
" Sayang, sebentar lagi aku sudah akan melahirkan, apa kau masih ingin tidur? " Mire menyeka air matanya, seperti inilah keseharian Mire, dia juga masa bodoh dengan adanya perawat yang menjaga Drago bergantian siang dan malam. Setelah Drago di rawat dirumah, Mire hampir tak pernah meninggalkan Drago. Dia melukis seharian di ruangan yang sama meski tak berani terlalu dekat karena takut bahan dari melukisnya akan berefek jika mengenai Drago. Dia juga tidur di sebelah Drago, sementara perawat ada di sudut ruangan dengan kesibukannya sendiri. Tidak tahu kapan Drago akan bangun, tapi sungguh Mire tidak akan mengeluh lelah, apalagi merasa kecewa karena penantiannya tak kunjung berakhir. Tidak apa-apa, sesekali dia bertanya kepada Drago, kapan akan Bagun? Kau merindukanmu, apa kau tidak lelah terus tertidur?
Sudah berlalu beberapa bulan hingga perutnya kini sudah membulat besar dengan sempurna di usia kandungan yang sudah akan masuk ke sembilan bulan.
Mire menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Sudah lah, sekarang ini si calon gadi kecilnya sedang bersiap untuk lahir, jadi dia juga harus memikirkan persiapan kekuatan jiwa dan raga agar bisa melahirkan si jabang bayi dengan selamat.
" Sayang, lihat deh! Si bubu anak gadismu selalu saja menendang dengan sangat keras, aku bahkan sampai sering di buat kaget. " Mire meraih tangan Drago lalu meletakkan di perut nya, lalu menggerakkan dengan mengusapnya pelan.
" Ah! Kau merasakannya kan? Bubu benar-benar sangat jahil ya? " Mire terkekeh sendiri dan tak berhenti membuat tangan Drago bergerak mengusap perutnya.
Di ujung ruangan, perawat yang sudah tiga bulan bekerja untuk menjaga Drago saat malam itu hanya bisa menatap miris tapi dia juga salut dengan rasa cinta yang begitu besar. Tidak tahu apa sebutan di atas kata beruntung, tapi pria yang tenga koma itu pasti sangat bahagia memiliki wanita cantik rupa juga hati, dan bersedia ada selalu untuknya hampir dua puluh empat jam setiap harinya.
" Ms, ini sudah larut, cobalah untuk tidur ya? Seperti biasa saya akan menjaga pasien. " Ujarnya yang memang sering kali mengingatkan Mire agar jangan sering begadang apalagi saat hamil besar seperti ini.
" Iya, aku akan berbaring, tolong tetap waspada ya? "
" Oke, Ms. "
Baru saja Mire akan membaringkan tubuhnya disebelah Drago, tiba-tiba dia merasakan nyeri dan sakit tak biasa di perutnya.
" Ah! " Pekik Mire pelan tapi masih bisa terdengar jelas di telinga si perawat.
" Ada apa, Ms? "
Mire menggeleng dengan cepat karena tidak ingin merepotkan si perawat yang nampak benar-benar khawatir, bahkan dia juga sudah berjalan mendekat membantu Mire untuk berbaring.
" Tidak apa-apa, sepertinya aku hanya mulas palsu seperti yang sering di sebutkan Dokter waktu itu. Maklum saja, keadaan seperti ini mau tidak mau membuatku stres juga kan? "
Perawat itu menaikan selimut untuk menyelimuti tubuh Mire.
" Ms, anda yakin? Kenapa saya tidak bisa tenang ya? Bagaimana kalau saya telepon Dokter untuk periksa keadaan Ms? "
Mire menggeleng cepat, bukannya tidak perduli dengan rasa sakit diperutnya, hanya saja dia sudah sering mengalami kontraksi palsu semenjak usia kandungan tujuh bulan, jadi dia tidak ingin menganggap hal ini serius karena dia berkeyakinan kalau akan baik-baik saja beberapa saat lagi.
" Aku sungguh tidak apa-apa, kau kan tahu kalau aku sering kontraksi palsu, jadi jangan terlalu khawatir ya? " Mire tersenyum agar si perawat tidak khawatir, benar saja perawat itu mengangguk meski tatapannya terlihat sangat ragu.
