
Mire duduk di kursi tunggu ruang operasi dengan tatapan kosong. Air matanya ia biarkan saja terus menetes entah sudah berapa ratus tetas air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Bayangan-bayangan akan insiden yang terjadi dengan begitu capat membuatnya tak sanggup untuk cemas. Dia terus mengingat bagaimana Drago menutupi tubuhnya dengan tubuh Drago sendiri, dan menahan hantaman keras dari mobil sedan yang melaju kencang ke arahnya. Hanya sedikit luka gores dari pecahan kaca yang ada di pelipisnya, dan dia bisa duduk dengan selamat semua itu karena Drago yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Mire beserta calon anak mereka. Tidak tahu beruntung atau tidak, tapi kalau saja mobil ya.g ditumpangi Mire dan Drago terguling, bisa saja Mire juga tidak akan baik-baik saja hingga sekarang.
" Mire! Mire! " Panggil Ibu Rina dan nenek Santi seraya berjalan cepat mendekat ke arah Mire yang sudah seperti orang linglung.
" Nak, kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Drago? Apa dia juga baik-baik saja? " Tanya Ibu Rina yang terlihat amat khawatir hingga tangan yang tengah memegang bahu Mire terasa bergetar.
" Mire, kenapa kau diam saja nak? Jawab Ibu Rina, sayang. " Ujar sang nenek seraya mengusap kepala Mire.
Perlahan, mata Mire naik pandangan untuk menatap Ibu Rina. Air matanya jatuh tanpa dia bisa berkata apapun, dan dari sanalah Ibu Rina tahu kalau Drago pasti dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
" Tidak, tidak boleh! Drago ku harus baik-baik saja! " Ibu Rina terduduk lemas di lantai dengan posisi bersimpuh. Hancur, dan juga tak rela jika sesuatu yang buruk terjadi dengan putranya. Sudah cukup dia ditinggalkan lebih dulu oleh suami dan juga putrinya, jadi mana bisa dia sanggup kalau harus kehilangan putranya, satu-satunya anak sekaligus sumber kekuatannya serta alasan untuk ia hidup selama ini.
" Rina, bersabarlah nak. Operasinya sedang berlangsung, jadi kita tunggu saja, sembari terus berdoa. "
Berkat nenek Santi, Ibu Rina kini sedikit lebih tenang, sementara Mire, gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri juga seorang Ibu itu hanya bisa menangis dengan tatapan kosong.
Operasi selesai, dan para Dokter yang menangani Drago sudah mulai keluar dari ruang operasi.
" Dokter! " Ibu Rina dan nenek Santi segera bangkit untuk mengetahui keadaan Drago. Sementara Mire, dia yang tidak memiliki banyak tenaga hanya bisa perlahan bangkit tanpa bisa menghentikan tukang laju air matanya.
Dokter itu menghela nafas, lalu menatap dengan tatapan prihatin.
" Pasien mengalami benturan yang amat keras di bagian punggung hingga membuat beberapa organ dalamnya memar juga terdapat banyak gumpalan darah. Beberapa potongan kaca yang menembus kulitnya juga mengenai jantungnya hingga mengalami kebocoran. Belum lagi pasien juga mengalami benturan yang lumayan keras dibagian belakang kepala, semua itu sangat serius. Dengan berat hati saya harus menyampaikan keadaan pasien yang sebenarnya, pasien sedang dalam keadaan koma, jadi tugas kita, terutama keluarga adalah mendoakan, dan kami akan membantu semampu kami. "
" Tidak, tidak boleh! Aku tidak ingin kehilangan putraku! Aku tidak mau dia pergi meninggalkan ku juga! Dia tidak boleh pergi! Seharunya aku saja yang mati! Bukan putraku! Tidak boleh! " Ibu Rina menangis histeris, sementara di belakang punggungnya, Mire sudah mulai tak sanggup lagi bertahan dan pingsan. Untunglah, seorang Dokter yang ikut membantu jalannya operasi sigap menahan tubuh Mire hingga tidak membentur lantai.
