I Am A Perfect

I Am A Perfect
Diary



" lni apa, Nenek? " Mire menatap nenek Santi bingung karena merasa tidak mengerti dengan sebuah buku lawas yang di berikan padanya.


Nenek Santi menghela nafas, wajah tuanya nampak lesu seolah teringat hal menyedihkan setelah berbicara dengan Ayah Luan beberapa saat lalu. Dia terlihat agak berat untuk menjawab, tapi saat menatap wajah Mire, dia mulai sadar bahwa akan lebih baik jika dia membagi bebannya kepada sang cucu yang adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Dengan senyum yang ia paksakan, nenek Santi berjalan mendekati Mire yang tengah duduk di meja riasnya. Bukan untuk merias wajah, tapi meja itu juga digunakan Mire untuk membaca buku, serta latihan menggambar dengan disana.


" Itu adalah buku milik Ibumu, nenek selalu membawanya kemanapun nenek pergi. Sudah dua puluh tahun lebih, tapi nenek juga tidak berani membukanya. Lucu kan? Dia masih saja menyuarakan isi hatinya melalui tulisan juga gambar, tapi sayangnya sampai detik ini, nenek masih belum memiliki keberanian untuk membukanya. "


" Kalau nenek saja tidak berani membukanya, bagaimana mungkin aku berani? "


Nenek menghela nafasnya, lalu perlahan dengan lembut mengusap kepala Mire.


" Nenek tidak berani mengulang kenangan dari Ibumu, karena itu akan membuat nenek jadi kembali merasa tidak rela dengan semua yang terjadi. "


Mire terdiam tapi kedua tangannya nampak membolak-balikkan buku harian itu karena penasaran juga apa yang di gambar, dan di tulis oleh Ibunya.


" Mire, nenek memberikan buku itu karena nenek berharap kau akan merasa dekat dengan Ibumu, tapi jangan kau buka kalau nantinya akan membuatmu sedih. Buku itu adalah salah satu benda yang paling sering Ibumu gunakan, bahkan aroma parfum yang biasa menempel ditangannya juga masih tertinggal di sana. Nenek memang tidak membukanya, tapi nenek paling suka menghirup aroma yang ditinggalkan dari Ibumu. " Nenek tersenyum dengan mata yang terus menatap buku harian milik Ibu Bernika.


" Nenek pasti penasaran kan? Tapi nenek juga takut akan sedih ya? " Mire menatap sang nenek seolah dia tahu benar apa yang tengah dipikirkan sang nenek. Sebentar dia menghela nafas saat nenek mengangguk, dia juga penasaran, tapi tidak tahu bagaimana kalau isi dalamnya tentang kesedihan.


" Nenek, entah akan sedih atau senang, kita buka buku ini, dan kita lihat apa saja yang Ibu curahkan di buku ini ya? Meskipun nantinya kita akan sedih, nanti kita harus saling menguatkan, bagaimana? " Mire tersenyum untuk menggoda sang nenek, dan untunglah wajah sedih sang nenek berhasil sirna setelahnya.


Perlahan Mire mulai membuka buku itu membacanya satu persatu dengan bibir tersenyum bahagia. Bagaimana tidak? Yang diceritakan juga digambarkan oleh Ibunya adalah tentang secuil kisah, atau bisa dibilang komik dengan argumen yang mengundang tawa. Terus berlanjut lembar demi lembar mulai menceritakan tentang sosok Ibu yang luar biasa, serta gambar Ibunya yang digambar dengan pena berwarna hitam.


Dia Ibuku, dia wanita terhebat di dunia.


Ibuku mengatakan sudah kenyang, padahal aku tahu dia belum makan.


Masa sulit sudah berlalu, Ibuku sudah bekerja di sebuah perusahaan besar.


Aku makan dengan baik, sekolah dengan semangat, hidup dengan nyaman, semua karena Ibuku.


Aku mencintaimu, Ibu. Tolong jangan biarkan aku melihatmu mati, aku tidak akan sanggup hidup tanpamu! Jadi, biarkan aku saja yang mati terlebih dulu.


Aku mencintaimu, Ibu.


Beberapa lembar berikutnya, buku itu berkisah tentang pertemuan Bernika dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Ayah Luan. Mereka bertemu di salah satu tempat makan, disana Bernika menuliskan bagaimana dia jatuh cinta, hingga memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah. Setelah itu, Bernika mulai menuliskan banyak sekali keluhannya yang selalu tertekan karena di desak untuk segera menikah, mulai dilarang untuk menghabiskan waktu untuk melukis, menjalani tradisi rumah tangga kebanyakan para orang dengan fokus mengurusi suami mereka, mengurus rumah, dan benar-benar menjalani peran sebagai Ibu rumah tangga.


