I Am A Perfect

I Am A Perfect
Im Fine!



Setelah sadar beberapa saat lalu, kini Mire memilih sendiri di dalam ruangan demi untuk mendapatkan suasana yang tenang agar dia bisa berpikir dan mencari tahu apa yang akan ia lakukan setelah semua kebenaran ini terungkap.


Mire menatap dengan tatapan kosong dinding yang ada di hadapannya. Sebenarnya dia masih bingung dengan semua kenyataan yang ia ketahui, tapi menolak percaya juga tidak akan mengubah kenyataan yang sudah terjadi kan?


Sedikit bingung, tapi mungkinkah sekuat ini dirinya bagi sang pencipta hingga cobaan yang begitu berat harus dia hadapi? Sekarang siapa yang bisa dia anggap keluarga setelah semua ini? Ayahnya, ternyata adalah pria yang menekan dengan ke-egoisan, Ibunya yang ternyata bukan Ibu kandungnya selalu tak berdaya. Ngomong-ngomong soal tak berdaya, kini Mire mulai memiliki pemikiran yang sangat buruk terhadap Ibu Ana. Mungkinkah selama ini dia sengaja bersikap seolah tak bisa membantah Ayahnya demi lebih mendekatkan Derel dengan Ayah Luan? Mungkinkah semua kasih sayang, cinta yang ia rasakan hanyalah kebohongan saja? Atau mungkinkah itu karena rasa bersalah dan kasihan? Lalu, kenapa mereka memilih untuk menutup cerita ini? Apakah mereka tidak siap ketika nama mereka menjadi buruk karena masa lalu yang sudah terjadi? Tidak tahu lah, semua sudah terjadi dan harus dihadapi.


Sejenak Mire menghela nafas, meski sama sekali belum pernah bertemu dengan Ibu kandungnya, tapi rasa sakit itu seolah tak mudah hilang darinya. Mire menggerakkan tangannya untuk memegangi dadanya, dia memejamkan mata menikmati detak jantung yang dirasakan telapak tangannya. Tidak apa-apa, meski tidak hidup di rahim Ibunya semasa bayi, tapi tetap saja dia adalah anak dari Bernika, jadi anggap saja mereka satu detak jantung, juga satu tubuh.


" Ibu, maaf karena aku tidak bisa memanggil nama Ibu lebih cepat. "


Sekarang sudah lebih baik, Mire sudah bisa sedikit tersenyum membayangkan wajah Ibu kandung sembari merasakan detak jantungnya. Baru sekali melihat wajah Ibunya, tapi ingatan Mire yang lebih tajam seolah bisa membayangkannya secara nyata di angan-angan.


" Aku akan hidup dengan baik, Ibu. Karena aku tahu, Ibu pasti menyesal sudah mengakhiri hidup kan? Ibu pasti ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan agar bisa merawat ku kan? Ibu, aku akan menjadi seperti yang Ibu cita-citakan. Aku juga berjanji tidak akan merasakan penderitaan seperti yang Ibu rasakan. Aku akan mendapatkan keduanya, cita-citaku, juga pria yang akan selalu mendukungku dan mencintaiku selalu dalan keadaan apapun. "


" Aku sudah boleh masuk? " Drago membuka pintu dan menjembulkan kepalanya untuk meminta izin dulu kepada Mire sebelum masuk kedalam. Mire tersenyum, lalu mengangguk.


Aku putuskan untuk mempertahankan pria itu, Ibu. Pria yang adalah anak dari teman Ibu, Eldrago. Aku akan bersamanya sepanjang hidup, juga akan terus naik ke atas dengan bakat yang Ibu turunkan padaku. Ibu, jaga kami berdua, buat kami selalu bersama dalam keadaan apapun.


" Kau sudah lebih baik? " Tanya Drago seraya mengusap kepala Mire dengan pelan. Mire, gadis itu hanya bisa tersenyum dan lagi mengangguk karena tidak tahu bagaimana bersyukurnya dia saat Drago terus setia bersamanya meski itu juga tidak mudah. Sungguh Mire sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya Drago akan menyayanginya seperti ini, juga menjadi orang yang begitu perduli dengannya.


" Sudah, bukanya aku memang harus segera baik-baik saja? "


" Tentu saja, karena kau adalah gadis manja yang paling kuat. " Mire dan Drago kompak terkekeh bersamaan.


