
Mire dan Drago berbaring di ranjang hang sama, menyembunyikan tubuh mereka di basah selimut tebal, senyum dari wajah keduanya saat saling bertatapan nampak begitu manis dan malu-malu. Sebenarnya tidak tahu apa yang membuat Drago merasakan malu-malu seperti pertama kali jatuh cinta, tapi yang pasti dia tahu benar jika sebelum dengan Mire dia juga Sudah dua kali jatuh cinta, dan dua kali pula dia memiliki kekasih. Sedangkan Mire, gadis itu tentu saja merasa malu dan gugup karena Drago adalah pria pertama yang mengisi hatinya, memperhatikannya, juga dengan tulus menunjukkan segala yang ia bisa untuk membahagiakan dirinya.
" Mire, kau tahu malam kemarin saat kita tidur bersama? Sebenarnya aku sangat gugup, sama seperti sekarang ini. " Drago meraih tangan Mire, lalu mengarahkan dan menempelkan ke dadanya.
" Aku juga, aku merasakan yang sama denganmu, jantungku juga berdetak sangat cepat. Haruskah aku mengambil tanganmu dan menempelkan ke dadaku juga? " Mire tersenyum setelahnya.
" Bisa saja, tapi konsekuensinya sangat berat. "
Mire terkekeh, lalu mendekatkan tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukan Drago. Hangat, tapi dia juga bisa semakin dengan jelas mendengarkan detak jantung dari pria yang ia cintai.
" Tapi aku tidak takut dengan konsekuensinya. "
Drago menghela nafasnya. Sebenarnya bohong saja kalau tidak ada reaksi dari tubuhnya mendengar ucapan Mire, hanya saja Drago masih takut kalau Mire belum paham arti dari kata-katanya. Usianya memang sudah akan memasuki dua puluh satu, tapi dengan nol pengalaman dalam hubungan percintaan, tentu saja Drago masih merasa ragu, dan takut kalau Mire akan menyesal nantinya.
" Bocah, meskipun aku ingin memakan mu sampai habis, tapi aku juga tidak ingin melihatmu menyesal suatu hari nanti. Sekali saja itu terjadi, bagian di dalam tubuhmu tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula. "
Drago mengusap kepala Mire dengan lembut, lalu mengecupnya.
" Tapi aku yakin kalau pada akhirnya kau tidak akan pernah membuatku merasa menyesal. " Ucap Mire seraya mendongakkan wajahnya agar bisa saling bertatapan dengan Drago.
" Aku tahu ini memalukan, tapi aku berharap dari awal hingga akhir hanya kau satu-satunya pria untukku. "
Drago tersenyum, lalu membawa wajah Mire kembali ke dadanya. Sungguh wanita yang agresif melalui kata-kata dan memancing keinginan di dalam tubuh seorang pria yang memang sedang kesulitan menahan diri. Dari pada nanti sungguh tidak bisa menahan, lebih baik biarkan Mire tidur terlebih dulu.
" Sayang? "
" Hem? "
" Sebenarnya aku pulang karena ingin membicarakan sesuatu denganmu. "
" Tentang apa? "
" Sebentar lagi lukisanku akan di pamerkan di galeri terkenal, Wiliam bilang akan lebih mendukung kalau aku tidak memiliki hubungan dengan pria, kalaupun memang ingin memiliki hubungan, aku harus menjalin hubungan dengan pria yang bisa menyokong dan membantuku terus naik dalam karir. "
Drago terdiam karena merasa jika dia bukan apa-apa yang bisa membuat Mire terkenal. Tapi, dia juga paham kalau Wiliam sedang mencalonkan dirinya untuk Mire.
Jadi, aku harus bagaimana Mire?
" Drago, Ibuku kehilangan banyak hal. Dia kehilangan cinta, juga kehilangan cita-citanya lalu mati dengan begitu menyedihkan. Aku, tidak ingin seperti Ibuku. Aku menginginkanmu, tapi juga menginginkan cita-citaku. Apakah aku maruk dan seperti yang Wiliam katakan bahwa aku hanya bisa memilih satu atau mengikuti saran darinya? " Mire kembali menatap Drago yang diam mendengarkan ucapan Mire.