" Sayang, nanti kalau kau sudah bangun, kita cepat beli rumah yang agak besar ya? Supaya anak kita bisa bermain dengan nyaman. Sekarang aku sih bisa membeli rumah, tapi aku inginnya mengikuti seleramu jadi tunggu kau bangun saja nanti. " Mire tersenyum menatap Drago yang tak bergeming, dia meraih tangan Drago dan menggenggamnya sama seperti kebiasannya saat akan tidur beberapa bula terakhir.
" Aku mencintaimu, sayang. Selamat tidur. " Ucap ya lalu perlahan menutup matanya.
Satu, hingga dua jam mata Mire terpejam karena memang dia sudah tertidur. Tapi saat rasa sakit diperutnya semakin terasa, dia akhirnya terbangun karena tentu saja akan terganggu dengan sakit yang seperti itu.
" Ms? Ada apa? Apa membutuhkan sesuatu? " Tanya perawat yang menyadari Mire terbangun.
" Perutku, semakin sakit, bahkan lebih sakit dari pada sebelumnya. " Mire memegangi perutnya yang mengeras bak batu.
" Ms, saya telepon Ms Lusi untuk mengantar ke rumah sakit ya? "
" Jangan! Telepon Dokter saja! "
" Anda yakin, Ms? "
" Iya! "
Tak mau lagi banyak membantah, segera dia meraih teleponnya dana menghubungi Dokter yang biasanya memeriksa kandungan Mire.
" Ah! " Pekik Mire lagi karena rasa sakitnya semakin parah.
" Ms, Dokter Tasya bilang untuk anda mengambil nafas dalam-dala dan hembuskan perlahan, sakit itu akan sedikit berkurang, semetara Dokter Tasya akan segera datang. "
" Ah, sakit! "
Segera setelah menghubungi Dokter Tasya, perawat itu menghubungi Ibu Rina agar segera datang ke sana. Dan tak butuh waktu lama, hanya dua menit setelah dia menghubungi Ibu Rina, dia dan juga nenek Santi sudah berada disana untuk minat keadaan Mire dan membantu apa yang mereka bisa.
" Mire, nak? Apa kau bak-baik saja? " Tanya Ibu Rina khawatir seraya mengusap kepala Mire yang sudah berkeringat lumayan banyak.
" Ini, sepertinya Mire sudah akan melahirkan. " Ujar sang nenek yang juga sangat khawatir.
" Ah! Sakit! " Pekik Mire lagi lalu meremas sprei kuat hingga tangannya gemetar.
" Sabar ya sayang, Dokter akan segera datang. "
" Sakit, sakit, Ibu! Sakit, Nenek! "
" Nenek tahu sayang, bersabar sebentar lagi ya? "
Mire menoleh ke arah Drago yang masih saja tak berkutik dengan mata yang terpejam rapat. Dia mengais, menangis dengan begitu menyedihkan. Bukan karena si pria tercinta tak kunjung bangun, tapi dia sedih karena mengingat bagaimana Drago selalu ada untuknya, membantunya perlahan lupa akan rasanya sakit. Dan sekarang? Pria itu tengah berbaring sakit tapi dia tidak mampu melakukan hal yang sama, bahkan sampai anaknya akan lahir pun, dia masih belum bisa membuat Drago membaik.
" Ah! Ah! Ah.....! " Pekik Mire semakin kuat karena rasa sakit diperutnya semakin terasa, bahkan jika boleh digambarkan dengan kata-kata, maka rasanya seperti pinggang seolah akan terbelah, panas, bahkan seperti tengah ditusuk besi panas, kulit rasanya seperti dikikis dengan belati berkarat.
" Sakit, sakit! " Mire tanpa sadar meraih tangan Drago dan menggenggamnya sangat erat. Tidak tahu apakah Drago kesakitan atau tidak, sungguh dia sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
" Selamat malam? " Sapa Dokter Tasya dengan buru-buru dia berjalan masuk. Cukup lama dia memeriksa Mire, lalu memastikan bagian bawah Mire dengan jemarinya.
" Mohon bantuannya, Mire akan segera melahirkan, dan sepertinya tidak keburu juga kalau harus ke rumah sakit karena ini juga sudah pembukaan delapan, air ketubannya juga sudah pecah sedari tadi. Takutnya nanti jadi melahirkan di mobil, minta tolong siapkan perlengkapan yang saya sebutkan ya? "
Bersambung...