
Hari ini, Mire, Drago dan Ibu Rina mengunjungi sebuah rumah yang berada tak jauh dari sebuah pantai yang selama ini sudah beberapa dikunjungi Mire dan Drago. Sebenarnya Mire merasa bingung kenapa Ibu Rina memintanya untuk datang, tapi dari pada bertanya dan tidak mendapat jawaban, dia memilih diam saja dan melihat sendiri apa yang akan terjadi nanti.
Sesampainya disana Ibu Rina berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia menarik nafas dalam-dalam dengan mata memerah seolah menahan tangis. Ibu Rina sejenak menatap Mire dengan senyum yang sungguh tidak paham apa itu artinya, lalu menggenggam tangan Mire erat-erat dan membawanya masuk ke dalam rumah itu.
Tak lama dari itu, atau tepatnya di taman depan rumah yang ditumbuhi bunga-bunga dengan begitu indah dan terawat. Nampak seorang wanita yang lumayan berumur tengah berjongkok membersihkan dedaunan menguning, dan juga mencabut rumput yang tumbuh disekitar bunga yang ia tanam.
" Bibi? "
Wanita itu menoleh dan menatap Ibu Rina dengan dahi mengeryit karena mungkin matanya kurang jelas untuk melihatnya. Ibu Rina berjalan mendekat, lalu membantu wanita itu untuk bangkit perlahan.
" Rina? Kau adalah Rina? " Tanya Wanita itu juga menahan tangis.
" Iya, ini Rina. "
Wanita itu memeluk erat tubuh Rina dan membiarkan saja air matanya tumpah tak tertahankan, tangisnya pecah karena tak bisa menahan kebahagiaan atas kerinduan yang ia rasakan sesak di dadanya kini bisa ia lepaskan.
" Bagaimana kabarmu? Kenapa kau menghilang begitu lama? Aku benar-benar ingin marah padamu, tapi rasa rinduku mengalahkan keinginan untuk marah. "
" Aku baik, Bibi. Maaf karena menghilang begitu lama, aku butuh menenangkan diri karena aku juga tidak sanggup terus mengingat semua yang terjadi waktu itu. " Ucap Ibu Rina tersedu-sedu.
" Tidak apa-apa, semua yang sudah terjadi tidak akan bisa kembali, jadi biarkan saja berjalan seiring waktu. " Ucap wanita itu seraya mengurai pelukannya.
" Bibi, aku ingin membawa bagian penting dari putrimu. "
Wanita itu mengeryit bingung, dia menoleh melihat Drago dan Mire bergantian. Namun karena matanya yang kurang jelas, dia hanya bisa mengeryit mencoba menebak siapa dua anak muda yang berdiri lumayan jauh darinya.
" Siapa mereka, Rina? " Tanya wanita itu.
Ibu Rina menyeka air matanya, lalu tersenyum setelahnya.
" Yang satu adalah putraku, Drago. Sekarang dia sudah sebesar itu kan? " Wanita itu menutup mulutnya yamg terkejut dan mengangguk kembali ingin menangis haru.
" Kemarilah, nak. Aku ini nenekmu juga. " Ucap wanita itu seraya menggerakkan tangannya untuk Drago mendekat padanya. Drago tersenyum, lalu mendekati wanita itu dan menjabat tangannya, kemudian tak lama memeluknya.
" Ya Tuhan, dulu saat kau bayi kau selalu tertidur nyenyak di gendongan ku, tidak disangka jika kau sudah sebesar ini. Padahal perasaan ku kau seharusnya masih anak-anak kan? " Ucap wanita itu sembari mengusap lembut wajah Drago.
" Senang bertemu dengan Nenek. " Ucap Drago lalu tersenyum.
" Nenek juga, Nenek bahagia sekali bertemu dengan mu. "
" Bibi, ada satu lagi yang harus Bibi sapa. " Ucap Ibu Rina lalu tersenyum menatap Mire.
" Gadis itu, apakah dia anak keduamu? " Tanya si Nenek.
Ibu Rina menggeleng, lalu membuang nafas panjangnya.
" Namanya adalah, Mirelia. Dia adalah calon menantuku, juga, "
Nenek mengeryit lalu menatap Ibu Rina yang terhenti saat belum selesai bicara.
" Juga apa, Rina? "
" Mire, sapa nenek ya nak? " Pinta Ibu Rina dan langsung di angguki oleh Mire. Seperti biasanya, Mire akan tersenyum ramah dan menyapa dengan wajah bahagia.
