
Di sebuah kamar yang biasa disebut kamar tamu, disinalah Mire dan Derel tinggal malam ini. Tak ada pembicaraan apapun, karena begitu sampai di dalam kamar, Mire tak membuang banyak waktu dan segera berbaring berpura-pura tertidur. Sedangkan Derel, gadis itu masih saja tak bisa memejamkan mata karena terus teringat dengan kata-kata Drago saat akan pulang dari rumah sakit tadi.
Suara getar ponsel Mire, namun Mire yang berpura-pura tidur membiarkan saja karena mengira jika itu paling hanya notifikasi dari beberapa aplikasi, atau kalau tidak ya sudah pasti Wiliam dan Lusi yang mengirim pesan karena disana kan pasti masih siang kan. Namun, anggapan itu tak sama dengan realita yang terjadi begitu Derel mengambil ponsel Mire diam-diam lalu membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
Bisa tidur tidak? Mau pindah ke kamarku saja?
Seperti itulah pesan yang masuk ke ponsel Mire, dan Derel telah membacanya dengan tangan gemetar. Derel tak berani berkata-kata karena takut juga kalau sampai Mire membacanya, lalu setelah itu pindah ke kamar Drago.
Mire, meksipun sekarang ini aku tahu bahwa aku adalah anak kandung Ayah dan Ibu, tapi tetap saja aku merasa kau jauh lebih beruntung dari pada diriku. Kau bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang sama denganku, di disayang oleh nenek, kakek, dan juga paman serta bibi. Lalu juga Drago, Ibu Rina, semua orang menyayangimu, dan aku? Aku selalu saja berada di tempat seolah aku bukan siapa-siapa bagi kalian. Kenapa Tuhan tidak adil padaku?
Mire yang sebenarnya belum tidur hanya bisa terdiam heran karena kelancangan kakaknya memeriksa diam-diam ponsel miliknya. Tidak tahu apa saja yang sedang diperiksa kakaknya, biarkan saja dulu karena tidak mungkin dia tiba-tiba bangun dan menanyakan dimana ponselnya kan? Toh kalaupun memeriksa ponselnya, yang akan di dapatkan oleh Derel hanyalah kekecewaan saja.
Benar saja sama seperti dugaan Mire, selain membaca isi pesan antara Drago dan Mire, Derel juga melihat-lihat galeri photo yang tersimpan di ponsel Mire. Bak disambar ribuan petir, telinganya juga sampai berdengung karena terkejut, sedih, kecewa, juga cemburu menjadi satu setelah melihat satu persatu photo yang tersimpan di ponsel Mire. Sungguh dia tidak menyangka kalau Drago dan Mire akan sedekat itu. Saking memeluk, berciuman, Drago yang menggendong Mire, photo saat mereka berdua menggunakan pakaian agak terbuka, apakah sungguh sudah jauh tertinggal dan tak bisa lagi Drago dapatkan?
Derel perlahan meletakkan ponsel Mire kembali ke samping Mire, lalu terdiam dengan mata yang memerah menahan tangis. Padahal perasaannya semakin dalam terhadap Drago, rasa tida relanya juga seolah tak bisa ia tenangkan barang sebentar. Apakah sungguh harus mengalah? Apakah boleh sedikit saja dia menjadi egois dam mementingkan diri sendiri kali ini? Sejenak Derel melihat punggung Mire, lalu kembali menatap langit-lanhit kosong yang mulai terisi wajah Drago saat tersenyum di photo yang dia lihat tadi.
Harusnya kau bersamaku kan? Harusnya kita bisa tersenyum bersama-sama, seharunya aku yang menjadi Mire, bukankah kalau begitu akan terasa indah?
Mire masih tak bergeming, dia memilih untuk diam saja seolah tidak tahu menahu dengan apa yang dilakukan Derel. Jujur, hatinya terus saja merasa tersakiti, juga terkhianati oleh kakaknya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak akan bisa lagi menjadi adik baik hati yang memberikan tunangannya kepada Derel, seolah mengalah demi kebahagiaan kakaknya.
