
Mire terdiam tanpa bisa berkata-kata, tangannya, serta tubuhnya yang lemas hanya bisa membiarkan saja kopernya terjatuh begitu saja. Tatapan yang terkejut, tapi seolah tak ingin percaya pada akhirnya memunculkan banyak air mata meski bibir diam seribu bahasa. Dua puluh satu hampir usianya, tapi dia baru kali ini merasakan goncangan hebat di dalam hidupnya. Bagiamana bisa? Dan kenapa semua itu terjadi? Mendapati dirinya bukanlah anak dari Ibu yang selama ini merawat dan membesarkannya, terlebih dari ucapan Ibu Rina cukup jelas bahwa Ibu Ana adalah duri yang menusuk secara perlahan dan membuat Ibu kandungnya meninggal dengan keadaan hati yang sakit karena penghianatan.
Tatapannya perlahan mengarah kepada Ayah Luan yang kini menatapnya dengan mata memerah seolah ingin menjelaskan segalanya, Ibu Ana yang terus menangis seolah menahan diri untuk memeluknya, juga kakaknya yang nampak tak terbaca ekspresinya. Hebat, tiga orang itu telah mematahkan, bahkan malah sudah menghancurkan hati seorang hadis yang selama ini mencintai dan menyayangi mereka dengan tulus. Tak bisa lagi menahan kesedihan dan keterkejutannya, tubuh Mire semakin melemas, dia menggunakan satu tangan untuk berpegangan pada dinding agar berdirinya tetap seimbang. Tapi semua itu seolah tidak ada gunanya karena kedua kakinya malah semakin lemas dan hampir saja terjatuh kalau saja tidak ada Drago yang dengan cepat memeluk dan menahan tubuhnya.
" Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Aku bersamamu. " Drago erat memeluk tubuh Mire, membawa wajah Mire yang sudah dipenuhi air mata itu ke dalam pelukannya.
" Mire, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kita pulang dan Ayah akan menceritakan semuanya kepadamu, ayo kita pulang. " Ajak Ayah Luan seraya berjalan mendekati Mire, tapi sayangnya Drago menahannya dengan satu tangan terangkat ke atas kode untuk segera berhenti.
" Aku rasa, saat ini Mire sedang tidak bisa di ajak bicara. "
Ayah Luan malah semakin membenci Drago, yang tengah memeluk Mire dan menyembunyikan wajah putrinya ke dalam dadanya. Padahal penting sekali mejelaskan agar Mire tidak salah paham, dan tidak berpikir terlalu jauh dari fakta yang ada.
" Jangan ikut campur! Dia adalah putriku, hak ku untuk membawa kemana, jadi enyah karena Mire harus segera ikut bersamaku. "
Drago terdiam menahan marah.
" Bawa aku pergi, Drago. Aku sudah tidak sanggup berdiri di sini lebih lama lagi. " Ucap Mire pelan karena sungguh tubuhnya seperti kehilangan seluruh energi.
" Iya. " Drago menoleh melihat ke arah Ibunya, dan Ibunya mengangguk setuju. Saat ini dia memang sangat sedih, tapi Mire jauh lebih sedih dan membutuhkan seseorang yang dia percayai untuk bersamanya.
Derel menatap kecewa perlakuan Drago kepada Mire. Padahal sebelumnya Drago sangat dingin terhadap Mire kan? Lalu sejak kapan mereka bisa sedekat itu? Malah terlihat seperti sudah terbiasa bermesraan. Apakah saat Drago mengunjungi Mire waktu itu?
Padahal kau bisa bersikap lembut, kenapa denganku kau tidak bisa?
" Ayah, Ibu, apakah benar apa yang dikatakan bibi Rina? Apakah benar Ibu mengkhianati teman baik Ibu, lalu berselingkuh dengan suaminya? "
Sesampainya dirumah inilah yang ditanyakan Rina. Sejenak dia memang harus melupakan tentang Drago dulu, karena memastikan apa yang dikatakan Ibu Rina juga hal yang penting bagi Derel saat ini.
Ayah Luan dan Ibu Ana terdiam, bukanya tidak ingin menjawab, tapi menceritakan masa lalu pahit itu juga membutuhkan kekuatan yang besar bagi mereka.