" Selamat pagi, Nek? Namaku Mirelia, senang bertemu Nenek. "
" Suara, suaramu bagaimana bisa sangat mirip dengan putriku? " Ucap si Nenek yang tak bisa menghentikan laju air matanya. Mire mengeryit menatap Ibu Rina yamg juga mulai menahan suara tangisnya meski matanya sudah menjatuhkan banyak buliran bening dari sana.
" Mirelia, dia adalah cucumu Bibi. Dia anak dari Bernika yang selama ini disembunyikan oleh Luan. Mire, dia adalah Nenekmu, nak. Dia adalah Ibu dari Ibu kandungmu. "
Mire menatap si Nenek yang kini berjalan pelan mendekat padanya sembari menangis tanpa suara.
" Jadi sebenarnya cucuku benar-brenar ada? Jadi Bernika tidak berbohong? "
Si Nenek menatap dengan cermat wajah Mire yang kini sudah bisa ia lihat dengan jelas. Bentuk matanya, alis, hidung, bibir, bentuk wajah semuanya sangat mirip dengan putrinya bahkan suara pun sangat mirip dengan Bernika.
" Sungguh, benar-benar mirip seperti Bernika saat berusia dua puluh tahun. Kau, sungguhan adalah cucuku? " Nenek menyentuh wajah Mire dengan gemetar dan tangis yang semakin pecah.
" Nenek? "
Nenek semakin kuat menangis.
" Panggil sekali lagi, nak. " Pinta sang Nenek.
" Nenek? "
Tak tahan lagi, akhirnya Nenek memeluk Mire dengan begitu erat dan membuat Mire bisa merasakan dengan jelas kebahagian serta kerinduan seorang Nenek yang sepertinya hidup seorang diri. Terus mendengar suara sang Nenek yang tak henti menangis, pada akhirnya Mire juga tak bisa menahan tangisnya.
Beberapa saat kemudian.
Nenek kini membawa Mire dan yang lain ke dalam rumah sederhananya. Nenek juga tak melepaskan tangan Mire barang sedetikpun dan terus mengelus rambutnya dengan penuh kasih. Sebenarnya Mire masih bingung, apakah Ayahnya begitu tega hingga harus menyembunyikan kebenaran dan membuat seorang nenek menanggung kerinduan dan kesedihan selama puluhan tahun setelah kematian putrinya, juga tidak melihat cucunya yang sebenarnya selama ini ada.
Ayah, apakah kau begitu bahagia melihat seorang nenek menderita selama puluhan tahun ini? Ayah benar-benar sangat jahat.
" Mire, apakah kau juga menyukai seni lukis seperti Ibumu? " Tanya Nenek.
Mire tersenyum lalu mengangguk dengan cepat.
" Nenek, lukisan Mire akan dipamerkan di Art galeri terkenal di kota London. " Sela Drago dengan wajah bangganya. Nenek menatap Mire dengan tatapan bahagianya.
" Sungguh? " Tanya Nenek kepada Mire, dan langsung mendapatkan anggukan dari Mire.
" Iya Nenek, itu makanya aku harus segera kembali ke luar negeri tiga hari lagi. "
Nenek mengangguk dengan tatapan bahagia.
" Kau mewujudkan mimpi Ibumu tanpa kau sadari, nak. Nenek akan selalu berdoa agar kau mendapatkan kesuksesan seperti yang kau inginkan. "
" Terimakasih, Nenek. Sekarang ada satu lagi orang yang menyayangiku, tentu saja aku harus lebih bersemangat lagi kan? Nek, aku janji akan membawa Nenek untuk melihatku bersinar, dan aku akan mengenalkan kepada dunia, bahwa Nenek sudah melahirkan seorang wanita berbakat, dan berkat dia aku memiliki bakat ini. "
Nenek mengangguk dengan mata yang tengah merasakan haru.
" Kenapa kau mengatakan apa yang pernah Ibumu katakan dulu? Ibumu juga mengatakan itu, Ibu, aku akan membawa Ibu untuk melihatku bersinar dan aku akan mengenalkan Ibu sebagai seorang wanita yang sudah melahirkan ku dengan bakat yang sangat aku sukai. " Ucap Nenek mengikuti ucapan putrinya saat dulu.
" Karena Mire, dia adalah bagian dari Bernika, dia benar-benar seperti Bernika tanpa dia sadari. " Ucap Ibu Rina lalu tersenyum setelahnya.
Bersambung