I Am A Perfect

I Am A Perfect
Its a dream?



Semakin kuat rasa sakit diperutnya, maka semakin kuat juga Mire meremas tangan Drago tanpa sadar. Rasa sakit yang tadinya ada jeda kini tak lagi bisa ia rasakan berhenti. Sakit, sakit, dan semakin sakit. Keringat yang sudah memenuhi seluruh tubuhnya sudah tak lagi dia pedulikan. Entah seperti apa penampilannya juga sudah masa bodoh saja. Mire, di usianya yang baru akan dua puluh tiga tahun kini harus berjuang untuk melahirkan bayinya secara normal dengan kondisi hati yang bisa dibilang tidak baik, tapi Dokter Tasya menyadari jika Mire tetap begitu semangat meski dia terlihat sangat kesakitan, mungkin karena disebelahnya adalah pria yang dia cintai, dan juga Ayah dari bayinya sehingga dia terlihat kuat. Padahal tadinya menyarankan untuk pindah ke kamar lain agar tidak mengganggu kondisi Drago, tapi keteguhan Mire untuk tetap berada di samping Drago akhirnya disetujui olehnya, dan syukurlah dia mengalah tadi, karena kalau tidak, mungkin Mire sudah akan menyerah tadi.


" Sakit! Ah! Sakit! Em! " Pekik Mire kuat, lalu setelahnya dia sudah mulai mengejan secara alami.


" Baik, terus lakukan lebih kuat lagi. "


" Sakit! " Mire menggenggam tangan Drago dengan lebih kuat lagi karena dia sudah seperti kehilangan suruh tenaganya.


" Aku, sudah, tidak, kuat lagi, Dokter. " Ucap Mire dengan mata sayu seperti ingin pingsan.


" Tidak! Jangan! Kau harus kuat! Bayimu sudah akan keluar, jangan biarkan dia terlalu lama di jalan lahir, kau harus kuat demi bayimu! Sedikit lagi! Coba sedikit lagi! " Ucap Dokter Tasya menyemangati.


" Sakit, aku sudah tidak bisa lagi, Dokter. "


" Mire, yakinlah kau bisa! Nyawa bayimu, ada pada semangatmu sekarang ini. Percayalah pada dirimu sendiri, tarik nafas dan mulailah perlahan, kau bisa! "


Mire kembali menggeleng pelan, matanya kini semakin layu, wajahnya juga semakin pucat hingga bibirnya mulai memutih dengan keringat yang terlihat seperti guyuran air menimpanya.


" Aku merasa, aku seperti ingin mati. Aku, tidak kuat lagi. " Ucap Mire dengan suara pelan yang benar-benar seperti sudah tak memiliki energi yang tersisa.


Greb!


Drago, tangannya terasa erat menggenggam tangan Mire, hangat, juga seperti menyalurkan energi padanya.


" Mire, kuatlah, kau bisa! Kau pasti bisa, aku yakin itu! " Ucap lagi Dokter Tasya.


Mire menoleh ke arah Drago yang terpejam, tapi sungguh dia merasakan bagaimana kuatnya genggaman tangan Drago, Mire menangis dengan bibir tersenyum. Iya, dia tahu jika Drago tengah menguatkannya, bahkan dia juga melihat Drago meneteskan air mata, maka seketika rasa sakit kontraksi seolah tak terasa lagi, dia mengikuti dorongan alami dan kembali mulai mengejan.


Setelah beberapa saat, suara tangisan bayi mulai terdengar memenuhi seisi ruangan. Mire yang tadinya menyerah kini menangis haru karena suara tangis bayinya mampu membuatnya begitu menyesal telah berkali-kali mengatakan tidak kuat, juga membuatnya merasa sangat bahagia. Dan, satu lagi, tangan Drago masih terasa kuat menggenggam tangannya.


Di luar kamar, Ibu Rina dan nenek Santi saling memeluk bahagia, sebenarnya ingin sekali melihat Mire melahirkan agar bisa mendampinginya, tapi karena disana ada Drago beserta alat-alat medisnya, demi kemanan bersama mereka terpaksa menunggu diluar sembari terus berdoa.