Tiga jam berlalu, perlahan-lahan mata Mire mulai terbuka, pelipis yang tadinya tergores kaca dan berdarah kini juga sudah diperban.
" Mire? " Sapa sang nenek begitu mata Mire terbuka sempurna.
Sejenak Mire menoleh menatap neneknya, lalu tersenyum.
" Untunglah, jadi aku hanya mimpi buruk saja. "
" Ah! " Mire memegangi pelipisnya yang terasa perih dan ngilu.
Deg! Luka ini, bukankah ini artinya apa yang terjadi bukanlah mimpi?
" Nek, Drago dimana? " Tanya Mire seraya bangkit dengan buru-buru dari posisi berbaring di atas brankar rumah sakit.
" Mire, istirahatlah dulu, Dokter bilang kau sangat stres dan ini tidak baik untuk kandunganku, nak. " Sesungguhnya nenek sendiri ingin sekali menangis, tapi kalau dia menangis di hadapan Mire, cucu satu-satunya yang sedang mengandung itu pasti akan menjadi lebih panik lagi, maka satu-satunya pilihan yang dapat dia lakukan adalah berpura-pura tegar.
" Istirahat? Disaat seperti ini mana bisa aku istirahat nenek?! Katakan saja dimana Drago! Biarkan aku bertemu dengannya nenek! "
" Mire, tenangkan dirimu dulu, nak! Ingatlah ada bayi di dalam perutmu yang dengan segala cara sudah Drago lindungi! "
Mire menggeleng sembari menangis tak karuan. Lagi? Apakah pada akhirnya dia tidak akan bisa bersama dengan orang yang mencintai dan dia cintai? Apakah sungguh dia ditakdirkan hidup di dunia hanya untuk terus ditinggalkan?
" Kenapa? Kenapa selalu seperti ini? Kenapa Tuhan sangat jahat? Kenapa karena aku semua yang mencintaiku menderita? Apa aku tidak pantas untuk dicintai? Kenapa tidak aku saja yang mati?! Aku tidak mau hidup kalau Drago mati! Aku juga mau Mati! "
" Mire! " Bentak Lusi yang sedari tadi memilih untuk menunggu di luar karena tidak sanggup menahan tangisnya. Tapi begitu mendengar Mire histeris, dia segera menyeka air matanya dan masuk demi untuk menenangkan sahabat baiknya itu. Lusi meraih kedua pundak Mire dan dengan erat menekannya.
" Kau pikir jika kau ingin mati kau bisa mati?! Drago sudah melindungimu sampai dia koma agar kau dan bayi kalian baik-baik saja! Lalu bagaimana bisa kau tidak menghargai pengorbanan besarnya dan mengatakan hal bodoh ini?! Kau pikir Drago akan setuju? Tidak! Dia mencintaimu, itulah kenapa dia melakukan hal sebesar ini! Sadarlah, Mire! Bagian dari kalian, bayi kalian hidup di perutmu! Lagi pula Drago belum mati, kenapa kau sudah putus asa seperti ini! "
Mire menangis tersedu-sedu tak lagi bicara, laku dengan cepat Lusi membantah kedalam pelukannya.
" Aku tahu sekarang kau menyalahkan dirimu sendiri, aku tahu kau kau membenci dirimu sendiri, tapi semua ini juga bukan kau yang menginginkannya. Ingatlah betapa kuatnya seorang Mire, lalu jadilah Mire yang seperti itu. Jika kau datang dengan air mata dan perasaan kacau ini untuk menemui Drago, bagaimana bisa kau akan memberikan semangat padanya agar dia bangun, hah? Tenangkan dirimu, Mire. Kau harus kuat, bukan hanya untuk menghadapi Drago dan memberinya semangat, tapi juga untuk anak kalian yang pasti juga sedang sedih dan sama hancurnya sepertimu. Kau adalah seorang Ibu meski anak mu belum lahir, jadi aku yakin kau tidak akan egois lagi. " Lusi mengusap pelan punggung Mire sembari terus mendekapnya erat.
" Aku tidak bisa menenangkan diriku, Lusi." Ucap Mire.
" Bisa! Kau bisa! "
Bersambung...