Kak, aku baru tahu kalau kakak begitu tidak tahu malu karena menuduh Drago melakukan hal menjijikkan seperti itu. Drago tidak perlu memaksa juga, aku sendirilah yang akan menyuguhkan tubuhku saat Drago menginginkannya. Aku, tidak mau dan tidak akan memberikan Drago kepada kakak, ataupun wanita lain. Aku, akan mempertahankan Drago, juga karirku secara bersamaan. Meskipun terdengar Maruk, tapi aku yakin bisa melakukannya, dan tidak akan mengulangi kisah yang terjadi seperti orang tua kita dulu.
Mire membuka matanya, lalu perlahan bangkit dari tidurnya yang ia buat seolah-olah seperti sungguhan bangun dari tidur.
" Mire, kau mau kemana? " Tanya Derel, dia juga segera bangkit begitu Mire bangkit dari tidurnya.
" Mau mencari Drago, kak. " Jawab Mire dengan mata yang tidak terbuka sepenuhnya karena tentulah dia masih berakting.
" Tapi ini sudah malam, Mire. Lebih baik kau tidur saja lagi ya? Katakan kau mau apa biar aku yang ambilkan untukmu. " Derel menahan lengan Mire kuat seolah benar-benar tidak rela kalau sampai Mire menemui Drago dan tidur di satu kamar yaitu kamar Drago.
" Maaf kak, tapi aku tidak terbiasa tidur dengan kakak, jadi aku merasa kurang nyaman. "
Derel mengeryit mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mire. Tidak biasa tidur dengannya, tapi mencari Drago? Apakah sungguh mereka sudah biasa tidur bersama?
" Mire, pasangan yang belum menikah mana boleh tidur di kamar yang sama? Lagi pula juga ada sebuah masalah antara kakak dan Drago, jadi jangan terlalu dekat untuk sementara waktu sampai masalah ini selesai ya? " Derel menatap Mire seolah sungguh dia begitu perhatian, tapi sayangnya Mire bisa melihat dengan jelas tatapan tidak rela itu seolah menegaskan padanya untuk jangan mendekati Drago, dan mencoba untuk merelakan Drago.
" Kak, maaf karena aku tidak mengikuti aturan para orang dulu saat berpacaran. Tapi ini tentang hati kami, tolong jangan memberi banyak petuah tentang hubungan kami, karena kami tahu konsekuensi dari semua tindakan kami. Yang paling penting untukku adalah, Drago mencintaiku, dan aku mencintai Drago. Hal yang lain akan menjadi nomor sekian bagiku juga Drago sendiri. "
Derel menatap Mire seolah begitu keberatan dengan apa yang dikatakan Mire.
" Mire jatuh cinta mu benar-benar membuat mu semakin tidak waras. "
Mire tersenyum seolah tak merasa keberatan dengan apa yang di katakan Derel.
" Kak, aku tidak memaksa Drago, dan dia juga begitu. Kami masih di batas normal sekarang ini, tapi aku mulai tidak akan mengontrol diri lagi karena takut ada yang menggoda Drago. Drago sangat tampan, jadi tentu saja akan banyak wanita yang mendekatinya, aku hanya perlu membuatnya merasa memilikiku sudah cukup, jadi dengan begitu sehebat apapun wanita lain menggoda, tentu saja tidak akan bisa membuatnya masuk kedalam jebakan. Eh, tapi aku merasa Drago memang bukan tipe pria seperti itu sih. " Mire tersenyum.
" Mire? " Drago membuka pintu setelah mengetuknya beberapa kali.
" Sayang? '' Mire tersenyum lebar lalu melambaikan tangan.
" Kau sedang mengobrol? Pantas saja pesanku tidak dibalas padahal sudah di baca. " Ujar Drago.
Mire enggan menanggapi ucapan Drago karena tahu jika kakaknya lah yang sudah membacanya.
" Sayang, aku tidur denganmu saja ya? "
" Iya. "
" Mire, ingat kau belum- "
" Kak, jika terus mengatakan itu, aku tidak akan segan lagi melakukan hal yang dilarang loh. "
Bersambung