
" Mire, untuk semua yang terjadi Ayah sungguh-sungguh minta maaf. Pasti berat untukmu melalui ini semua, tapi percaya satu hal ini saja Meksi sulit. Ayah mencintaimu, dan sangat amat menyayangimu, Mire. Semua yang Ayah lakukan hanya karena ingin menghilangkan Bernika dalam dirimu, Ayah tidak ingin kau menjadi seperti dirinya, Ayah tidak ingin kehilangan dirimu juga. Ayah tahu Ayah bukan sosok Ayah yang baik, Ayah juga banyak sekali membuatmu terluka dan menderita. Meski begitu, bisakah kau memberikan Ayah maaf, dan kembali bersama hidup seperti sebelumnya. " Ucap Ayah Luan dengan tatapan yang terkesan pilu. Memang benar dia belum bisa memenuhi tugas sebaik mungkin sebagai Ayahnya Mire, tali jauh di dalam lubuk hatinya, cinta kasih untuk Mire tak pernah hilang semarah apapun dia terhadap Mire.
Mire terdiam tanpa bicara, mungkin Ayahnya tidak tahu kalau kedatangannya akan membuat luka yang sudah hampir membaik itu kini kembali tersayat. Ingin mengatakan cukup, dan menjelaskan secara rinci seberapa lelahnya dia, tapi apapun yang dia katakan juga tidak akan bisa mengubah keadaan yang sudah kadung terjadi kan?
Boleh saja Ayahnya datang, itu adalah hak nya, tapi bisakah dia mempertimbangkan Bagaiamana Mire akan bereaksi? Bagaimana Mire akan memandang Ayahnya setelah masa lalu menyakitkan itu terkuak? Ingin membenci, tapi tidak bisa karena Ayah Luan adalah ayah kandungnya. Ingin menyalahkan Ibu Ana, tidak bisa juga karena Ibu Ana lah yang sudah mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya. Derel? Bukankah sebenarnya dia juga korban? Sungguh semua itu membuat Mire sesak dan tak bisa berpikir dengan baik. Hatinya sakit, tapi tidak tahu ingin mengatakan apa sebabnya, ingin menangis tapi dia bingung mana yang harus ia tangisi dari jutaan luka yang ia rasakan.
" Mire, kita kembali ya? Ayah janji akan merawat mu dengan baik, Ayah tidak akan bicara dengan nada membentak dan intonasi yang meninggi seperti sebelumnya. "
Mire mengeratkan cengkraman tangannya yang tengah meremas kain bajunya. Pulang? berkumpul di rumah yang ada banyak kenangan indah tapi terasa menyakitkan setelah kebenaran terungkap. Canda tawa Ibu, Ayah, juga Derel, bisakah dia menghadapinya seolah tidak pernah terjadi apapun? Tidak! tentu saja tidak bisa, momen bahagia itu telah mengorbankan kebahagiaan Ibu kandungnya, Bernika. Rasanya tidak akan mungkin Mire bisa berada di sana lagi, karena setiap kali membayangkan betapa menderita Ibu kandungnya melihat Ayah dan Ibu Ana bersama, Mire seperti tertusuk belati tajam di bagian dadanya.
" Maaf, aku tidak bisa kembali. " Ucap Mire setelah lama terdiam.
Ayah Luan terlihat semakin sedih saat dia terdiam sejenak.
" Mire, Ibumu, juga kakakmu sangat merindukanmu, Ayah juga merasakan begitu. Dunia kami tak lagi indah begitu kau pergi dari rumah, Mire. "
" Ayah datang karena merasa dunia Ayah tidak lagi indah? Apakah gunanya aku hanya untuk memperindah dunia kalian? "
Ayah Luan tercekat tak bisa berbicara sebentar. Iya, dia sadar sekarang bahwa dia sudah salah bicara.