" Sayang, lihat bayi kita, dia cantik sekali, wajahnya mirip sekali denganmu. " Ucap Mire sembari menangis haru, matanya tertuju kepada dua arah, yaitu Drago dan juga bayi yang kini berada di atas dadanya. Bayi Mire sempat berhenti menangis sebentar, lalu saat akan di pakaikan baju bayi tiba-tiba bayi itu menangis dengan sangat kencang. Dokter Tasya mencoba untuk menenangkannya, juga mencoba untuk Mire menyusui dini, beberapa trik dia lakukan agar membuat bayi merasa nyaman, bahkan dia sampai memeriksa kembali detak jantung bayinya Mire, dan yakin bahwa bayi itu sehat, tapi kenapa masih terus menangis?


Perawat yang sedari tadi membantu jalannya persalinan sebentar menatap Drago dan memberikan saran agar mencoba mendekatkan bayinya kepada sang Ayah.


" Dokter, bagaimana kalau coba dekatkan bayinya dengan Ayahnya? "


Greb! Lagi, tangan Drago kembali bergerak dan sontak Mire memberi tahu perawat.


" Suster! Tangan Drago bergerak! Dia sedari tadi menggenggam tanganku kuat! Dia bergerak! " Sorak Mire lalu segera perawat itu bergegas untuk memeriksa, dan memastikan sendiri tangan Drago benar-benar kuat menggenggam tangan Mire. Perawat itu tersenyum bahagia dan berjala segera menuju telepon untuk menghubungi Dokter dan memberitahu tentang kejadian ini.


Dokter Tasya ikut tersenyum bahagia karena dia tahu benar bagaimana terpukulnya Mire atas apa yang terjadi, dan bagaimana sulitnya seorang gadis muda seperti Mire melewati ujian sebesar ini.


" Baiklah, karena bayinya sudah tenang, sekarang waktunya kau belajar untuk menyusui ya? " Ucap Dokter Tasya lalu perlahan mengangkat bayinya Mire. Lagi, suara itu terdengar begitu nyaring hingga Nenek Santi dan Ibu Rina tak tahan lagi untuk tetap diluar.


" Bagaimana? Bagaimana keadaan anak dan cucuku? " Tanya Ibu Rina panik bersamaan dengan Nenek.


" Ibu, nenek, lihat! Drago menggenggam tanganku. " Ucap Mire bahagia seraya mengusap air matanya, sementara bayi itu tak kunjung berhenti menangis.


" Bagaimana suster? " Tanya Mire semangat.


Perawat itu nampak tak bahagia, tapi dia juga harus mengatakan apa yang Dokter katakan lewat sambungan telepon barusan.


" Dokter bilang, mungkin itu memang terlihat seperti kabar baik, tapi sebenarnya itu adalah respon tubuh di bawah alam sadar, yang sebenarnya juga bisa disebut sebagai kabar buruk tanda tubuhnya sudah mulai menolak semua mesin yang memaksanya untuk hidup. "


Mire menggeleng tak percaya, dia mengais kembali, bayinya juga semakin menangis kencang entah apa sebabnya.


" Kalau kau benar-benar tidak ingin hidup, aku juga tidak ingin hidup. Aku tidak bisa kalau tidak ada kau di sisiku lagi. " Ucap Mire dengan terus menatap Drago dengan tangisannya.


Perlahan, mata Drago mulai bergerak, dan terbuka meski tak selebar saat dia sehat layaknya bangun tidur. Mire membulatkan matanya, sekejap tangisnya berhenti berbarengan dengan suara tangis bayinya yang ikut berhenti.


" Drago! Drago ku Bagun! " Ucap Ibu Rina tak percaya. Bukan hanya Ibu Rina, tapi nenek, perawat, juga Dokter Tasya masih syok tak percaya.


Mire, dia terus menatap dan membiarkan air matanya jatuh, dia tidak ingin berkedip karena takut apa yang dia lihat adalah mimpi. Greb! Lagi, Drago mengeratkan genggaman tangannya.


" Mi-re..." Panggilnya lirih, lalu jatuhlah air matanya.


" Aku mimpi? " Mire juga masih tak percaya dengan matanya yang terus menatap di barengi air mata.


Berbeda dengan Mire yang masih tak percaya, sementara perawat bergegas memberikan kabar terbaru yang seperti keajaiban besar ini.


Bersambung...