadapi Derel yang begitu bersikeras ingin bicara dengannya hingga rela menunggu sampai pukul sembilan malam di restauran nya. Sebenarnya sungguh enggan untuk Drago melayani Derel yang sepertinya sudah tertebak apa yang akan dibicarakan wanita itu.


Sebentar dia melihat wajah Derel yang nampak sedih, tapi anehnya kenapa dia malah merasa tidak perduli? Sempat ragu ingin bertanya ada masalah apa dengan wanita itu, tapi kalau selesai lebih cepat urusannya, dia pikir dia juga akan lebih cepat untuk kembali kerumah karena ini juga sudah lewat makan malam, dan Ibunya pasti makan malam sendirian atau bahkan masih menunggunya untuk makan malam bersama.


" Cepatlah bicara, aku harus segera pulang. Ibuku pasti sudah menungguku. " Drago menatap datar wajah Derel yang kini agak tertunduk. Kalau saja Derel tidak berdiri di dekat mobilnya, dia bisa saja melengos dan langsung pergi kan?


" Aku, aku ingin meminta maaf untuk yang waktu itu. " Ucap Derel semakin menunduk. Mungkin dia merasa malu, atau bisa juga dia tidak sanggup menatap wajah Drago karena perasaan di hatinya yang semakin tumbuh tak terkendali.


Drago membuang nafas kasarnya. Begini ini bosa basi orang yang akan mengatakan hal tidak masuk akal, meski dia benar-benar tidak ingin meladeni calon kakak iparnya itu, rasanya juga dia harus bicara agar Derel berhenti datang ke restauran karena para karyawan yang bekerja di sana mulai menyalahpahami dan mengira kalau Derel adalah kekasih Bos mereka.


" Oke, aku sudah menerima permintaan maaf mu, sekarang aku harus pulang kerumah. "'Drago sudah bersiap akan melangkahkan kaki, tapi Derel dengan segera berucap dan Drago akhirnya membatalkan niatnya sebentar.


" Kenapa? Kenapa kau tidak memilihku? Apa yang kurang dariku sehingga aku tidak bisa disamakan dengan Mire? " Derel meremas kain dress yang ia kenakan dengan tubuh yang gemetar. Tahu, pertanyaan ini adalah pertanyaan paling tidak tahu diri bagi orang yang akan mendengarnya, tapi sungguh dia sama sekali tida perduli karena sakit dihatinya begitu ingin meronta tak terima dengan kenyataan yang terjadi.


Drago mengeryit dengan senyum yang seolah dia keheranan dengan pertanyaan Derel. Tentu dia bisa melihat bagaimana Derel terlihat malu dengan pertanyaan itu, tapi apakah dia tidak tahu akan bagaiamana rasanya kalau mengetahui jawaban dari pertanyaannya itu?


" Kau sadar dengan apa yang kau tanyakan? "


Derel mengangkat kepalanya, ditatapnya benar-benar kedua bola mata Drago dengan tatapan tegas seolah dia tidak menyesali pertanyaannya itu.


" Iya, dan jawablah, aku ingin tahu apa kekuranganku dan bagaimana bisa, Mire mengalahkan ku. "


Drago tersenyum miris sembari menggelengkan kepala karena benar-benar takjub dengan pola pikir wanita yang ia tahu benar hebat dalam menjalankan bisnis Ayahnya. Drago menghembuskan nafas kasarnya, lalu menatap Derel yang terus menatapnya hingga mata Derel memerah seperti menahan tangis. Tentu saja Drago tidak tahu apa yang membuat Derel bersikap bawa dia adalah wanita yang tersakiti, dan seolah Drago adalah si pria brengsek yang menyakitinya. Tapi dibanding harus memikirkan itu, sepertinya menjawab segala pertanyaan dari Derel bisa membuatnya puas dan segera menyingkir dari jalannya untuk kembali ke rumah.


" Kau kurang apa tentu saja kau tahu, tapi aku tidak mengatakan kau buruk. Jika kau membandingkan dirimu dengan Mire, lalu mengaggap semua yang terjadi ini adalah kompetisi antara siapa yang akan aku pilih, maka satu hal yang aku tahu dari dirimu. Kau, adalah wanita ambisius yang hanya akan menganggap dirimu sempurna, lalu merasa dirimu paling layak untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. "


Derel menyeka air matanya, iya itu benar! Selama ini dia melakukan segala cara untuk menjadi wanita yang cerdas, mandiri, dan penurut agar bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya. Dia pikir dia adalah wanita yang hebat hanya karena satu hal itu, padahal hebat dari seorang manusia tidak ditentukan dari seberapa banyak yang di usahakan.


" Mire, apa kau memilih Mire karena dia mulai terkenal? Dia bukan gadis yang bisa meringankan beban kerjamu, dia hanya akan membuatmu lelah dengan sikap manjanya. Sekarang kau bisa saja merasa baik-baik saja, tapi saat menikah nanti, kau akan mulai kesulitan dan mulai menyadari jika memilih pasangan hidup haruslah yang sejalan. "


Drago terkekeh dengan tatapan tidak percaya, memang kayak menjadi anaknya Ayah Luan. Dimata mereka sudut pandangnya adalah yang paling benar seolah mereka tahu benar apa yang akan terjadi di masa depan, dan hanya fokus mematok dengan apa gang dia lihat saat ini.


Derel semakin kuat mencengkram kain banunya, air matanya luluh tak tertahankan, tapi sayangnya pria yamg berdiri berhadapan dengannya malah terlihat tak tertarik untuk membantu menyeka air mata itu.


" Kau sungguh-sungguh mencintai Mire? "


" Kau tahu pertanyaan mu ini akan semakin menyakitkan bukan? Kalau kau sudah bertanya sampai ke tahap ini, berarti kau sudah paham benar apa yang akan kau dapatkan bukan? Iya, aku jatuh cinta kepada Mire, aku jatuh cinta kepadanya dan perasaan ini memuncak setengah tahun terakhir ini. "


" Bagaimana dengan perasaanmu di awal? Kau terlihat sama sekali tida tertarik dengan Mire kan? Kau bahkan mengabaikan dia, kau pasti tahu resikonya kalau sampai menikah dengan Mire yang memiliki sifat manja kan? Kenapa kau berubah? "


" Apa gunanya membicarakan itu? Kau mau mengorek seberapa dalam lagi huh? Minggir lah, pertanyaan mu ini sudah mulai membuatku muak. "


" Kau, seharusnya tidak berubah, Drago. Kau seharusnya tahu jika aku bisa seperti Mire yang akan berkorban demi apa yang aku cintai. "


Drago mengeryit karena tidak paham arti dari ucapan Derel yang tentu saja hanya dia yang paham apa artinya.


" Apa maksudmu? "


Derel menatap kedua bola mata Drago dengan tegas dan yakin.


" Aku rela memberikan segalanya, termasuk tubuhku. "


Drago tersenyum dengan tatapan heran.


" Aku tidak membutuhkan pengorbananmu sama sekali, aku juga tidak membutuhkan tubuhmu karena tubuh Mire sudah cukup untukku. "


" Apa kalian bahkan sudah melakukannya? " Derel menatap kaget.


" Iya, kami sudah melakukan beberapa kali apa yang sedang kau pikirkan sekarang. Aku rasa kau sudah mendapatkan semua jawaban yang kau inginkan, sekarang aku harus pergi. " Drago menjalankan kaki melewati Derel begitu saja dan masuk kedalam mobil tak mau lagi melihat ke arah Derel hingga mobil yang ia kendarai mulai melesat jauh.


Bersambung