
Sekembalinya Drago dan Mire dari pameran lukisan, mereka kini tengah berada disebuah restauran begitu juga dengan sang nenek yang ikut serta. Tadinya Lusi juga akan bergabung, tapi entah mengapa dia tiba-tiba menghubungi dan memberi kabar bahwa tidak bisa ikut bergabung, maklum saja, Lusi sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan ritel yang bisa dibilang lumayan ternama.
Drago, pria itu kini lebih banyak diam dan tak banyak bicara karena kata-kata Wiliam tadi lumayan juga membuatnya kepikiran. Padahal inginnya dia setangguh ucapannya, tapi ternyata berkata memang mudah, yang sulit itu ya merealisasikannya.
" Sayang, besok pulang kerja temani aku membeli peralatan melukis ya? Cat sudah mulai habis, aku juga mau membeli kanvas juga. "
Drago tersenyum lalu mengangguk. Sudahlah, semua ini memang tidak mudah dijalani, jika memang benar pada akhirnya Mire bukan untuknya, yang paling penting adalah dia harus bisa membahagiakan Mire selama masih bersamanya, bukankah degan begitu Mire akan terus mengingat kenangan bahagia dan membuatnya tak mudah untuk dilupakan?
______
Setelah hari itu Drago memutuskan untuk tinggal di rumah sewa yang dekat dengan Mire, dan beruntunglah dia mengenal tetangganya yang ternyata seorang koki restauran yang sudah dua bulan menganggur karena restauran milik Bosnya bangkrut. Tentu Drago tidak melewatkan kesempatan itu, Drago dengan segera menawarkan diri untuk bisa menjadi Bosnya, lalu mulai mempelajari makanan apa, lalu bagaimana rasa makanan yang digemari oleh orang-oramg di negara itu. Hampir satu bulan Drago terus membuat menu-menu baru dengan rasa yang sudah disesuaikan menurut selera penduduk negara itu bersama tetangganya yang bernama Alexander, atau biasa dipanggil Alex karena usianya tak jauh Drago.
" Bagaimana dengan ini? " Ucap Drago seraya menyodorkan sepiring wafle dengan chese keju, dan juga sedikit ditaburi bubuk kayu manis, serta hiasan-hiasan makanan tersusun dengan rapih dan terlihat sangat menarik.
Alex tersenyum penuh kekaguman, lalu segera mengambil pisau dan garpunya. Tangan kirinya menahan dengan garpu, kemudian tangan kanannya memotong wafle itu perlahan.
" Wow! Saat di belah aroma kejunya sangat terasa, wangi bubuk kayu manis juga tidak kalah dari keju. " Ucap Alex lalu segera mencicipi menu baru yang dibuat Drago tadi.
" Gila! Ini menu sarapan terenak! " Alex meletakkan sendok dan garpunya, bertepuk tangan dengan tatapan kagum, lalu memberikan kedua jempolnya untuk Drago.
" Cih! Berlebihan sekali, itu hanya chese wafle saja kan? " Sebenarnya wafle adalah menu sarapan paling umum di dunia kan? Karena hari ini mereka sedang memikirkan menu sarapan, jadi Drago sengaja membuat menu sarapan yang biasa di makan. Mulai dari chese wafle, salad buah dan sayur, bubur apel, bubur telur, sandwich, dan masih ada beberapa menu lagi.
Setelah beberapa saat, Drago dan Alex kini telah duduk salinh bersebrangan dengan meja, dan disana juga sudah ada beberapa lembar kertas.
" Lokasi, oke! Dekorasi besok finish! Seragam sudah, rekrut anggota juga sudah, menu dinner, breakfast, lunch juga sudah, jadi kau juga harus siap Alex! Jangan lupa teman-teman mu juga harus siap mulai besok. " Ucap Drago setelah mencontreng satu persatu apa yang tadi dia ucapkan. Alex mengacungkan ibu jarinya dengan senyum cerah penuh semangat.
" Aku benar-benar berharap usahamu ini akan terus maju, dan aku juga teman-temanku tidak akan lagi jadi pengangguran lagi. Usiaku sudah tiga puluh tahun, jadi aku harus mengumpulkan uang untuk hari tua kan? "
Drago tersenyum, lalu mengangguk.
" Aku juga berharap begitu, jadi mari kita bekerja sama dengan baik dan giat. Ini adalah usaha pertamaku di negara ini, beruntung juga bisa bertemu denganmu, sekaligus kau masih memiliki beberapa teman yang belum mendapat pekerjaan. "
" Sial! Ternyata ada saatnya juga pengangguran bisa disebut beruntung? " Drago dan Alex terkekeh bersama.
