
" Lihatlah, lihatlah Mirelia yang tidak bisa lagi kalian raih. Kalian begitu mementingkan apa yang kalian butuhkan juga kalian anggap lebih penting. Lihatlah, Luan, lihatlah Ana, dan kau juga Derel. Ini sudah sangat keterlaluan. Mungkin kau tidak begitu merasakannya sekarang, tapi percayalah padaku, Mire akan semakin jauh, jauh sekali hingga menatapnya kau tidak akan mampu, apa lagi meraihnya. " Ibu Rina menatap Luan yang nampak ingin menangis.
" Hari ini, kau semakin menjelaskan betapa Mire tidak sepenting Derel. Hari ini juga, Mire semakin tahu bahwa kakaknya sangatlah egois, dan Ibunya masih tak bisa melakukan apapun selain menangis. Mire adalah gadis manja yang sangat pengertian, tapi bukankah lelah juga harus selalu mengerti orang lain, dan mengutamakan orang lain? Itulah yang sedang terjadi di dalam hidup Mire. Dia, lelah dengan keluarganya yang terus saja menekan dan memeras pengertiannya tiada henti. Nikmatilah hari-hari menderita karena penyesalan. Sekarang kau baru melihat ada sepasang suami istri yang mampu membuat Mire nyaman, dan tidak ragu memeluk seperti mereka adalah orang tuanya, suatu hari nanti, kau akan melihat betapa bodohnya kalian dalam memenuhi tugas orang tua hingga tak sanggup menatap putri bungsu kalian. " Ibu Rina bangkit dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Drago juga tak bisa bicara karena tak habis pikir, jadi dia juga ikut beranjak pergi, bukan ke kamar, melainkan untuk menyusul Mire yang dibawa oleh orang tuanya Lusi.
Bruk!
Ibu Ana tak bisa menahan air matanya yang meluncur deras membasahi pipinya. Hancur? Iya, hatinya sangat hancur karena Mire dengan jelas menunjukkan betapa jauh jarak yang membentang di antara mereka saat ini. Seandainya saja dia tahu kalau pada akhirnya anaknya akan tersakiti karena apa yang dia lakukan di masa lalu, demi Tuhan dia tidak akan goyah dengan perhatian Ayah Luan yang saat itu benar-benar begitu tulus dan terasa nyaman.
Sekarang Mire sudah dengan jelas menunjukkan betapa kecewa dan sakit yang dirasakan hatinya, pasti Bernika juga merasakan itu kan? Andai saja Ayah Luan tidak begitu ambisius dengan Mire yang saat itu masih di dalam kandungan, andai saja dia tidak terlena, apakah cerita hidupnya akan berbeda? Akankah dia masih bisa melihat senyum, tawa Bernika dan Mire bersamaan? Mungkinkah Mire akan menyayanginya dengan status jelas sebagai Ibu pengganti?
" Kita pulang, Bu. "
Suara laki-laki itu, dia adalah Ayah Luan yang dulu terus saja mendesaknya dengan segala cara. Laki-laki itu pada akhirnya menjadi penghancur segalanya. Kematian Bernika, penderitaan Derel dan Mire, semua adalah karena laki-laki itu, begitulah inginnya Ibu Ana. Menyalahkan seutuhnya kepada Ayah Luan agar hatinya sedikit lega, tapi saat mengingat wajah Mire dia kembali merasakan sakit itu, rasa bersalah yang sulit menghilang meski sudah puluhan tahun berlalu.
***
" Mire, hidup memang tidak selalu tentang suka. Ada masanya kita harus menderita terlebih dulu, jatuh berkali-kali, berdarah-darah, menangis seolah sudah tidak sanggup lagi. Tapi, Tuhan tidak sejahat itu Mire, semua akan ada masanya kau bahagia setelah luka yang Tuhan berikan. Mungkin, Tuhan ingin kau lebih dewasa lagi dengan pelajaran hidup ini. " Ibu Tini menguap kepala Mire dengan lembut, Mire kini meletakkan kepalanya dipangkuan Ibu Tini dengan mata yang tak henti menangis pilu.
