I Am A Perfect

I Am A Perfect
Broken



Mire menutup buku harian ibunya dengan tangan yang gemetar, juga dibarengi air mata yang jatuh bercucuran ke pipinya. Jadi bunuh diri Ibunya bukan hanya karena cinta yang dikhianati saja? Jadi Ibunya tidak ingin merasakan kesakitan lebih lama lagi? Apakah sungguh ada manusia yang begitu menderita?


Mire sesegukan sendiri karena di bagian terakhir dia tidak membacakannya untuk sang nenek, jadi hanya dia yang tahu. Sakit, dadanya sangat sesak dan sakit membayangkan betapa tersiksanya Ibu Bernika selama itu. Bukan hanya kanker saja yang menyiksa tubuhnya, tapi ada suami, lingkungan, juga sahabatnya sendiri.


" Mire, ada apa nak? Apa yang dituliskan Ibumu sampai kau menangis seperti ini? " Nenek Santu mendekati Mire dan memeluknya erat-erat. Dia tak lagi bertanya karena Mire semakin tersedu-sedu hingga sesegukan, lalu tidur dipelukannya setelah lelah menangis. Perlahan nenek membaringkan Mire ke kasur dan mengusap kepalanya dengan lembut. Air matanya ikut luruh melihat bagaimana cucunya menangis tadi. Sakit, sungguh sangat sakit saat Mire menangis. Sudah berlaku puluhan tahun memang, tapi segala rahasia yang sengaja Ayah Luan dan Ibu Ana simpan akhirnya terungkap juga. Awalnya mereka memang berniat akan mengubur masa lalu ini selamanya, dan membiarkan Mire tumbuh dengan formasi lengkap sebagai sebuah keluarga. Tapi, kehidupan adalah kehidupan, hanya Tuhan lah yang mampu mengubah apapun sesuai yang dia inginkan.


" Mire, cucu nenek yang paling nenek cintai, meskipun nenek tidak tahu apa yang kau baca sampai kau menjadi seperti ini, tapi nenek paham bagaimana sakitnya, dan nenek juga membutuhkan waktu puluhan tahun juga untuk bisa baik-baik saja meski hati masih mendendam. Jangan menjadi seperti nenek ya nak? Kau harus bersama dengan orang-orang yang mencintaimu, kau harus bahagia dan jangan membuang waktu untuk terpuruk. Ibumu memang meninggalkan kenangan kehidupan yang menyedihkan, tapi kau tidak boleh seperti itu ya? Ibumu juga pasti ingin sekali melihatmu hidup bahagia, dikelilingi oleh banyak orang yang menyayangimu, memiliki keluarga kecil sendiri, dan meneruskan kehidupan bahagia mu hingga akhir hayat. "


Nenek meraih buku yang sedari tadi dipeluk Mire, bukan untuk membukanya karena dia masih tidak sanggup kalau harus membacanya, dia menatap sebentar, mengusapnya pelan, lalu meletakkan di dalam laci meja rias milik Mire.


Melihat tirai jendelanya bergerak tertiup angin, nenek bangkit dan berniat untuk menutupnya. Tapi karena langit yang cerah hari ini, nenek memutuskan untuk menatapnya sebentar dan memusatkan matanya untuk menatap bintang-bintang di atas sana.


" Bernika, maafkan Ibu yang mulai sekarang akan banyak berdoa agar panjang umur dan bisa menemani putrimu lebih lagi ya? Jika saatnya tiba nanti kita pasti akan bersama, dan sekarang, ada alasan terbesar untuk bertahan, jaga kami dari atas sana ya nak? " Nenek Santi tersenyum seolah-olah yakin kalau pesan itu akan benar-benar tersampaikan pada putrinya. Memang kekanak-kanakan, hanya saja begitulah dia menjalani hidupnya selama ini. Berdoa kepada bintang, matahari pagi, matahari tenggelam, bintang terang, bintang jatuh, apapun itu demi bisa menenangkan dirinya.


***


Setelah satu jam tertidur, Drago yang merasa haus akhirnya terbangun karena tak mendapati air di mejanya. Maklum saja, biasanya Mire yang akan mengisi air untuk dibawa ke kamar, tapi seharian ini kan Mire tidak datang kerumah.