Setelah Dokter memberikan izin untuk Mire pulang, kini Mire, Drago Ibu Rina beserta Ayah Luan dan hang lainya ikut pulang bersamaan Dengan Mire.


" Mire, Ibu bantu ya? " Ucap Ibu Ana seraya berjalan untuk membantu Mire berjalan. Tapi belum sempat Ibu Ana mendekat, Mire sudah lebih dulu membuat Ibu Ana tak lagi ingin melanjutkan niatnya.


" Biarkan saja Drago yang membantuku. " Mire segera masuk kedalam pelukan Drago.


" Mire, kau dan Drago kan belum menikah, tidak baik sedekat itu, bagaimana kalau kakak saja yang membantumu? "


Mire terdiam, tapi tangannya semakin kuat memeluk Drago karena sungguh dia enggan kalau harus Derel membantunya berjalan.


" kami bukan anak muda jaman dulu, kontak fisik yang lebih dari ini juga sudah kami lakukan, jadi membantu Mire berjalan bukan hal yang bisa disebut tidak pantas bagi kami. " Drago membenahi rambut Mire, lalu merangkulnya dengan kuat dan hati-hati.


Derel sontak tak bisa berkata-kata. Kontak fisik lebih? Lebih yang bagiamana? Sejauh apa? Bagaimana bisa? Bukankah Drago terlihat begitu enggan dulu? Meksipun Drago menolak memutuskan pertunangan, seharunya tidak sedekat itu jarak antara Drago dan Mire kan?


Sudah sejauh apa? Hatiku sakit, kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulut Drago? Apakah hanya karena kasihan dengan Mire jadi Drago asal bicara?


" Naik ke mobil Ayah saja, Mire. Kita bisa langsung pulang kerumah, dan kau bisa istirahat disana. "


Mire menghentikan langkahnya, dan sontak Drago juga menghentikan langkah kakinya. Mire tak berbalik, tali dia juga menjawab ucapan Ayahnya barusan.


" Maaf Ayah, aku ingin menginap dirumah Ibu Rina saja. "


" Mire, bagaimana kalau aku ikut denganmu? Aku akan membantumu kalau kau membutuhkan apapun jadi bisa minta tolong padaku kan? " Derel menyela karena merasa tidak rela kalau Mire akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Drago.


" Aku bisa mengurus Mire, jadi- "


" Silahkan saja. "


Drago mengeryit menunduk menatap Mire yang setelah berucap kembali menatap Drago, dan tersenyum setelahnya.


" Iya kan, sayang? "


Drago terdiam sesaat, tapi pada akhirnya dia mengangguk saja karena apa yang diinginkan Mire dia tidak ingin mencegahnya meski keberatan itu jelas sekali ia rasakan.


" Sayang, kenapa hari ini tidak memakai parfum yang seperti biasanya? " Tanya Mire seraya melanjutkan langkah kakinya.


" Mana sempat menggunakan parfum disaat kau pingsan dan belum juga sadar setelah hampir seharian? Apa aku bau? "


" Tidak sih, tapi parfum yang biasa kau pakai benar-benar membuat hidung termanjakan. " Ujar Mire lalu terkekeh pelan.


" Parfum, atau sesuatu yang lain? "


" Dua-duanya. "


Drago tersenyum karena sudah paham maksud Mire membiarkan Derel ikut dengannya ke rumah.


" Sayang, aku lupa memberitahu sesuatu padamu. " Ucap Mire yang kini duduk di kursi belakang sembari menyenderkan kepalanya di pundak Drago, dan memainkan jemarinya yang tengah mengait dengan jemari Drago. Sementara Derel gadis itu duduk di samping sopir dengan perasaan yang mulai memanas.


" Tentang apa? "


" Lukisanku akan ikut pameran Art galeri terbesar di kota Sidney loh. "


" Sungguh?! " Mire mengangguk.


Drago mengubah posisinya untuk saling menatap, laku menangkup wajah Mire dan mencium singkat bibir Mire.


" Aku tahu, kau adalah gadis yang hebat. "


Derel mencengkram kuat tas yang ada dipangkuannya dengan tatapan cemburu.


Mire, aku semakin tidak bisa menerima kalau begini.


Bersambung