
" Mire, kemarin Drago mencoba untuk melecehkan Derel, apa kau masih ingin meneruskan hubunganmu? "
Mire terdiam menatap kedua bola mata Ayahnya yang sebenarnya sedari dulu tidak sekalipun ia berani menatap dengan seberani ini. Di dalam hati Mire beratnya kepada diri sendiri, apakah pria yang sudah berusia lima pulih tahunan itu adalah Ayahnya? Apakah sungguh-sungguh dirinya adalah bagian dari Ayahnya? Jika bukan maka tentu saja bisa di maklumi, tapi kenyataan kan menjelaskan bahwa Mire juga adalah anak kandungnya juga. Tapi, kenapa setiap kali berbicara selalu menjurus untuk lebih mengutamakan Derel? Apakah sungguh karena dia bukan anak kandung Ibu Ana jadi diperlakukan seperti ini? Oh, apakah karena dia mirip dengan Ibu kandungnya sehingga tidak memiliki tempat di hati Ayahnya seperti Derel?
" Paman, masalah itu aku sudah katakan dengan jelas kan? Aku sama sekali tidak berniat melakukan hal seperti yang paman tuduhkan. Jadi jangan menambah beban kepada Mire lagi. " Drago menatap kesal Ayah Luan yang malah memperjelas bawa dia tengah pilih kasih antara kedua anaknya.
" Ayah, Ayah tahu benar bagaimana kak Derel kan? Ayah tahu jika dia berbohong kan? Ayah jangan membela dengan mengatakan kalau kakak tidak pernah berbohong, dan selamanya akan seperti itu. "
" Mire, kakak mu bukan orang seperti itu! "
Mire tersenyum miris, rasanya memang harus mengakhiri segalanya agar segera usai, dan dia akan segera kembali ke luar negeri untuk bisa menenangkan pikirannya.
" Ayah, aku masih mengingat dengan jelas hari dimana Ayah memukul betis ku, lalu memintaku berdiri selama dua jam karena Ayah menuduh aku memecahkan vas bunga kesayangan nenek. Ayah, usiaku memang baru enam tahun, tapi aku diam saja saat Ayah memukulku dan menghukum padahal aku jelas melihat bahwa kakak yang memecahkannya, aku melihat juga Ayah lewat saat itu. Dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa Ayah menghukum ku padahal bukan aku yang salah? Ternyata aku paham sekarang, Ayah sengaja menyalahkan ku agar nenek tidak marah kan? Karena Ayah tahu aku adalah kesayangan nenek, berbeda kalau sampai Kakak yang memecahkannya, Ayah pasti takut kalau kakak akan dimarahi nenek kan? Saat Ayah membelikan kami baju, Ayah akan dengan teliti memilih untuk kakak. Mulai dari bahan harus yang lembut, warna merah seperti kesukaan kakak, makanan juga begitu. Ayah jarang sekali bertanya, Mire kau mau makan apa? Mire apa yang kau suka? Ayah selalu bertanya kepada kakak, dan menyamakan seleraku dengan selera kakak. Ayah, apakah benar-benar aku tidak memiliki arti karena aku adalah anak dari Ibu Bernika? "
Ibu Ana menggeleng cepat, dia bangkit lalu duduk disebelah Mire dengan menggenggam erat kedua tangannya.
" Mire, Ibu yang melahirkan mu, Ibu tentu menyayangimu juga sama seperti Ibu menyayangi Derel. Entah kau ada karena sel telur Bernika atau siapapun, kau tentu saja tetap anak Ibu, bagia dari hidup Ibu. "
Mire terdiam, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Ibu Ana. Iya, dia bisa mengingat dengan jelas kalau Ibu Ana juga menyayanginya sama seperti Derel. Tapi, apa yang dia dengar tentang masa lalu membuatnya tak sanggup kalau harus menatap Ibunya, atau kembali dekat seolah tak pernah terjadi apapun.
Ibu Ana menangis saat Mire menjauhkan tangannya. Sungguh dia sangat menyayangi Mire, tapi batasan yang Mire buat sepertinya amat sangat sulit kalau harus diterjang sekarang ini.
Mire kini menatap Derel yang terdiam tak bicara sepatah katapun.