" Apakah aku tidak bisa memiliki keduanya? Apakah sungguh tidak ada kemungkinan? "
" Apakah kau percaya padaku, Mire? "
" Jangan terburu-buru menjawab, lihat aku baik-baik terlebih dulu. " Ucap Drago seraya menatap mata Mire yang juga tengah menatapnya.
Mire terdiam sesaat, lalu menggerakkan tangannya, dan meletakkan telapak tangan di wajah Drago.
" Dari awal, aku tidak pernah berubah. Aku percaya padamu, Drago. " Mire memindahkan tangannya memeluk tengkuk Drago, lalu membenamkan bibirnya di bibir Drago.
" Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ini terus berlanjut kan? " Ucap Drago setelah melepaskan diri dari Mire.
" Aku tahu. "
Drago tak lagi bicara, kini matanya menatap kedua bola mata Mire yang terus menatanya seolah dia tidak akan menolak apapun yang ingin Drago lakukan. Rasanya ingin menolak karena takut jika nanti Mire menyesal, tapi dia juga memiliki keinginan yang sudah memuncak, ditambah lagi cerita tentang ucapan Wiliam dari Mire, kini dia jadi merasa bahwa tidak perlu menahan diri karena dia sendiri tidak ingin meninggalkan Mire, juga tidak ingin di tinggalkan. Segera setelah itu Drago membenamkan bibirnya di bibir Mire, menyalurkan kehangatana satu sama lain, berbagi saliva seolah mereka satu tubuh yang tidak merasakan apapun selain keinginan yang semakin memuncak tak tertahankan dari keduanya.
" Mire, kau tidak boleh menyesal setelah ini. " Ucap Drago sejenak menatap Mire saat tubuhnya sudah mengukung Mire.
" Aku tahu benar bahwa aku tidak akan menyesal. " Mire melingkarkan kedua lengannya, membuat jarak mereka semakin dekat, dan ciuman panas kini mulai kembali.
Hanya suara lenguhan, juga suara berpacu dalam sebuah rasa yang dirasakan keduanya. Malam, tapi suasana terasa panas bagi keduanya, malam, juga bukan apa-apa karena pada kenyataannya hati mereka terasa begitu cerah malam ini.
" Kau harus selalu ingat, kau adalah milikku seorang, Mire. " Ucap Drago ditengah-tengah kegiatan panas yang sedang mereka lakoni.
" Kau, juga hanya milikku. Kau hanya boleh melakukan ini denganku saja. " Ucap Mire yamg sempat tersengal beberapa kali.
" Aku tahu, aku janji tidak akan menyentuh siapapun selain dirimu. "
Pagi hari.
Tidak tahu pukul berapa sekarang ini, yang pasti matahari sudah akan berada di atas kepala rasanya. Tapi, kedua manusia yang semalaman sibuk dengan adegan panasnya hanya bisa terus memejamkan mata karena lelah yang memaksa mereka untuk berisitirahat lebih lama lagi.
***
Derel terdiam dengan wajah melamun memikirkan banyak sekali yang terjadi beberapa hari setelah Mire kembali. Rencananya sudah hancur, kedua orang tuanya juga menjadi tidak akur, bahkan tokonya juga mengalami penurunan pendapatan karena Ayah Luan dan Derel kurang konsentrasi belakangan ini. Banyak sekali barang yang sudah habis, tapi mereka juga sering lupa memasukkan ke dalam daftar belanja, bahkan beberapa karyawannya sudah mengingatkan.
Sampai kapan harus begini? Aku masih tidak rela dengan semua, aku masih ingin berjuang sekali lagi demi bisa hidup bersama dengan Drago.
Derel menghela nafas panjangnya, menatap dengan tatapan lelah, tapi masih juga dia tidak ingin berhenti.
" Baiklah, aku hanya perlu menunjukkan keunggulanku di bandingkan Mire. Aku harus bisa terlihat lebih menonjol dengan apa yang di sebut bakat di dalam diriku. "
Derel bangkit dari duduknya, meraih tasnya, lalu berjalan untuk mencari angin segar dan menata pikirannya agar bisa sejenak menghilangkan penat dan kembali nanti saat keadaannya sudah lebih tenang.
Bersambung