
Mire kini tengah berbaring di tempat tidur karena tak sadarkan diri setelah Ibu Rina menceritakan segalanya yang ia ketahui tentang tragedi meninggalnya Bernika, atau Ibu kandung dari Mire.
Beberapa saat lalu.
" Setelah mengetahui kebenaran itu, Bernika yang syok berjalan tanpa tujuan. Saat itu dia tampak sangat menderita, frustasi, juga masih terlihat tidak ingin percaya dengan apa yang terjadi. Ibu ingin sekali ada untuknya, ingin sekali memeluk dan mengatakan bahwa apapun yang terjadi akan selalu ada untuknya. Tapi keadaan Ibu yang sedang hamil besar dan pemeriksaan kandungan memakan waktu yang cukup lama, Ibu terlambat untuk menemuinya. Tidak, yang benar adalah Ibu terlambat menolongnya. " Ibu Rina tertunduk memegangi dadanya, lalu menghela nafas panjang dan menyeka air matanya.
" Cintanya yang teramat besar untuk Luan, kepercayaan juga sayangnya terhadap Ana membuatnya tak berdaya dan berpikir pendek. Saat Ibu mencoba menghubunginya, dia hanya menangis lalu mengatakan bahwa dunia sangat jahat padanya. Awalnya Ibu tidak terlalu khawatir dan hanya terus menenangkannya melalui kata-kata. Tapi, saat Ibu mendengar suara kereta api, Ibu baru sadar kalau Bernika berada tak jauh dari stasiun kereta api yang ada di dekat tempat tinggalnya. Ibu, dan juga suami Ibu bergegas untuk menemui Bernika. Tapi- " Ibu Rina tertunduk tak bisa berkata karena suaranya tercekat di tenggorokannya.
" Tapi apa, Ibu? " Mire bertanya dengan tatapan seolah dia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya meski matanya terus meneteskan air mata.
" Tapi saat Ibu datang, banyak sekali orang berkerumunan berteriak untuk meminta seseorang pergi dari rel kereta. Keadaan Ibu yang sedang hamil adiknya Drago benar-benar sulit untuk menerobos masuk. Dan begitu kami berada di depan, kereta datang dengan cepat dan menyambar tubuh, tubuh Bernika. Ibumu, memilih mati karena tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup yang menyakitkan. Ibumu, dia mati mengenaskan sembari memeluk sebuah lukisan, dan lukisan itu adalah gambarannya tentang dirimu. Bernika, tubuhnya yang terpotong itu, Ibu bisa melihatnya dengan jelas. Dia meneteskan air mata saat matanya bertemu dengan mata Ibu, dia mencoba tersenyum meski tahu tubuh bagian bawahnya sudah koyak dan tak mungkin akan hidup barang semenit lagi. " Ibu Rina menatap Mire yang kini terdiam dengan linangan air mata semakin deras terjatuh dari matanya.
" Maaf Mire, maaf karena harus menceritakan hal yang menakutkan ini. Maaf karena membuatmu merasa hancur seperti sekarang ini. "
Mire perlahan menggerakkan bola matanya menatap Ibu Rina yang juga terlihat hancur karena menceritakan masa lalu yang tidak ingin dia ceritakan.
" Kenapa? Kenapa Ibu kandungku tidak menjadikanku sebagai kekuatannya? Kenapa membuatku merasakan ini? " Mire tadinya ingin bangkit, tapi begitu dia bisa berdiri, dia justru kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.
" Mire, kapan kau akan bangun? " Ucap Ibu Rina yang kini berada di sebelah Mire. Dia menggenggam tangan Mire dengan erat, mengelus kepalanya lembut dengan satu tangannya. Sementara Digo, dia juga hanya bisa menatap pilu tunangannya yang syok hingga seperti sekarang ini. Padahal, saat melihat Mire pertama kali, dia pikir Mire adalah anak yang berlebihan kasih sayang hingga begitu manja dan ke kanak-kanakan. Tapi berjalannya waktu, dia semakin mengenal Mire. Mire adalah gadis yang sangat dewasa meski tertutupi dengan sikap polos dan mimik manjanya. Guncangan sehebat ini tentu saja sulit untuk di terima, tapi sungguh Drago berharap bisa sedikit membantu Mire agar bisa perlahan menerima kenyataan ini dengan ikhlas.