" Kenapa Ayah dan Ibu diam? Apakah diamnya kalian berarti mengiyakan semua ucapan bibi Rina? "
" Dulu, Bernika adalah tetangga Ibu. Lalu setelah kedua orang tuanya berpisah, dia di bawa pergi oleh Ibunya dan kami tidak lagi pernah bertemu. Suatu hari, kami kembali bertemu, usia kami sembilan belas tahun saat itu. Ibu ada di kondisi yang serba susah, Bernika datang dan mengulurkan tangan, serta bantuan dari banyak hal. Dia adalah gadis yang polos, sama seperti Mire sifatnya. Dia mengenalkan suami kepada Ibu, tapi sungguh Ibu tidak memilki niat untuk merebut suaminya. Hari itu, hari dimana pesta malam di adakan, Ibu yang payah dalam meminum alkohol mabuk, begitu juga dengan Ayahmu. Kami tanpa sadar melakukan hal memalukan di rumah Bernika dan Ayahmu tinggal. Ibu juga sakit, Ibu juga kecewa dengan diri Ibu sendiri. Disaat Bernika pergi untuk mengikuti lomba melukis di kota, Suami dan temannya malah mengkhianatinya. Ibu sudah coba menjauh, Ibu menyembunyikan dengan rapat siapa Ayah kanndungmu karena tidadak ingin menyakiti Bernika. Suatu hari Bernika datang menangis dan menceritakan masalah rumah tangganya yang belum juga dikaruniai anak, saat itu usiamu sudah empat tahun. Demi untuk menebus rasa bersalah itu, Ibu menawarkan diri sebagai Ibu pengganti bagi anak mereka, tapi niatan itu malah menjadi pukulan menyakitkan tiada henti bagi Bernika. Ayahmu, dia setiap hari datang mengunjungi Ibu demi memastikan anak yang ada diperut Ibu, hingga lama kelamaan kami semakin dekat, dan kami tidak bisa mengontrol diri kami masing-masing. Kami- "
" Cukup! " Derel menutup kedua telinganya, lalu berlari menuju kamarnya karena sudah tidak tahan lagi.
" Kenapa kau bicara sedetail itu? Kau tahu seperti apa kesimpulan yang akan dipikirkan Derel? " Ayah Luan sungguh kecewa, tapi dia juga tidak mampu menghentikan ucapan Ibu Ana tadi.
" Sudah sejauh ini, aku tidak ingin berbohong. Kita salah, kita yang sudah menyakiti anak-anak kita, kita menyakiti Rina, dan terutama Bernika. "
Ayah Luan mengepalkan tangannya.
" Kalau saja dia tidak sibuk memikirkan lukisan, semua ini tidak akan terjadi. Andai saja dia lebih memilih untuk fokus denganku, kami pasti bahagia sekarang ini. "
" Tidak, bukan salahnya mencintai hobi itu. Yang salah adalah kita, jadi berhentilah mengelak nya. "
***
Mire terduduk di pasir pantai dengan tatapan kosong. Tidak perduli dinginnya angin malam yang disuguhkan alam, tidak perduli seberapa berisik ombak yang datang silih berganti tiada henti, hatinya masih tidak bisa menerima, hatinya masih saja mengatakan bohong! Semua itu bohong!
Dada yang sesak dan sakit pun tidak bisa ia pukul pelan seperti biasanya karena energi di dalam tubuh seolah dirampok sesuatu hingga tak tersisa. Ingin sekali berteriak untuk mengurangi rasa sakit, tapi tetap saja tidak bisa, bahkan menangis pun dia sudah tidak mampu lagi untuk melakukannya.
" Pejamkan matamu, tidurlah, besok pagi semua akan baik-baik saja. Aku ada disini, semua yang mencintaimu akan tetap bersamamu. " Drago menutup mata Mire dengan telapak tangannya.
" Aku tahu pasti sangat menyakitkan untukmu, meskipun aku tidak tahu seberapa sakit, tapi aku sangat yakin kau bisa melaluinya. Kau adalah Mire, jadi kau pasti akan bangkit dan kembali melanjutkan langkahmu. "
" Aku lelah.... " Ucap Mire pelan dengan mata tertutup.
" Aku tahu, jadi tidurlah dan anggap saja apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi saja. "
Bersambung