I Am A Perfect

I Am A Perfect
Anemia?



Satu tahun berlalu, dan satu tahun juga sudah nama Mire melambung naik di dunia seni lukis. Hari ini, adalah hari dimana MD Galery merayakan satu tahunya. Seperti kebanyakan acara pada perayaan dibukanya sebuah Galery, MD Galery kini tengah mengadakan pesta perayaan yang di hadiri beberapa selebriti terkenal, kolektor lukisan, bahkan juga ada beberapa pengusaha yang baru mulai tertarik dengan lukisan, beserta pengusaha yang bekerja sama dengan MD Galery. Di sana juga ada ada Wiliam selaku salah satu sponsor acara, juga ada nenek galeri yang datang sebagai tamu undangan.


Semua tamu sudah berdatangan, menyampaikan ucapan selamat sembari melihat lukisan-lukisan yang terpajang. Bukan hanya lukisan Mire saja, tapi juga ada beberapa lukisan dari para pelukis terkenal yang ikut di pamerkan disana.


Sama seperti Mire, Drago juga mengalami perubahan drastis begitu nama Mire melambung naik. Lewat rasa makanan yang terkenal enak dan pelayanannya yang cepat dan ramah, nama restauran dari gabungan nana Mire, Drago akhirnya sukses ikut naik kedalam jajaran restauran favorit keluarga, pasangan, juga anak muda di zaman yang serba modern ini.


" Selamat Mire, kau benar-benar berhasil menunjukkan betapa kau hebat dengan usahamu sendiri. Aku bangga padamu. " Ucap Wiliam seraya menyodorkan tangannya kepada Mire yang kini berdiri berdampingan dengan Drago.


" Terimakasih. " Jawab Mire menyambut hangat jabatan tangan Wiliam. Sungguh tidak disangka juga kalau pada akhirnya Wiliam akan ikut serta dalam mensponsori kegiatannya kali ini. Tapi apapun itu, semua kini sudah membaik, dan sekarang Mire hanya perlu memikirkan bagaimana dia bisa terus berkarya dan menyalurkan bakatnya tanpa batasan.


" Kau juga semakin sukses, tukang masak. " Ucap Wiliam lalu gantian menyodorkan tangan kepada Drago. Tak ada lagi tatapan tak suka, Drago juga menyambutnya dengan hangat seolah tak terjadi apapun sebelumnya karena dia paham sekali bahwa Wiliam banyak membantu juga dalam kesuksesan acara Mire yang amat penting ini.


" Terimakasih, tapi aku juga masih belum bisa dibandingkan denganmu dalam urusan bisnis kan? "


" Jangan meremehkan diri sendiri, melihatmu berkembang satu tahun ini, sudah sangat membuktikan bahwa kau adalah pria yang kompetitif dan tidak mudah menyerah. Aku iri sebenarnya, tapi aku juga tidak mungkin akan mengatakan nya secara langsung juga kan? " Drago tersenyum, begitu juga dengan Wiliam.


" Mire, aku harus segera kembali, tapi sepertinya kita akan bertemu lagi di acara penyerahan penghargaan yang akan kau hadiri besok. "


" Baiklah kalau begitu, sampai bertemu besok ya? "


" Baiklah, aku pamit dulu. " Ucap Wiliam lalu berjalan pergi meninggalkan MD Galery yang kini sudah mulai sepi setelah para tamu undangan kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Setelah acara selesai, sebentar Mire berjalan mencari kursi untuk dia istirahat sebentar karena merasa tubuhnya sangat tidak nyaman beberapa hari ini. Tidak tahu apa sebabnya, tapi anggapan Mire adalah, dia pasti terserang anemia seperti beberapa waktu lalu. Padahal sudah meminum pil penambah darah tadi pagi, tapi keadaan tubuhnya masih tak mengalami perubahan sedikit pun. Apakah sungguh tubuhnya begitu lelah sampai pil penambah darah tidak lagi berfungsi kepada tubuhnya?