" Sayang? "
Drago dan Alex menoleh ke arah yang sama. Tapi setelahnya Alex justru menghela nafas panjangnya.
" Bisa tidak jangan mesra sehari saja? Kalian ini apa tidak bisa menahan rindu sebentar? Kalau si gadis tidak datang kemari, si pria akan kabur untuk mencari, kalian terlaku mesra malah membuatku ingin menjadi orang ketiga dan menghancurkan kebahagiaan kalian loh. " Gerutu Alex dengan wajah yang ia buat sebal.
" Aduh, aku jadi merinding mendengar ucapanmu barusan. Aku pulang dulu deh! " Ujar Alex lalu bangkit dan segera meninggalkan Drago dan Mire disana.
" Kau pulang lebih cepat hari ini? " Drago bertanya seraya mengusap kepala Mire dengan lembut, lalu mengecup keningnya.
" Iya, siang tadi galeri sangat ramai, jadi aku sudah lelah. Untung saka sekarang ada pegawai, jadi aku bisa pulang lebih cepat kan? " Mire bergelayut manja di pelukan Drago. Bukan! Bukan itu alasan yamg sebenarnya, tapi hari ini Wiliam datang bersama dengan kolektor lukisan yang terkenal telah memiliki lukisan-lukisan dari berbagai belahan dunia, bahkan lukisan kuno yang berharga ratusan miliar juga dia punya. Tapi bukan itu masalah terbesarnya, melainkan ucapan si kolektor itu yang mengatakan ketertarikannya kepada Mire, dan berniat untuk menikahi Mire sesegera mungkin. Sungguh tidak tahu malu! Padahal usianya juga sudah lebih dari lima puluh tahun, dan sialnya Mire tidak bisa mengatakan tidak karena takut orang yang juga terkenal memiliki pengaruh besar di dalam dunia lukis akan tersinggung dan marah lalu melampiaskan dengan tindakan yang diluar akal sehat. Untunglah, saat itu Wiliam datang, merangkul pundaknya dan mengatakan jika Mire adalah kekasihnya. Tidak tahu memang seberapa besar pengaruh Wiliam hingga orang itu hanya bisa menghela nafas dan mengatakan kecemburuannya karena tidak bisa memiliki Mire, dan hanya bisa melihat Mire bersama dengan Wiliam saja.
" Kalau begitu istirahatlah saja dulu, nanti aku akan memberitahu nenek kalau kau ada disini. "
Kau bohong, Mire! Aku bisa melihatnya dengan jelas. Kau tertekan, tapi kau tidak mau menceritakannya padaku. Tidak apa-apa, aku akan berusaha sebisaku agar bisa membuatmu yakin padaku bahwa aku juga bisa kau andalkan.
" Tidak, aku tidak mau! " Mire semakin mengeratkan pelukannya.
Drago menghela nafasnya, sejenak dia kembali melihat bagaimana wajah Mire yang terlihat tertekan seolah membutuhkan kekuatan darinya. Iya, meskipun tidak bisa banyak membantu, setidaknya semangat darinya juga bisa membuat Mire sedikit lebih baik. Drago mengusap kepala Mire dengan lembut, mengusap punggungnya juga.
" Kau tahu aku selalu ada untukmu kan? " Mire mangangguk.
" Jadi jangan merasa terbebani, kau hanya perlu istirahat saat kau lelah, kau juga tidak boleh merasa tertekan untuk hal yang tidak perlu. Bersabar ya? Suatu hari nanti aku sendiri yang akan melindungi mu tanpa kau minta sekalipun. "
Mire tersenyum, dan kini sudah mendongak untuk menatap Drago.
" Aku mencintaimu. " Ucap Mire.
" Aku tahu. "
Mire memindahkan tangannya untuk memeluk tengkuk Drago dan menekannya agar mereka bisa saling mendekat.
" Kau tahu aku sulit mengendalikan diri akhir-akhir ini kan? " Ucap Drago seraya menahan tubuhnya saat More sudah akan mendekatkan bibirnya.
Mire terkekeh.
" Bukannya memang dari pertama begitu? "
" Ini kau yang mulai ya? Hari ini aku tidak ingin pakai pengaman. "
" Kau tahu caranya supaya aman kan? " Mire melanjutkan apa yang ingin dia lakukan tadi, dan Drago menyambutnya dengan semangat.
Bersambung...