" Mire, maaf Ayah tidak bermaksud begitu. "
" Aku lelah, Ayah. Aku ingin istirahat dulu. " Mire meraih tasnya, bangkit dari posisinya dan berjalan cepat menuju kamar tidurnya. Sudah cukup, entah apa yang akan dikatakan Ayahnya lagi, dia sama sekali tidak ingin mendengar apapun, karena pada akhirnya dialah satu-satunya orang yang akan merasakan sesak dan sakit seolah tak ada ujungnya.
" Selama dia mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dia tidak akan menjadi seperti Bernika yang lemah hati. Dia akan menjadi Mire yang kuat dan pantang menyerah. Saat ini kau sudah membuat Mire mengingat luka yang sudah akan membaik, kau lagi-lagi menambahkan luka untuknya. Kau adalah Ayahnya, Luan. Bersikaplah sebagai seorang Ayah yang baik, dan biarkan putrimu bahagia dengan caranya sendiri. "
Ayah Luan tertunduk tak berdaya, nenek Santi jelas dia tahu siapa, tapi apa yang sudah dia lakukan di masa lalu membuatnya segan untuk bisa menatap dengan berani mantan Ibu mertuanya itu.
" Dulu, kau sudah melakukan banyak kesalahan, kau membohongi putriku, menguranginya, kau juga membohongiku selama puluhan tahun. Aku tidak bisa bilang bahwa aku sudah memaafkan mu, tapi setidaknya aku sudah merelakan semua yamg terjadi demi Mire satu-satunya cucuku. Aku harap kau juga melakukan yang sama denganku, Luan. Biarkan Mire memilih jalan yang dia inginkan, biarkan dia menguatkan hatinya agar bisa memaafkan masa lalu menyakitkan yang di alami Ibunya, biarkan dia perlahan mencoba berdamai dengan masa lalu, biarkan dia bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan kenyataan yang sudah terjadi ini. "
Ayah Luan menyeka air matanya yang tak tertahankan. Sadar, dia sungguh sadar kalau sudah melakukan banyak sekali kesalahan terhadap wanita enam puluh tahunan di hadapannya, beserta putrinya. Tapi apakah mungkin dia sanggup menjalani apa yang diminta oleh nenek Santi? Sanggupkah dia merelakan banyak waktu yang akan dia lewati tanpa bisa melihat Mire?
" Aku tidak ingin memaksamu, tapi setidaknya coba kau ingat bagaimana wajah Mire saat bertemu denganmu tadi? Dia sudah tidak bisa tersenyum padamu kan? Sejujurnya di senang, juga bersyukur karena kau dalam keadaan baik, tapi dia tidak bisa mengekpresikan itu karena hatinya tengah diselimuti rasa sakit yang luar biasa. "
" Aku tahu, aku tahu, dan aku minta maaf. "
Setelah obrolan itu, Drago yang masih menunggu di luar akhirnya masuk ke dalam untuk mengajak Ayah Luan tidur di rumah sewanya karena rumah yang disewa Mire kan hanya ada dua kamar saja.
Tak ada yang di obrolkan, setelah Drago mengantar Ayah Luan ke kamar yang akan di tinggali, dia juga langsung masuk ke kamarnya karena sudah cukup, bahkan bisa dibilang sangat lelah hari ini.
Di dalam kamar, Ayah Drago terdiam dengan segala pemikirannya. Dia ingin sekali menceritakan semua hal kepada Mire, tapi dia juga tidak ingin terkesan membela diri dan menyalahkan Bernika. Jika saja dia boleh memilih, dia juga tidak ingin semua ini terjadi. Tapi sayangnya, di dunia ini kata jika tidaklah berlaku.
" Bernika, lihatlah semua yang terjadi ini. Aku dihukum oleh putri kita, apakah ini akan berlangsung lama? Aku ingin menangis, meraung-raung memohon ampun kepada putri kita, tapi aku juga sadar bahwa itu pasti akan membuatnya semakin terluka kan? Jadi aku harus bagaimana? "
Bersambung