
Sekembalinya Mire ke London, gadis itu sama sekali tak terlihat lelah atau bersantai-santi untuk menghilangkan lelah karena perjalanan jauh yang baru saja dia tempuh. Dia langsung duduk melukis menggunakan semua barang-barang peninggalan Ibunya, dan sungguh tangannya terasa begitu ringan seperti ada yang menyalurkan energi, juga membantunya dalam menggerakkan tangan menjadi lebih lihai dari biasanya.
Nenek Santi, dia hanya bisa tersenyum dari balik pintu melihat bagiamana cucunya sangat bersemangat, sama persisi seperti putrinya yang telah tiada itu. Tidak tahu harus seberapa bersyukur kepada Tuhan atas segala keajaiban yang diberikan padanya. Padahal, selama dua puluh satu tahun dia sengaja menarik diri dari masyarakat, banyak merenung karena masih tak sanggup menghadapi kenyataan pahit yang terjadi kepadanya, juga kepada putrinya yang malang. Hari itu, hari dimana dia memeluk, meraung-raung karena tak kuasa menahan betapa rasa sedih dan rasa marahnya kepada Tuhan telah berganti hari bahagia penuh syukur seperti sekarang ini. Senyum Bernika yang punah sejak puluhan tahun lalu, kini bisa ia lihat lagi melalui putrinya. Tangan Bernika yang bergerak dengan cepat dan lihai dalam menggambar kini bisa lagi dia lihat dari cucu satu-satunya itu.
Setiap orang pasti pernah mengalami betapa hancur, dan kritis di dalam hidupnya. Begitulah pula yang pernah dirasakan Nenek Santi puluhan tahun terakhir ini. Senyumnya, kebahagiaan, semangatnya pernah sempat hilang dari hidupnya bersamaan dengan kematian anak satu-satunya itu. Jika teringat lagi hari dimana dia meraung, pingsan hingga berkali-kali saat melihat tubuh putrinya koyak tersisa bagian dada ke atas saja, sungguh dia ingin sekali mati menyusul putrinya. Dua puluh satu tahun ia lalui dengan doa yang sama, yaitu sebuah kematian agar segera berkumpul dengan putrinya. Sekarang dia tahu kenapa Tuhan berkali-kali menyelamatkannya meski dia yakin akan segera mati saat memotong pergelangan tangan, pernah juga menggantung diri, bahkan juga meminum banyak pil tidur, dan ternyata jawabannya adalah Mirelia. Gadis cantik yang mirip sekali Bernika itu adalah hadiah dari Tuhan, imbalan atas kesedihannya dan kesabaran yang terpaksa ia jalani selama ini. Sekarang, doa yang akan dia minta adalah agar dia bisa memiliki lebih banyak waktu bersama Mire, lebih mencintai, menyayangi, mengurus, dan melakukan segala yang ia bisa bahkan yang belum pernah ia lakukan kepada putrinya dulu.
Mire, terimakasih karena sudah hadir di dunia ini. Terimakasih karena sudah memberikan cahaya di dalam hidup nenek yang hampa dan gelap. Sekarang Nenek akan mengurus mu dengan baik, bahkan nyawa Nenek juga akan suka rela Nenek berikan untukmu. Teruslah hidup dengan bahagia ya nak? Jangan bersedih hanya karena seorang pria, jangan juga bersedih saat kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Ingat, masih banyak hari di dunia ini, jadi jangan pernah menyerah, dan jangan pernah memilih pilihan yang menyakitkan seperti Ibumu.
Nenek perlahan-lahan menutup pintu kamar Mire dan berjalan meninggalkannya sebentar untuk pergi ke dapur dan membuatkan susu hangat kesukaan cucunya itu.
