I Am A Perfect

I Am A Perfect
Ayah



" Apa yang sedang kau gambar? " Tanya Drago kepada Mire yang sedari tadi begitu fokus dengan kegiatannya. Sudah empat jam Mire duduk sembari melukis, tapi sepertinya hadis itu masih betah saja dengan hobi yang ia sukai itu.


" Aku sedang menggambar Ibuku dari belakang, dia sedang membawa obor untuk menerangi jalanku, juga menuntunku agar tidak salah jalan, juga menginjak bebatuan tajam. " Mire tersenyum melihat lukisannya yang belum sempurna karena belum dipoles dengan warna warni.


" Akhir-akhir ini kau selalu melukis tentang Ibumu, dia pasti bahagia sekali karena putrinya menyayanginya meski tidak pernah bertemu sekalipun. "


Mire tersenyum, lalu menatap kembali gambar yang ada dihadapannya. Memnag benar, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Mire sering kali memimpikan Ibunya, merasakan rindu padahal belum pernah sekalipun mereka bertemu, sungguh hatinya merasakan sakitnya karena tak bisa memiliki waktu untuk dia habiskan bersama Ibu kandungnya. Tapi tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, Ibunya juga pasti tengah memperhatikannya dari surga kan? Meskipun hidup terasa hampa tanpa seorang Ibu kandung, nyatanya masih banyak alasan juga yang membuat dia merasa ingin hidup dengan lebih banyak waktu.


" Jangan berwajah seperti itu, Ibumu pasti sangat menyayangimu. Sekarang ada Ibu ku yang akan menyayangimu seperti menyayangi ku. Jangan terlaku menghayati rasa sedih mu, Masih banyak hal kok yang bisa membuatmu bahagia. "


" Iya, kau adalah salah satunya. " Mire terkekeh menunjukkan barisan giginya. Tidak tahu, juga masa bodoh bagaimana orang akan berpendapat tentang dirinya yang terlalu mencintai Drago, tapi apapun yang terjadi, dia hanya menginginkan Drago seorang dan berharap banyak agar Tuhan mengabulkan permintaannya ini.


***


Wiliam membuang semua dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya. Sudah berlalu beberapa bulan, tapi kenapa juga Mire masih enggan datang padanya dan memohon agar di izinkan kembali ke galeri millik Ibunya! Dua bulan lebih dia menahan hasil penjualan lukisan Mire yang tertinggal di Niki galeri, tapi kenapa dia masih bisa bertahan di kota yang serba mahal ini? Tapi setelah dia tahu jawabannya adalah Drago, dia kini menjadi sulit untuk mengendalikan diri, juga mudah sekali marah saat hal kecil saja mengganggunya.


Wiliam mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh diluar dugaannya karena Mire sama sekali tidak seperti yang dia harapkan. Padahal biasanya dia akan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, mulai dari karir, kesuksesan, wanita, bahkan pergaulan juga semuanya sesuai dengan yang dia inginkan. Tapi kenapa dia tidak bisa mendapatkan Mire dan membuat Mire mengikuti alur yang sudah dia rencanakan? Apakah sungguh Mire bukanlah seperti wanita yang sebelumya ia kenal?


" Mire, sebenarnya apa yang kurang dariku? Kenapa kau menolak dengan tegas tanpa mau mencobanya terlebih dulu? Aku bisa memberimu ketenaran, uang, aku bisa melakukan apapun hanya dengan beberapa kalimat untukmu, tapi kenapa kau memilih pria yang hanya tahu caranya menjual makanan? "


Brak!


Wiliam membanting dengan kuat ponselnya yang terus berdering dan membuatnya pusing disaat hatinya sedang tidak karuan seperti ini. Padahal hanya restauran biasa saja, tapi bagaimana bisa tempat seperti itu juga bisa menarik para kolektor lukisan untuk membelinya? Kalau Mire bisa dengan mudah menjual semua lukisannya hanya karena Drago memangnya di restauran, kemungkinan untuk Mire datang padanya juga akan semakin mengecil.