Aku sungguh lelah, tapi aku harus bertahan karena aku mencintainya.


Aku sudah banyak melakukan sebanyak yang mereka, ' suami dan keluarganya minta ' Tapi apakah mereka tidak bisa memberikan sedikit saja kompensasi agar aku bisa melukis dan mengembangkan bakatku?


Aku juga ingin diperjuangkan dan di dukung seperti aku mendukungmu, suamiku.


Mire mulai sering menahan nafas, ternyata apa yang di alami Ibunya juga tak jauh beda dengan dirinya.


Sudah hampir tujuh tahun, aku tetap salah dan di anggap tak bisa memiliki anak. Aku lelah diam-diam menangis. Bisakah berikan keajaiban dan biarkan aku mengandung? Aku sungguh berharap agar aku bisa melukis lagi sementara mereka sibuk dengan anakku nantinya.


Mire menelan salivanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan agar bisa membuka halaman berikutnya yang mungkin akan membuatnya sesak.


Aku bahagia! Sahabat baikku, Ana, dia dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi Ibu pengganti bagi bayiku, dan Luan.


Bayi kami sudah mulai tumbuh di rahim Ana! Aku tidak tahu kalau akan sebahagia ini, terimakasih Tuhan, terimakasih juga, Ana.


Bayi kami sudah mulai tumbuh besar di dalam perut Ana, tapi kenapa harus terjadi semua ini? Apakah sungguh mereka saling mencintai? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku sudah tidak ada dihati suamiku lagi?


Halaman berikutnya menceritakan tentang kecurigaan-kecurigaan Bernika kepada suami, juga sahabatnya itu. Mulai dari Ayah Luan yang semakin sering mengunjungi Ibu Ana degan alasan bayi mereka, membohongi Bernika demi bersama dengan Ibu Ana, bahkan sudah beberapa kali diam-diam memberikan perhiasan yang tentu saja tidak ada hubungannya dengan bayi mereka. Belum lagi keluarga Ayah Luan yang juga lebih memperhatikan Ibu Ana yang lagi-lagi alasannya adalah bayi mereka.


Aku tidak membencimu, putriku sayang. Aku membenci keadaan ini, aku membenci hatiku yang begitu lemah hingga merasa tidak lagi bisa merasakan bahagia.


Tibalah di halaman paling terakhir, disana ada gambar seorang wanita bersayap yang tengah memeluk seorang hadis kecil di pangkuannya. Dia tersenyum lebar, begitu juga dengan gadis yang ada dipangkuannya.


Mirelia, ini adalah nama yang Ibu pikirkan, dan ingin sekali Ibu memberikan nama ini untukmu. Kenapa namamu mirip seperti nama Derelia? Itu karena Ibu juga yang memberikan untuk putrinya Ana. Sayang, mungkin kau akan membaca ini suatu hari nanti, atau bisa jadi juga tidak. Tapi lewat tulisan ini, Ibu ingin menyampaikan betapa Ibu mencintaimu, juga menyayangimu dengan kesungguhan yang Ibu miliki. Nak, maaf karena bukan Ibu yang melahirkan mu, maaf karena Ibu tidak bisa bersamamu saat kau lahir nanti, tumbuh menjadi gadis yang cantik, bahkan juga menjadi wanita sukses di saat dewasa.


Hari ini, Ibu telah kehilangan segalanya, cinta, sahabat, kepercayaan, juga semangat untuk hidup.


Entah seberapa jahat Tuhan pada Ibu, tapi Ibu sungguh ingin mengucapkan terimakasih karena memberikan Ibu tiga puluh tahun usia yang dipenuhi dengan suka cita. Nak, Ibu sudah tidak sanggup untuk berdiri, hidup menyaksikan orang-orang tersayang yang mengkhianati Ibu hidup bahagia, sementara Ibu melewati enam bulan terakhir dengan kanker serviks seorang diri, sementara Ayahmu sibuk degan dunianya sendiri dengan alasan dirimu. Maaf, sekali lagi maafkan Ibu yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Ibu kesakitan setiap saat, hati, juga tubuh Ibu sakit dan Ibu sudah tidak kuat lagi. Apapun yang terjadi, Ibu tetap mencintaimu, maka hiduplah dengan bahagia, lakukan apa yang ingin kau lakukan, Ibu melihatmu tumbuh dari dunia yang berbeda. Sekali lagi, maaf, dan Ibu mencintaimu, Mireliaku.


Bersambung...