I Am A Perfect

I Am A Perfect
Missing you



" Mire, Ayah kembali dulu ya? Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik selama disini. Ayah akan menunggumu, jangan ragu untuk datang saat kau sudah merasa siap dan juga rindu kami semua. " Ucap Ayah Luan dari pesan suara yang ia kirimkan untuk Mire lewat Drago. Bukan tidak ingin menemui putrinya terlebih dulu, hanya saja dia terus mengingat ucapan Drago bahwa bila bertemu dengannya Mire malah akan semakin terluka. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menitipkan semuanya kepada Drago untuk Mire. Mulai dari pakaian yang ia beli untuk Mire, camilan kesukaan Mire, juga sebuah buku tabungan yang sengaja Ayah siapkan untuk bekal masa depan Mire sedari Mire lahir.


Tak ada respon dari Mire setelah mendengar pesan suara itu. Matanya yang terlihat pilu hanya bisa ia tampilkan dengan mulut tertutup rapat. Awalnya dia pikir akan butuh waktu sebentar lagi agar bisa menemui Ayah beserta keluarganya yang lain. Tapi setelah membaca pesan dari Ibunya, dia bahkan tidak tahu lagi kapan bisa sanggup mengatakan kepada dirinya sendiri, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.


" Kita beli makanan pedas yuk? " Ajak Drago seraya melingkarkan lengan memeluk pundak Mire. Dia tersenyum seolah-olah tahu bahwa tidak ada yang terjadi, dan tidak ada hal sedih yang dirasakan.


" Tapi aku kan tidak suka makanan pedas? " Protes Mire.


" Aku juga tidak terlalu suka, tapi kita coba saja yuk? " Mire memaksakan senyum dan mengangguk saja meski dia sebenarnya sedang enggan melakukan apapun saat ini.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di restauran Chinese yang menyediakan ramen pedas dengan banyak sekali macam-macam toping. Tak perlu menunggu lama, pesanan mereka datang, dan mereka langsung menyergap makanan itu.


" Hah! Ahhhhhh! " Teriak Mire, lalu menjulurkan lidahnya dan mengipas-ngipas dengan telapak tangannya setelah mereka kembali ke mobil. Sementara Drago, dia malah merasa level pedas itu tidak mengerikan seperti bayangannya dan tentu dia baik-baik saja saat ini.


" Setidaknya sebentar saja kau sibuk memikirkan pedas di mulutmu. " Gumam Drago lalu tersenyum setelahnya. Iya, meskipun rasa pedas itu tidak bisa membuat Mire melupakan kesedihan, setidaknya dia bisa belajar dari rasa pedas yang dia rasakan. Benar, saat merasakan tersiksanya panas menyengat dari rasa pedas, perlahan lahan pasti akan menghilang juga kan.


" Mau coba makanan manis tidak? " Tanya Drago lalu di angguki oleh Mire.


Tidak ada adegan luar biasa yang terjadi selama mereka bersama hari ini. Hanya saja mereka sibuk memilih makanan-makanan yang hampir belum pernah mereka coba. Tertawa saat Drago mengeryitkan seluruh wajah ketika memakan makanan asam, menahan mual saat rasa makanan tidak sesuai selera mereka, dan banyak hal sepele yang nyatanya mampu membuat Mire tertawa bahagia.


" Hanya begitu saja, tapi Mire bisa tertawa seperti itu? " Ujar seorang pria yang sedari tadi mengikuti Mire dan Drago. Dia adalah Wiliam, pria itu tadinya tidak sengaja melihat Mire dan Drago, tapi tanpa dia sadari dia mulai tertarik untuk melihat apa saja yang akan mereka lakukan. Ternyata hanya membeli makanan pinggir jalan saja, tidak ada kegiatan mewah seperti yang biasa dia lakukan, juga dia rencanakan seandainya nanti Mire datang padanya.


" Kenapa aku masih belum rela? Bagaimana bisa wanita begitu bahagia hanya karena hal sepele seperti itu? " Gumam Wiliam lagi. Padahal dia sudah pernah memiliki banyak rencana kalau saja Mire bersedia menjalin hubungan bersamanya.


Membawa Mire ke restauran terbaik saat makan, menyiapkan sarapan yang dibuat oleh chef terkenal, meminum anggur legendaris bersama, berlibur ke luar negeri, dan memberikan banyak fasilitas, serta memenuhi kebutuhan pangan juga sandang dengan kualitas terbaik. Tapi semua itu terpatahkan oleh penolakan Mire, juga dengan apa yang dia saksikan sekarang ini.


" Apa menurutmu aku tidak bisa membuatnya merasa aman dan baik-baik saja? "


Sahabat Wiliam menghela nafasnya. Sebenarnya Wiliam termasuk pria yang sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta meski sudah berulang kali mengganti kekasih.


" Wil, mungkin dia tidak bisa percaya padamu, atau bahkan dia tidak tertarik untuk mempercayaimu. Gadis itu terlihat ceria, tapi tawa yang seperti itu adalah tawa yang dimiliki seseorang yang sering merasakan luka. Aku yakin pria itu bisa memahami gadisnya dan tahu bagaimana bersikap agar membuat gadisnya merasa dihargai dan tidak tertekan. "


" Tertekan? " Iya, ini adalah hal yang sudah dilakukan Wiliam beberapa kali, dan dia juga tidak bisa mengelak kalau mengenai itu. Padahal niat awalnya hanya ingin membuat Mire berpikir seperti sudut pandangnya, tapi apa yang dia lakukan sungguh adalah hal yang paling membuat Mire anti kepadanya.


" Wil, cobalah ubah cara pandang mu, jangan selalu menyamakan semua wanita memiliki sifat yang sama. Ada banyak sekali wanita yang gila uang, tapi jangan lupa juga bahwa banyak wanita lebih memilih cinta dan kenyamanan. Aku yakin, setelah kau merubah cara berpikir mu tentang wanita, kau akan tahu dan merasakan betapa hebatnya perasaan cinta yang sebenarnya. "


Wiliam menghela nafas, sudahlah! Membicarakan hal ini juga hanya membuatnya sesak karena terus mengingat bahwa dirinya telah dikalahkan oleh seorang pria yang dia anggap jauh lebih buruk darinya.


***


Ibu Ana terdiam di kursi teras rumahnya, matanya kosong menatap suasana malam di sekelilingnya. Semenjak Mire meninggalkan rumah, rasanya hilang sudah kehangatan dan tawa bahagia di rumah itu. Dia dan juga Ayah Luan juga jadi lebih sering bertengkar, saling mendiamkan satu sama lain, Derel juga menjadi lebih pendiam di banding sebelumnya.


Sudah hampir dua tahun, tapi bagi seorang Ibu yang ditinggalkan putri bungsu, rasanya sudah seperti dua puluh tahun saja. Ingin memeluk, mencium, menatapnya hingga puas, menyuapi makan, membuatkan susu serta jus kesukaan si bungsunya itu, tapi apalah daya, hatinya yang dipenuhi rasa bersalah seolah membuatnya tak sanggup hanya untuk sekedar menatap kedua bola mata indah putri bungsunya.


" Mire, apakah Ibu sudah tidak akan bisa memeluk mu lagi? Apakah sungguh Ibu harus merasakan rindu tapi juga tidak berani menunjukkannya padamu? " Ibu Ana memegangi dadanya yang terasa nyeri dan sesak.


Bersambung...