Kakaknya Lusi yang bernama Lira segera menghapus airmatanya karena sempat merasa sedih mendengar cerita dari Mire tentang apa yang terjadi dengannya.
" Mire, Tuhan memberikan luka, lalu memberikan kebahagiaan setelahnya, tentu saja agar kau merasa kebahagiaan itu terasa berlipat ganda. Coba kalau hidup bahagia-bahagia terus, kau tidak akan merasa kalau bahagia itu sangat indah kan? " Lira tersenyum seraya mengusap punggung Mire dengan lembut.
" Ah, ya ampun! Lihat pangeran mu sudah datang, seka ingus mu yang berantakan itu. "
Mire terkekeh, lalu bangkit seraya menyeka wajahnya dengan tisu yang diberikan oleh Ayahnya Lusi.
" Boleh bergabung? " Drago tersenyum begitu sampai di dekat Mire.
" Tentu saja, coba kau hibur dia juga. Soalnya aku risih melihat ingusnya dari pada air matanya. " Ucap Lira yang tujuannya tentu hanyalah untuk meledek saja.
" Kakak! " Mire merengut sebal.
" Sudah, berhenti menangisi apa yang sudah berlalu. Sekarang lebih baik kau cari angin segar bersama pria segar ini. " Ledek Ibu Tini melirik Drago sembari mengusap wajah Mire pelan.
Tak lama setelah itu, Drago membawa Mire ke sebuah pantai yang sudah dua kali dia kunjungi sebelumnya bersama dengan Mire. Memang sih dulunya dia sangat tidak suka suasana laut, tapi setelah dua kali dia mulai menerima dan menyukai tempat dengan angin semeribit, dan suara ombak yang lumayan menyenangkan.
" Kita kesini lagi? " Mire menatap Drago dengan tatapan heran.
Mire terkekeh, lalu keluar dari mobil untuk menikmati hamparan pasir dan matahari. Tak lama juga Drago menyusul dan tersenyum melihat Mire tersenyum.
Pantai, kau sungguh ajaib.
Drago mengikuti saja kemana kaki Mire melangkah, masa bodoh mau kemana juga asal jangan ke tengah lautan karena yang paling penting adalah senyum Mire yang menandakan kalau dia baik-baik saja selalu terlihat di wajahnya.
" Sayang, sudah janji akan menemaniku terus jadi jangan menyuruhku pulang! "
Drago tersenyum lalu mengangguk. Untunglah dia sudah ada orang kepercayaan yang membantunya mengontrol tiga restauran miliknya, jadi tidak perlu lagi terlalu memusingkan urusan pekerjaan, toh Ibunya juga pasti akan membantu seperti biasanya.
Mire terus berlarian kesana kemari dengan perasaan lega meski belum bisa mengesampingkan kesedihan dari dalam hati sepenuhnya. Tapi adanya Drago sungguh membuat hatinya merasa kalau semua akan baik-baik saja, ditambah suasana laut yang selalu jadi tempat kesukaannya.
" Mire, ini sudah akan gelap, kita istirahat dulu ya? "
Mire melihat suasana yang memang sudah akan gelap, lalu mengangguk dengan bibir tersenyum.
Mereka kini duduk di kursi belakang, dan untungnya Drago sudah membeli beberapa botol air mineral juga soda, tak lupa roti dan camilan lain karena yang dia paham adalah, Mire paling betah jika berada di pantai jadi sengaja menyiapkan itu semua.
" Egh! " Sendawa Mire saat sebungkus roti, sebotol air mineral ludes ke dalam perutnya. Sedangkan Drago, pria itu hanya meminum sebotol air soda dan tersenyum saja melihat Mire makan seperti sangat kelaparan hingga sebungkus roti berukuran besar yang biasa untuk dua orang habis sendirian.
" Masih ingin disini? " Tanya Drago.
" Tidak, tapi aku juga tidak ingin pulang kerumah. "
" Mau tidur di hotel dulu? " Mire mengangguk.
Drago melajukan mobilnya tak lama setelah menyepakati ajakannya itu. Hingga hampir tiga puluh menit sampailah mereka disebuah hotel.
" Dua kamar. " Ucap Drago saat memesan kamar.
" Jangan! Satu kamar saja. "
Bersambung...