
Mire hanya bisa terdiam dengan wajah bingung melihat bagaimana Nenek Santi, juga Ibu Rina memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan dia tidak diberikan satupun pekerjaan yang mereka anggap benar. Minum di tempat duduk, makan di tempat duduk juga, melukis juga tetap di sana seperti orang lumpuh saja.
Untunglah, buang air besar dan buang air kecil di tempat yang seharusnya, kalau tidak benar-benar dia akan merasa stres karena kebaikan dan perhatian berlebihan dari Nenek dan Ibu Rina.
Hari ini, adalah hari dimana Mire dan Drago akan mencoba gaun pernikahan, jadi beruntungnya Mire bisa keluar dari rumah setelah empat hari disekap dan di manjakan hingga terasa akan stres dibuatnya.
" Dengar ya Drago, Mire tidak boleh minum yang mengandung kafein, jangan biarkan dia memakan salad karena sayuran mentah kurang baik bagi Ibu hamil. Ingat juga jangan biarkan Mire berdiri di ruangan terbuka terlalu lama karena cuaca hampir mendekati minus. Ingat juga, jangan biarkan Mire memakan daging atau telur setengah matang, pastikan makanan yang dimakan Mire sudah di masak dengan kematangan yang cukup. Ingat tidak?! " Ucap Ibu Rina yang di angguki oleh nenek Santi tanda ia setuju dengan apa yang di ucapkan Ibu Rina.
Drago, pria itu hanya bisa diam tak menjawab meski sudah beberapa kali menghela nafas. Padahal semenjak dia tahu kalau Mire sedang hamil, dia menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku panduan bagi orang tua yang akan segera memiliki bayi, juga cara menjaga kandungan dengan sangat teliti. Tentu saja dia tahu apa saja makanan dan minuman yang boleh dan tidak boleh di konsumsi Ibu hamil, tapi Ibu, juga nenek Santi benar-benar over protektif dalam melindungi Mire dan kandungannya.
Tadinya Mire dan Drago sudah cukup merasa tidak enak dengan cara nenek merawat Mire yang tengah hamil, tapi semenjak Ibu Rina mendapat kabar kehamilan Mire, dia begitu bahagia hingga lupa untuk memarahi kesalahan mereka dan teralihkan dengan kebahagiaan. Sekarang perhatian berlebihan mereka sudah dua hari makin membuat keduanya merasa tidak enak sendiri, dan masalah mencoba gaun pernikahan sebenarnya adalah alasan mereka untuk bisa kabur dan bebas sementara.
" Drago, jaga baik-baik cucu dan calon cicit nenek ya? "
Drago tersenyum seraya mengangguk. Tadinya dia mau merasa heran, tapi melihat tatapan nenek Santi yang begitu khawatir, dia menjadi merasa kalau ucapan nenek Santi itu karena dia terlalu menyayangi Mire dan takut kehilangan seperti kehilangan Bernika putri kandungnya sendiri.
" Baik, nenek! Aku akan menjaga Mire, dan calon anak kami dengan seluruh kekuatan, jiwa ragaku juga. " Drago terkekeh setelahnya meski dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
Setelah lolos dari perhatian berlebih nenek dan Ibu mereka, kini Drago dan Mire sengaja langsung mendatangi tempat untuk mencoba gaun pernikahan yang sebenarnya sudah mereka pilih melalui staf langsung sehingga Mire hanya perlu mencoba dua gaun pengantin pilihan mereka berdua.
Drago menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya pelan. Entahlah, begitu tuksedo melekat gagah di tubuhnya, dia menjadi gugup seolah sungguhan ini adalah hari pernikahannya. Tidak tahu secantik apa Mire memakai gaun pengantin, tapi hanya dengan membayangkan wajah Mire seperti biasa dengan gaun putih berkilau rasanya itu akan membuat Mire terlihat sangat cantik.
Tak Tak Tak
Suara heels yang menandakan kalau Mire tengah berjalan mendekat untuk memperlihatkan gaun yang ada ditubuhnya, cocok atau tidak dengan dirinya.
" Sayang? "
Drago berbalik dan sontak terdiam melihat bagaimana penampilan Mire.
" Bagaimana? " Tanya Mire lalu tersenyum seperti biasanya.