" Ibu, semoga saja kisah tragis ini hanya sampai disitu saja. " Ujar Drago berharap sungguh tidak ada kejadian masa lalu orang tua Mire yang menyakitkan lagi.
" Ibu juga berharap begitu, Drago. Tapi Luan sungguh menjadi gila setelah Bernika mati. Lukisan yang dipeluk Bernika saat itu, dia membakarnya, bersamaan dengan barang-barang Bernika serta alat melukisnya yang selama hidup Bernika menjadi sahabatnya. Tidak tahu apa yang ada di otak pria itu, tapi Ibu berharap semua akan berbalik padanya dan membuatnya sadar akan kesalahannya sendiri, dan jangan menyalahkan hobi Bernika yang suka melukis. "
" jadi, bakat melukis itu sungguh berasal dari Ibunya Mire ya? "
Ibu Rina tersenyum sebentar, lalu mengangguk.
" Semuanya, wajahnya, sifat manja dan baik hatinya, hobi, bahkan cara berbicaranya juga hampir sama. Mire itu seperti reinkarnasi Ibunya. " Ibu Rina tersenyum tak henti mengelus kepala Mire.
" Apa kau puas, Rina? Kau puas membuat putriku seperti ini?! "
" Bukan aku, tapi kalian yang sudah membuat semuanya menjadi seperti ini. Jangan memancing emosiku lagi, jangan biarkan aku mengatakan banyak hal lagi yang tidak pantas di dengar. Mire membutuhkan banyak istirahat, jadi pelankan suaramu. " Ibu Rina kembali duduk seolah tak mengindahkan adanya Luan beserta anak dan istrinya disana.
" Pergilah kalian berdua, biar kami yang akan menjaga Mire. " Ujar Ayah Luan tak suka melihat Ibu Rina dan Drago di sana dan terus menempel dengan putrinya.
Drago mengeryit, lalu kembali menatap Ayah Luan dengan ekspresi yang sudah ia benahi menjadi datar.
" Maaf, tapi sepertinya Mire tidak akan nyaman ketika bangun nanti harus melihat Paman, Bibi, dan kakaknya. "
" Jangan membuatku harus berkata kasar, kau dan Ibumu sudah mengingatkan bahwa disini adalah rumah sakit, dan Mire butuh banyak istirahat kan? " Ayah Luan merasa tak sudi untuk mengalah.
" Ayah, sudahlah, kita bersama-sama saja untuk menjaga Mire, jangan terlalu membesar-besarkan masalah. " Ujar Ibu Ana.
Sementara Derel, gadis itu hanya bisa terdiam dengan segala pemikiran yang masih tak bisa ia yakini begitu saja. Kini, posisi mereka sudah berbalik. Dia adalah anak kandung Ayah dan Ibunya, sedangkan Mire adalah anak tiri Ibunya meski Ibunya yang melahirkannya. Rumit, tapi juga tersirat sedikit rasa bahagia meski tak bisa ia tunjukkan.
" Sebanyak apa yang kau ceritakan? Kenapa Mire bisa sampai seperti ini? " Tanya Ayah Luan seraya mendekat dan mengusap wajah putrinya.
" Hanya lima puluh persen, Luan. " Ibu Rina menatap Ayah Luan dan tersenyum seolah dia mengejek.
" Sisanya biarkan saja Mire melihatnya sendiri nanti. "
Ayah Luan terdiam, dia sungguh tida bisa berkata-kata lagi. Sadar benar memang dia bersalah, tapi tentang hati dan apa yang dia rasakan mana ada orang akan tahu? Semua masa lalu menyakitkan itu juga dia tidak menginginkannya jika tahu kalau semua akan menjadi seperti ini. Mire, juga Bernika. Dua sosok ini benar-benar sangat mirip hingga membuat Ayah Luan merasa was-was dan perlu menghentikan hobi Mire yang sama seperti Ibunya. Sebagai seorang Ayah, dia hanya ingin anaknya hidup lebih lama, dan jangan sampai mengalami apa yang di alami oleh Bernika selaku Ibu kandung dari Mire.
Bersambung
Halo kesayangan? Apa kabar? Maaf karena suka telat up, juga gk bales komen dari kalian padahal aku baca. Maklum aja ya, mak othor iniagi sibuk bikin kue jadi gk sempet bales komen-komen dari para yayang sekalian.
Eh, mak othor mau promo nih novel baru dari anaknya Nathan dan Ivi, jangan lupa di love, like kasih komen juga ya....