" Kau baik-baik saja? " Tanya Drago karena sedari tadi dia juga memperhatikan bagaimana Mire sangat tidak nyaman, bahkan dia juga melihat Mire terus menyeka keringat yang membasahi dahi, juga bagian wajah yang lain. Drago menarik kursi yang ada di dekat Mire, lalu duduk di sebelah nya dengan saling bertatapan.


Mire menghela nafas berat, dia menyenderkan kepalanya di senderan bangku. Matanya sejenak terpejam berharap pusing di kepala dan lemas di tubuhnya sedikit berkurang.


" Tidak tahu, tapi tubuh ku tidak nyaman sekali. Anemia ku seperti nya semakin parah deh. "


Drago menatap khawatir, segera dia memeriksa suhu tubuh Mire, normal! Tapi keringat dingin memang tak berhenti keluar hingga baju yang di kenakan Mire mulai basah juga.


" Kita ke rumah sakit saja ya? " Ajak Drago seraya bangkit agar segera bisa memapah Mire untuk dia tuntun menuju ke mobil nya.


" Biar aku gendong saja, kau jangan banyak bicara agar tenaga mu tidak banyak terbuang. " Ujar Drago lalu dengan segera mengangkat tubuh Mire dan membawa nya untuk masuk ke dalam mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Drago segera melajukan mobilnya, dan empat puluh menit setelah nya, mereka sudah sampai di sebuah rumah sakit terdekat.


" Saya tidak bisa memastikan seratus persen, tapi saran saya, cobalah untuk mendatangi poli kandungan setelah ini ya? " Ucap sang Dokter yang sukses membuat Mire dan Drago menatap dengan tatapan kaget. Tapi di bandingkan hanya bisa penasaran saja, Mire dan Drago memutuskan untuk mendatangi poli kandungan, dan ternyata hasilnya sungguh seperti dugaan Dokter sebelum nya.


" Selamat, usia kandungan anda sudah memasuki usia lima Minggu. Harap jangan terlalu lelah ya? Jaga makan anda, hindari meminum minuman bersoda atau beralkohol, dan juga yang mengandung kafein. Vitaminnya jangan lupa di minum, perbanyak istirahat dan hindari stres berlebihan ya? "


Seperti itulah pesan Dokter yang sukses membuat Mire dan Drago menjadi bengong sampai sekarang ini meskipun mereka sudah berada di dalam mobil.


Hamil? Padahal sudah sebaik mungkin menjaga agar tidak terjadi kehamilan, tapi benar-benar di luar dugaan apa yang terjadi kali ini.


" Sayang, maaf karena aku kurang hati-hati. Aku sungguh tidak ingin merusak cita-cita mu, hanya saja kehamilan ini benar-benar di luar dugaan. Maaf karena kau harus menderita karena kehamilan ini. " Drago sebenarnya juga bahagia dengan kehamilan ini, tapi kalau melihat karier Mire yang sedang berada di atas, apakah Sudi bagi Mire untuk mengandung anaknya di saat dia sedang berjaya?


Sebenarnya Mire diam karena tidak mampu berkata-kata bahwa berita kehamilan benar-benar bisa membuat nya begitu bahagia hingga tak sanggup untuk berkata apapun sekarang ini. Padahal dia ingin bersorak bahagia, tapi kenapa dia malah ingin menyimpan nya sendiri?


" Sayang, kalau kau keberatan juga aku akan mengikuti saja apa keputusan mu dan tidak akan memprotes sedikit pun. Lagi pula kita masih bisa memiliki bayi lagi di lain waktu kan? "


" Sayang, kau tidak mau anak ini? " Tanya Mire dengan tatapan terkejut dan kecewa.


" Mau, tapi bukankah ini berarti kau akan kesulitan nantinya? "


Mire tersenyum, meraih tangan Drago, lalu menggenggam nya erat-erat.


" Aku tidak keberatan kok. Aku memang tidak tahu akan seperti apa rasanya saat hamil dan melahirkan, tapi aku akan tetap melahirkan anak kita karena dia kan bagian dari kita? Aku juga merasa memiliki bayi adalah hal yang seru. "


" Terimakasih, sayang. " Ucap Drago bahagia.


" Tapi kau harus segera menikahi ku! "


Bersambung.