Sementara di dalam kamar, Mire terus menggambar apa yamg sedang dia pikirkan di dalam hati juga pikirannya. Ibu, Ibu, Ibu, dan semuanya hanyalah tentang Ibunya yang ia rasa begitu berjasa di dalam hidupnya. Benar, tidak sekalipun dia merasakan hangatnya sentuhan tangan Ibu kandungnya, tapi melalui alat-alat melukis milik Ibunya, dia merasa seperti ada sosok yang hangat berada di sekeliling tubuhnya, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Jika benar itu adalah Ibunya, maka untuk apa Mire berlarut dalam kesedihan? Bukankah Ibunya juga bisa melihat bagaimana dan apa saja yang ia lakukan di dunia ini? Iya benar sekali! Dia hanya perlu bahagia agar Ibunya bisa tersenyum dan istirahat dengan tenang setelah peristiwa menyakitkan di dalam hidup Ibunya.
Ibu, lukisan yang aku buat ini untukmu. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya melalui banyak kata-kata, tapi saat ini aku hanya memikirkan dua hal yang ingin aku katakan padamu, maaf dan juga terimakasih. Maaf karena adanya aku di dalam perut Ibu Ana membuatmu semakin kehilangan Ayah, dan terimakasih karena aku yakin kau selalu bersamaku selama ini.
***
Drago menghembuskan nafas kasarnya setelah selesai mengontrol ketiga restauran nya. Maklum saja, niatnya untuk menyusul Mire dan membuka usaha disana akan memakan waktu yang cukup lama untuk nanti beradaptasi dari berbagai sisi. Mulai dari selera, suasana, dan juga banyak hal yang harus dipersiapkan dengan matang.
Hari ini adalah hari ke dua tanpa Mire, rasanya memang sangat berbeda meskipun sebelumnya hanya sepuluh hari bersama dan mereka menghabiskan sisa waktu untuk berhubungan jarak jauh. Tapi tidak apa-apa, toh sebentar lagi dia akan segera menyusul Mire, meskipun dia sendiri belum mengatakannya karena ingin menjadikan ini sebagai kejutan.
Drago tersenyum melihat wajah Mire yang tersenyum di layar ponselnya. Sangat rindu sih, tapi sekarang ini kalau menghubungi Mire takutnya akan mengganggu, jadi cukup kirim pesan singkat dan emotikon hati saja, batin Drago.
Tok Tok
Drago beralih menatap pintu yang kini mulai terbuka dan di sanalah Deni mulai masuk keruangan Drago.
" Maaf mengganggu, Bos. Tapi ada gadis cantik yang waktu itu tuh, dia bilang ingin bicara penting denganmu. " Ucap Deni dengan santai karena memang Drago tak gila dihormati meski wajahnya sering terlihat dingin dan cuek, tapi nyatanya dia adalah orang yang sangat menghargai orang lain tanpa memandang fisik atau materi, apalagi kedudukan.
" Suruh pulang saja, bilang aku sedang bercinta. "
Deni menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan bingung.
" Bercinta dengan ponsel Bos? Apa sedang melakukan video sxs ya Bos? " Deni meledek laku terkekeh sendiri setelahnya.
" Aku inginnya ya dengan seseorang, tapi orangnya sedang diluar negeri. " Ujar Drago seraya meletakkan ponselnya.
" Kan itu ada betina cantik, apa tidak ingin di cicipi barang secuil? " Deni kembali tersenyum setelahnya.
" Betina yang seperti itu hanya akan membuat orang memiliki riwayat darah tinggi, penyakit jantung, stres berlebihan, juga kejang otak yang bisa saja membuat lebih cepat mati. Kalau kau mau coba saja sana, aku masih sayang nyawaku karena aku juga harus menikahi tunanganku. " Ucap Drago seraya menyenderkan kepalanya di senderan kursi, lalu menatap langit-langit ruangan kerjanya.
" Kok aku jadi merinding ya? Memang ada betina se-mengerikan itu? Dan lagi tunangan Bos yang mana sih? Aku jadi penasaran secantik apa sampai-sampai betina di luar itu di abaikan begitu saja? "
Drago tersenyum karena mengingat wajah Mire saat sedang berada di bawah tubuhnya.
" Aku tidak akan memberi tahu wajah itu, dia hanya milikku seorang. "
Deni menjebik sebal.
" Jangan-jangan tunangan Bos buruk rupa ya sampai Bos malu untuk mengenalkannya kepadaku? "
Bersambung.