Tok Tok


Suara ketukan pintu membuat Wiliam menoleh ke arahnya. Tadinya dia ingin memaki orang yang mengganggunya, tapi saat yang masuk adalah neneknya sendiri, maka dia hanya bisa menahan kemarahannya dengan helaan nafas panjang.


Nenek menatap lembaran kertas yang berserakan di lantai, juga melihat ponsel Wiliam hancur berantakan tanda bahwa Wiliam sedang sangat marah sekarang ini.


" Ada apa, Nek? " Tanya Wiliam.


" Apa yang membuatmu kesal, nak? Apakah masih Mire alasannya? "


Wiliam membuang nafas kasarnya, lalu menatap sang nenek yang nampak tak suka dengan perilakunya.


" Aku terbiasa mendapatkan apa yang aku inginkan dengan mudah, nek. Tentu aku tidak bisa menerima keadaan seperti ini, aku dikalahkan oleh seorang pria biasa saja, bahkan ingin dibandingkan denganku juga tidak pantas sama sekali! "


" Wil, berhentilah melanjutkan obsesi mu kepada Mire. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya, dan kau juga harus mencoba bahagia dengan cara yang lain. Wiliam, dari awal nenek sudah memberitahu kan kalau Mire tidak sama seperti Ibumu, Dia selalu menatap tunangannya penuh cinta, dia juga bukan orang yang akan mudah bosan dan mudah dipengaruhi oleh iming-iming kepopuleran. Sekarang lepaskan beban dan kebiasaanmu mendapatkan apa yang kau inginkan. Nenek mendukung mu, tapi tidak dengan Mire. "


Wiliam terdiam, sebenarnya masih lah sulit untuk menerima saat Mire tertawa bahagia bersama dengan Drago, tapi jika dia masih seperti sekarang ini, dia yakin pada akhirnya cepat atau lambat dia akan membuat Mire menderita karena terus memaksakan kehendaknya.


***


Setelah perdebatan panjang dengan Ibu Ana, Ayah Luan kini nekat saja berangkat dengan tujuan untuk menemui Mire, lalu membujuknya untuk pulang dan kumpul bersama lagi. Sejauh perjalanan yang ia tempuh, dia terus menguatkan dirinya agar tidak mudah menyerah, dan bersiap saat akan mendapatkan penolakan dari putrinya. Tidak apa-apa, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, jadi dia berharap kalau Mire akan menerimanya dan mencoba untuk memaafkannya.


Ayah Luan menghela nafas melihat photo Mire yang tersimpan di ponselnya. Dia menyenderkan kepalanya di senderan kursi duduk dengan tatapan pilu. Sudah akan sampai, jantungnya juga semakin kuat berdegup hingga terasa jelas saat dia menempelkan telapak tangannya di dada nya.


Mire, jika tidak bisa kembali bersama Ayah, mohon kau bersedia mengampuni Ayah yang banyak melakukan ketidak adilan padamu.


Satu hari berlalu, Mire dan Drago kini mulai menyiapkan diri untuk menyewa gedung disebelah restauran untuk Mire gunakan sebagai galeri pribadinya.


" Besok kita mulai tentukan mau bagaimana mendekor nya ya? Cat, juga yang lainya kau tentukan sendiri. " Ucap Drago seraya menggandeng tangan Mire sembari berjalan menuju rumah yang disewa Mire.


" Oke, tapi kau harus menemaniku ya? "


" Iya. "


" Mire? "


Drago dan Mire kompak berhenti, lalu menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Sebenarnya Mire hafal benar suara siapa itu, hanya saja negara ini kan jauh darinya berada, apakah kebetulan saja? Tidak, rupanya sungguh itu adalah Ayahnya.


" Ayah? "


Ayah Luan menahan tangis karena sungguh merindukan Mire, tapi Mire yang sekarang sama sekali tidak seperti putrinya yang ia kenal. Biasanya, Mire akan langsung berlari memeluk Ayahnya begitu mereka tidak bertemu seharian. Tapi ini sudah berbulan-bulan semenjak terakhir bertemu, dan Mire sama sekali tak selangkah pun mendekat padanya.


" Tidak apa-apa kan kalau Ayah datang? "


Mire menatap Drago seolah bertanya dengan mata yang sudah memerah menahan tangis.


Bersambung...