
Matahari pagi, sinar hangat membawa kedaiaman bagi seluruh manusia.
Mire masih terpejam, tidak tahu apakah dia berpura-pura tidur, atau dia memang masih tidur sungguhan. Drago yang sudah bangun sedari tadi hanya bisa tersenyum tipis dengan tatapan matanya yang terus menerus menatap Mire. Tidak tahu akan jadi seperti apa masa depannya nanti, tapi sungguh dia akan melakukan apa yamg bisa ia lakukan untuk membuat Mire merasakan kebahagiaan terus menerus di masa depannya nanti.
Kau harus bahagia, karena dengan begitu aku juga akan bahagia.
Drago mengusap wajah Mire dengan lembut, lalu memberikan kecupan di dahi. Tidak tahu sejak kapan rasa ini mulai muncul, tapi yang jelas Drago tahu benar kalau perasaan di hatinya semakin tumbuh dan semakin besar.
Semoga Tuhan mentakdirkan kita bersama ya, Mire?
" Selamat pagi? " Ucap Mire seraya membuka matanya, lalu tersenyum kepada Drago. sungguh, dia masih ingin terus menutup mata dan mencoba menjadikan apa yang terjadi kemarin adalah sebuah mimpi buruk. Tapi, kecupan dari Drago membuatnya sadar kalau dia tidak akan bisa hanya bisa berharap seperti itu dan diam saja seolah tidak ingin lagi melanjutkan hidup. Maka dia harus bangun, menghadapi saja kenyataan yang akan terjadi entah seperti apa menyakitkan nantinya. Ada Drago, ada Lusi, dan ada banyak orang yang mencintainya.
Drago tersenyum, lalu mengusap kepala Mire dengan lembut.
" Selamat pagi juga, Gadis manjaku. "
" Kau sudah bangun dari tadi? " Tanya Mire seraya membenahi duduknya karena terlalu kebelakang punggungnya juga tidak nyaman. Setelah posisi duduknya benar dan nyaman, Mire menatap Drago yang kini tengah menatap layar ponsel, lalu tak lama mengetik untuk membalas pesan.
" Sedang mengirim pesan untuk siapa? " Tanya Mire seraya mendekat lalu meletakkan kepalanya di pundak Drago.
" Ibu, dia mengirim banyak sekali pesan. Dia bertanya kita ada dimana, dan juga bagaimana keadaanmu. "
Mire tersenyum tipis, lalu memeluk lengan Drago.
" Ibu Rina memang Ibu yang baik. " Ujar Mire.
Drago tersenyum, memang benar Ibunya adalah Ibu yang paling pengertian dan tidak mudah marah seperti kebanyakan Ibu lainnya.
" Mire, Ibu bilang kalau kau sudah tenang apa mau bertemu dengan Ibu untuk bicara sebentar? "
Mire terdiam, tapi tak lama ia mengangguk setuju meski dadanya mulai berdegup kencang karena curiga kalau Ibu Rina akan membahas tentang Ibu kandungnya. Jujur Mire merasa kecewa dan sakit dengan kenyataan ini, tapi dia juga harus tahu yang sebenarnya terjadi dari Ibu Rina dulu.
Setelah selesai membalas pesan, Drago menjauhkan ponsel dari tangannya, mengusap dengan lembut kepala Mire yang masih menyender di pundaknya.
" Mire, ada satu hal yang ingin aku beri tahu padamu sebelum kita kembali ke rumah. "
" Apa? "
" Tentang kedatangan orang tuamu ke rumah, sebenarnya ini karena Derel mengatakan kepada mereka bahwa aku mencoba menodainya beberapa hari yang lalu. "
Mire sebenarnya dengar tentang hal itu sebagian, tapi dia lupa karena kenyataan yang ia dengar bahwa dia bukan putri kandung Ibunya.
" Mire, aku sungguh- "
" Aku percaya kau tidak akan melakukan itu, kalau pun kau ingin melakukannya, kau pasti akan datang padaku kan? "
Drago terdiam tak bisa berkata-kata seraya menatap wajah Mire yang kini juga tengah menatapnya dengan senyum manis seperti yang biasa dia lihat dari seorang Mire.
" Sayang, aku lebih mengenal kakakku, tapi aku masih tidak menyangka kalau dia akan se-nekat ini. "
Drago mengubah posisinya untuk merangkul Mire. Untungnya mereka berada di kursi belakang, jadi tidak sulit untuk melakukan itu.
Drago mengubah lagi posisinya agar bisa saling bertatapan dengan Mire.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? " Mire tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
Drago tersenyum tipis, merapihkan rambut Mire yang terurai, lalu menyelipkan di belakang telinganya.