Drago menghela nafasnya lalu bangkit dari tidurnya untuk mengambil air di dapur. Begitu selesai, dia tadinya berniat untuk langsung masuk ke kamar, tali karena dia ingat bahwa ada Ayah Luan disana, sejenak dia berhenti tepat di pintu kamar dan membukanya demi memastikan apakah tidur nyenyak atau tidak.


" Paman? Belum tidur? " Tanya Drago yang mendapati Ayah Luan duduk di pinggiran jendela dan terus menatap ke arah luar.


" Belum bisa tidur. " Ucap Ayah Luan dengan wajah datarnya.


Drago menghela nafasnya, lalu berjalan dan duduk di dekat Ayah Luan dan meletakkan segelas air di meja yang gak jauh dari tempat tidur.


" Apa yang membuat paman tidak bisa tidur? Padahal paman pasti lelah kan karena berada di perjalan lumayan lama. " Ujar Drago menatap Ayah Luan yang masih saja terpaku melihat ke arah Luan.


Drago mengangguk.


" Ngomong-ngomong, bagaimana kehidupan Mire selama tinggal disini? "


Drago tersenyum sambil membatin. Seharusnya inilah yang ditanyakan seorang Ayah saat merasa khawatir, bukan mendesak putrinya seperti dulu, bahkan tidak segan untuk menyakiti hatinya.


" Dia baik-baik saja paman, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia gadis yang ceria, juga banyak disayangi orang, jadi paman tidak usah khawatir. "


" Apakah dia sering mengeluhkan sikapku padamu? "


" Tidak, Mire sama sekali tidak pernah menceritakan tentang paman, bibi, juga kakaknya. Selian itu, aku juga tidak berani bertanya karena aku takut Mire akan sedih saat mengingatnya. "


Ayah Luan menghela nafas, iya, tentu saja Mire akan sedih kalau ingat bagaimana menyakitkannya kata-kata yang pernah keluar dari mulut seorang Ayah yang seharusnya menjaganya dan tidak boleh menyakiti sedikitpun hati putri polosnya itu.


" Menurutmu, apakah Mire membenciku? Apakah sungguh dia tidak akan kembali padaku meskipun aku adalah Ayah kandungnya, dan sudah hidup selama dua puluh tahun lebih bersamanya? " Pandangan Ayah Luan kini terlihat sedih, tali sayangnya Drago juga ingin menjawab pertanyaan itu dan akan membuat Ayah Luan semakin sedih nantinya.


" Paman, Mire bukan tipe orang yang mudah membenci, tapi yang aku lihat saat ini adalah luka, luka di hati Mire terlalu dalam hingga tidak bisa mengingat dengan benar satu pun momen bersama dengan paman, bibi, juga kakaknya. Mire itu do ibaratkan seperti tengah berjalan di pertengahan antara jurang, dan lembah magma. Meskipun dia sudah berjalan dengan hati-hati, tapi hawa panas, dan juga ketakutan akan bayang-bayang rasa sakit jika terjatuh akan selalu menghantuinya. Seperti itu, jadi setiap kali dia mengingat momen bersama kalian, yang Mire rasakan adalah rasa sakit hingga dia memilih untuk tidak mengingatnya. Tapi ada satu lagi yang lebih parah, yaitu, Mire saat ini sedang menyalahkan dirinya sendiri. Dia sedang menyalahkan dirinya atas pengkhianatan yang paman dan bibi lakukan, dia menyalahkan dirinya untuk kematian Ibunya. Meksipun Mire tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku, tapi beberapa kali Mire pernah bertanya, ' Bagaimana kalau aku tidak lahir di dunia ini? ' "


Ayah Luan mengusap wajahnya yang kini tak kuasa menahan tangis.


" Mire sedang dalam keadaan yang kacau saat ini, paman. Maaf sekali harus aku katakan, kedatangan paman kali ini sudah membuat Mire mau tidak mau mengingat masa-masa menyakitkan, mungkin saja malah menambah luka untuk mire, dan aku yakin Mire pasti Mire sedang hancur sekarang. "


Bersambung...