" Kak, dulu kau selalu mengatakan padaku jika aku beruntung karena semua orang menyayangiku kan? Lalu bagiamana rasanya saat kau tahu ada orang yang melindungi dan mencintaimu tanpa kau tahu, dan orang itu adalah Ayah kita. Ayah, dia selalu mengutamakan mu, memenuhi apa yang kau inginkan, bahkan tidak ragu menekan adikmu, dan juga tunangan adikmu agar bisa memenuhi apa yang kau inginkan. Bagaimana rasanya kak? Apakah dengan aku melepaskan Drago kakak akan bahagia? " Mire tersenyum heran.
" Drago bukan pria seperti itu, kak. Kalau memang Drago ingin tidur dengan wanita, tentu aja ada banyak wanita yang lebih cantik dan menarik dari pada kakak yang dengan senang hati menyerahkan dirinya untuk Drago. Kakak pikirkanlah matang-matang sebelum menjebak orang lain, hanya karena keinginan kakak yang tidak terpenuhi kakak sampai melibatkan banyak orang, sungguh anak bodoh sepertiku saja sampai heran dengan tingkah laku kakak. "
" Mire, lebih baik kita pulang dan kita bicarakan semuanya ahar lebih jelas. " Ujar Ayah Luan.
" Maksud Ayah? Ayah akan menekan ku lagi, dan membuatku tidak punya pilihan lain kan? Ayah, aku tidak ingin kembali kerumah itu, aku tidak ingin mengikat diriku degan kekangan yang Ayah berikan. "
" Mire, Ayah tidak akan mengekang mu. Ayah janji tidak akan melarang apa yang kau inginkan di dalam hidupmu. Tapi ada banyak hal yamg ingin Ayah bicarakan berdua denganmu, setidaknya berikan saja sedikit kesempatan untuk Ayah menyampaikan bagaimana sudut pandang Ayah. "
Mire menghembuskan nafas kasarnya.
" Ayah, mari sudahi semuanya. Aku lelah, aku sangat ingin berhenti. Tolong berikan aku waktu dan ruang bebas agar bisa kembali menatap hati dan pikiranku. "
Ayah Luan terdiam menahan tangis, begitu juga Ibu Ana. Padahal dia adalah Ayah kandungnya, tapi kenapa dia juga adalah penyebab putrinya terlihat begitu menderita? Lelah? Kata itu keluar dari bibir Mire dengan tatapan yang begitu menunjukkan betapa dia terpukul dan sudah tidak ingin lagi mendengar apapun. Dia ingin memeluk putrinya, menenangkan sebisa yang dia lakukan, dia ingin membiarkan putrinya yang tengah bersedih karenanya itu melampiaskan saja padanya sampai keadaan lebih baik. Tapi, putri yang ada di depan matanya begitu jauh, jauh sekali dia membuat batasan hingga seorang Ayah tidak mampu meraihnya.
" Permisi? Maaf kami mengganggu. " Orang tua Lusi sebenarnya sudah datang dari sepuluh menit lalu, tapi karena pembantu rumah Ibu Rina bilang sedang ada tamu, jadi dia terpaksa menunggu tapi terlaku lama dan dia juga harus segera pergi ke tempat lain.
" Mire, Lusi menghubungi kami dan khawatir karena kau tidak membalas pesan. "
Mire menatap orang tua Lusi dengan air mata yang mulai menggenang, lalu berlari ke arah mereka.
" Ayah, Ibu! " Mire memeluk erat tubuh Ayahnya Lusi dan sesegukan di dalam dekapan Ayahnya Lusi.
" Ada dengan mu Nak? Kenapa menangis? " Ibu Tini, atau Ibunya Lusi mengernyit bingung karena ini adalah kali pertama Mire menangis, padahal sebelumnya Mire hanya akan bergelayut manja kepada Mereka dan membuat Lusi beserta kakaknya menjebik kesal karena merasa orang tua mereka sudah dirampas oleh Mire.
" Bawa aku pergi ya? Aku mohon. " Pinta Mire.
Orang tua Lusi menatap semua keluarga Mire dan juga Drago untuk bertanya pendapat. Tapi saat Ibu Rina mengangguk, begitu juga dengan Drago, segera mereka mengangguk paham dan membawa Mire pergi.
Ibu Rina kini menatap Ayah Luan setelah kepergian Mire dan orang tua Lusi.
" Lihatlah, putri kalian semakin jauh. "
Bersambung