Drago tak sanggup bicara, tapi kekaguman dari tatapan matanya tak terelakkan. Dia tersenyum tapi juga terlihat ingin menangis. Sedih? Tidak! Dia bahagia, bahkan sangat, sangat bahagia melihat bagaimana calon istri, sekaligus Ibu dari anaknya terlihat sangat cantik, jauh sekali dari apa yang dia bayangkan padahal di bayangannya saja Mire sudah cantik.
" Sayang, gaunnya tidak cocok? Apa aku ganti gaun lain? "
" Jangan! Jangan, kau sangat cantik. Bukan, kau ada di atas kata sangat cantik hingga aku tidak bisa bicara dan menjawab pertanyaan mu tadi. "
Mire tersenyum, lalu berjalan mendekati Drago.
" Hari ini, kau juga lebih tampan dari biasanya. "
" Kau selalu pantas, dan aku bersyukur karena aku selalu merasa hanya kau yang paling pantas untukku. "
Drago tersenyum, mengusap wajah Mire dengan lembut dan mencium keningnya.
" Aku tidak tahu ini dilarang atau tidak, tapi biarkan kami membeli gaun pernikahan ini, dan izinkan kami mengambil photo berdua, boleh? " Tanya Drago kepada staf butik.
" Tentu saja, sesuai dengan keinginan anda, Ms dan Mr. "
Tak lama Drago dan Mire mengambil photo berdua dengan pose yang terbilang mesra dan penuh cinta. Tidak tahu sebahagia apa hati mereka berdua, yang jelas pernikahan ini dirasa akan membuat keduanya semakin saling mencintai satu sama lain.
" Jadi, kemana kita akan pergi? " Tanya Mire kepada Drago seraya memeluk lengan Drago untuk menuju mobil mereka.
" Bagaimana kalau ke pantai sebentar, setelah itu baru pergi untuk makan? "
" Baiklah! "
" Nanti sebelum turun saat kita sampa di pantai, jangan sampai lupa harus menggunakan mantel yang lebih tebal ya? Kemarin aku sudah membeli nya, ada di bagasi mobil jadi bisa kau pakai nanti. "
" Oke! "
Sesampainya di pantai, Mire benar-benar menikmati udara di sana, menikmati angin yang di bawa oleh ombak yang datang silih berganti menerpa wajahnya.
" Ah... Segar sekali! " Ucap Mire masih terus memejamkan mata menikmati udara segar dari pesisir pantai. Sementara Drago, pria yang dulunya tidak menyukai pantai sama sekali karena sudah pernah hampir tenggelam di laut saat kecil, kini sudah tak lagi merasakan hal itu. Indah, begitulah pantai yang dia lihat sekarang berkat Mire yang terus terlihat bahagia saat bermain dengan pasir pantai, begitu lepas senyum dan tawanya, jadi kenangan tidak mengenakan dulu menghilang digantikan keindahan oleh Mire.
Cukup lama mereka disana, nenek dan Ibu Rina juga sudah mulai terus menerus menghubungi, juga sudah mengirim beberapa pesan kepada mereka, jadi mereka memutuskan untuk mengakhiri kesenangan mereka di pantai.
" Sayang, kita langsung pulang saja ya? Kita makan bersama nenek dan Ibu, bagaimana? "
" Ah, tapi aku mau makan berdua saja denganmu. " Rengek Mire.
" Baiklah, kita makan di tempat biasa kita makan saja ya? " Mire mengangguk setuju dengan cepat.
Lampu merah, tentu saja mobil Drago berhenti demi kemanan dan memarahi peraturan adalah wajib bagi para pengendara. Untuk menunggu lampu bergerak menjadi kuning, dan hijau, Drago mengajak Mire mengobrol hal-hal receh seperti coba untuk membayangkan saat perut Mire membesar. Dan di saat mereka sibuk terkekeh, dan sing menggoda, tanpa di sadari sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Saat mobil itu sudah akan menabrak mobil mereka, Drago baru menyadari hal itu dan tidak sempat mengelak dan terjadilah benturan keras yang tak terhindarkan.
" Sayang! " Teriak Mire saat Drago dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan mendekap tubuh Mire agar terhindar dari benturan yang akan tepat kepadanya.
Bersambung...