Kau sangat pandai menyembunyikan kesedihanmu Mire.
" Jangan tersenyum seperti ini terus menerus, aku manusia biasa yang pasti akan ada waktunya tidak bisa menahan diri kalau wanitanya menggemaskan sepertimu. "
Mire terdiam, bola matanya menatap mata Drago yang terlihat begitu fokus padanya.
" Kau, tidak perlu menahan diri denganku. "
Drago menelan salivanya sendiri. Sebenarnya Mire paham tidak sih dengan arti dari kata-katanya itu? Gampang memang kalau hanya bicara seperti itu, tapi kan yang mengalami secara langsung adalah dia?
" Jangan bicara sembarangan, kita kembali ke rumah sekarang ya? Kau juga pasti sudah lapar kan? "
Mire menjebik sebal. Padahal dia tidak sembarangan bicara, dia tentu saja tahu apa maksud dari ucapannya itu. Tapi dia merasa senang juga karena jelas sekali membuktikan bahwa Drago bukan pria yang mudah untuk melecehkan wanita.
Sesampainya di rumah, Ibu Rina tersenyum lebar menyambut kedatangan putranya dan juga Mire yang akan menjadi menantunya. Dia erat memeluk Mire karena memang merindukan gadis itu.
" Kita sarapan dulu ya sayang? Setelah itu baru kita bicara. " Ucap Ibu Rina seraya mengusap wajah Mire dengan kedua tangannya.
" Iya, Ibu. "
Setelah selesai sarapan, dan sebentar mereka mengobrol, akhirnya kini datang waktunya untuk mereka membicarakan tentang kebenaran masa lalu agar Mire mengetahui semua yang terjadi sesuai dengan sudut pandang dari seorang Ibu Rina.
" Mire wanita cantik yang ada ditengah itu adalah Ibu kandungmu. Namanya Bernika, dia sangat mirip denganmu baik wajah, bahkan juga bakat melukisnya dia turunkan padamu. " Ibu Rina memberikan sebuah photo yang ada tiga orag wanita, lalu fokus dengan gambar wanita yang ada di tengah-tengah para wanita itu. Asalnya biasa saja, tapi begitu bisa dengan jelas melihat wajahnya yang sungguh mirip dengan Bernika, lama kelamaan tangannya gemetar, lalu matanya memerah dan menjatuhkan buliran-buliran air mata.
" Dia adalah Ibumu, Mire. Dia bagian dari dirimu yang sesungguhnya. "
Mire jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur dengan mata yang sudah banyak mengeluarkan buliran bening dari sana.
" Kenapa Ayah dan Ibu tidak memberitahu yang sebenarnya? Apakah kalau tidak ada hari kemarin aku tidak akan tahu siapa Ibuku yang sebenarnya? "
Ibu Rina duduk disamping Mire lalu memeluknya erat.
" Kau sudah tahu sekarang Mire, jadi kau bisa mengunjunginya dan menyapa. Dia pasti akan bahagia sekali. "
Setelah lumayan tenang, Ibu Rina memutuskan untuk menceritakan apa yang dia ketahui dan apa yang dia lihat dengan mata nya sendiri.
" Mire, dulu Ibumu adalah seorang gadis yang polos dan sangat baik, sama sepertimu. Dia jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah, dan pria itu adalah Luan, Ayah kandungmu sendiri. Tujuh tahun mereka menikah, tapi mereka tidak juga memiliki anak. Lalu Ana, dia menawarkan diri untuk menjadi Ibu pengganti dengan alasan demi kebahagiaan Bernika dan Luan. Tapi, setelah Ana mulai mengandung anak mereka, Luan jadi terus menerus memperhatikan Ana dengan alasan anak yang dikandung Ana. Beberapa bulan setelah itu Bernika mulai menyadari ada yang tidak beres di antara Luan dan Ana, jadi dia memutuskan untuk diam-diam mencari tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Hari itu, hari dimana usia kandungan Ana tujuh bulan, Bernika harus menerima kenyataan pahit memukulnya berkali-kali. Pertama, dia mendapati semua bukti kedekatan Ana dan Luan yang tidak wajar, lalu dia juga harus menerima satu lagi pukulan paling menyakitkan yaitu, Derel yang ternyata adalah anak kandung Luan. Bisa bayangkan betapa hancurnya hati Bernika saat itu? Dia Ibumu yang sudah sangat menderita. "
Mire mengeratkan kepalan tangannya dengan mata memerah, juga sedikit sembab.
" Lalu, bagaimana Ibuku bisa meninggal? "
Bersambung.